<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>bintang timur</title>
	<atom:link href="http://bintangtimur.blogdetik.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bintangtimur.blogdetik.com</link>
	<description>a journey of my life...</description>
	<pubDate>Sat, 13 Apr 2013 01:36:54 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Kejutan dari Tuhan</title>
		<link>http://bintangtimur.blogdetik.com/2013/04/12/kejutan-dari-tuhan/</link>
		<comments>http://bintangtimur.blogdetik.com/2013/04/12/kejutan-dari-tuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Apr 2013 16:22:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bintangtimur</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[The journey]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bintangtimur.blogdetik.com/?p=609</guid>
		<description><![CDATA[Hari itu, tanggal 6 April 2013, kota Bandung disiram hujan.
Acara wisuda yang harus kami hadiri membuat saya dan Risa terpaksa bangun lumayan pagi. Bayangkan. Jam o3.00 dini hari, saat banyak orang masih dipeluk mimpi, kami berdua sudah sibuk membereskan kebaya dan pernak-perniknya untuk dibawa ke rumah kakak ipar saya di Padasuka. Maklum, salon mungil miliknya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari itu, tanggal 6 April 2013, kota Bandung disiram hujan.</p>
<p>Acara wisuda yang harus kami hadiri membuat saya dan Risa terpaksa bangun lumayan pagi. Bayangkan. Jam o3.00 dini hari, saat banyak orang masih dipeluk mimpi, kami berdua sudah sibuk membereskan kebaya dan pernak-perniknya untuk dibawa ke rumah kakak ipar saya di Padasuka. Maklum, salon mungil miliknya akan menjadi tempat untuk &#8216;menyulap&#8217; kami berdua agar tampil pantas di acara wisuda.</p>
<p>Yup, betul.</p>
<p>Pagi itu saya dan suami akan menghadiri wisuda Risa di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga). Hujan yang turun sejak dini hari, membuat pukul 07.00 pagi terasa begitu sepi. Tapi tidak di Sabuga. Deretan mobil sudah mengular amat panjang. Jalan masuk yang menurun membuat antrian berjalan amat lambat. Ah, ah&#8230;itu dia!</p>
<p>Suami yang berangkat langsung dari rumah kami di Bandung, rupanya sudah datang duluan. Seragam militer dan baret kebanggaannya sudah dikenakan amat rapi. Saya langsung lega. Bukan apa-apa, karena banyaknya orang tua wisudawan, maka suami harus &#8216;pesan tempat&#8217; duluan dengan menunjukkan undangan supaya kami bisa duduk di dalam. Melihatnya tersenyum lebar, saya langsung yakin bahwa tempat duduk itu sudah berhasil &#8216;diamankan&#8217;.</p>
<p>Memasuki Sabuga untuk kali pertama, saya merasakan sensasi yang berbeda. Apalagi ini adalah acara wisuda Risa. Bukan konser musik idola, apalagi kongres partai ternama. Di dalam ruangan, tempat duduk dan tribun untuk undangan sebagian besar sudah terisi. Pemain gamelan di kanan panggung memainkan tembang-tembang penyejuk hati. Sementara deretan angklung dan simbal di sisi kiri sudah siap untuk mengiringi paduan suara di pertengahan acara.</p>
<p>Bangga!</p>
<p>Rasa itu yang saya rasakan kala memasuki gedung Sabuga. Saya bangga bisa menjadi bagian dari acara wisuda sarjana salah satu universitas terbaik di Indonesia. Saya juga bersyukur pada Tuhan sudah diberi kesempatan untuk bisa menghadiri wisuda Risa. Air mata nyaris tumpah. Dan entah berapa kali tenggorokan saya tercekat karena rasa haru bercampur bahagia. Betapa Tuhan Maha Baik. Kalimat itulah yang membuat mata saya berulang kali basah oleh air mata.</p>
<p>Selain wisuda sarjana S1, saat itu juga berbarengan dengan wisuda sarjana S2 dan S3. Jumlah wisudawan yang hampir 1300 orang membuat acara berlangsung sampai siang. Orasi ilmiah rektor ITB yang menarik dan dibacakannya kesan serta pesan dari beberapa sarjana yang lulus dengan predikat <em>cum laude </em>menjadikan suasana penuh dengan tawa. Tidak ada lagi ketegangan berlebihan yang saya rasakan di awal acara. Semua gembira, semua bahagia. Dan kata suami saya, itu adalah acara wisuda paling &#8217;santai&#8217; yang pernah dia hadiri&#8230;</p>
<p>Kemudian, tibalah saat yang ditunggu-tunggu.</p>
<p>Sarjana S1 dari jurusan Geologi Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian diminta berdiri dan membentuk barisan untuk bersalaman dengan rektor, dekan dan ketua jurusan. Saya melihat Risa dari kejauhan. Mata saya kembali panas. Anak kesayangan kami itu, tersenyum dan melambaikan tangannya ke arah kami yang duduk di tribun undangan. Ah, ah&#8230;rupanya begini ya perasaan orang tua saat menghadiri anaknya diwisuda&#8230;</p>
<p>Bahagia, haru dan bangga, semua bercampur menjadi satu.</p>
<p>Apalagi saat Risa berjalan mendekati meja panjang dimana rektor dan para stafnya berdiri, tiba-tiba saja pembawa acara mengumumkan kalau anak semata wayang kami lulus sarjana teknik geologi dengan predikat yang tidak penah disangka sebelumnya<em>. Cum laude</em>. Duh, ini benar-benar kejutan dari Tuhan!</p>
<p>Saya tidak menyangka, Tuhan memberikan kehormatan itu kepada keluarga kami. Nilai-nilai Risa memang selalu stabil dari semester pertama. Tapi saya dan suami sama sekali tidak menyangka kalau predikat yang agak asing di keluarga besar kami itu menjadi milik Risa. Banyak memang saudara dan keponakan yang sudah lulus sarjana, tapi predikat <em>cum laude</em> itu bukanlah sebuah tradisi.</p>
<p>Alhamdulillah.</p>
<p>Rencana Tuhan memang tak bisa diduga. Kelulusan Risa saja sudah membuat kami bersyukur tiada tara. Ditambah lagi dengan predikat ini. Entahlah, saya sampai kehilangan kata-kata untuk menuliskannya.</p>
<p>Saya berharap ini adalah awal yang baik untuk meraih mimpi-mimpi lainnya. Semoga hal ini juga akan menjadi pijakan kokoh bagi masa depan indah yang ingin dicapainya. Jalan itu masih panjang. Cita-cita itu juga masih sebatas angan. Saya percaya, Tuhan akan mewujudkan mimpi dan harapan itu di saat yang tepat sesuai rencana-Nya.</p>
<p>Insya Allah.</p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bintangtimur.blogdetik.com/2013/04/12/kejutan-dari-tuhan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Risa ujian sarjana</title>
		<link>http://bintangtimur.blogdetik.com/2013/03/27/risa-ujian-sarjana/</link>
		<comments>http://bintangtimur.blogdetik.com/2013/03/27/risa-ujian-sarjana/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Mar 2013 16:20:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bintangtimur</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[The journey]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bintangtimur.blogdetik.com/?p=606</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah, setelah sekian lama tertunda karena kesibukan dosen pembimbing sehingga jarang memberi konsultasi skripsi apalagi menentukan jadwal sidang, akhirnya Risa ujian juga.
