Risa, saya dan Tokyo

12 Dec 2016

Beberapa hari yang lalu, saya dan Risa baru pulang dari Tokyo.

Tidak ada acara spesial, hanya sekedar ingin menikmati suasana musim gugur yang berlangsung pada bulan November-Desember 2016. Konon, selain musim semi saat sakura berbunga, musim gugur adalah musim terbaik kalau kita mau berkunjung ke Jepang. Itu sebabnya kami tidak menggunakan jasa agen perjalanan karena hanya berkunjung ke Tokyo saja. Semua diurus sendiri oleh Risa. Transportasi, penginapan, tujuan perjalanan, bahkan sampai tempat makan pilihan. Saya hanya diajak bertukar pikiran tentang berapa lama dan kemana saja tujuan yang ingin saya datangi.

Sebenarnya, ini adalah kunjungan kedua saya ke Jepang. Sementara buat Risa ini adalah kedatangannya yang ketiga.

Jepang. Entah kenapa saya selalu ingin kembali kesana.

Sebagai seorang muslim, tentu banyak yang mempertanyakan kenapa bukan umroh yang membuat saya ketagihan. Sementara banyak orang ingin berkunjung ke tanah Suci berulang kali, saya malah merencanakan pergi ke sebuah negara yang bisa dikatakan tidak mengenal agama. Entahlah. Bisa jadi sebagian orang berpendapat bahwa saya belum mendapatkan hidayah. Sebagian lagi mungkin menduga bahwa mata, hati dan pikiran saya sudah ditutup oleh kesenangan duniawi semata.

Atau bisa saja orang menduga, bahwa saya tidak cinta wisata negeri sendiri. Bukankah banyak daerah di Indonesia yang belum pernah saya datangi dan tak kalah indah dengan negara ini?

Orang bebas berpendapat. Biarlah.

Yang pasti saya merasa sangat nyaman ketika berkunjung kesana. Bahagia, itu pasti. Semua kerumitan hidup rasanya lenyap entah kemana. Dan boleh percaya atau tidak, justru disana saya merasa begitu dekat dengan Sang Pencipta. Saat kaki saya melangkah sambil menikmati suasana dan keindahan alam, bibir saya hampir tak pernah lepas menyebut kebesaran-Nya. Allah Maha Besar. Allah Maha Baik. Ciptaan-Nya begitu sempurna.

Saya merasa setiap berkunjung ke Jepang itu seperti tamu yang disambut dengan hangat. Lebih ekstrim lagi, saya merasa seperti pulang ke rumah.

Sikap dingin masyarakat Jepang tidak saya anggap sebagai sesuatu yang mengganggu. Mereka memang tidak terbiasa berbasa-basi. Mereka juga bukan tipe masyarakat yang senang dengan keriuhan. Mereka adalah orang yang memiliki sikap dan karakter yang bisa membuat saya merasa nyaman. Fokus dan bertanggung jawab terhadap tugas itu pasti. Lebih dalam lagi, saya seringkali menemukan ketulusan yang menyentuh hati. Hanya dari sikap, gerakan tubuh, tatapan mata bahkan sebuah senyuman saja, saya bisa merasakan bahwa mereka selalu berusaha memberikan yang terbaik kepada orang lain.

Entahlah.

Saya juga tidak tahu mengapa saya begitu jatuh hati dengan negara ini. Kalau kata Risa, ibu seperti menemukan habitat ibu disini. Bukan sok luar negeri atau mengecilkan arti tanah air sendiri. Sama sekali bukan. Ini adalah tentang hal-hal kecil yang saya idamkan kelak bisa saya nikmati di Indonesia suatu hari nanti.

Bersih. Itu sudah pasti.

Disana semuanya begitu bersih. Apalagi kamar mandi. Di hotel tempat kami menginap, biarpun bukan hotel bintang 5, tapi kebersihannya membuat saya geleng-geleng kepala. Tempat tidur dengan sprei kencang, handuk rapi, alat-alat mandi berjajar sempurna. Itu biasa. Saya justru memperhatikan betapa detailnya mereka membersihkan kamar mandi. Tidak ada garis batas air di kloset. Sudut-sudut lantai kamar mandi juga tak ada noda berwarna apapun. Entah kekuningan, kemerahan atau kehitaman, tak ada sama sekali. Bahkan bath tub dengan dinding kamar mandi sengaja diberi jarak agar air bisa mengalir ke saluran dibawahnya sehingga tidak menggenangi permukaan bath tub.

Handuk dan kimononya, dilipat sangat rapi. Tidak wangi tapi bersih. Semua presisi.

Jadi, kalau kamar mandinya saja sudah begitu cocok dengan selera saya, kamar tidurnya tidak perlu saya bahas lagi karena hanya akan berisi pujian yang membosankan. Kalau sudah begini, saya jadi iri dengan sumber daya manusia yang ada disana. Betapa total dan bersungguh-sungguhnya mereka terhadap pekerjaan yang mereka tekuni. Begitu tulusnya mereka melakukan kewajiban sehingga dilakukan tanpa beban. Tanpa perlu dinilai atasan, nurani mereka saja sudah bisa dijadikan pegangan.

Tulus dan bersungguh-sungguh.

Ini yang saya rasakan selama 5 hari saya dan Risa berada di Tokyo. Hanya 1 hari saja kami berkunjung ke Shibamata, sebuah kota kecil yang jaraknya sekitar 1 jam dari Tokyo dengan menggunakan kereta. Ini akan saya tulis di catatan selanjutnya. Ketulusan itu sepertinya sudah ditanamkan dari kecil. Di stasiun metro saja berulang kali saya melihat anak-anak, orang dewasa bahkan orang tua selalu membaca, entah buku atau komik, sambil menunggu kereta tiba. Mereka berdiri di tempat yang sudah ditentukan dan berdiri rapi di dalam antrian. Kalau dirasa mengganggu, mereka cepat-cepat menepi sambil meminta maaf berulang kali. Duh, lagi-lagi saya iri. Kebaikan hati dan empati semacam ini yang amat langka di bumi pertiwi.

Mungkin karena aura yang saya rasakan positif, saya juga merasa memiliki waktu yang sangat berkualitas dengan Risa.

Jalan-jalan berdua dan selalu bersama selama 6X24 jam, membuat kami memiliki banyak kesempatan untuk bicara dan berbagi cerita. Mendiskusikan banyak topik sambil menikmati hal-hal sederhana seperti itu sulit untuk dilakukan di Indonesia. Saya beruntung diberi kesempatan yang begitu berharga dengan anak tercinta. Berulang kali saya nyaris meneteskan air mata. Berulang kali leher saya seperti tercekat. Tuhan Maha Baik. Entah berapa banyak ucapan syukur saya panjatkan. Entah berapa banyak deretan doa saya lantunkan. Itu sebabnya, saya merasa kalau selama disana tingkat keyakinan saya pada keagungan dan kebesaran Tuhan semakin meningkat.

Betapa hal-hal yang tak pernah terpikir untuk saya minta dalam doa, diberikan di waktu yang amat tepat. Betapa kebahagiaan dan kenyamanan yang sebelumnya tak pernah saya bayangkan, ternyata bisa langsung saya rasakan. Memang benar, Tuhan akan memberikan semua yang terbaik di saat yang tepat.

Alhamdulillah…

 

 

                 

 


TAGS catatan cermin


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post


Categories

Archive