<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>bintang timur</title>
	<atom:link href="http://bintangtimur.blogdetik.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bintangtimur.blogdetik.com</link>
	<description>a journey of my life...</description>
	<pubDate>Sat, 28 Apr 2012 03:56:26 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Uang Baru</title>
		<link>http://bintangtimur.blogdetik.com/2012/04/28/uang-baru/</link>
		<comments>http://bintangtimur.blogdetik.com/2012/04/28/uang-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Apr 2012 02:16:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bintangtimur</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[The journey]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bintangtimur.blogdetik.com/?p=532</guid>
		<description><![CDATA[Saya lupa kapan tepatnya, saya menaruh perhatian cukup besar terhadap alat tukar resmi di negeri ini.
Uang adalah sesuatu yang dicari setiap orang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari atau bahkan berinvestasi. Begitu juga saya, eh&#8230;suami saya. Sebagai isteri yang baik *ehm,ehm*, saya juga berusaha agar uang yang kami dapat bisa membawa berkah dan kebahagiaan.
Cara yang tepat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya lupa kapan tepatnya, saya menaruh perhatian cukup besar terhadap alat tukar resmi di negeri ini.</p>
<p>Uang adalah sesuatu yang dicari setiap orang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari atau bahkan berinvestasi. Begitu juga saya, eh&#8230;suami saya. Sebagai isteri yang baik *ehm,ehm*, saya juga berusaha agar uang yang kami dapat bisa membawa berkah dan kebahagiaan.</p>
<p>Cara yang tepat menurut saya adalah dengan menyisihkan sebagian uang tersebut dan memberikannya secara konsisten kepada mereka yang membutuhkan. Sedang banyak rezeki atau tidak, berbagi itu kan tidak boleh berhenti. Hanya prioritas dan jumlahnya saja yang harus disesuaikan.</p>
<p>Lalu, apa hubungannya dengan uang baru?</p>
<p>Sebentar.</p>
<p>Sebelum sampai ke topik itu, saya juga ingin menceritakan &#8216;kebiasaan aneh&#8217; suami yang sudah sukses ditularkan pada saya.</p>
<p>Apalagi kalau bukan cara menyusun uang kertas di dalam dompet!</p>
<p>Ya, itu dia.</p>
<p>Kalau suami cukup puas hanya dengan menyusun rapi uang-uang tersebut berdasarkan nilai nominal terbesar sampai terkecil saja, saya justru lebih parah lagi.</p>
<p>Uang yang ada di dompet saya selain harus disusun berdasarkan nilai nominalnya, juga harus menghadap ke arah yang sama. Artinya wajah-wajah pahlawan nasional yang ada di lembaran uang tersebut harus disusun searah berdasarkan sisi mata uang dimana wajah mereka berada.</p>
<p>Ribet banget kan?</p>
<p>Jadi jangan heran, kalau suatu saat melihat kami berdua sibuk membongkar dompet kami masing-masing setibanya di rumah setelah heboh berbelanja. Selain menyobek dan membuang bon pembayaran, biasanya kami juga sangat tekun memilah uang mana saja yang layak masuk dompet atau tidak.</p>
<p>Uang yang amat lecek dan bau, biasanya saya taruh di tempat tersendiri. Bila sewaktu-waktu membutuhkan, saya tinggal mengambilnya di tempat yang biasa. Seringnya sih buat belanja harian atau kebutuhan-kebutuhan kecil yang tak terduga datangnya.</p>
<p>Kalau suami beda lagi.</p>
<p>Dia justru memberikan uang-uang tersebut kepada saya dengan pesan khusus agar ditaruh di dasbor mobil untuk bayar tol dan parkir. Eh, kalau ada petugas pintu tol dan tukang parkir yang baca tulisan ini, jangan protes ya!</p>
<p>Memang sudah takdir, kalau uang lecek dan bau itu biasanya memiliki nilai nominal tidak terlalu besar. Kalau tidak seribu, dua ribu, lima ribu, <em>mentok-mentoknya</em> ya sepuluh ribu.</p>
<p>Seandainya saja uang lecek dan bau yang dikasih suami itu nilainya selalu lima puluh ribu atau seratus ribu, hoho, saya pasti sudah kaya raya&#8230;</p>
<p>Balik ke topik.</p>
<p>Kami berdua, saya dan suami maksudnya, adalah pencinta uang kertas baru. Bukan apa-apa. Kalau ada undangan nikah, khitanan atau bahkan kebetulan perlu memberikan hadiah uang pada seseorang, kita berdua selalu sibuk mencari uang baru sebagai hadiah.</p>
<p>Kesannya jadi lebih menghargai orang yang kita beri.</p>
<p>Apalagi saya pernah mengalami satu kejadian yang membuat saya geleng-geleng kepala.</p>
<p>Sudah menjadi tradisi kalau ada teman satu organisasi yang pindah, maka kita akan memberikan sejumlah uang untuk dibelikan cindera mata bagi yang bersangkutan. Jumlahnya sudah pasti.</p>
<p>Kalau dulu uang tersebut biasanya dibelikan perhiasan atau kain batik mahal, maka sudah beberapa tahun terakhir ini uang tersebut diberikan dalam bentuk uang tunai yang dimasukkan kedalam kotak cantik agar kesan uangnya tidak terlalu vulgar.</p>
<p>Berhubung itu uang iuran, maka nilai nominal dan jenis uangnya juga beragam. Ada yang nominalnya besar, ada juga yang lebih kecil. Ada yang kertasnya licin, ada juga yang lecek parah.</p>
<p>Awalnya saya cuek.</p>
<p>Apalagi saat itu saya masih yunior. Saya hanya ikut iuran *dengan uang kertas yang masih baru dan kinclong* lalu menyerahkannya pada yang paling senior untuk disatukan dengan uang teman-teman lain.</p>
<p>Begitu melihat kalau uang itu hanya digabungkan begitu saja, saya terkejut bukan kepalang. Ya ampun, kesannya kok iuran banget sih? <em>Mbok ya</em> ditukar dulu dengan uang dengan nilai nominal sama gitu, syukur-syukur kalau uang tersebut kertasnya masih agak baru&#8230;</p>
<p>Ini tidak. Pokoknya digabungin, dimasukin amplop dan kotak, beres.</p>
<p>Setelah hampir menjadi senior, kebiasaan itu langsung saya ubah. Biasanya saya akan menyiapkan terlebih dahulu sejumlah uang baru dengan nilai nominal sama. Nanti kalau ketemu dengan teman-teman yang akan iuran, mereka tinggal memberikan uangnya saja pada saya karena uang yang mau diberikan tadi toh sudah disiapkan.</p>
<p>Beres kan?</p>
<p>Entah kenapa saya kok sedetail ini. Saya juga bingung.</p>
<p>Hal yang dianggap orang lain biasa, buat saya justru menjadi sesuatu yang luar biasa. Jangan-jangan saya yang berlebihan kali ya. Atau justru orang lain yang kurang peduli?</p>
<p>Entahlah&#8230;</p>
<p>Yang pasti saya merasa lebih menghargai orang lain kalau saya bisa memberi  dengan uang kertas yang masih bagus. Apalagi kalau nominalnya juga besar&#8230;wah, itu sih jangan ditanya&#8230;penghargaannya bisa jadi berlipat ganda!</p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bintangtimur.blogdetik.com/2012/04/28/uang-baru/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Suami sekolah, saya pulang ke rumah&#8230;</title>
		<link>http://bintangtimur.blogdetik.com/2012/04/24/suami-sekolah-saya-pulang-ke-rumah/</link>
		<comments>http://bintangtimur.blogdetik.com/2012/04/24/suami-sekolah-saya-pulang-ke-rumah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Apr 2012 02:01:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bintangtimur</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[The journey]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bintangtimur.blogdetik.com/?p=531</guid>
		<description><![CDATA[Lalu Risa bagaimana?
Tetap kost di Bandung, tentu saja&#8230;
Banyak orang menganggap pilihan ini aneh. Bahkan tak jarang mengundang tanda tanya besar kenapa kami sekarang tinggal tinggal di kota yang berbeda. Sudah berkali-kali pula saya ditanya, kenapa  saya tidak memilih tinggal di Bandung saja menemani Risa atau tinggal satu mess dengan mas Budi di Jakarta.