&#8216;Risa, draft anda sdh cukup bagus, sy hanya ingin anda mendetailkan model sist panas buminya dibanding punya Joe Moore. Silahkan proses. Kalau anda cepat, anda bisa sidang 11 - 15 Maret 2013.&#8217;
Itu adalah sms [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alhamdulillah, setelah sekian lama tertunda karena kesibukan dosen pembimbing sehingga jarang memberi konsultasi skripsi apalagi menentukan jadwal sidang, akhirnya Risa ujian juga.</p>
<p><em>&#8216;Risa, draft anda sdh cukup bagus, sy hanya ingin anda mendetailkan model sist panas buminya dibanding punya Joe Moore. Silahkan proses. Kalau anda cepat, anda bisa sidang 11 - 15 Maret 2013.&#8217;</em></p>
<p>Itu adalah sms yang diterima Risa tanggal 28 Pebruari 2013 dari sang dosen yang membuat Risa gembira sekaligus panik luar biasa. Esok adalah jadwal keberangkatan Risa ke Jepang. Tiket juga sudah ditangan. Sedangkan esok juga, tanggal 1 Maret 2013, draft skripsi dan persyaratan administrasi lainnya harus masuk ke universitas untuk dibuat jadwal sidang.</p>
<p>Artinya hari itu juga, semua persyaratan harus sudah diselesaikan.</p>
<p>Setelah sekian bulan tanpa kejelasan perbaikan skripsi dan jadwal sidang, sms itu benar-benar jadi titik balik Risa buat mempersiapkan skripsi dengan optimal. Jadwal sidang yang ditunggu-tunggu, ternyata nyaris &#8216;tabrakan&#8217; dengan jadwal keberangkatannya ke Jepang.</p>
<p>Memang tak ada rencana manusia yang sempurna.</p>
<p>Jadwal keberangkatan yang semula tanggal 1 sampai dengan 8 Maret, sudah diubah jadi tanggal 1 sampai dengan 5 Maret saja. Itu juga sebetulnya agak maksa. Tapi daripada sia-sia membuang waktu menunggu jadwal sang dosen yang tak tentu, lebih baik &#8216;mencuri&#8217; waktu akhir pekan untuk mengenal salah satu negara di Asia.</p>
<p>Benar saja.</p>
<p>Masih terbayang jelas bagaimana malam itu kami amat sibuk mempersiapkan pernak-pernik yang berhubungan dengan keberangkatan Risa. Lelah nyaris hilang. Perbaikan draft skripsi yang baru selesai pukul 22.00 malam, membuat kami tiba di rumah nyaris pukul 02.00 dini hari. Sedangkan pukul 04.00-nya kami sudah harus berangkat ke bandara kalau tidak mau terlambat boarding. Untunglah semua selesai tepat waktu.</p>
<p>Lagi-lagi tak ada hal sempurna yang dibuat manusia.</p>
<p>Setengah jam sebelum tiba di bandara, tiba-tiba saja Risa mengeluarkan tas paspor berwarna orange dan mengaduk-aduknya dengan panik. Antara kaget dan bingung, dia menatap saya sambil berkata : &#8216;bu, uang yen-nya ketinggalan&#8230;&#8217;</p>
<p>Duuuh, saya sampai tidak bisa berkata-kata saking kagetnya!</p>
<p>Solusi yang saat itu diambil adalah menarik uang tunai dari ATM bandara dan menukarkannya di money changer yang sudah buka. Sayang sekali semua tempat penukaran uang masih tutup. Dan akhirnya, Risa pasrah membawa uang rupiah saja.</p>
<p><em>&#8216;bapak, ibu, makasih yah, udah ngedukung Ica selama ini&#8230;maaf kalo Ica baru lulus sekarang..hehe..maaf juga kalo Ica udah ngerepotin kemaren-kemaren, bolak balik Depok/Garut - Bandung..makasih ya pak, bu..&#8217;</em></p>
<p>Itu adalah sms Risa begitu dinyatakan lulus oleh dosen pengujinya tanggal 13 Maret 2013 lalu. Saya sampai keluar air mata saat membacanya. Bayi mungil yang saya timang dulu, sekarang sudah menyelesaikan ujian sarjana di kampus Ganesha. Terharu, bangga dan nyaris tak percaya.</p>
<p>Saya jadi makin yakin bahwa tak ada kerja keras yang sia-sia. Keringat dan air mata itu adalah harga yang harus dibayar bila kita ingin keberhasilan. Jalan itu memang masih panjang. Masih banyak kerja keras lain yang harus dilakukan untuk meraih impian. Dan masih banyak doa-doa yang harus dipanjatkan agar impian itu menjadi kenyataan.</p>
<p>Dan yang pasti, saya jadi semakin yakin dengan kebesaran Tuhan.</p>
<p>Tanpa kemudahannya, tanpa rizkinya, tanpa pertolongannya, manalah mungkin kami mengantarkan Risa menjadi sarjana dari tempat kuliah yang dicita-citakan. Saat menulis inipun, mata saya kembali basah oleh air mata. Saya tak kuasa menuliskan betapa besar campur tangan Tuhan dalam kehidupan keluarga kami. Semua kesedihan dan kebahagiaan yang selama ini diberikan ternyata untuk menguatkan. Hal yang harus kita lakukan hanyalah bertahan dan mengambil hikmah dari setiap kejadian.</p>
<p>Trima kasih ya Nak, trima kasih sudah membuat bapak dan ibu bangga. Trima kasih juga Ica sudah membuat kami amat bahagia&#8230;</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-607" src="http://bintangtimur.blogdetik.com/files/2013/03/b1dc70fac4ad3368920ed4086f3b07e3_img-20130314-wa0008-225x300.jpg" alt="b1dc70fac4ad3368920ed4086f3b07e3_img-20130314-wa0008" width="225" height="300" /><img class="aligncenter size-medium wp-image-608" src="http://bintangtimur.blogdetik.com/files/2013/03/38e4863cef01968a06d9b053213071f2_picture1-300x225.jpg" alt="38e4863cef01968a06d9b053213071f2_picture1" width="300" height="225" /></p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bintangtimur.blogdetik.com/2013/03/27/risa-ujian-sarjana/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Camilan unik dari negeri matahari terbit</title>
		<link>http://bintangtimur.blogdetik.com/2013/03/24/camilan-unik-dari-negeri-matahari-terbit/</link>
		<comments>http://bintangtimur.blogdetik.com/2013/03/24/camilan-unik-dari-negeri-matahari-terbit/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Mar 2013 15:12:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bintangtimur</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[The journey]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bintangtimur.blogdetik.com/?p=600</guid>
		<description><![CDATA[Jepang tidak hanya identik dengan sushi.
Hal ini saya ketahui dari cerita Risa selama berkunjung kesana. Tidak lama memang, hanya 5 hari termasuk perjalanan pulang pergi. Tapi alangkah banyaknya foto dan cerita tentang aneka camilan yang tidak ada di Indonesia. Semuanya menggoda. Semuanya ingin saya coba.
Camilan yang ingin saya tulis pertama adalah es krim green tea.
