Penang…saya datang!

11 Nov 2016

Sejak suami dinas di Jakarta, saya jadi sering bepergian.

Mungkin ini dampak baiknya. Saya yang dulu sangat berhati-hati kalau mengajukan ijin pada atasan, sekarang bisa bebas kemana saja. Cukup berbekal ijin suami, saya bisa langsung pergi. ‘Kebebasan’ yang menyenangkan tentu saja. 

Jadi ceritanya, ada beberapa tempat yang sudah lama jadi incaran untuk saya datangi. Tidak banyak memang. Kalau di Indonesia, saya ingin sekali menginjakkan kaki di Ternate-Maluku Utara. Sedangkan di luar negeri, selain Jepang, saya juga penasaran buat berkunjung ke Penang, sebuah pulau kecil yang masuk dalam wilayah Malaysia.

Alasannya apa?

Entahlah.

Hanya keinginan tak pernah padam yang akhirnya bisa kesampaian. Alhamdulillah. Rasanya susah diterima logika. Dalam dua tahun terakhir ini saja, tiga tempat impian itu berhasil saya kunjungi. Ke Ternate dengan suami. Sedangkan ke Jepang dan Penang ditemani Risa, anak tercinta. 

Semua itu berawal ketika Risa mengajak saya menghabiskan jatah cuti dari kantornya di bulan Mei 2016. Antara kaget dan tidak percaya, saya langsung terima tawarannya untuk pergi ke Penang. Dia memang tahu persis, cita-cita saya bukan bepergian ke negara-negara favorit di Eropa sana tapi cukup di Asia. Hehe, Asia Tenggara pula. Berikutnya adalah ijin ke suami. Diijinkan. Done. Maka, dimulailah perburuan tiket pesawat *murah* dan hotel tempat kami menginap.

Berhubung ini adalah kunjungan pertama kami di Penang, saya dan Risa ingin bermalam di hotel yang nyaman dan memiliki suasana yang Penang banget. Penang atau Pulau Pinang adalah daerah bekas jajahan Inggris sehingga memiliki keragaman suku, agama dan budaya. Masyarakat yang tinggal disini antara lain suku Melayu, China dan India. Itu sebabnya kami memilih daerah Georgetown untuk bermalam. Daerah ini termasuk wilayah yang direkomendasikan oleh Unesco sebagai cagar budaya. Pilihan hotelnya banyak, tapi kami memilih bermalam di Eastern and Oriental Hotel. Kalau di Bandung sih mirip-mirip dengan Hotel Preanger/Homan yang legendaris itu. Lebih bersih pastinya, dan sedikiiit lebih mewah.

Sebagai daerah yang masuk dalam World Heritage Site dari Unesco, Georgetown memang daerah yang layak dikunjungi. Bangunan-bangunan peninggalan Inggris yang tersebar merata di seantero kota masih dipelihara dengan baik. Semuanya terawat rapi. Beberapa diantaranya bahkan dijadikan museum, penginapan, atau gedung perkantoran. Rumah tinggal juga sama. Banyak sekali rumah gaya lama yang dijadikan tempat tinggal penduduk setempat.

Ketika pesawat kami mendarat di bandara internasional Pulau Pinang (nama lain dari Penang) hari sudah sore. Perjalanan dari bandara ke hotel yang memakan waktu sekitar 45 menit membuat saya leluasa memperhatikan jalan yang kami lewati. Tiba-tiba saja saya teringat suasana Indonesia tahun 80-an dimana jalanan masih sepi dan rumah-rumah penduduk yang kami lewati tidak terlalu bergaya. Saking asyiknya memperhatikan pemandangan, saya sampai tidak tahu kalau taksi yang kami tumpangi sudah masuk ke wilayah Georgetown. Bahkan berhenti tepat di depan lobby hotel. Aha…ini rupanya tempat kami akan bermalam! 