Jawabannya tetap sama. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lalu Risa bagaimana?</p>
<p>Tetap kost di Bandung, tentu saja&#8230;</p>
<p>Banyak orang menganggap pilihan ini aneh. Bahkan tak jarang mengundang tanda tanya besar kenapa kami sekarang tinggal tinggal di kota yang berbeda. Sudah berkali-kali pula saya ditanya, kenapa  saya tidak memilih tinggal di Bandung saja menemani Risa atau tinggal satu mess dengan mas Budi di Jakarta.</p>
<p>Jawabannya tetap sama. Ini adalah kesempatan yang berharga. Kesempatan bagi kami untuk melakukan hal-hal yang tidak sama.</p>
<p>Dalam hal ini kami sudah sepakat untuk melakukan tugas dan tanggung jawab berbeda. Suami mengikuti pendidikan lemhannas di Jakarta selama 6 bulan ke depan. Risa sedang mengolah data-data yang diambil di Karaha untuk penyusunan skripsinya. Sedangkan saya kebagian tugas untuk membenahi rumah kami di Surabaya yang protes berat karena bertahun-tahun ditinggal pemiliknya.</p>
<p>Atap yang bocor, dinding yang retak-retak, taman yang tidak terurus, perabotan yang kusam karena tidak ada sentuhan adalah bagian dari tugas yang harus saya lakukan.</p>
<p>Bukan lebih mendahulukan barang-barang duniawi sebetulnya, tapi memang ini adalah kesempatan langka bagi saya untuk memberikan sentuhan langsung bagi rumah yang Insya Allah akan menjadi rumah masa tua saya dan suami. Apalagi ini  juga satu-satunya rumah yang kami punya.</p>
<p>Tanggal 8 April 2012 yang lalu, suami sudah melaksanakan serah terima jabatan di Makodam III/Siliwangi. Sejak tanggal itu pulalah kami bertiga meninggalkan rumah dinas jabatan yang selama ini kami tempati di kota Garut. Rumah yang meninggalkan banyak kenangan. Rumah yang menggoreskan banyak cerita tentang pentingnya sebuah kedewasaan.</p>
<p>Kalau mau jujur, itu adalah salah satu perpisahan terberat yang saya alami dengan ibu-ibu pengurus organisasi dimana selama 2 tahun 8 hari saya dipercaya menjadi seorang ketua. Entah susah berapa kali kami bertangisan, berpelukan atau sekedar saling menghibur bahwa suatu saat nanti kita pasti bertemu kembali.</p>
<p>Lebih tepat kalau itu adalah sebuah harapan. Satu keinginan dimana mungkin kelak kami bisa bertemu dan bekerja sama kembali untuk memajukan organisasi sekaligus bersilaturahmi. Di lingkungan tentara hanya surat perintah suami itulah yang bisa mempertemukan kami, para isteri pendamping suami, di sebuah tempat tugas baru.</p>
<p>Selain harus menata hati karena berpisah dengan mereka, saya juga harus membereskan dan memilah barang-barang pribadi yang akan dibawa ke tiga kota berbeda yaitu ke Jakarta, Bandung dan Surabaya.</p>
<p>Repotnya jangan ditanya.</p>
<p>Apalagi acara serah terima jabatan bagi seorang ketua Persit Kartika Chandra Kirana di tingkat apapun harus dilakukan dengan tertib dan formal sesuai juklak dan jukminu. Pembuatan laporan umum, verifikasi keuangan, rapat paripurna sampai dengan acara serah terima jabatan itu sendiri adalah rangkaian kegiatan yang harus saya lakukan.</p>
<p>Bukan mengada-ada, tapi ini adalah salah satu bentuk tanggung jawab serta transparansi tugas yang bisa dilihat dan dicermati semua orang sekaligus menjadi bahan evaluasi bagi ketua yang akan datang.</p>
<p>Sekarang semua itu sudah berlalu.</p>
<p>Kegiatan saya saat ini adalah menjadi ibu rumah tangga murni. Membenahi ini dan itu, mencurahkan waktu lebih banyak bagi keluarga dan orang-orang yang saya sayangi, sekaligus bersilaturahmi kembali dengan teman-teman di dunia maya yang sering membuat saya terharu karena perhatian dan kehangatannya yang luar biasa&#8230;</p>
<p>Terima kasih banyak ya!</p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bintangtimur.blogdetik.com/2012/04/24/suami-sekolah-saya-pulang-ke-rumah/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Selamat Ulang Tahun, mas Budi&#8230;</title>
		<link>http://bintangtimur.blogdetik.com/2012/04/04/selamat-ulang-tahun-mas-budi/</link>
		<comments>http://bintangtimur.blogdetik.com/2012/04/04/selamat-ulang-tahun-mas-budi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Apr 2012 01:22:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bintangtimur</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[The journey]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bintangtimur.blogdetik.com/?p=530</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini adalah ulang tahun mas Budi, suami tercinta yang telah 23 tahun mengarungi kehidupan berumah tangga bersama saya. Teman berbagi suka, sekaligus sahabat bertukar cerita duka.
Menikahi mas Budi adalah pencapaian terbesar dalam hidup saya.
Itu adalah kalimat yang diungkapkan Matt Damon terhadap Luciana, isteri yang dinikahinya beberapa tahun lalu. Kalau boleh mencontek, itu juga kalimat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari ini adalah ulang tahun mas Budi, suami tercinta yang telah 23 tahun mengarungi kehidupan berumah tangga bersama saya. Teman berbagi suka, sekaligus sahabat bertukar cerita duka.</p>
<p>Menikahi mas Budi adalah pencapaian terbesar dalam hidup saya.</p>
<p>Itu adalah kalimat yang diungkapkan Matt Damon terhadap Luciana, isteri yang dinikahinya beberapa tahun lalu. Kalau boleh mencontek, itu juga kalimat yang ingin saya ungkapkan tentang pernikahan kami. Pernikahan yang tidak pernah saya impikan sebelumnya karena punya pacar saja saya tidak pernah bahkan sampai duduk di bangku kuliah.</p>
<p>Sekarang, tanggal 4 April 2012, laki-laki yang saya kenal sejak dia berusia 24 tahun itu merayakan ulang tahunnya yang ke-50. Sebuah titik kehidupan yang membuatnya bertambah dewasa seiring pertambahan usia. Sebuah hari baru yang mudah-mudahan menjadikannya bertambah bijaksana tanpa kehilangan canda.</p>
<p>Itu yang membuat saya jatuh cinta.</p>
<p>Keseriusannya melaksanakan beragam tanggung jawab tidak pernah membuatnya lupa untuk menghangatkan suasana dengan derai tawa. Saya suka. Saya senang dengan caranya menyelesaikan masalah yang tidak pernah setengah-setengah. Saya terkesan dengan keseriusan yang tidak membuatnya kelihatan sok pintar.</p>
<p>Tak terasa sudah 26 tahun saya mendampinginya. Menemaninya berbagi cerita. Menjadikannya belahan jiwa dan tumpuan asa. Kadang disana ada segores luka, namun saya yakin, ada lebih banyak bahagia yang saya rasa.</p>
<p>Selamat Ulang Tahun, mas Budi.</p>
<p>Tak ada kado istimewa yang bisa saya beri. Tak ada kejutan menyenangkan yang akan saya persembahkan. Lewat tulisan ini, saya hanya ingin berterima kasih buat semua kebahagiaan yang telah mas Budi berikan selama ini. Buat saya, buat Risa dan buat semua keluarga besar kita.</p>
<p>Saya tahu, buat mas Budi keluarga itu segalanya.</p>
<p>Kebahagiaan kita adalah sesuatu yang tak bisa dinilai harta dunia. Kebersamaan dan obrolan tanpa arah kita bertiga di depan televisi, tawa lepas dari kamar tidur karena cerita dan gaya lucu mas Budi yang ditunjukkan pada saya dan Risa. Atau bahkan pelukan hangat yang sering mas Budi berikan pada kami berdua adalah sesuatu yang membuat saya bersyukur punya mas Budi sebagai kepala keluarga di rumah tangga yang saya punya.</p>
<p>Betul. Saya bersyukur kita berdua memiliki pemahaman yang sama terhadap cara menjalani dan memaknai hidup. Kebahagiaan. Itu yang kita cari. Ridho Allah. Itu yang ingin kita dapati. Kita sama-sama yakin, kalau materi itu akan mengikuti. Semua toh sudah ada porsi karena rezeki memang &#8216;moal pahili&#8217;.</p>
<p>Sekali lagi, selamat ulang tahun mas Budi&#8230;semoga mas Budi panjang umur, selalu sehat, bahagia, tercapai apa yang dicita-citakan dan kita berdua bisa mendampingi Risa saat nanti menikah dengan laki-laki terbaik yang diberikan Tuhan, serta melihat anak cucu kita berkejaran di halaman&#8230;</p>
<p>Amin.</p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bintangtimur.blogdetik.com/2012/04/04/selamat-ulang-tahun-mas-budi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kejutan buat Risa</title>
		<link>http://bintangtimur.blogdetik.com/2012/03/15/kejutan-buat-risa/</link>
		<comments>http://bintangtimur.blogdetik.com/2012/03/15/kejutan-buat-risa/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Mar 2012 09:13:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bintangtimur</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[The journey]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bintangtimur.blogdetik.com/?p=527</guid>
		<description><![CDATA[Tanggal 6 Maret 2012 lalu adalah ulang tahun Risa ke-21.
Sebagaimana lazimnya seorang ibu, saya ingin memberikan sesuatu yang berkesan buat Risa. Tidak hanya berupa kado istimewa, tapi juga sebuah kejutan yang tidak disangka-sangka.