Sebagai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jepang tidak hanya identik dengan sushi.</p>
<p>Hal ini saya ketahui dari cerita Risa selama berkunjung kesana. Tidak lama memang, hanya 5 hari termasuk perjalanan pulang pergi. Tapi alangkah banyaknya foto dan cerita tentang aneka camilan yang tidak ada di Indonesia. Semuanya menggoda. Semuanya ingin saya coba.</p>
<p>Camilan yang ingin saya tulis pertama adalah es krim green tea.</p>
<p>Sebagai pencinta es krim sejati, camilan ini menjadi prioritas pertama Risa buat dibeli. Rasa green tea yang biasanya agak aneh di lidah Risa, di negara aslinya justru terasa enak dan bikin ketagihan. Rasa manis es krim yang berpadu dengan keunikan green tea dalam takaran tepat, membuat tiap gigitan terasa kurang banyak. Apalagi es krim itu &#8216;dibungkus&#8217; dengan semacam contong garing berbentuk segi empat yang renyah kalau digigit. Kata Risa, es krim ini <em>nih</em> yang bikin dia pengen balik ke Jepang!</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-601" src="http://bintangtimur.blogdetik.com/files/2013/03/dacfd8c4aaf39a4f51620c648b29b690_eskrim-300x225.jpg" alt="dacfd8c4aaf39a4f51620c648b29b690_eskrim" width="300" height="225" /></p>
<p>Selanjutnya adalah kue manju.</p>
<p>Kue ini katanya saya banget. Hehe, iya&#8230;saya memang suka kue dengan tekstur agak lengket alias <em>bantat</em>. Mungkin mirip dengan kue mochi yang dijual di Indonesia. Isinya kacang merah tumbuk. Bentuknya agak bulat. Dan sebelum dimakan, kue manju ini harus digoreng terlebih dulu.</p>
<p>Yummy pastinya!</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-602" src="http://bintangtimur.blogdetik.com/files/2013/03/b57684abcff26593918820bd9982d924_manju-300x225.jpg" alt="b57684abcff26593918820bd9982d924_manju" width="300" height="225" /></p>
<p>Camilan berikut yang bisa dicoba adalah kue kacang merah.</p>
<p>Kue ini banyak dijual di tempat penjualan oleh-oleh karena dikemas dalam kotak karton praktis yang pas buat dijadikan oleh-oleh. Kue yang mirip dengan bakpia di Indonesia ini memiliki lapisan luar yang lembab dan mirip kue bolu. Kayaknya <em>klop</em> banget kalau kue ini dimakan dengan segelas teh tawar hangat!</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-603" src="http://bintangtimur.blogdetik.com/files/2013/03/b40f85adbb4bddf02b299cb61e4e47c6_kueikan-300x225.jpg" alt="b40f85adbb4bddf02b299cb61e4e47c6_kueikan" width="300" height="225" /></p>
<p>Oya, sebagai pencinta kacang limbah sejati, saya juga dibawakan oleh-oleh aneka kacang yang dikemas dalam satu kemasan. Ada yang bersalut wijen, ada juga kacang dengan rasa pedas wasabi.</p>
<p>Aneka kacang dengan bentuk dan rasa berbeda, dikemas plastik bening yang menarik. Bedanya dengan kacang limbah yang ada di Indonesia, rasa kacang itu lebih tawar dan ada bau amis ikan di beberapa jenis kacang. Malah ada kacang yang dibungkus pakai nori segala <em>saking</em> uniknya&#8230;</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-604" src="http://bintangtimur.blogdetik.com/files/2013/03/52b0bdc48e89d10fad788ed6a3379538_05032013109-300x225.jpg" alt="52b0bdc48e89d10fad788ed6a3379538_05032013109" width="300" height="225" /></p>
<p>Terakhir, adalah kit-kat green tea.</p>
<p>Sebagai penggemar berat coklat, Risa penasaran <em>banget </em>dengan rasa kit-kat ini. Konon kit-kat jenis ini hanya ada di Jepang. Jadi kesempatan itu tentu tidak disia-siakan.</p>
<p>Saya yang tidak terlalu suka coklat, akhirnya penasaran juga dengan rasa kit-kat ini. Menurut saya <em>sih</em> rasanya standard (ssst, jangan bilang-bilang Risa ya!). Ada aroma dan rasa green tea, tentu saja. Dan yang pasti rasa coklat yang saya bayangkan sebelumnya, jadi tidak kentara karena tertutup aroma dan rasa green tea itu tadi.</p>
<p>Mau tahu bentuk kemasannya?</p>
<p>Ini dia&#8230;</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-605" src="http://bintangtimur.blogdetik.com/files/2013/03/1eb2a8d273665463de95dd436a17cfee_kitkat-300x225.jpg" alt="1eb2a8d273665463de95dd436a17cfee_kitkat" width="300" height="225" /></p>
<p>Jadi, siapa <em>nih </em>yang berminat ke Jepang buat mencoba camilan unik ini?</p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bintangtimur.blogdetik.com/2013/03/24/camilan-unik-dari-negeri-matahari-terbit/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Emergency Call</title>
		<link>http://bintangtimur.blogdetik.com/2013/03/24/emergency-call/</link>
		<comments>http://bintangtimur.blogdetik.com/2013/03/24/emergency-call/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Mar 2013 10:14:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bintangtimur</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[The journey]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bintangtimur.blogdetik.com/?p=596</guid>
		<description><![CDATA[Kamar mandi adalah hal pertama yang saya perhatikan kalau berkunjung ke banyak tempat. Kebiasaan ini rupanya menular dengan sukses pada Risa, anak saya. Nilai kebersihan tertinggi di mata kami tentu saja kamar mandi. Mau sebagus apapun sebuah tempat, kalau kamar mandinya kotor dan bau, nilainya bisa langsung terjun bebas.
Begitu pula waktu Risa berkunjung ke Tokyo [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kamar mandi adalah hal pertama yang saya perhatikan kalau berkunjung ke banyak tempat. Kebiasaan ini rupanya menular dengan sukses pada Risa, anak saya. Nilai kebersihan tertinggi di mata kami tentu saja kamar mandi. Mau sebagus apapun sebuah tempat, kalau kamar mandinya kotor dan bau, nilainya bisa langsung terjun bebas.</p>
<p>Begitu pula waktu Risa berkunjung ke Tokyo beberapa minggu lalu.</p>
<p>Berhubung menggunakan maskapai penerbangan promo dan penasaran dengan cerita-cerita para backpacker saat mereka bermalam di bandara, maka Risa dan tante-tantenya juga sepakat ingin mencoba pengalaman baru itu. Artinya, mereka juga akan mencicipi &#8216;<em>rasa</em>&#8216; kamar mandinya.</p>
<p>Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 23.30. Bandara masih sibuk dan penuh lalu-lalang orang.</p>
<p>Sebenarnya kereta terakhir dari bandara yang berangkat ke Tokyo adalah pukul 24.00. Tapi kegiatan rutin di bandara <em>kan</em> tidak sederhana. Proses menurunkan penumpang dari pesawat, pengambilan barang di bagasi, pemeriksaan paspor dan visa serta transfer dari satu kereta ke kereta lain tidak mungkin dilakukan dalam waktu setengah jam. Mau tidak mau, alternatif bagi para penumpang pesawat yang tidak dijemput malam itu adalah bermalam di bandara.</p>
<p>Aha, Tom Hanks yang jadi pemeran utama di film The Terminal, rupanya sudah punya banyak<em> </em>pengikut!</p>
<p>Oya, balik ke kamar mandi itu tadi.</p>
<p>Kata Risa, kamar mandi di bandara Haneda bersihnya luar biasa. Tak ada becek-becek, apalagi bau-bau aneh yang tak sedap. Semua bersih dan nyaris steril. Semua tombol juga dilengkapi dengan gambar, bahasa Inggris dan huruf Kanji. Please <em>deh</em> abaikan pilihan terakhir ini&#8230;hehe</p>
<p>Saya yang selalu kagum dengan kamar mandi bersih dan tidak bau, dikasih oleh-oleh foto ini sama Risa. Katanya, bisa jadi inspirasi kalau nanti saya mau renovasi kamar mandi di rumah kami.</p>
<p style="text-align: center"><img class="size-medium wp-image-597  aligncenter" src="http://bintangtimur.blogdetik.com/files/2013/03/e448241e9382c42cedd05d1e1404dfb7_toilethaneda-300x225.jpg" alt="toilet bandara haneda" width="326" height="244" /></p>
<p style="text-align: center"><em>Toilet di Bandara Haneda</em></p>
<p style="text-align: center"><img class="size-medium wp-image-598  aligncenter" src="http://bintangtimur.blogdetik.com/files/2013/03/ee791a25ae24224876cab3ddf5fa9cc1_stasiunshinjuku-300x200.jpg" alt="stasiun shinjuku" width="326" height="216" /></p>
<p style="text-align: center"><em>Suasana di Stasiun Shinjuku</em></p>
<p style="text-align: center"><img class="size-medium wp-image-599  aligncenter" src="http://bintangtimur.blogdetik.com/files/2013/03/6e06a5d029cd3f824feda833a5a16d87_stasiunasakusa-300x200.jpg" alt="stasiun asakusa" width="326" height="217" /></p>
<p style="text-align: center"><em>Dinding unik di Stasiun Asakusa</em></p>
<p>Setelah tidur beberapa jam di kursi bandara, sekitar jam o8.00 keesokan harinya, Risa dan rombongan menuju stasiun yang ada di area Haneda. Mereka harus berganti kereta dua kali bila akan menuju ke penginapan, yaitu di stasiun Shinagawa dan Shinjuku. Dari Shinjuku, mereka tinggal berganti kereta satu kali dengan tujuan stasiun Shinjuku-gyoemmae. Jalan kaki 5 menit, sampai <em>deh</em> ke penginapan yang sudah dipesan.</p>
<p>Ada satu cerita lucu yang terjadi stasiun Shinjuku-gyoemmae.</p>
<p>Saat itu salah seorang tante ingin ke kamar mandi. Berangkatlah ketiga tante itu menuju toilet terdekat. Risa dan Rofiano menunggu tidak jauh dari sana sambil melihat-lihat peta dan rute kereta.</p>
<p>Tiba-tiba, beberapa petugas berlarian menuju kamar mandi yang tadi dimasuki para tante. Risa masih tenang-tenang. Tapi ketika makin banyak orang berdatangan, Risa mulai penasaran. Apalagi waktu mendengar sebuah suara yang amat dikenalnya. Ah, kenapa tante itu sibuk menyampaikan permohonan maaf dengan suara panik ya?</p>
<p>Risa <em>buru-buru</em> mengajak Rofiano ke arah datangnya kehebohan.</p>
<p>Alangkah kagetnya Risa ketika dia dan Rofiano hampir bertabrakan dengan para tante yang bergegas keluar dari arah kamar mandi. Wajah ibu Rofiano, salah seorang tante itu, tampak shock. Dia baru tampak agak lega setelah ketemu Risa dan anaknya. Tak lama kemudian keluarlah sebuah cerita yang tak disangka-sangka.</p>
<p>Rupanya kejadian menghebohkan itu berawal dari kamar mandi itu tadi.</p>
<p>Banyaknya tombol di dinding toilet membuat sang tante tidak waspada saat memencet sebuah tombol. Maksud hati ingin memencet <em>flush</em>, apa daya yang ditekan sang tante adalah tombol darurat. Ditekan berkali-kali pula karena air tak kunjung mengalir.</p>
<p>Oh, oh&#8230;itu toh sebabnya para petugas berlarian kesana. Mungkin mereka mengira ada kejadian darurat yang perlu penanganan cepat, sehingga buru-buru berlari ke arah datangnya panggilan.</p>
<p>Tawa pun meledak. Apalagi itu adalah hari pertama mereka menginjak Tokyo&#8230;duh, kamar mandi canggih ternyata bisa bikin mati gaya bila tak waspada!</p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bintangtimur.blogdetik.com/2013/03/24/emergency-call/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Email itu&#8230;</title>
		<link>http://bintangtimur.blogdetik.com/2013/03/03/email-itu/</link>
		<comments>http://bintangtimur.blogdetik.com/2013/03/03/email-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Mar 2013 07:17:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bintangtimur</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[The journey]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bintangtimur.blogdetik.com/?p=595</guid>
		<description><![CDATA[&#8216;Pak, Bu,
Mau laporan hari pertama.