Eastern and Oriental Hotel ini terbagi dalam dua sayap. Sayap kanan adalah area hotel dengan suasana lama yang tetap dipelihara. Sedangkan sayap di sebelah kiri merupakan bangunan baru dengan suasana lebih modern namun aura kunonya masih terasa. Kami memilih bermalam di sayap yang lebih modern supaya kesannya tidak terlalu seram.

 

 

Eastern and Oriental Hotel yang bikin betah

Setelah menaruh barang bawaan di kamar, saya dan Risa pergi ke sebuah tempat makan legendaris. Tempat ini sudah diagendakan sejak dari Indonesia. Namanya warung nasi kandar Line Clear. Jaraknya sekitar 500 meter dari hotel, jadi bisa ditempuh dengan jalan kaki sekalian menikmati suasana Penang di sore hari. 

Ini adalah warung nasi kandar terkenal yang terletak di Penang Road.

Tempat aslinya ada di sebuah gang, tapi perluasannya adalah sebuah rumah makan besar di pinggir jalan raya. Berhubung kami ingin menikmati suasana asli, maka  makan di gang sempit itu menjadi pilihan. Tempat duduknya berupa meja dan kursi plastik. Beragam lauk pelengkap nasi kandar dipajang di sebuah gerobak yang sarat aneka masakan. Jumlahnya puluhan. Mulai olahan ayam, daging, ikan, telur dan sayur. Mirip-mirip nasi padang di Indonesia sebenarnya, hanya saja bumbunya lebih mantap tapi ringan.

Bingung kan…iya, rasa bumbunya itu tidak meninggalkan bekas di mulut seperti yang dirasakan kalau kita makan nasi padang. Mungkin karena tidak pakai penyedap atau apa, saya kurang tahu. Tapi yang jelas porsi nasinya sangat banyak. Saya yang minta setengah porsi malah dilihat dengan tatapan aneh. Begitu saya lihat sekeliling, eh, eh, ternyata yang makan disana porsinya standar. Bapak-bapak, ibu-ibu, anak-anak…sama banyaknya!

Ehm, tidak apa-apa deh agak kekenyangan sedikit. Mumpung lagi di Penang, mari lupakan sejenak aneka diet itu…

Selain rasanya sedap, nasi kandar Line Clear ini memang layak direkomendasikan karena banyaknya pilihan lauk yang bisa dijadikan pilihan. Tempat yang sederhana malah jadi daya tarik tersendiri karena kita bisa makan dengan gaya sesuka hati. Pakai tangan atau sendok, silahkan. Harganya pun masuk akal alias murah meriah.

Nasi kandar Line Clear yang menggoda

Setelah makan yang nyaris membuat saya kekenyangan, kami berdua memutuskan untuk menyusuri Penang Street. Hari berangsur gelap. Trotoar yang nyaman membuat saya betah menghirup udara sore menjelang malam. Kalaupun ada yang berjualan di trotoar, hal itu tidak mengganggu pejalan kaki sama sekali. Mungkin karena jumlahnya sedikit. Mungkin juga karena mereka sangat tertib. 

Eh…apa itu?

Saya nyaris berlari waktu melihat penjual chestnut rebus di pinggir jalan. Iya, di pinggir jalan. Di Indonesia chesnut panggang itu adanya hanya di mall besar dengan harga selangit. Chestnut memang kacang favorit saya. Belum lagi chesnut habis dimakan, Risa sudah tergoda membeli gelato yang dipajang di toko yang kami lewati. Aduh…saya jadi lupa dengan betapa kenyangnya kami setelah makan seporsi nasi kandar itu tadi…dengan senang hati, seporsi gelato kami pesan untuk menemani sebungkus chestnut rebus yang barusan dibeli.

Setibanya di hotel jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Setelah mandi, kami berdua langsung istirahat buat persiapan esok hari.