Sudah hampir satu bulan ini, Risa melaksanakan penelitian lapangan untuk penyusunan skripsinya di daerah Karaha Bodas, sebuah area yang akan dijadikan pusat pengeboran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tanggal 6 Maret 2012 lalu adalah ulang tahun Risa ke-21.</p>
<p>Sebagaimana lazimnya seorang ibu, saya ingin memberikan sesuatu yang berkesan buat Risa. Tidak hanya berupa kado istimewa, tapi juga sebuah kejutan yang tidak disangka-sangka.</p>
<p>Sudah hampir satu bulan ini, Risa melaksanakan penelitian lapangan untuk penyusunan skripsinya di daerah Karaha Bodas, sebuah area yang akan dijadikan pusat pengeboran minyak dan energi geothermal.</p>
<p>Daerah ini terletak di Kecamatan Ciawi Kabupaten Tasilmalaya. Jaraknya dari rumah dinas kami kurang lebih 75 menit berkendara karena harus melewati jalan-jalan desa yang relatif kecil dan penuh delman.</p>
<p>Selama penelitian lapangan itu, Risa bermalam di rumah kepala desa Kadipaten. Bentuk penelitiannya ternyata lumayan menguras tenaga. Selain harus menembus hutan dan gunung untuk mencari aneka jenis batuan, dia juga wajib punya kekuatan fisik prima. Maklum, kegiatan penelitian itu sudah dilakukan mulai pukul 7 pagi dan baru berakhir sekitar pukul 3 sore hari.</p>
<p>Dengan ditemani babinsa dan penduduk lokal, Risa juga harus melakukan pemetaan lapangan yang jaraknya sekitar 5 X 5 km persegi yang berfungsi sebagai area penelitian. Selain itu Risa juga harus menyusuri aliran sungai yang berada di sekitar gunung dan hutan Karaha, untuk mengambil contoh batuan dan sampel air sebagai bahan penelitian.</p>
<p>Kembali ke acara ulang tahun tadi.</p>
<p>Berhubung hari itu suami sedang mengikuti pendidikan di Jakarta, maka hanya saya, Bato dan Yuli yang bisa datang kesana. Sengaja saya merahasiakan rencana tersebut agar hal itu bisa jadi kejutan istimewa.</p>
<p>Sekitar pukul 1 siang saya, Bato dan Yuli sudah berangkat menuju rumah kepala desa dimana Risa dan Hanna, seorang temannya yang juga melakukan penelitian serupa, tinggal selama ini. Menurut cerita Risa, mereka berdua biasanya sampai di rumah sekitar pukul 3 atau 4 sore.</p>
<p>Setelah melewati kecamatan Karangpawitan, Wanaraja, Cibatu dan Malangbong, kami mulai memasuki daerah Kadipaten. Jalan kecil yang kami lalui sudah diaspal. Persis sebelum tanjakan Gentong, mobil pun berbelok ke kanan.</p>
<p>Rupanya kami sudah tiba di jalan utama desa.</p>
<p>Setelah melewati kantor Pertamina, sampailah kami di rumah Pak Dadang, kepada desa Kadipaten, dimana selama ini Risa dan Hanna menginap.</p>
<p>Bu Dadang yang sedang tidur-tiduran di warung, tergopoh-gopoh mempersilahkan kami masuk. Kedatangan saya yang tidak diduga rupanya membuat Bu Dadang mati gaya. Ah, ah&#8230;ramahnya masyarakat desa itu memang tiada dua ya&#8230;</p>
<p>Saya dipersilahkan masuk lewat pintu depan.</p>
<p>Menurut cerita Bu Dadang, sekitar jam 3 sore biasanya Risa sudah pulang. Tapi siang itu Risa dan Hanna justru belum tiba. Dengan agak deg-degan, saya mulai menata meja tamu Bu Dadang yang disulap menjadi meja perayaan kecil-kecilan.</p>
<p>Pengalaman Risa kesasar di hutan beberapa minggu lalu, sempat membuat saya sedikit cemas. Tapi hal itu berusaha tidak saya besar-besarkan.</p>
<p>Biarpun agak sungkan sama Bu Dadang karena ruang tamunya terlalu lama dipenuhi aneka makanan, saya berusaha menerangkan bahwa perayaan ini juga bermakna ucapan terima kasih kami pada kebaikan mereka selama Risa dan Hanna tinggal disana.</p>
<p>Rencananya, kami semua memang akan mengadakan acara potong kue dan makan sore sederhana di rumah Bu Dadang. Mereka yang selama ini terlibat dalam penelitian lapangan Risa dan Hanna akan diajak ikut makan bersama yang bertepatan dengan ulang tahun Risa.</p>
<p>Hampir jam 4 sore, mobil yang ditunggu-tunggu itu baru tiba.</p>
<p>Duh, saya makin deg-degan. Makanan yang kami siapkan sudah ditata rapi di atas meja. Lilin sudah menyala, kami semua bersembunyi di balik jendela.</p>
<p>Pintu depan juga sengaja ditutup, biar efek kagetnya bisa kayak di sinetron-sinetron Indonesia itu&#8230;</p>
<p>Diam-diam kami mengintip dari balik jendela.</p>
<p>Pintu mobil sudah terbuka. D-Max yang penuh lumpur itu sudah berhenti cukup lama. Tapi, kenapa mereka tidak turun ya?</p>
<p>Eh, eh, kenapa juga pintu mobil itu ditutup lagi?</p>
<p>Astaga&#8230;mobil itu malah meluncur pergi meninggalkan kami yang berdiri bertatapan&#8230;</p>
<p>Jelas saya kebingungan.</p>
<p>Mau telfon Risa, takut ketahuan.</p>
<p>Tapi kalau tidak ditelfon, saya juga tidak tahu mereka akan pergi kemana dan berapa lama. Akhirnya Bu Dadang menawarkan solusi jitu, katanya biar dia saja yang menellfon Risa buat menanyakan mereka akan pergi kemana.</p>
<p>Sip lah!</p>
<p>Saya setuju. Bu Dadang langsung mengambil handphone dan berbicara sendiri  dengan Risa. Dan, coba tebak apa jawaban Risa saat dia ditanya mau kemana?</p>
<p>Astaga, mereka malah mau beli bakso di Ciawi yang jaraknya sekitar 12 km dari sana. Kata Risa, pulangnya mungkin habis maghrib nanti. Gubrak!</p>
<p>Uh, sia-sia deh kejutan yang sudah disiapkan&#8230;</p>
<p>Tanpa membuang waktu, saya langsung telfon Risa. Biarlah kejutan itu sia-sia, daripada kami semua harus menunggu sampai malam hari tiba.</p>
<p>Suaranya yang riang betul-betul membuat saya gemes bukan kepalang. Begitu saya jelaskan kalau kami bertiga sudah ada di rumah Bu Dadang sejak tadi siang, tawa Risa meledak tanpa bisa ditahan.</p>
<p>Hehe, ibu mau bikin kejutan ya, katanya tanpa dosa.</p>
<p>Iya De, tadinya sih begitu.</p>
<p>Tapi alih-alih terkejut karena saya datang, Risa malah bingung kenapa saya ada di rumah Ibu Dadang tanpa bilang-bilang&#8230;</p>
<p>Duh!</p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bintangtimur.blogdetik.com/2012/03/15/kejutan-buat-risa/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Candi Cangkuang</title>
		<link>http://bintangtimur.blogdetik.com/2012/03/04/candi-cangkuang/</link>
		<comments>http://bintangtimur.blogdetik.com/2012/03/04/candi-cangkuang/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Mar 2012 07:55:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bintangtimur</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[The journey]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bintangtimur.blogdetik.com/?p=499</guid>
		<description><![CDATA[Tempat wisata budaya yang dimiliki Kota Garut sangat beragam.
Salah  satunya adalah Candi Cangkuang atau sering juga disebut dengan nama Situ (danau) Cangkuang yang terletak sekitar  15 km dari pusat kota Garut. Lokasi tepatnya berada di Kecamatan  Leles.