Tokyo barangnya lucu-lucu banget, lebih lucu daripada Seoul. Subwaynya juga lebih bagus daripada Seoul. Hotel Ica dibayarin jugaaa, sama makan siang tadi. Enak jalan sama tante-tante, diperhatiin akomodasinya. Cuma ya, gaya jalan Ica beda sama tante-tante itu, jadi agak kena culture shock..hehe&#8230;misal nih mau ke subway, jalannya kan panjang, itu tiap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8216;Pak, Bu,</em></p>
<p><em>Mau laporan hari pertama.</em></p>
<p><em>Tokyo barangnya lucu-lucu banget, lebih lucu daripada Seoul. Subwaynya juga lebih bagus daripada Seoul. Hotel Ica dibayarin jugaaa, sama makan siang tadi. Enak jalan sama tante-tante, diperhatiin akomodasinya. Cuma ya, gaya jalan Ica beda sama tante-tante itu, jadi agak kena culture shock..hehe&#8230;misal nih mau ke subway, jalannya kan panjang, itu tiap perempatan foto-foto bareng, jadilah jalan yang harusnya 15 menit jadi molor sampe 30 menit-an&#8230;&#8217;</em></p>
<p>Seumur hidup, ini adalah email pertama Risa buat kami<em>. </em>Jadi wajar kalau saat pertama kali membacanya, saya agak-agak pengen nangis. Terharu, rindu dan tentu saja ikut merasa gembira.</p>
<p>Lihatlah betapa kalimat pembuka itu diisi dengan laporan beragam barang yang katanya lucu-lucu. Dibandingkan pula dengan barang yang ada di negara tetangga. Duh, kayaknya kebiasaan ini deh yang bikin kaum wanita jadi identik dengan kegiatan belanja!</p>
<p>Hotel sama makan siang dibayarin?</p>
<p>Hehe, tiketnya juga kan iya, De&#8230;</p>
<p>Dan tentang kebiasaan ibu-ibu muda yang seneng foto-foto, pasti itu buat ninggalin rekam jejak di grup BB yang mereka punya. Kebayang gimana serunya mereka bergaya. Kebayang gimana hebohnya mereka bertukar cerita. Saya jadi ingat apa yang ditulis Trinity di bukunya, bahwa orang Indonesia kalau lagi jalan-jalan ke luar negeri, selalu sibuk dengan dua kegiatan ini. Berfoto dan belanja.</p>
<p>Rencana keberangkatan Risa ke Tokyo sebenarnya sudah direncanakan sekitar 5 bulan lalu. Isteri adik saya yang tinggal di Surabaya, mengajak Risa liburan dengan teman-teman dekatnya. Kebetulan, ada teman yang tinggal di Tokyo dan sedang ada tiket promo. Apalagi anak pertama mereka, Palmeto, ikut serta. Anak laki-laki kelas 6 SD itu membuat Risa menyambut ajakan tersebut dengan semangat berlipat. Jadi berasa ada teman &#8217;sebaya&#8217; kayaknya&#8230;</p>
<p>Ok Nak, selamat menikmati semuanya.</p>
<p>Ibu tunggu cerita-cerita Ica yang lain ya!</p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bintangtimur.blogdetik.com/2013/03/03/email-itu/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Keluar dari PNS? Kenapa tidak&#8230;</title>
		<link>http://bintangtimur.blogdetik.com/2013/03/01/keluar-dari-pns-kenapa-tidak/</link>
		<comments>http://bintangtimur.blogdetik.com/2013/03/01/keluar-dari-pns-kenapa-tidak/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Mar 2013 10:07:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bintangtimur</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[The journey]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bintangtimur.blogdetik.com/?p=594</guid>
		<description><![CDATA[Judul diatas memang ekstrim.
Di saat semua orang berebut ingin menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), niat buat mengundurkan diri dari profesi itu betul-betul ada diluar nalar kita. Tidak masuk akal. Bahkan mungkin bisa dianggap sebagai sesuatu yang tidak normal.
