Dress Code

16 Oct 2016

Sebenarnya saya paling anti dengan dress code.

Warna yang diseragamkan dengan nada tertentu, apalagi ditambah dengan model yang juga harus serupa, buat saya adalah penyiksaan. Aneh memang. Sebagai anggota organisasi yang melekat dengan tempat dinas suami, seharusnya saya adalah orang yang langsung setuju bila mendengar kata dress code. Maklum, seragam itu adalah kata pertama yang identik dengan status saya sebagai isteri prajurit.

Ternyata tidak.

Saya malah bisa tiba-tiba malas datang ke sebuah acara hanya karena masalah ini. Tapi karena berbagai alasan, antara lain karena keharusan atau tidak enak dengan teman lain, saya terpaksa memakai dress code yang sudah disepakati. Bisa dibayangkan dong betapa munafiknya saya…hehe!

Tapi pagi ini saya seolah mendapat pencerahan dari sebuah tulisan di sebuah surat kabar ibukota.

Ya, KH MUstofa Bisri atau biasa disapa Gus Mus, seorang ulama merangkap penulis yang pemikirannya selalu saya kagumi menulis tentang masalah ini. Judul tulisannya adalah ‘Seragam itu Melawan Fitrah’.

Aha…agak ekstrim memang, tapi buat saya itu adalah tulisan yang seolah menyetujui pendapat saya selama ini.

Saya seperti mendapat dukungan dengan pemikiran nyleneh yang saya miliki. Saya juga jadi ge-er karena orang seperti Gus Mus saja punya pemikiran yang sama dengan saya. Terus terang, saya suka bertanya pada diri sendiri tentang ketentuan dress code yang akhir-akhir ini seperti wabah. Apakah saya yang aneh karena tidak suka diseragamkan. Atau mungkin saya yang terlalu sombong karena merasa kalau seragam itu seperti ‘menyamakan’ semua orang sehingga tidak ada lagi ciri khas dari tiap individu.

Di wall media sosial, tak jarang saya lihat sekelompok ibu dengan nuansa warna yang sama plus kaca mata hitam sebagai pelengkap gaya, berpose dengan penuh percaya diri bergaya bak foto model ibukota. Duh. Foto-fotonya sih pasti bagus. Selain karena sudah diedit, ehm…apapun yang memiliki kesamaan cenderung indah untuk dipandang. Semuanya senada. Semuanya seirama. Bahkan bukan tak mungkin, secara tidak sadar, pola pikir merekapun akan hampir sama karena intensitas berinteraksi pasti akan mempengaruhi cara pandang plus pemikiran seseorang.

Buat saya itu adalah hal yang absurd.

Pada hakekatnya manusia itu kan diciptakan Tuhan dengan banyak perbedaan. Mulai dari warna kulit, jenis rambut, bentuk wajah, postur tubuh, suku bangsa, maupun agama dan kepercayaannya. Ribuan tahun yang lalu perbedaan juga sudah pasti ada. Justru itulah yang membuat hidup kita sangat berwarna. Yang lebih menutupi yang kurang. Yang kurang ditutupi oleh yang lebih. Harmoni akan terbentuk bila semua yang berbeda tidak dipaksakan untuk harus sama.

Konflik karena perbedaan jelas ada. Tapi apakah kalau semua sudah diseragamkan konflik tersebut jadi hilang?

Tidak juga. 

Seragam atau dress code itu hanya menimbulkan kesan sama di permukaan. Supaya perbedaan yang dimiliki tersamar maka dibuatlah kesamaan pakaian yang bisa langsung dilihat dari luar. Mereka yang terikat dengan kesamaan cenderung merasa nyaman dan lebih percaya diri untuk tampil di depan banyak orang. Apalagi kalau tampil berkelompok dengan dress code yang sama, wah, kepercayaan diri siapapun akan naik berkali-kali lipat karena merasa ada teman seperjuangan.

Bagus sih. Tapi efeknya kita jadi lupa.

Mungkin karena terbiasa fokus pada kelompok, kita jadi tidak peduli dengan orang lain yang berada diluar kelompok. Kita akan menganggap bahwa ‘kami’ adalah kelompok eksklusif sedangkan ‘mereka’ adalah kelompok yang tidak perlu dirangkul atau dipedulikan. Parahnya lagi, kita juga bisa menganggap remeh mereka yang tidak ’satu warna’ dengan kita hanya dari dress code atau seragam saja. Bayangkan, betapa mudahnya penghakiman itu dimulai!

Lama-kelamaan kebhinekaan yang selama ini kita banggakan akan terkikis habis oleh rendahya empati yang dimiliki. Janganlah bicara tentang toleransi yang bisa diputarbalikkan hanya dengan opini, tentang menghargai perbedaan saja kita sudah tak lagi peduli. Kalau saja kita mau berpikir lebih terbuka, maka penyamaan itu sesungguhnya adalah hal yang bisa menipiskan empati kita terhadap perbedaan. Didalam kita memang makin solid. Tapi dengan lingkungan yang berada diluar, kita menjadi semakin jauh. Tanpa sadar kita mengisolasi diri terhadp perbedaan. Alam bawah sadar kita akan mengatakan bahwa mereka yang tampilannya tidak satu warna pasti memiliki pemikiran berbeda.

Padahal tidak begitu.

Saya yang sudah 27 tahun menikah saja masih memiliki banyak perbedaan dengan suami. Apalagi dengan teman-teman atau lingkungan baru yang saya masuki. Awalnya hal tersebut menimbulkan banyak konflik receh yang tidak perlu, bahkan bisa berujung pada pertengkaran bahkan permusuhan. Tapi lama-lama saya menyadari bahwa kunci agar terhindar dari konflik adalah berhenti ‘menyeragamkan’ orang lain dengan pemikiran kita. Kalaupun kita ingin dijadikan panutan karena sudah merasa lebih baik *biarpun belum tentu* tunjukkan saja dengan perbuatan. Penilaian itu tidak bisa dipaksakan, kawan.

Tuh kan…kenapa topik dress code jadi melenceng ke masalah ini?

Hehe, intinya tetap kok, saya tidak suka dress code apalagi di acara non formal. Kalau acara formal sih masih bisa dimaklumi karena aturannya memang begitu. Tapi kalau sekedar ketemuan antar teman dan kita sudah heboh dengan dress code apa yang akan dikenakan, duh, bukan saya banget itu mah…

 

 

 

 

 

 


TAGS gaya hidup


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post


Categories

Archive