Hari kedua jadwal saya dan Risa adalah city tour. Dengan kendaraan dan pengemudi yang sudah dipesan sejak dari Indonesia, kami berdua bisa bebas mengatur jadwal ke tempat yang akan dikunjungi.

Tujuan pertama adalah Penang Hill atau disebut juga Bukit Bendera.

Tempat ini adalah sebuah bukit yang dijadikan tempat wisata karena keindahan pemandangannya. Kalau mau lihat Penang lebih lengkap, maka kita bisa naik kereta listrik yang menuju ke atas bukit. Relnya agak seram karena tanjakannya lumayan curam. Tapi dijamin aman kok, apalagi kereta listrik itu satu-satunya transportasi kalau kita mau naik ke atas Bukit Bendera. Bisa jalan kaki sebetulnya. Tapi saya tidak mau menghabiskan waktu di negara orang dengan berkeringat heboh dibawah teriknya matahari. Naik kereta listrik saja perlu waktu sekitar 20 menit dengan tanjakan yang lumayan terjal. Lah jalan kaki…?

Tak lah…

Pemandangan dari Bukit Bendera

Setelah puas menikmati Penang Hill, tujuan berikutnya adalah Kek Lok Si Temple. Sebuah kuil Buddha yang terletak lagi-lagi di atas bukit. Sebelum sampai di kuil dimaksud, pengemudi kami menawari untuk makan laksa Air Itam. Namanya memang begitu, karena laksa ini dijual di daerah yang bernama Air Itam. Katanya, ini adalah laksa yang terkenal di Penang. Semacam warung tenda dengan meja dan kursi plastik gitu deh. Tapi jangan ditanya pengunjungnya. Rata-rata mereka adalah turis yang akan berkunjung ke Kek Lok Si dan singgah sejenak untuk makan laksa yang konon super enak. Atau sebaliknya. Pulang dari Kek Lok Si mereka mampir dulu buat makan laksa itu tadi.

Laksa Air Itam yang super enak

Setelah mencicipi laksa yang bentuknya tidak terlalu menggoda, saya langsung ketragihan. Ih, ini sih bukan cuma enak, tapi enak banget. Rasanya tidak seperti laksa yang ada di Indonesia. Selain lebih segar karena racikan bumbu yang pas, laksa ini juga lebih mantap dengan tambahan bunga kecombrang yang dominan. Belum lagi tambahan bihun, tauge, daun kemangi, lontong dan semacam petis hitam berbentuk pasta yang membuat rasa laksa kian menggoda.

Puas makan laksa, kami melanjutkan perjalanan.

Jalan yang menanjak dan agak berkelok membuat saya ingin segera sampai ke tujuan.  Benar saja. Pemandangannya indah banget. Mungkin karena saya suka film silat klasik, saya begitu terpesona dengan aneka bangunan kuil, patung Buddha dan para dewa, serta taman minimalis yang sangat indah. Sebagai tempat wisata sekaligus tempat ibadah, disini pengunjung juga diberi keleluasaan untuk memotret dimana saja. Syaratnya sederhana, hanya melepas alas kaki kalau kita masuk ke tempat mereka berdoa.

Indahnya kebersamaan…

Setelah berkelililing di Kek Lok Si Temple, tujuan selanjutnya adalah vihara Wat Chayamangkalaram, Dharmikarama Burmese Temple, museum Pinang Peranakan Mansion, Khoo Kong Si serta museum Blue Mansion yang merupakan rumah Cheong Fat Tze seorang pedagang terkenal di masa lalu yang pernah tinggal di Indonesia. Semuanya indah, semuanya berkesan. Apalagi di Blue Mansion. Disana ada pemandu wisata yang mengajak kita keliling rumah dan menjelaskan sejarah sang empunya dari mulai tinggal di Indonesia sampai akhirnya pindah kesana. Dari mulai kaya raya sampai hanya rumah itu yang tersisa.