Tidak apa-apa. Semua orang bebas mempunyai pilihan dan penilaian. Saya yang mengundurkan diri dari PNS di tahun 2007 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Judul diatas memang ekstrim.</p>
<p>Di saat semua orang berebut ingin menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), niat buat mengundurkan diri dari profesi itu betul-betul ada diluar nalar kita. Tidak masuk akal. Bahkan mungkin bisa dianggap sebagai sesuatu yang tidak normal.</p>
<p>Tidak apa-apa. Semua orang bebas mempunyai pilihan dan penilaian. Saya yang mengundurkan diri dari PNS di tahun 2007 saja, sampai sekarang masih banyak ditanya orang dengan nada heran : kenapa sih keluar dari PNS? Kan sayang&#8230;</p>
<p>Tapi kemarin sore, saya menerima telpon dari seorang teman yang dengan bangganya mengumumkan kalau dia sudah mengundurkan diri dari profesinya sebagai seorang PNS. Mbak Sandra, namanya. Suaminya seorang tentara, satu angkatan dengan suami saya. Dulu suami kami pernah sama-sama bertugas di Medan sehingga kami lumayan sering bertukar pengalaman.</p>
<p>Mbak Sandra ini sudah 17 tahun menjadi PNS di Dinas Kesehatan, lengkap dengan mutasi sana-sini karena mengikuti kepindahan suami. Pangkat dan jabatan sudah tidak dipikirkan lagi. Yang penting status sebagai PNS itu tetap dipertahankan karena merupakan kebanggaan. Saya mengerti. Saya juga dulu bangga sekali menjadi isteri tentara yang merangkap profesi sebagai seorang PNS. Saat ibu-ibu lain masih berdaster di pagi hari, saya justru sudah rapi mengenakan seragam warna khaki atau batik korpri. Betapa kerennya!</p>
<p>Tapi telpon kemarin sore membuyarkan penilaian itu.</p>
<p>Suara riang yang sudah lama tidak saya dengar itu membuat saya terpana. Hah? Mbak Sandra keluar dari PNS? Nggak salah? Bukannya saya dulu sudah pernah cerita kalau keluar dari PNS itu beratnya bukan hanya di status yang hilang, tapi juga saat menjawab aneka pertanyaan yang isinya penuh dengan penyesalan. Padahal yang kerja itu sebetulnya kan saya, kenapa juga yang menyesal malah mereka yang bertanya&#8230;</p>
<p>Ok-lah kalau itu karena mereka peduli. Tapi apakah mereka menyadari kalau pertanyaan yang nadanya menyesali itu membuat kita kebingungan mau menjawab apa?</p>
<p>Kemarin sore, mbak Sandra cerita bahwa akhirnya dia sampai di satu pemikiran, bahwa seorang isteri tentara itu pada akhirnya harus memilih. Mau tetap bekerja menjadi Pegawai Negeri atau justru mengundurkan diri karena ingin total mengabdikan diri buat keluarga. Dia begitu berbunga-bunga dengan pilihannya. Tawa renyahnya tak henti terdengar di telinga saya. Katanya kemarin adalah hari terkhirnya masuk kantor. Katanya lagi, tiga minggu lalu dia sudah resmi mengajukan surat pengunduran diri.</p>
<p>Saat dia sedang dalam perjalanan pulang ke rumah, tiba-tiba dia ingat pada keputusan saya saat mengundurkan diri sebagai PNS 6 tahun lalu. Saya tertawa sambil mengucapkan selamat buat keberaniannya mengambil pilihan itu. Katanya justru dia yang berterima kasih karena saya telah menginspirasi dia buat melakukan hal yang sama&#8230;duh, yang ini sih kayaknya lebay banget deh, mbak!</p>
<p>Sejujurnya, suami yang sering pindah tugas, anak-anak yang bergonta-ganti sekolah, belum lagi adaptasi yang tak pernah henti dengan berbagai situasi, membuat kami, para isteri tentara kehabisan energi positif buat berbagi dan berempati. Mengeluh, mengomel dan tak pernah puas dengan segala situasi menjadikan peran ganda itu terasa sangat berat. Belum lagi kalau suami dan anak ada di kota yang berbeda. Suami karena tugas. Anak-anak karena sekolah yang tak mungkin dipindah.</p>
<p>Ditambah lagi harus mengurus mutasi diri sendiri yang tak kalah ribet sehingga menghabiskan waktu sampai berbulan-bulan. Itupun kalau diijinkan. Di jaman otonomi daerah seperti sekarang ini, pindah kerja itu sama artinya dengan membebankan gaji kita pada APBD daerah yang bersangkutan. Jadi, tidak setiap daerah mau menerima para isteri tentara yang bekerja sebagai PNS menjadi karyawati daerahnya. Alhasil, hiduplah suami, isteri dan anak itu di kota yang berbeda.</p>
<p>Tapi jawaban mbak Sandra kemarin bukan karena alasan itu.</p>
<p>Dia malah merasa bersalah karena sudah berbelas tahun tidak selalu ada bersama mereka. Tiga orang buah hati yang menjadi kebanggaan keluarga, hanya bisa bertemu dengan ibunya di malam hari kala badan sudah lelah karena bekerja seharian. Begitu juga di saat liburan. Kala anak pertama dan keduanya ada di rumah karena sedang liburan dari sekolah berasrama diluar kota, dia justru harus masuk kantor dan mengerjakan hal-hal lain yang berkaitan dengan pekerjaan. Bukannya menemani anak-anak liburan atau berbagi kegembiraan lewat kegiatan yang menyenangkan.</p>
<p>Bayangkan.</p>
<p>Demikian hebatnya naluri seorang ibu.</p>
<p>Sekian tahun bekerja tanpa sedikitpun merasa bersalah, rasa itu justru baru muncul tiga minggu lalu, saat anak keduanya akan menghabiskan liburan di rumah.</p>
<p>Mbak Sandra berpikir, saat-saat indah bersama buah hati itu tentu tak bisa digantikan oleh gaji rutin yang diterima tiap bulan. Siapa yang tidak perlu uang. Siapa juga yang ingin hidupnya kekurangan. Tapi merasa cukup itu kan kita yang menentukan. Mbak Sandra juga yakin, kebersamaan dirinya bersama anak-anak akan menukar jumlah materi yang selama ini didapat dengan bentuk yang berbeda, yaitu kebersamaan.</p>
<p>Hidup memang punya banyak pilihan.</p>
<p>Bekerja juga sangat bergantung pada kesempatan. Kala pilihan dan kesempatan itu tak lagi bisa seiring, maka pilihan yang diambil harus dilakukan dengan penuh keyakinan. Tidak gamang karena takut dituduh tak konsisten. Tidak takut karena mungkin dituduh perempuan kuno yang ketinggalan jaman. Tak apa. Pilihan itu adalah hak kita sebagai seorang wanita.</p>
<p>Itu sebabnya saya sering berkata, bila nurani sudah berbicara dan membisikkan kehendak, dengarkanlah. Karena bukan tak mungkin, itu adalah pilihan terbaik yang harus kita lakukan. Dengan dukungan suami dan anak-anak, saya yakin pilihan itu tak akan membuahkan penyesalan.</p>
<p>Oya, saya juga sudah kasih bocoran jawaban kalau nanti mbak Sandra ditanya seperti ini oleh banyak orang : kenapa sih berhenti jadi PNS? Kan sayang&#8230;</p>
<p>Jawab saja dengan satu kalimat pendek dan seulas senyum, mbak : karena saya lebih sayang dengan keluarga saya <img src='http://bintangtimur.blogdetik.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bintangtimur.blogdetik.com/2013/03/01/keluar-dari-pns-kenapa-tidak/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>The Baked Goods</title>
		<link>http://bintangtimur.blogdetik.com/2013/02/25/the-baked-goods/</link>
		<comments>http://bintangtimur.blogdetik.com/2013/02/25/the-baked-goods/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Feb 2013 13:08:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bintangtimur</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[The journey]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bintangtimur.blogdetik.com/?p=593</guid>
		<description><![CDATA[Kami sekeluarga adalah penggemar cake enak.
Entah sudah berapa banyak toko, cafe, resto atau apapun itu yang kami masuki buat mencicipi keunikan cake yang dijual disana. Ada yang karena rekomendasi teman atau saudara, tapi banyak juga yang ditemukan karena referensi dari majalah atau bertanya lewat google.
Salah satunya adalah toko kue ini.