Penunjuk arah yang terdapat di sebelah Alun-alun Leles itulah yang membuat saya  tertarik untuk mengunjungi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tempat wisata budaya yang dimiliki Kota Garut sangat beragam.</p>
<p>Salah  satunya adalah Candi Cangkuang atau sering juga disebut dengan nama Situ (danau) Cangkuang yang terletak sekitar  15 km dari pusat kota Garut. Lokasi tepatnya berada di Kecamatan  Leles.</p>
<p>Penunjuk arah yang terdapat di sebelah Alun-alun Leles itulah yang membuat saya  tertarik untuk mengunjungi tempat tersebut.</p>
<p>Apalagi suami juga sempat cerita, kalau waktu SMP dulu dia dan teman-temannya  pernah menempuh jarak Bandung - Garut hanya dengan bersepeda sekedar menikmati indahnya Candi Cangkuang…wah, 62 km naik sepeda? Rasa penasaran saya makin bertambah, seperti apa sih indahnya Candi Cangkuang itu?</p>
<p>Setelah berbelok dari jalan raya Bandung-Garut, saya melewati jalan  aspal yang ukurannya lebih sempit. Pemandangan di kiri kanan jalan khas  pemandangan desa. Sawah yang luas, kolam ikan dengan pohon teratai diatasnya, rumpun kelapa yang subur, serta rimbunnya rumpun bambu yang  gemerisik tertiup angin. Semuanya indah.</p>
<p>Beberapa saat kemudian, saya pun tiba di Situ Cangkuang.</p>
<p>Pintu masuk yang sederhana, sempat membuat saya bingung menentukan langkah. Tapi setelah dicari lebih teliti, akhirnya pintu itu ditemukan juga. Letaknya memang tidak menyolok. Gerbang masuk itu hanya berupa pintu kecil dimana penjual tiket berada.</p>
<p>Tepat setelah melewati pintu tersebut, pengunjung langsung disuguhi pemandangan memikat. Deretan rakit yang berjajar di tepi danau, tampak siap mengantarkan pengunjung ke seberang.</p>
<p>Aha, rupanya ini yang dinamakan Situ Cangkuang. Sebuah danau alam yang menjadi &#8216;makanan pembuka&#8217; sebelum kita masuk ke &#8216;menu utama&#8217; berupa candi bersejarah yang terletak di seberang danau.</p>
<p style="text-align: center"><img class="size-medium wp-image-521 aligncenter" src="http://bintangtimur.blogdetik.com/files/2012/03/rakit1-300x254.jpg" alt="rakit1" width="247" height="208" /></p>
<p style="text-align: center"><img class="aligncenter size-medium wp-image-516" src="http://bintangtimur.blogdetik.com/files/2012/03/danau-tanpa-rakit1-300x216.jpg" alt="danau-tanpa-rakit1" width="250" height="216" /></p>
<p>Saya dan rombongan melangkah ke arah rakit yang siap dikayuh.  Gerombolan pohon yang tampak teduh, membuat saya bersemangat untuk  segera tiba dan menjelajah disana. Betul-betul indah. Kehijauan dan keheningan yang berpadu sempurna itu membuat saya terpana bangga. Indonesia, memang indah luar biasa.</p>
<p>Sepuluh menit kemudian, rombongan kami tiba di seberang danau.</p>
<p>Keindahan alam disini juga rupanya tak kalah elok. Jalan setapak  yang cukup menanjak menjadi tantangan tersendiri bagi pengunjung untuk naik  ke atas bukit dimana candi tersebut berada. Beruntung saya ditemani Bapak Zaki, pemandu wisata yang bertugas di area tersebut, sehingga saya bisa menyerap banyak pengetahuan tentang asal usul daerah Cangkuang saat kami berjalan menuju candi.</p>
<p style="text-align: center"><img class="size-medium wp-image-520 aligncenter" src="http://bintangtimur.blogdetik.com/files/2012/03/pohon-cangkuang1-300x236.jpg" alt="pohon-cangkuang1" width="263" height="206" /></p>
<p style="text-align: center"><img class="aligncenter size-medium wp-image-519" src="http://bintangtimur.blogdetik.com/files/2012/03/musium1-300x237.jpg" alt="musium1" width="300" height="237" /></p>
<p>Bayangan saya tentang Candi Cangkuang yang hanya terdiri dari sebuah candi saja, ternyata salah besar.</p>
<p>Di akhir tanjakan, saya  justru menemukan beberapa obyek menarik sebagai peninggalan budaya. Selain  candi itu tadi, disana juga terdapat sebuah museum, makam keramat serta kampung adat yang tetap  dijaga kelestariannya.</p>
<p>Satu lagi, saya juga bisa melihat langsung seperti apa bentuk pohon cangkuang itu sesungguhnya. Konon, nama pohon itulah yang menjadi asal mula daerah tersebut dinamakan Cangkuang.</p>
<p>Daerah Cangkuang juga ternyata merupakan tempat dimana peradaban Islam dan Hindu  berpadu harmonis. Hal ini ditandai dengan lokasi candi sebagai tempat pemujaan bagi umat Hindu, terletak berdampingan dengan makam Eyang Embah Dalem Arif Muhammad yang merupakan pemeluk Islam.</p>
<p style="text-align: center"><img class="size-thumbnail wp-image-523 aligncenter" src="http://bintangtimur.blogdetik.com/files/2012/03/makam1-150x150.jpg" alt="makam1" width="150" height="150" /><img class="aligncenter size-thumbnail wp-image-515" src="http://bintangtimur.blogdetik.com/files/2012/03/candi-makam1-150x150.jpg" alt="candi-makam1" width="150" height="150" /></p>
<p>Ada satu lagi keunikan yang ditemukan dari makam ini.</p>
<p>Batu nisan yang  biasanya diletakkan tegak lurus di bagian kepala dan kaki makam, justru  diletakkan miring ke arah dalam sehingga menyerupai segitiga sama  sisi yang terbuka di kedua ujungnya. Bentuknya jadi seperti kuncup.</p>
<p>Filosofi  dari letak nisan tersebut ternyata amat dalam.</p>
<p>Lewat bentuk nisan tersebut, Eyang Embah Dalem Arif Muhammad ingin mengajarkan pada pengikutnya bahwa manusia itu seharusnya memiliki ilmu padi. Semakin berisi justru semakin merunduk. Semakin hebat ilmu yang dimiliki, seharusnya membuat kita semakin rendah hati.</p>
<p>Setelah sempat mengintip patung Dewa Shiwa di dalam candi, saya  melangkah ke arah museum yang terletak di seputaran candi.</p>
<p>Disana terdapat beberapa naskah kuno yang  ditulis dengan menggunakan kalam (sejenis tinta dari kulit buah  manggis). Tulisan tersebut ditulis diatas sehelai kertas yang terbuat  dari kulit pohon pisang yang telah diproses secara alami. Selain itu ada  juga naskah khotbah Jumat terpanjang di Indonesia (1,67 meter) yang  digulung rapi dengan memakai bahasa Arab.</p>
<p>Sebuah lukisan Eyang Embah Dalem Arif Muhammad yang dilukis dengan  jari tangan juga melengkapi isi museum.</p>
<p>Konon, pelukisnya harus melewati  serangkaian meditasi sehingga bisa menangkap dengan jelas seperti apa  sosok Eyang Embah Dalem Arif Muhammad itu sesungguhnya. Bukan apa-apa. Tidak ada selembar fotopun yang dapat dijadikan acuan untuk membuat lukisan Eyang itu tadi…wah, cerita ini nih yang sukses bikin saya merinding!</p>
<p style="text-align: center"><img class="aligncenter size-full wp-image-524" src="http://bintangtimur.blogdetik.com/files/2012/03/lukisan2.jpg" alt="lukisan2" width="169" height="348" /></p>
<p>Perjalanan ke Situ Cangkuang saya akhiri dengan mengunjungi Kampung  Pulo.</p>
<p>Kampung ini merupakan cikal bakal Situ Cangkuang yang hanya  terdiri dari 7 bangunan. Satu bangunan berupa mesjid sebagai tempat ibadah, sedangkan 6 bangunan  lainnya adalah rumah tinggal yang hanya boleh ditempati oleh keturunan perempuan  dari generasi  ke generasi.</p>
<p>Tidak ada anak laki-laki yang telah berkeluarga boleh tinggal disana.</p>
<p>Semua anak laki-laki yang dilahirkan di Kampung Pulo harus  meninggalkan kampung tersebut maksimal dua minggu setelah menikah. Tidak  heran bila banyak anak-anak Kampung Pulo yang memiliki beragam profesi  setelah dia dewasa.</p>
<p>Bangunan disana juga tidak boleh terbuat dari tembok atau kaca.</p>
<p>Saya  sempat masuk ke salah satu rumah yang membuat saya geleng-geleng kepala karena keunikannya. Bayangkan, semua barang dan ornamen yang ada di rumah itu seluruhnya terbuat dari kayu atau bambu. Tidak ada satupun produk modern yang menghiasi keindahan rumah. Sesuatu yang sering kita sebut dengan kaca jendela, ternyata bisa juga dibuat dari kayu  yang dibolongi di banyak tempat untuk ventilasi udara.</p>
<p>Wah, kreatif banget!</p>
<p style="text-align: center"><img class="size-thumbnail wp-image-503 aligncenter" src="http://bintangtimur.blogdetik.com/files/2012/03/candi1-150x150.jpg" alt="candi1" width="217" height="217" /><img class="aligncenter size-thumbnail wp-image-522" src="http://bintangtimur.blogdetik.com/files/2012/03/rumah-adat-kampung2-150x150.jpg" alt="rumah-adat-kampung2" width="231" height="231" /></p>
<p>Saat melangkah kembali ke rakit yang akan mengantar kami ke seberang, saya kembali  melayangkan pandang ke belakang.</p>
<p>Rimbunnya pohon yang menutupi  sebagian area candi, makam keramat para leluhur, museum dengan segala isinya, serta sebuah kampung adat itu telah memberi  saya pelajaran berharga.</p>
<p>Bahwa budaya itu ada karena tingginya tingkat keilmuan yang dimiliki oleh nenek moyang kita&#8230;</p>
<p>(Tulisan ini diikutkan pada <em><strong><a href="http://mondasiregar.wordpress.com">Giveaway Pertama di Kisahku</a></strong></em> bersama <em><strong><a href="try2becoolnsmart.wordpress.com">Kakakin</a></strong></em>)</p>
<p><a href="http://mondasiregar.wordpress.com"><br />
<img class="aligncenter size-full wp-image-526" src="http://bintangtimur.blogdetik.com/files/2012/03/banner-1.jpg" alt="banner-1" width="300" height="179" /></a></p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bintangtimur.blogdetik.com/2012/03/04/candi-cangkuang/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Berhenti Nge-blog&#8230;?</title>
		<link>http://bintangtimur.blogdetik.com/2012/02/28/berhenti-nge-blog/</link>
		<comments>http://bintangtimur.blogdetik.com/2012/02/28/berhenti-nge-blog/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Feb 2012 01:18:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bintangtimur</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[The journey]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bintangtimur.blogdetik.com/?p=498</guid>
		<description><![CDATA[Pernah ingin berhenti nge-blog?