Risa di depan Khoo Kong Si

Sampai di hotel hari sudah gelap. Seharian itu saya dan Risa menghabiskan waktu di banyak tempat bersejarah yang memiliki cerita masa lalu. Ada yang indah. Ada yang tragis. Tapi intinya, saya belajar bahwa apapun yang kita lakukan sekarang, baik atau buruk, akan meninggalkan jejak di masa depan. Pilihan ada di tangan kita. Jadi buat yang senang dengan keindahan budaya masa lalu, wisata budaya ke Penang ini bisa menjadi alternatif pilihan karena banyak sekali jejak sejarah yang bisa dijadikan pelajaran.

Hari ketiga, jadwalnya berbeda dengan hari sebelumnya. Risa mengajak saya untuk ‘berburu’ art street yang tersebar di seantero kota Georgetown…

Art street ini berupa lukisan-lukisan iconik yang dibuat di tembok pinggir jalan. Bentuknya macam-macam. Ada yang berupa mural dengan tokoh anak laki-lak, pengayuh becak,  hantu jepang, pemain basket, pengendara sepeda motor, adik kakak berboncengan naik sepeda, barongsai dan macam-macam lagi. Mural-mural ini dilukis sangat artistik dan mirip sekali dengan aslinya. Peta dimana lokasi art street ini berada disediakan gratis di bandara. Lengkap dengan tempat dan nama jalannya sehingga siapapun bisa mengakses tempat itu dengan mudah. Seru pastinya. Saya jadi ingat permainan berburu harta karun jaman pramuka di SD dulu.

Hari itu, kami berdua berangkat dari hotel lumayan pagi. Kami juga berniat untuk naik bis gratis dari halte dekat hotel untuk memulai perburuan lokasi art street. Selain ada beberapa lukisan yang sengaja dibuat di gang terpencil, lokasi mural itu juga ternyata dijadikan obyek wisata turis. Di beberapa lokasi, untuk berfoto saja kami harus mengantri lumayan lama saking panjangnya antrian.

Mural-mural hasil buruan

Hari itu kami berdua menikmati kebersamaan dengan saling memotret dalam berbagai pose. Ada sekitar 8 atau 9 mural yang kami datangi. Kebayang kan gimana serunya membaca peta, naik bis atau jalan kaki, agak kehujanan sedikit, menemukan lokasi, mengantri buat foto, dan bersemangat untuk mencari lokasi mural selanjutnya.

Sebelum pulang ke hotel, karena kehausan saya dan Risa mampir untuk minum es chendol yang sehari sebelumnya kami datangi. Iya…es cendol yang terletak di Penang Road itu memang terkenal. Biarpun gerobaknya terletak di pinggir jalan tapi pembelinya mengalir tanpa henti. Kita bisa makan disana atau dibawa pulang. Kalau dimakan disana, kemungkinannya ada dua. Bisa makan sambil duduk di kursi plastik atau kalau kehabisan kursi, maka berdiri dengan semangkuk cendol di tangan adalah pilihan lain. 

Selain aneka makanan, ternyata Penang menyimpan banyak keindahan. 

Bukan hanya itu, Penang juga saksi kebahagiaan saya bisa jalan-jalan berdua dengan Risa. Berbagi cerita. Berbagi tawa. Tak henti-hentinya saya bersyukur pada Tuhan untuk setiap kesempatan yang telah diberikan. Kewajiban saya sekarang adalah mensyukuri setiap nikmat serta berusaha melakukan sebanyak mungkin hal positif agar kebahagiaan serupa bisa terus berulang.

Waktu, memang tak kan kembali dua kali. Setiap saat pasti berharga. Setiap masa pasti ada nilainya…

Trima kasih ya, Nak…buat semua yang sudah Icha berikan buat ibu dan bapak!

 

 Di halaman belakang hotel

 

 

 

 

 

 

 

 


TAGS catatan perjalanan


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post


Categories

Archive