Sudah lama Risa penasaran dengan toko [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kami sekeluarga adalah penggemar cake enak.</p>
<p>Entah sudah berapa banyak toko, cafe, resto atau apapun itu yang kami masuki buat mencicipi keunikan cake yang dijual disana. Ada yang karena rekomendasi teman atau saudara, tapi banyak juga yang ditemukan karena referensi dari majalah atau bertanya lewat google.</p>
<p>Salah satunya adalah toko kue ini.</p>
<p>Sudah lama Risa penasaran dengan toko kue milik suami isteri yang dulu bergelut di dunia hiburan Indonesia. Sang isteri yang model dan penggemar kue rupanya merasa bahwa kue-kue yang dijual di Jakarta terlalu manis dan tidak sehat. Dia mengambil peluang ini. Kue kering dan cake rumahan yang dibuat berdasar resep keluarga yang tinggal di Eropa, membuat kue-kue disini direkomendasikan karena rasanya tidak terlalu manis dan rumahan banget.</p>
<p>Saya tidak percaya. Selain penasaran, saya juga sudah mulai bosan dengan rasa cake yang begitu-begitu saja.</p>
<p>Kemarin sore, sepulang bezuk seorang teman di rumah sakit, Risa mengajak saya dan suami buat mencoba kue-kue yang dijual disana. Kebetulan tempatnya dekat. Toko kue yang terletak di pojokan Jalan Sabang dan Kebon Sirih ini mudah ditemukan karena letaknya yang strategis biarpun tokonya cenderung mungil.</p>
<p>Begitu membuka pintu masuk yang terbuat dari kaca bening, mata saya sudah dimanjakan oleh aneka kue kering dan cake yang begitu menggoda. Penataannya artistik sehingga kesan mahal segera muncul begitu kita mendekati meja etalase penjualan cake. Aneka cake dipajang disana.</p>
<p>Saking bingungnya mau milih yang mana, Risa akhirnya menanyakan pada pegawai yang berdiri di balik meja etalase cake apa yang direkomendasikan di toko itu. Tanpa berpikir panjang, dia bilang kalau Bublanina adalah cake yang banyak disuka.</p>
<p>Aha, itu dia.</p>
<p>Cake potong berbentuk segiempat yang didominasi warna putih dan dilapisi crumble renyah diatasnya ini mulanya tampak biasa-biasa. Semburat merah yang ada di bagian tengah, membuat rasa cake ini mudah ditebak. Pasti pakai selai strawberry!</p>
<p>Kami meminta satu untuk dibawa pulang.</p>
<p>Setelah itu barulah selera pribadi yang bicara. Risa memilih sepotong Eggless coklat yang ditaburi gula halus diatasnya, sedangkan saya menunjuk sepotong Mocha Cake yang tampak menggoda mata. Yup, tiga saja cukup. Selain takut makin gendut, cake-cake itu juga pasti lebih enak kalau langsung dimakan habis tanpa harus disimpan di kulkas dengan alasan kebanyakan.</p>
<p>Sampai di rumah, setelah ganti baju dan bersih-bersih, tibalah saat buat mencicipi kue-kue itu. Ini dia salah satu momen berharga di tengah keluarga kami. Duduk di depan TV sambil ditemani secangkir kopi tubruk hitam dan ngemil kue-kue unik. Saling coba, saling komentar dan ujung-ujungnya adalah penilaian.</p>
<p>Bublanina yang sudah dimakan di mobil karena penasaran dengan rasanya, adalah cake pertama yang kami coba. Betul tebakan saya, ada selai strawberry yang langsung menebarkan rasa segar ketika kita menggigitnya. Lapisan crumble diatasnya juga menjadi pelengkap kelezatan kue ini. Sepotong dibagi tiga orang ternyata masih kurang&#8230;</p>
<p>Cake yang kami coba berikutnya adalah Eggless.</p>
<p>Cake ini memiliki potongan berbentuk segitiga yang didominasi warna coklat gelap. Bisa ditebak. Kue ini memang kue coklat pekat yang dibuat tanpa telur sama sekali. Saya juga heran. Memang bisa ya buat cake enak tanpa telur?</p>
<p>Tapi ternyata rasanya lezat. Saya yang bukan penggemar kue coklat saja sampai tak bisa berkata-kata saking nikmatnya. Rasa manis yang saya bayangkan bakal langsung menyerang indera perasa saya, ternyata tidak ada. Manisnya betul-betul minimal. Dan itu yang membuat kita semua tidak bisa berhenti untuk mengambil potongan itu lagi dan lagi&#8230;</p>
<p>Ehm, sekarang cake yang terakhir ya!</p>
<p>Namanya Mocha Cake. Bentuknya elegan karena lapisan mocha yang berwarna coklat muda melapisi bentuk segitiganya yang lumayan tinggi. Selain itu ada taburan kacang diatasnya yang membuat setiap gigitan bikin ketagihan. Ini dia yang saya paling suka. Cream yang saya kira bakal manis menggigit ternyata saya makan sampai potongan terakhir karena rasa mochanya yang unik. Kue ini lagi-lagi memiliki rasa manis yang pas di lidah saya. Komposisinya memang betul-betul dibikin dengan rasa rumahan yang tidak membuat kita cepat bosan.</p>
<p>Penasaran?</p>
<p>Saya juga nyesel kok kenapa kemarin cuman beli tiga&#8230;</p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bintangtimur.blogdetik.com/2013/02/25/the-baked-goods/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Menanam cinta di Cibenda</title>
		<link>http://bintangtimur.blogdetik.com/2013/02/23/menanam-cinta-di-cibenda/</link>
		<comments>http://bintangtimur.blogdetik.com/2013/02/23/menanam-cinta-di-cibenda/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Feb 2013 13:51:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bintangtimur</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[The journey]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bintangtimur.blogdetik.com/?p=588</guid>
		<description><![CDATA[Halo!
Sudah lama saya tidak bercerita tentang perjalanan di blog ini. Mungkin karena kegiatan rata-rata hanya di seputaran Jakarta dan amat jarang keluar kota, saya jadi tidak punya bahan seru buat dijadikan cerita.
Tapi beberapa bulan lalu, saya punya satu pengalaman baru.
Instansi tempat suami bertugas akan melakukan kegiatan penanaman pohon di sebuah daerah yang bernama Cibenda. Tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Halo!</p>
<p>Sudah lama saya tidak bercerita tentang perjalanan di blog ini. Mungkin karena kegiatan rata-rata hanya di seputaran Jakarta dan amat jarang keluar kota, saya jadi tidak punya bahan seru buat dijadikan cerita.</p>
<p>Tapi beberapa bulan lalu, saya punya satu pengalaman baru.</p>
<p>Instansi tempat suami bertugas akan melakukan kegiatan penanaman pohon di sebuah daerah yang bernama Cibenda. Tidak perlu saya jelaskan apa latar belakang dan tujuannya ya, yang pasti kegiatan tanam-menanam, dimanapun itu, pasti membuat saya bersemangat.</p>
<p>Hari itu, saya dan rombongan bertolak menuju Pelabuhan Ratu. Lokasi penanaman pohon ada di daerah Cibenda. Berhubung daerah tersebut sulit dijangkau lewat jalan darat, maka rombongan harus bermalam dulu di Pelabuhan Ratu.</p>
<p>Sore yang gerimis membuat perjalanan agak terhambat. Apalagi saat rombongan tiba di Ciawi menuju Cipanas, mobil berjalan lambat karena lalu lintas yang amat padat. Untunglah hujan sudah reda saat kami sampai di Sukabumi. Rombongan juga sempat beristirahat sejenak di desa Cikembar sambil menikmati hangatnya sukun goreng yang dihidangkan dengan secangkir teh tawar panas. Ah, nikmatnya!</p>
<p>Setelah menghabiskan beberapa potong sukun dan dua cangkir teh panas yang sebenarnya masih terasa kurang, kamipun melanjutkan perjalanan.</p>