Kalau saya sih pernah. Sering malah.
Alasannya macam-macam.
Mulai dari alasan-alasan klasik seperti sibuk, tidak mood, tersinggung karena ada komen yang bikin sakit hati atau bahkan hanya sekedar malas posting maupun blogwalking.
Alasan-alasan faktual juga biasanya ada. Bisa saja kita memang sedang sakit, akses internet lambat, banyak tamu berkunjung ke rumah atau bahkan karena orang-orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pernah ingin berhenti nge-blog?</p>
<p>Kalau saya sih pernah. Sering malah.</p>
<p>Alasannya macam-macam.</p>
<p>Mulai dari alasan-alasan klasik seperti sibuk, tidak mood, tersinggung karena ada komen yang bikin sakit hati atau bahkan hanya sekedar malas posting maupun blogwalking.</p>
<p>Alasan-alasan faktual juga biasanya ada. Bisa saja kita memang sedang sakit, akses internet lambat, banyak tamu berkunjung ke rumah atau bahkan karena orang-orang tercinta sedang ada di sekeliling kita sehingga sayang rasanya kalau waktu yang berharga itu kita pakai buat sekedar nge-blog.</p>
<p>Beberapa minggu terakhir ini, saya memang istirahat nge-blog.</p>
<p>Alasannya adalah akumulasi dari semua alasan-alasan tadi. Semuanya saya alami. Dan semuanya betul-betul membuat saya amat jarang membuka blog pribadi ini. Apalagi membuat posting serta blogwalking.</p>
<p>Tapi sms dari seorang teman yang tinggal di Medan beberapa hari lalu, jadi membuat saya malu hati. Bunyinya begini :</p>
<p><em><strong>&#8216;Mbak, saya cuma ingin berbagi kebahagiaan, Alhamdulillah semester yang baru lewat ini anak-anak dapat IP yang lumayan, B*g*s 3,1 dan B*y* 3,3&#8230;&#8217;</strong></em></p>
<p>Mungkin sudah banyak yang tahu kalau sejak bulan Agustus 2009 saya berjanji pada diri sendiri kalau setiap bulan saya akan mengirimkan sebagian rezeki yang kami terima kepada seorang teman yang suaminya meninggal dunia karena gagal ginjal di tahun yang sama. Jumlah anaknya 3 orang. Saat itu mereka masih duduk di bangku SMA, SMP dan SD.</p>
<p>Jadi bisa dibayangkan, betapa sedih dan bingungnya teman saya tadi untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari termasuk biaya sekolah anak-anaknya. Saya yang ibu rumah tangga, tentu saja tidak memiliki keleluasaan untuk menggunakan gaji suami tanpa kesepakatan bersama.</p>
<p>Tapi saya ingin membantu. Kalau bisa malah rutin setiap bulan.</p>
<p>Saya bisa membayangkan, betapa tidak mudahnya menjalani hari-hari tanpa kehadiran suami. Apalagi dia juga murni seorang ibu rumah tangga. Artinya pemasukan yang diterima hanya dari gaji suaminya yang telah meninggal dunia itu saja.</p>
<p>Setelah didiskusikan dengan suami, akhirnya kami sepakat kalau berbagi rezeki itu memang kewajiban yang sangat manusiawi. Untuk menyisihkan jumlah tertentu setiap bulan dan ditransfer ke rekening teman itu tadi, rasanya terlalu biasa.</p>
<p>Berhubung saat itu saya lagi senang-senangnya nge-blog, saya berinisiatif untuk mengirimkan jumlah uang ke teman tadi berdasarkan jumlah pengunjung blog bintangtimur ini setiap bulan.</p>
<p>Caranya bagaimana?</p>
<p>Di ShinnyStat kan ada visit today, dan di laporan noreplay lewat gmail juga selalu ada pemberitahuan jumlah pengunjung setiap minggu. Kalau mau tahu jumlahnya setiap bulan, tinggal dijumlahkan saja jumlah pengunjung setiap minggu itu tadi.</p>
<p>Hasilnya lumayan.</p>
<p>Pengunjung blog bisa mencapai kisaran 3000-an orang per bulan. Bahkan kalau tulisan saya masuk posting pilihan di <a href="http://www.blogdetik.com"><em><strong>blogdetik</strong></em></a>, jumlah ini bisa naik 2 kali lipat. Setelah itu, jumlah tersebut lalu saya kalikan dengan jumlah rupiah yang sudah saya sepakati dengan suami untuk dikirim ke rekening teman tadi.</p>
<p>Jumlah rupiah yang akan dikalikan ini besarnya tidak berubah.</p>
<p>Kalau misalnya dari awal saya sudah berniat untuk mengirimkan 100 rupiah per pengunjung per hari, maka jumlah 100 rupiah itu konsisten saya gunakan sampai sekarang. Bedanya hanya di jumlah pengunjung blog saja.</p>
<p>Bila pengunjung blog saya sedang banyak karena tulisan-tulisan saya kebetulan menarik, maka jumlah uang yang dikirim pasti bertambah. Dan otomatis teman saya itu juga menerima jumlah transfer yang berbeda-beda setiap bulan.</p>
<p>Apakah saya memanipulasi kesulitan orang lain?</p>
<p>Menurut saya tidak.</p>
<p>Saya justru sedang memacu diri untuk konsisten berbagi tanpa beban apalagi tekanan. Saya juga akan berusaha terus menulis agar catatan perjalanan hidup saya dapat dibaca kembali kelak di kemudian hari. Buat saya dua hal itu sama pentingnya.</p>
<p>Oleh sebab itu, saya juga ingin berterima kasih kepada teman-teman yang telah berkunjung dan meninggalkan komentar di tulisan-tulisan saya selama ini.</p>
<p>Komentar itupun sebetulnya sama. Jumlah komentar setiap bulan biasanya akan saya kalikan dengan jumlah rupiah tertentu untuk diteruskan kepada seorang teman lain yang harus membesarkan 4 orang anaknya seorang diri karena ditinggal pergi suami.</p>
<p>Kenapa saya melakukan hal ini?</p>
<p>Karena saya menyadari, hidup terlalu singkat kalau hanya memikirkan kesenangan pribadi. Kesenangan saya kala mendapat banyak teman dan silaturahmi lewat dunia maya, akan lebih bermanfaat kalau bahagia yang saya punya bisa saya bagikan juga pada mereka dengan membantu sedikit dana.</p>
<p>Jumlahnya justru orang lain yang menentukan.</p>
<p>Semakin banyak kunjungan dan komentar yang ditinggalkan teman-teman, semakin besar pula dana yang bisa saya berikan.</p>
<p>Kembali ke sms itu tadi.</p>
<p>Setelah 3 tahun berlalu, anak pertama teman yang dulu masih SMA sekarang sudah kuliah semester 6 di USU - Medan, sedangkan anak kedua yang dulu masih SMP sekarang sudah kuliah semester 2 di Universitas Udayana - Denpasar. Semuanya sekolah negeri. Itu yang membuat saya kagum luar biasa pada keuletan dan ketangguhan yang mereka miliki.</p>
<p>Saya juga tidak memungkiri, ada banyak kontribusi teman-teman untuk membantu pendidikan mereka yaitu melalui kunjungan dan komentar-komentar yang ditinggalkan di setiap posting yang saya buat. Semua itu jadi membuat saya lebih bersemangat.</p>
<p>Tanpa terasa sudah 3 tahun hal ini kita lakukan.</p>
<p>Tanpa paksaan, tanpa tekanan, tanpa beban apalagi keharusan. Saya juga  yakin, banyak teman yang tidak sengaja datang dan meninggalkan komentar di blog bintangtimur tapi tidak menyadari, kalau kunjungan dan komentar itu sebetulnya bernilai rupiah bagi teman saya dan anak-anaknya.</p>
<p>Oleh sebab itu, sekali lagi saya ingin berterima kasih buat silaturahmi berupa kunjungan dan komentar selama ini. Disengaja atau tidak, hal itu membuat saya termotivasi untuk terus membuat tulisan baru agar semua tidak terhenti sampai disini.</p>
<p>Berbagi memang bisa melalui beragam cara. Dan saya memilih berbagi dengan cara seperti ini. Boleh kan?</p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bintangtimur.blogdetik.com/2012/02/28/berhenti-nge-blog/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Rawon dan Rendang</title>
		<link>http://bintangtimur.blogdetik.com/2012/02/03/rawon-dan-rendang/</link>
		<comments>http://bintangtimur.blogdetik.com/2012/02/03/rawon-dan-rendang/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 07:34:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bintangtimur</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[The journey]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bintangtimur.blogdetik.com/?p=496</guid>
		<description><![CDATA[Dua jenis masakan ini adalah menu favorit keluarga kami.