<p>Mentari yang nyaris tenggelam membuat perjalanan menyenangkan. Saya yang biasanya tidak pernah antusias terhadap suasana pantai, saat itu betul-betul penasaran dengan pemandangan pantai di malam hari. Belokan-belokan yang lumayan tajam saat kendaraan melaju kencang, menjadikan deretan pohon di kiri dan kanan jalan hanya berupa bayangan.</p>
<p>Sangat indah.</p>
<p>Menjelang maghrib rombongan tiba di penginapan.</p>
<p>Udara pantai yang hangat menyambut kami yang kelelahan. Tapi makan malam sudah menunggu. Setelah mandi dan ganti baju, kami langsung pergi untuk makan malam di salah satu restoran pinggir pantai. Saya yang satu kamar dengan suami, tak mau ketinggalan. Bergegas turun dari kamar kami di lantai dua dan langsung bergabung dengan rombongan karena takut ketinggalan.</p>
<p>Bukan apa-apa, ketinggalan acara makan malam itu tentu bakal jadi peristiwa yang menyiksa lahir batin. Siksaan batinnya adalah rasa malu yang berkepanjangan, sedangkan siksaan lahirnya jelas akan membuat kami kelaparan semalaman&#8230;hehe</p>
<p>Oya, menu makan malam itu tentu tak jauh-jauh dari bermacam-macam seafood yang dimasak dengan beragam cara dan aneka rasa. Kuah asam manis yang segar, beragam lalapan, sambal yang menggoda iman dan aneka ikan.</p>
<p>Eh, cumi goreng tepung itu kan kesukaan saya banget&#8230;ehm, ehm, saya buru-buru mencari kursi yang letaknya persis ada di depan piring sang cumi. Rupanya itu belum cukup. Di sebelah cumi itu ada juga udang bakar yang tampak kecoklatan. Ah, ah&#8230;rezeki memang tak kan kemana!</p>
<p>Malam semakin larut.</p>
<p>Setelah makan malam, kami langsung pulang menuju penginapan dengan mata setengah tertutup. Apalagi besok pagi sudah harus berkumpul di lobby jam 6 pagi. Pas. Tidak boleh ada yang datang terlambat.</p>
<p>Yup, besok adalah acara puncak penanaman pohon yang dilakukan oleh ratusan anggota militer, ibu-ibu Persit dan masyarakat dalam rangka hari ulang tahun instansi suami.</p>
<p>Target penanamannya adalah 100 ribu pohon yang akan ditanam bertahap selama 6 bulan diatas lahan seluas 180 hektar. Bukan hal mudah tentu saja. Selain perlu kerja keras saat melakukan penanaman, pemeliharaan pohon-pohon itu juga tentu harus diperhatikan agar tidak mati karena kurang perawatan.</p>
<p>Jam 6 pagi, semua anggota rombongan sudah siap di kendaraan masing-masing.</p>
<p>Lokasi penanaman bukan di pinggir pantai wisata, tapi di daerah pedalaman yang harus ditempuh dengan naik speed boat. Perjalanan itu sendiri memakan waktu 90 menit. Lumayan menegangkan pastinya. Tapi karena itu alternatif terbaik, terpaksalah hal itu kami lakukan. Mau lewat darat?</p>
<p>Bisa. Tapi waktu tempuhnya sekitar 5 jam kalau udara cerah dan tidak hujan&#8230;</p>
<p>Perjalanan lewat laut itu juga sebenarnya memiliki resiko yang tak kalah seru. Kalau air pasang dan gelombang tinggi, maka perjalanan harus dibatalkan. Itu sebabnya kami harus berangkat pagi-pagi kala air laut masih tenang dan cuaca terang. Alhamdulillah, pagi itu cuaca bersahabat. Kami bisa melakukan penyeberangan dengan tenang dan lancar.</p>
<p>Tiga speed boat yang telah dipersiapkan segera melaju kencang. Tidak ada yang bisa menebak bagaimana cuaca siang nanti. Oleh sebab itu kami harus mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan terburuk dan tidak bisa menyeberang pulang karena terhalang gelombang atau turunnya hujan.</p>
<p>Biarpun beberapa kali speed boat berhenti di tengah lautan karena beragam gangguan (sampah yang tersangkut di mesin, tiba-tiba saja mesinnya mati atau speed boat kandas padahal belum sampai di tepian), akhirnya kami tiba juga di seberang.</p>
<p>Ini rupanya daerah yang bernama Cibenda.</p>
<p>Sebuah daerah yang terletak jauh di pelosok Pelabuhan Ratu dan masyarakatnya memiliki mata pencaharian sebagai pencari rumput laut atau bertani. Sawah yang hijau membentang di beberapa tempat membuktikan hal tersebut. Selain itu rumput laut yang dijemur diatas pasir dan perahu juga meyakinkan saya bahwa mereka memang memiliki mata pencaharian itu.</p>
<p>Pagi itu, rombongan tiba di tujuan saat matahari belum terlalu terik.</p>
<p>Tempat yang kami datangi ternyata masih jauh dari muara dimana speed boat kami merapat. Perjalanan lewat darat diteruskan dengan mobil sambil duduk berhimpitan. Maklum, jumlah orang dan kendaraan memang tidak seimbang sehingga kendaraan yang ada harus dioptimalkan.</p>
<p>Lagi-lagi asas efisiensi harus diterapkan&#8230;</p>
<p>Setelah 20 menit berkendara, kami tiba di lokasi penanaman. Sebuah tempat luas dengan kontur tanah naik turun yang membentang sampai di ujung pandangan. Lubang-lubang yang sudah digali oleh bapak-bapak tentara dan masyarakat setempat berjumlah ratusan. Di sebelah lubang-lubang tadi sudah ditaruh beragam pohon dalam polybag yang akan ditanam. Ah, ini dia. Saya buru-buru menghampiri salah satu lubang untuk mulai melakukan penanaman. Jenis pohonnya macam-macam. Mulai dari trembesi, mahoni, albasia, sengon, jati putih, sempur, akasia, kepuh, jabon, ketapang, asem, waru dan mangga.</p>
<p>Lahan kritis yang gundul di banyak tempat, menjadi inspirasi kami untuk menghijaukan kembali daerah tersebut secara bertahap karena luasnya daerah penanaman. Tidak ada hal mudah untuk mewujudkan sebuah impian. Sama seperti penanaman yang kami lakukan saat itu. Tidak bisa instan. Perlu waktu dan perawatan yang tepat agar pohon-pohon yang ditanam tumbuh subur dan bisa menghijaukan bumi tercinta, khususnya di daerah Cibenda.</p>
<p>Dan, inilah foto saya dan suami setelah menanam pohon sempur dengan banyak cinta&#8230;</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-589" src="http://bintangtimur.blogdetik.com/files/2013/02/08aa5ae52891499c5ab1dc12c329844d_09122012586-225x300.jpg" alt="08aa5ae52891499c5ab1dc12c329844d_09122012586" width="225" height="300" /></p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bintangtimur.blogdetik.com/2013/02/23/menanam-cinta-di-cibenda/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Surat buat sahabat</title>
		<link>http://bintangtimur.blogdetik.com/2013/02/05/surat-buat-sahabat/</link>
		<comments>http://bintangtimur.blogdetik.com/2013/02/05/surat-buat-sahabat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Feb 2013 14:30:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bintangtimur</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[The journey]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bintangtimur.blogdetik.com/?p=587</guid>
		<description><![CDATA[Sahabat, apa kabar?
Rasanya baru kemarin kita bertukar cerita tentang laki-laki idola, dan kini badai rumah tangga itu ternyata datang melanda. Awal tahun yang seharusnya dimulai dengan impian indah tentang harapan dan sejuta asa, justru tiba diiringi tetesan air mata dan ribuan tanya.
Tentang cinta. Tentang kesetiaan. Dan tentang harapan yang tak lagi sama.
Saat rangkaian kalimat yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sahabat, apa kabar?</p>
<p>Rasanya baru kemarin kita bertukar cerita tentang laki-laki idola, dan kini badai rumah tangga itu ternyata datang melanda. Awal tahun yang seharusnya dimulai dengan impian indah tentang harapan dan sejuta asa, justru tiba diiringi tetesan air mata dan ribuan tanya.</p>
<p>Tentang cinta. Tentang kesetiaan. Dan tentang harapan yang tak lagi sama.</p>
<p>Saat rangkaian kalimat yang kau tulis dengan penuh kepanikan itu aku terima, aku terpana dan tak mampu menulis kalimat balasan. Aku kaget. Aku tak percaya. Tak pernah kukira ujian semacam itu akan melanda rumah tangga yang kau pelihara dengan penuh cinta. Sungguh. Tadinya aku menduga masalah itu hanyalah milik mereka yang tak setia. Bukan kita, yang begitu menjunjung tinggi arti cinta yang tak mendua.</p>
<p>Tapi apa mau dikata.</p>
<p>Kali ini takdir membuatmu berada di titik yang tak bisa kau hindari lagi. Hal yang tadinya sangat kau jauhi, sekarang harus kau lalui dengan lapang hati. Sebuah langkah yang awalnya tak ingin kau jalani, kini harus kau lakoni dengan keyakinan hati. Pahit memang. Tapi itulah hidup.</p>
<p>Ada kalanya jingga, ada kalanya kelabu. Bahkan tak jarang kedua warna itu akan berpadu menjadi satu.</p>
<p>Bahtera yang berpuluh tahun kau pelihara itu, ternyata menabrak karang terjal yang tak pernah kau duga sebelumnya. Rumah tangga yang tadinya menjadi tempat berlabuh itu, tiba-tiba saja berganti rupa menjadi ajang sengketa tanpa jeda. Bertukar cerita yang mulanya penuh dengan canda, sekarang jadi menyakitkan karena tak lagi menemukan kesepahaman. Tak jelas siapa yang salah atau benar.</p>
<p>Tak tahu lagi siapa yang bisa disebut pemenang atau pecundang.</p>
<p>Karena sesungguhnya kalah dan menang itu hanya ada dalam sebuah pertandingan. Pernikahan tentu saja bukan pertandingan. Bukan kompetisi. Pernikahan adalah ikatan suci yang berisi tanggung jawab, kesetiaan, kehormatan, cinta dan kasih sayang.</p>
<p>Sahabat, hidup terus berjalan&#8230;</p>
<p>Kadang naik, kadang turun. Kadang suka, namun tak jarang rapuh dan penuh luka. Peralihan dari bermacam rasa itulah yang menjadikan kita dewasa dan mudah-mudahan bertambah bijaksana. Proses itu tak pernah mudah. Harapan dan kenyataan juga tak selalu sejalan. Disanalah kita belajar. Bahwa saling memahami, memaafkan dan terus saling mengisi adalah sebuah keharusan.</p>
<p>Tidak ada proses instan untuk pernikahan bahagia, sahabat&#8230;</p>
<p>Tidak ada titik akhir setelah kita memulai sebuah ikatan. Karena sesungguhnya ujung dari pernikahan bahagia sama jauhnya dengan lembayung senja di cakrawala. Tak tersentuh. Tak tergapai. Namun harus terus diupayakan untuk dinikmati keindahannya. Pintu yang tertutup di satu sisi, biasanya dibarengi dengan jendela lain yang terbuka.</p>
<p>Jadi tenanglah, sahabat&#8230;</p>
<p>Kesedihan yang kau rasakan hari ini, tentu tidak abadi. Kepahitan yang sekarang sedang kau dapatkan, kelak akan berganti rupa dengan banyak kebahagiaan di masa depan. Kita sama-sama tahu bukan, bahwa hikmah itu selalu datang belakangan. Kala pahitnya hidup sudah berada di titik akhir kemampuan kita untuk menerima sakit dan perihnya luka, maka disitulah kita bisa berharap datangnya bahagia.</p>
<p>Jangan bersedih lagi, sahabat&#8230;</p>
<p>Tawa itu memang tak selamanya milik kita. Kadang perlu ada air mata untuk meningkatkan takwa. Gempita itu mungkin harus menyingkir sejenak agar ada jeda untuk mendekatkan kita dengan Sang Pencipta. Jangan gundah. Bukankah kita sudah sama-sama meyakini bahwa dibalik setiap kesulitan akan ada kemudahan? Dan bahwa Tuhan itu tidak akan meninggalkan kita terpuruk sendirian?</p>
<p>Ayo bangkit!</p>
<p>Hidup ini terlalu singkat untuk disesali tanpa henti. Hidup ini akan sia-sia bila kau terus menyalahkan diri sendiri. Biarkan saja pertanyaan-pertanyaan itu tak pernah terjawab. Ikhlaskan saja ujian itu datang dan meninggalkan guratan dalam. Kau hanya perlu mengangkat kepala dan melihat, bahwa diluar sana, banyak sekali orang berduka melebihi apa yang sedang kau rasakan sekarang&#8230;</p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bintangtimur.blogdetik.com/2013/02/05/surat-buat-sahabat/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Roti Sidodadi</title>
		<link>http://bintangtimur.blogdetik.com/2013/01/18/roti-sidodadi/</link>
		<comments>http://bintangtimur.blogdetik.com/2013/01/18/roti-sidodadi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Jan 2013 10:04:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bintangtimur</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[The journey]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bintangtimur.blogdetik.com/?p=586</guid>
		<description><![CDATA[Saya penyuka aneka jenis roti.
Makanan orang bule ini selalu membuat saya ketagihan. Mau roti mahal atau murah tidak masalah. Mulai croissant sampe roti bantal saya lahap dengan kenikmatan serupa, yang penting namanya roti. Sensasi campuran rasa terigu, telur, gula dan menteganya itu lo yang bikin saya selalu tergoda&#8230;
Saya tidak tahu apa yang menyebabkan saya sangat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya penyuka aneka jenis roti.</p>
<p>Makanan orang <em>bule</em> ini selalu membuat saya ketagihan. Mau roti mahal atau murah tidak masalah. Mulai croissant sampe roti bantal saya lahap dengan kenikmatan serupa, yang penting namanya roti. Sensasi campuran rasa terigu, telur, gula dan menteganya itu <em>lo </em>yang bikin saya selalu tergoda&#8230;</p>
<p>Saya tidak tahu apa yang menyebabkan saya sangat senang dengan roti. Orang tua yang berasal dari suku Minang dan Sunda, jauh sekali dari makanan jenis ini. Bahkan kalau disuruh memilih menu sarapan, saya akan memilih sepotong roti dibandingkan nasi Padang apalagi timbel plus lalapan!</p>
<p>Selain itu, roti buat saya adalah teman setia sewaktu minum kopi hitam atau kopi susu kesukaan. Pagi, siang atau malam, tidak masalah. Semua <em>capek</em> dan <em>bete</em> seakan terlepas kalau saya sudah menyantap sepotong roti. Pikiran jadi jernih, semangat juga pulih lagi. Perut kenyang <em>mah</em> udah pasti kali ya!</p>
<p>Tempat <em>nongkrongnya</em> juga tidak perlu di cafe ternama, makan roti di rumah <em>aja</em> udah bisa bikin saya bahagia. Apalagi kalau minumnya sambil baca majalah atau blog punya teman-teman, wuih, lewatlah semua kesedihan dan beban kehidupan&#8230;</p>
<p>Ada satu jenis roti yang selalu saya cari bila berkunjung ke Bandung.</p>
<p>Roti kuno yang rasanya <em>nggak</em> pernah berubah ini kebetulan letaknya tidak terlalu jauh dari rumah. Jadi dulu, waktu saya masih kecil, om dan tante selalu membawa roti ini sebagai oleh-oleh. Senengnya setengah mati. Apalagi kalau yang dibawakan itu roti baso (tanpa huruf k <em>lo</em> ya, kan ini bahasa Sunda) atau keju, dijamin saya bakal lompat-lompat kegirangan dan semua mainan langsung ditinggalkan.</p>
<p>Mulai penasaran?</p>
<p>Ok deh, saya teruskan ceritanya&#8230;</p>
<p>Toko roti ini terletak di Jl. Otto Iskandardinata, sebuah toko kecil yang agak kusam karena tidak tersentuh perubahan. Letaknya yang <em>nyempil</em> juga sering membuat saya <em>kebablasan, </em>bahkan sampai sekarang. Tapi pengunjungnya jangan ditanya. Apalagi kalau siang saat roti mulai matang, kita bisa sikut-sikutan dan heboh meneriakkan pesanan pada para pelayan yang jumlahnya nyaris tidak seimbang dengan luas tokonya.</p>
<p>Maklum, toko yang mungil itu tidak memberi ruang cukup buat pengunjung untuk dilayani dengan nyaman.</p>
<p>Roti yang dijual disana macam-macam. Mulai dari roti keju dan baso sapi seperti yang saya sebut tadi. Roti nanas, roti coklat, roti keju daging asap, roti srikaya, roti kacang, roti baso ayam, roti stoberi, roti kornet (ini juga ditulisnya begini), roti coklat keju, roti krenten a.k.a roti kismis, roti tiga rasa (yang saya nggak tau rasa apa aja yang dimasukin ke roti ini) dan roti-roti lain yang saya lupa apa judulnya&#8230;</p>
<p>Yang lebih unik adalah bungkusnya.</p>
<p>Karena ini bukan termasuk roti mahal yang dijual di gerai terang benderang, bungkus rotinya juga dari dulu tidak pernah berubah. Mau beli satu atau sepuluh, jenis plastiknya tetap sama. Hanya ukurannya saja yang disesuaikan dengan jumlah roti yang kita inginkan. Di plastik buram berwarna putih itu tertulis pesan moral sederhana yang sekarang sudah mulai diabaikan. Apakah itu teman-teman?</p>
<p>Buanglah sampah pada tempatnya, jadilah peserta KB lestari&#8230;</p>
<p> <img src='http://bintangtimur.blogdetik.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bintangtimur.blogdetik.com/2013/01/18/roti-sidodadi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