Sebetulnya saya lebih memilih teri atau ikan asin sebagai lauk setiap hari, tapi nggak mungkin juga kan kalau di meja makan kami selalu terhidang dua jenis lauk kesukaan ini?
Iya, teri dan ikan asin itu lauk favorit saya. Nggak keren sih, tapi biarin deh, yang penting rasanya amat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dua jenis masakan ini adalah menu favorit keluarga kami.</p>
<p>Sebetulnya saya lebih memilih teri atau ikan asin sebagai lauk setiap hari, tapi nggak mungkin juga kan kalau di meja makan kami selalu terhidang dua jenis lauk kesukaan ini?</p>
<p>Iya, teri dan ikan asin itu lauk favorit saya. Nggak keren sih, tapi biarin deh, yang penting rasanya amat cocok di lidah.</p>
<p>Alasan lainnya, tentu bukan supaya hemat atau pelit. Selain bisa masuk dengan semua jenis masakan, teri atau ikan asin itu tadi juga mengolahnya nggak ribet. Tinggal digoreng, jadilah.</p>
<p>Beda dengan ikan, udang, ayam maupun daging.</p>
<p>Semua orang pasti tahu kalau protein hewani itu rasanya enak. Tapi mengolahnya itu lo, bener-bener perlu kerja ekstra biar rasanya juga istimewa. Sekali saja kita salah mengolah, bisa dipastikan kelezatannya juga akan musnah.</p>
<p>Rendang terenak yang sangat kami sukai adalah rendang bikinan Bato. Selain tidak terlalu kering seperti rendang yang biasa dijual di banyak rumah makan, warnanya juga tidak &#8217;sehitam&#8217; rendang padang.</p>
<p>Rasa bumbunya selalu pas. Tidak terlalu pekat, juga tidak hambar seperti layaknya masakan kurang bumbu. Saya juga tidak tahu kenapa rendang buatan Bato itu bisa memiliki warna oranye kemerahan yang begitu menggoda. Minyak yang tampak samar di permukaan daging, menjadikan rendang itu tampil menawan.</p>
<p>Tampilan rendang yang indah, sepertinya menjadi nilai tambah bagi rendang bikinan Bato. Oleh sebab itu, tidak heran kalau ada acara-acara istimewa rendang itu akan menjadi &#8216;pusat perhatian&#8217; para tamu dan undangan.</p>
<p>Apakah saya juga jago bikin rendang?</p>
<p>Oho, tunggu dulu&#8230;</p>
<p>Sebelum sampai pada topik tentang rendang, saya akan bercerita dulu tentang masakan berkuah hitam yang bernama rawon. Sepengetahuan saya rawon adalah masakan khas masyarakat Jawa Timur. Kalau orang Jawa Barat biasanya sarapan dengan nasi kuning, maka orang Jawa Timur akan makan pagi dengan menu nasi rawon.</p>
<p>Entah sejak kapan, rawon itu akhirnya jadi salah satu makanan favorit di keluarga saya juga.</p>
<p>Rasanya yang unik karena tambahan kluwek menjadikan daging yang merupakan bahan dasar rawon itu memiliki cita rasa tidak biasa. Lebih sedap dan segar karena rawon akan dimakan dengan nasi berkuah banyak.</p>
<p>Sejak menikah 23 tahun lalu, baru di Garut inilah saya berani bikin rawon sendiri. Artinya baru sekitar satu setengah tahun yang lalu rawon itu menjadi bagian dari menu harian keluarga kami.</p>
<p>Itu juga karena kebuntuan saya waktu mengatur menu. Bolak-balik ketemu dengan sayur lodeh, sayur asem, capcay, pecel, sop, tumis, semur, balado, sayur bayam dan soto, saya akhirnya nekad buat mencoba bikin rawon sendiri.</p>
<p>Kebetulan, saya tidak suka masak dengan memakai bumbu instan.</p>
<p>Jadi jangan harap bakal ada persediaan aneka bumbu instan di dapur saya. Jangankan bumbu instan, sepanjang bumbu-bumbu itu masih bisa diulek dengan cara tradisional, saya juga akan menghindari pemakaian blender.</p>
<p>Repot memang. Tapi apa daya, militansi saya pada cara pengolahan bumbu tradisional itu masih melekat sangat erat.</p>
<p>Setelah bertanya pada Bato via telpon, saya dikasih tahu kalau bumbunya ternyata sederhana. Ada bawang merah, bawang putih, kluwek, kencur, terasi, cabe merah, laos, daun jeruk, kunyit, salam, sere, ketumbar dan jintan. Pakai garam tentu saja, plus sedikit penyedap rasa&#8230;.ehm, Bato sih menyarankannya gula putih, tapi saya lebih suka memakai vetsin yang agak-agak nggak sehat itu&#8230;</p>
<p>Rawon pertama yang saya buat ternyata menuai pujian.</p>
<p>Itu juga yang membuat saya semakin percaya diri buat menjadikan rawon sebagai menu wajib seminggu sekali. Ditambah dengan telur asin, kecambah pendek, sambal terasi, kerupuk kanji dan tahu atau tempe goreng, maka kelezatan rawon itu akan makin sempurna.</p>
<p>Masak rawon?</p>
<p>Saya sudah bisa.</p>
<p>Sekarang giliran bikin rendang. Biarpun bapak saya asli orang Minang, tapi karena lahir dan besar di kota Bandung dan Malang, maka masakan-masakan Jawa itulah yang lebih akrab di lidah saya.</p>
<p>Kalaupun masak rendang, biasanya teteeeep aja ditambahin gula putih biar agak manis&#8230;</p>
<p>Kedatangan Bato dan Bi Entin pas tahun baru kemarin membuat saya tertarik buat mengintip bagaimana membuat rendang yang baik dan benar. Iya, saya cukup mengintip saja, karena tugas buat belajar detail tentang ilmu bikin rendang itu sudah saya delegasikan penuh pada Yuli&#8230;</p>
<p>Setelah sukses dengan ilmu baru tentang rendang, baru hari ini saya mencoba mempraktekkan masakan tersebut tanpa kehadiran Bato. Kebetulan sedang ada Risa dan temannya yang menginap disini. Jadi ini memang momen yang pas kalau saya mencoba memasak rendang versi Bato.</p>
<p>Di dapur, daging sapi dan aneka bumbu itu sekarang sedang berproses.</p>
<p>Ada bawang merah, bawang putih, ketumbar, merica, kencur, jahe, kunyit, cabe merah, laos, sere, daun kunyit, daun jeruk, garam dan sedikit gula putih.</p>
<p>Semua bumbu diulek jadi satu, kecuali laos, sere, daun kunyit dan daun jeruk. Kemudian tumis bumbu halus tadi sampai harum, lalu tambahkan santan. Aduk sampai bumbu dan santan menyatu sempurna. Santannya juga harus banyak supaya rasa rendangnya mantap.</p>
<p>Tak lama kemudian, santan berbumbu itu akan mendidih. Inilah saat dimana daging sapi yang sudah dipotong-potong itu tadi kita masukkan kedalam wajan berisi santan berbumbu. Setelah itu tunggu saja sampai dagingnya empuk, santannya mengental dan bumbunya meresap.</p>
<p>Jadi deh rendang istimewa kesukaan kami sekeluarga&#8230;</p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bintangtimur.blogdetik.com/2012/02/03/rawon-dan-rendang/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mulutmu, harimaumu</title>
		<link>http://bintangtimur.blogdetik.com/2012/01/29/mulutmu-harimaumu/</link>
		<comments>http://bintangtimur.blogdetik.com/2012/01/29/mulutmu-harimaumu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Jan 2012 14:20:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bintangtimur</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[The journey]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bintangtimur.blogdetik.com/?p=492</guid>
		<description><![CDATA[Istilah ini sudah sering kita dengar.
Sejak saya menikah dan tinggal di sebuah asrama tentara, saya juga sudah diwanti-wanti oleh banyak orang untuk bisa menjaga setiap ucapan yang akan dikeluarkan. Maklum, rumah yang saling berdekatan suka membuat kita larut dalam berbagai obrolan.
Kenapa demikian?
Karena dari obrolan itulah biasanya timbul beragam gunjingan. Dari mulut kitalah kemudian muncul bermacam-macam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Istilah ini sudah sering kita dengar.</p>
<p>Sejak saya menikah dan tinggal di sebuah asrama tentara, saya juga sudah diwanti-wanti oleh banyak orang untuk bisa menjaga setiap ucapan yang akan dikeluarkan. Maklum, rumah yang saling berdekatan suka membuat kita larut dalam berbagai obrolan.</p>
<p>Kenapa demikian?</p>
<p>Karena dari obrolan itulah biasanya timbul beragam gunjingan. Dari mulut kitalah kemudian muncul bermacam-macam opini menyudutkan yang membuat orang lain tersinggung bahkan dendam berkepanjangan.</p>
<p>Topik yang tadinya sekedar dibahas di permukaan, bisa saja berubah menjadi praduga negatif yang kebenarannya kadang diragukan.</p>
<p>Saya juga menyadari bahwa setiap kalimat yang sudah kita keluarkan mustahil ditarik kembali dengan kalimat koreksi sebagai pembetulan. Tidak ada penghapus ajaib yang bisa mencoret sebuah kata. Tak ada alat apapun yang bisa mengganti kalimat yang terlanjur terucap.</p>
<p>Sekali kalimat itu keluar dari mulut kita, maka buuum&#8230;kesan dari kalimat itulah yang akan menunjukkan siapa diri kita sesungguhnya. Dan anehnya, hal tersebut terus melekat dalam benak banyak orang sehingga menjadi stigma negatif tentang diri dan kepribadian yang kita miliki.</p>
<p>Tutur kata, pendapat, kesan atau apapun itu adalah ungkapan dari apa yang sedang kita rasakan. Kalau hati sedang gembira maka kita akan mudah menebar senyum dan menyapa dengan kalimat berbunga-bunga.</p>
<p>Demikian pula sebaliknya.</p>
<p>Kalau hati dan pikiran kita sedang dipenuhi benci dan  amarah, maka kata-kata sinis, kasar serta menyakitkan yang biasanya kita lontarkan. Sering kita lupa bahwa tidak semua orang memiliki tingkat emosi setara. Ada yang mudah tersinggung karena kata-kata tak biasa. Ada juga yang bereaksi sekedarnya karena sudah biasa mendengar kalimat-kalimat serupa.</p>
<p>Intinya adalah jangan pernah ingin menjadikan orang lain seperti diri kita.</p>
<p>Setiap orang memiliki pemikiran berbeda karena itulah inti dari keberadaan kita di dunia. Adanya perbedaan juga bukan untuk diseragamkan, melainkan diselaraskan. Hargai pendapat orang yang berbeda dengan kita karena kita juga tidak ingin pemikiran kita disudutkan.</p>
<p>Oleh sebab itu, menjaga lisan adalah sesuatu yang sangat dianjurkan.</p>
<p>Bukan apa-apa. Membuat orang lain tersinggung itu jauh lebih mudah daripada membuat orang senang dengan kalimat-kalimat yang kita ucapkan. Sulitnya mencari sahabat sejati berbanding terbalik dengan mudahnya mencari musuh abadi.</p>
<p>Perkataan apapun yang akan kita keluarkan, hendaknya dipikirkan dengan lebih dalam. Dampak dari sebuah kesan atau gunjingan, biasanya akan diterima dengan tangan terbuka. Berbeda dengan kebaikan. Kita perlu berpikir seribu kali untuk menilai seseorang itu baik atau tidak.</p>
<p>Sebaliknya dengan gunjingan.</p>
<p>Sedikit saja ada cerita tidak menyenangkan, maka hilanglah penilaian positif yang selama ini kita miliki. Kalaupun kelak terbukti bahwa gunjingan tersebut tidak benar, kesan itu toh tidak mungkin sama lagi.</p>
<p>Membandingkan kelemahan orang lain dengan kehebatan kita juga sangat tidak dianjurkan. Biarlah semua berjalan di koridor kepantasan. Jangan terlalu mudah menilai orang hanya dari kesan sepintas apalagi ikut-ikutan.</p>
<p>Sebagai makhluk sosial, kita tentu kerap bersinggungan dengan sesama. Berinteraksi dan bersilaturahmi dengan mereka. Atau sekedar bertukar sapa kala berjumpa.</p>
<p>Sering kita lupa bahwa semua yang  kita ucapkan pada lawan bicara adalah cermin diri kita seutuhnya. Tanpa bisa ditutupi. Tanpa bisa ditambah ataupun dikurangi.</p>
<p>Semakin tajam kata-kata yang kita keluarkan, artinya semakin rendah pula empati yang kita miliki. Semakin labil emosi yang kita punyai, akan semakin sering pula kita lepas kendali.</p>
<p>Semua memang kembali pada pilihan.</p>
<p>Ingin menjadikan mulut kita seumpama harimau yang buas tanpa kompromi, atau membuatnya bijak layaknya lisan manusia yang dibatasi norma dan etika.</p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bintangtimur.blogdetik.com/2012/01/29/mulutmu-harimaumu/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sandro Tobing</title>
		<link>http://bintangtimur.blogdetik.com/2012/01/24/sandro-tobing/</link>
		<comments>http://bintangtimur.blogdetik.com/2012/01/24/sandro-tobing/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jan 2012 11:45:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bintangtimur</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[The journey]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bintangtimur.blogdetik.com/?p=494</guid>
		<description><![CDATA[Teman-teman dekat saya pasti tahu kalau waktu SMA dulu saya amat tergila-gila pada seorang penyanyi bernama Sandro Tobing.
Kasetnya sudah jelas saya koleksi.
Belum lagi berita-beritanya yang saat itu sering dimuat di sebuah majalah remaja. Semuanya bakal saya ikuti dengan teliti. Apalagi kalau sudah menyangkut berita tentang pacar atau teman dekatnya, wuih&#8230;bakal heboh deh dunia persilatan!
Saya masih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Teman-teman dekat saya pasti tahu kalau waktu SMA dulu saya amat tergila-gila pada seorang penyanyi bernama Sandro Tobing.</p>
<p>Kasetnya sudah jelas saya koleksi.</p>
<p>Belum lagi berita-beritanya yang saat itu sering dimuat di sebuah majalah remaja. Semuanya bakal saya ikuti dengan teliti. Apalagi kalau sudah menyangkut berita tentang pacar atau teman dekatnya, wuih&#8230;bakal heboh deh dunia persilatan!</p>
<p>Saya masih ingat betul, bagaimana &#8216;patah hatinya&#8217; saya saat dia digossipkan pacaran dengan Vina Panduwinata, si Burung Camar. Berita kedekatan mereka berdua itu sanggup memporakporandakan hati saya. Dan begitu terdengar berita kalau mereka putus cinta, ehm, ehm, saya malah lega luar biasa&#8230;</p>
<p>Saya juga akan tergopoh-gopoh ke kios majalah bila ada seorang teman yang memberitahu ada majalah yang memuat tentang penyanyi idola saya itu. Mau hujan atau panas, nggak masalah. Yang penting adalah Sandro Tobing, Sandro Tobing dan Sandro Tobing.</p>
<p>Duh, sampe segitunya!</p>
<p>Kalau sekarang diingat-ingat lagi, saya malah heran.</p>
<p>Kok bisa ya segitu sukanya saya sama dia, penyanyi pria yang memang beberapa kali jadi juara di ajang kontes musik Indonesia. Saat banyak teman saya tergila-gila dan menjadikan Fariez RM sebagai sosok idola, saya malah jadi fans berat Sandro Tobing yang tubuh dan wajahnya rada-rada kebapakan itu&#8230;</p>
<p>Yang lebih aneh, biarpun saya bukan penggemar musik, tapi saya betah mendengarkan lagu yang dia nyanyikan selama berjam-jam. Semua lagunya saya suka. Entahlah mana sesungguhnya yang lebih saya senangi, suaranya yang merdu atau justru sosok penyanyinya!</p>
<p>Seiring berjalannya waktu, tanpa saya sadari kapan tepatnya, saya mulai melupakan dia sebagai sosok idola. Apalagi waktu dia mulai jarang muncul di televisi maupun majalah remaja, sosok itu seolah lenyap begitu saja.</p>
<p>Ditambah lagi saat itu saya juga mulai pacaran dengan lelaki tercinta yang sekarang berubah status menjadi suami, sosok Sandro Tobing makin sirna entah kemana. Demikian pula dengan kaset, foto dan guntingan-guntingan beritanya di majalah. Semuanya lenyap tanpa bekas.</p>
<p>Dan sebagai gantinya, tersebarlah foto-foto pacar di seantero kehidupan saya. Mulai dari kamar tidur, dompet sampai diary pasti ada foto-foto pribadi dia yang saya miliki.</p>
<p>Kemarin, kenangan itu kembali datang.</p>
<p>Ah, ah&#8230;saya sampai tidak bisa berkata-kata waktu pembawa acara memberi tahu kalau pengisi acara di pertemuan itu adalah Sandro Tobing, penyanyi idola yang dulu membuat saya tergila-gila.</p>
<p>Duh, masa sih?</p>
<p>Sambil berusaha biasa-biasa, saya melihatnya tampil diatas panggung dengan segala macam rasa yang saya punya, kecuali rasa cinta&#8230;</p>
<p>Hehe, iya.</p>
<p>Tidak ada lagi kekaguman berlebihan seperti dulu. Tak ada lagi fanatisme aneh yang pernah saya miliki di usia remaja waktu itu. Sekarang, saya justru memandang Sandro Tobing hanya sebagai penyanyi profesional yang suaranya tetap menawan.</p>
<p>Mengenakan kemeja tangan panjang dan celana warna hitam, dia kelihatan lebih berisi. Suaranya tetap bagus, tawanya juga masih menarik. Rambut putih yang mulai tampak disana-sini, membuat Sandro Tobing yang saya suka dulu seperti sosok yang sedikit berbeda. Tampak lebih dewasa.</p>
<p>Apalagi saat dia menghampiri meja dimana saya dan teman-teman berada.</p>
<p>Ups, kenapa kok jadi deg-degan lagi?</p>
<p>Kehebohan teman-teman semeja saya rupanya berhasil mengundang dia untuk mendekat dan menyanyi sambil memandang wajah kami. Satu per satu. Ah, seandainya saja kejadian ini berlangsung 28 tahun yang lalu&#8230;</p>
<p>Tapi kemarin, saya cuma merasa heran *sekaligus senang*. Senang karena keinginan saya dulu buat bisa bertemu langsung dengan penyanyi idola bisa kesampaian. Dan heran kenapa di acara itu justru dia yang jadi bintang tamunya.</p>
<p>Hoho, sayang sekali rahasia ini kemarin jadi terbuka.</p>
<p>Ada seorang teman baik, namanya Yanti, yang pernah menjadi tetangga saya 23 tahun silam. Dia sibuk mengolok-olok saya agar berfoto berdua dengan penyanyi itu.</p>
<p>Astaga, saya sampai kaget&#8230;rupanya dia masih ingat kalau Sandro Tobing adalah penyanyi idola yang saya suka.</p>
<p>Sambil melotot dan mencubit pelan tangan kanannya, saya berkata lirih: Ssst, Yan, jangan keras-keras dong&#8230;sekarang kan keadaannya udah beda, kalau saat ini saya nekad foto berdua sama dia, saya takut suami bakal cemburu dan menutup pintu hatinya buat saya&#8230;</p>
<p>Suit, suit!</p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bintangtimur.blogdetik.com/2012/01/24/sandro-tobing/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Angklung dan Sandro Tobing</title>
		<link>http://bintangtimur.blogdetik.com/2012/01/20/angklung-dan-sandro-tobing/</link>
		<comments>http://bintangtimur.blogdetik.com/2012/01/20/angklung-dan-sandro-tobing/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Jan 2012 05:52:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bintangtimur</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[The journey]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bintangtimur.blogdetik.com/?p=493</guid>
		<description><![CDATA[Kemarin saya datang ke sebuah pertemuan komunitas.
Pertemuan yang diadakan rutin 3 bulan sekali itu bertujuan untuk memelihara dan meningkatkan silaturahmi anggota. Tak kenal maka tak sayang, lebih kenal maka *diharapkan* lebih sayang.
Oya, minus arisan, tentu saja. Karena selain jumlah anggotanya terlalu banyak, saya juga tidak terlalu suka kalau arisan dijadikan &#8216;alasan&#8217; untuk menarik anggota agar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kemarin saya datang ke sebuah pertemuan komunitas.</p>
<p>Pertemuan yang diadakan rutin 3 bulan sekali itu bertujuan untuk memelihara dan meningkatkan silaturahmi anggota. Tak kenal maka tak sayang, lebih kenal maka *diharapkan* lebih sayang.</p>
<p>Oya, minus arisan, tentu saja. Karena selain jumlah anggotanya terlalu banyak, saya juga tidak terlalu suka kalau arisan dijadikan &#8216;alasan&#8217; untuk menarik anggota agar datang ke sebuah pertemuan.</p>
<p>Kesannya kok kayak datang buat beberapa lembar uang gitu lo&#8230;</p>
<p>Saking niatnya, jam 04.30 saya sudah berangkat dari Garut. Suasana masih sepi dan gelap, cuaca juga lumayan dingin. Berhubung saya bikin janji buat menjemput seorang teman di Gedebage, saya tidak langsung masuk tol Padaleunyi tapi keluar lewat Cibiru.</p>
<p>Hampir jam 06.00 saya tiba di rumah teman itu tadi.</p>
<p>Setelah istirahat sebentar, kami langsung menuju ke Cijantung, tempat pertemuan tersebut diadakan. Jalan masih belum terlalu ramai. Selain sedikit kemacetan di Buahbatu, perjalanan pagi itu lumayan lancar.</p>
<p>Sesuai perkiraan, kami tiba di tempat acara sekitar pukul 09.00. Undangan sudah banyak yang datang. Begitu turun dari mobil kami sudah heboh berpelukan dengan banyak teman. Maklum ibu-ibu, baru beberapa bulan saja tidak ketemu, langsung sibuk bertukar cerita tentang keluarga dan gossip-gossip terbaru&#8230;</p>
<p>Acara hari itu diawali dengan foto bersama, supaya bedak dan lipstick masih menempel rapi di wajah-wajah kami.</p>
<p>Bayangkanlah, sekitar 125 orang ibu berjajar rapi di atas panggung yang telah disediakan. Sebagian bisa duduk, tapi lebih banyak yang berdiri. Posenya macam-macam, ekspresi wajahnya juga pasti beragam. Yang jelas kami semua gembira karena pertemuan itu bisa dihadiri oleh banyak teman senasib sepenanggungan.</p>
<p>Acara berikutnya adalah sambutan dari penyelenggara dan pembacaan doa. Doa yang, terus terang, buat saya pribadi sangat bermakna. Tanpa diduga, sehari sebelumnya ada salah satu teman kami yang meninggal dunia. Jadi doa itu kami panjatkan pada Illahi Robbi agar teman kami mendapat tempat terbaik disisi-Nya.</p>
<p>Selamat jalan ya mbak, semoga surga yang indah menanti mbak di alam sana&#8230;</p>
<p>Lalu apa hubungannya dengan angklung?</p>
<p>Ini dia.</p>
<p>Ternyata panitia sudah menyiapkan angklung untuk dimainkan oleh para undangan. Jumlahnya sebanyak anggota yang datang. Benar saja, beberapa saat kemudian angklung-angklung itu dibagikan.</p>
<p>Wah, gawat!</p>
<p>Saya mulai celingukan. Agak deg-degan juga sih. Selama ini belum pernah sekalipun saya main angklung. Jangankan main, memegang alatnya saja rasanya baru sekali, itu juga waktu dapat cindera mata dari sebuah acara&#8230;</p>
<p>Teman yang duduk satu meja dengan saya, punya pengalaman beragam. Ada 3 orang diantara mereka yang pernah mendampingi suaminya menjadi atase pertahanan di luar negeri yaitu Singapura, Rusia dan Brunei Darussalam.</p>
<p>Ini dia. Alat musik tradisional Indonesia kan selalu diajarkan pada warganegara kita yang akan atau sedang bertugas di luar negeri. Pasti mereka pada bisa deh&#8230;</p>
<p>Yup, betul!</p>
<p>Dengan penuh percaya diri, salah satu dari mereka menjelaskan pada kami bagaimana caranya memainkan alat musik tersebut. Eh, ternyata gampang. Angklung itu hanya perlu &#8216;digoyang&#8217; saat pelatih memberi kode sesuai dengan angka yang tertera di permukaan angklung.</p>
<p>Misalnya kita pegang angklung dengan angka 1 yang artinya nada do, maka pelatih tadi akan mengacungkan tangan kanannya berupa sebuah genggaman. Kalau re, maka kode yang diberikan adalah telapak tangan terbuka yang menghadap ke depan. Begitu seterusnya sampai nada terakhir yang ada di tangga nada.</p>
<p>Semua nada mempunyai kode tersendiri. Jadi kita hanya perlu mengingat-ingat nada yang harus kita mainkan dan kode apa yang ditunjukkan oleh bapak pelatih yang berdiri diatas panggung.</p>
<p>Ah, ah&#8230;ternyata mudah!</p>
<p>Pantas saja Risa ikut ekstra kurikuler angklung di kampusnya. Bolak balik tampil pula di beragam acara. Memang asyik. Baru memainkan angklung sekali itu saja saya sudah langsung suka.</p>
<p>Angklung yang saya pegang, menunjukkan nada re yang diperjelas dengan angka 2 yang diketik di salah satu sisi.</p>
<p>Jadi setiap kali bapak pelatih mengangkat tangan untuk memberi kode nada re, saya goyangkan saja angklung saya dengan penuh semangat. Eh, ternyata yang lain juga sama. Semua nada dimainkan dengan gembira. Mulai lagu Ibu Kartini, Ambilkan Bulan, Bu sampai dengan Alamat Palsu-nya Ayu Ting-ting terdengar di seantero ruangan. Betul-betul semarak. Apalagi saat diumumkan angklung itu boleh dibawa pulang, duuuh&#8230;ibu-ibu itu sampe pada histeris saking senengnya!</p>
<p>Lalu apa hubungannya dengan Sandro Tobing?</p>
<p>Bersambung aja kali ya, biar posting ini nggak kepanjangan&#8230;</p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bintangtimur.blogdetik.com/2012/01/20/angklung-dan-sandro-tobing/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Dynamic Page Served (once) in 0.793 seconds -->

