Lebih tapi kurang

26 Aug 2015

Dalam sebuah tayangan di televisi, tampak sepasang suami isteri diwawancarai wartawan. Sepertinya mereka akan bercerai. Jadi wawancara itu dilakukan di tempat terpisah.

Sang suami asyik menceritakan kesuksesan yang dicapainya setelah rumah tangga mereka bermasalah, sedangkan si isteri berulang-ulang mendoakan agar rezeki mereka berdua *biarpun nanti sudah berpisah* akan terus lancar.

Saya jadi berpikir, apakah kesuksesan dan rezeki yang lancar itu demikian penting dalam hidup mereka? Apakah kesuksesan itu harus mengalahkan keutuhan dan kebahagiaan rumah tangga? Atau apakah kita begitu takut kalau rezeki kita sedikit terhambat? Kenapa pula sukses dan rezeki itu menjadi prioritas utama doa mereka?

Dengan kata lain, kenapa bukan kesehatan dan kebahagiaan yang mereka minta pada Tuhan?

Terserah mereka sebetulnya.

Doa apapun yang mereka harapkan untuk dikabulkan adalah pilihan mereka sepenuhnya. Bukan hak saya juga untuk mengajukan protes atau keberatan terhadap hal-hal yang berifat pribadi seperti itu.

Kalau saya perhatikan, banyak sekali orang bercita-cita untuk jadi sukses dan kaya. Materi, uang, atau apapun itu seringkali menjadi tujuan masa depan agar hidup mereka sejahtera. Kenapa?

Karena dalam angan-angan sebagian orang, sejahtera itu selalu identik dengan bahagia.

Makin banyak harta yang dimiliki, makin tinggi pangkat atau jabatan yang dijalani, maka akan makin bahagia hidup kita.

Apakah benar seperti itu?

Ternyata tidak.

Hidup memiliki banyak cara untuk membuat kita bahagia. Tak ada teori baku karena sesungguhnya bahagia itu punya banyak sekali warna. Ada yang bahagia karena impiannya terwujud, ada yang bahagia karena tujuan hidupnya terapai, ada yang bahagia karena selalu dikelilingi orang-orang tercinta, tapi ada juga yang merasa bahagia kalau hartanya tersebar dimana-mana.

Semuanya pilihan.

Saya jadi ingat waktu suami bertugas di satu jabatan yang dipandang orang lain sebagai jabatan keren dan menjanjikan. Apa yang terjadi? Bahagia-kah kami?

Ternyata tidak. Kami malah sering bertengkar dengan alasan-alasan yang tak masuk akal. Sepertinya jabatan itu bukan yang terbaik buat kami. Jabatan penuh berkah seperti yang kami inginkan ternyata tidak berlaku di jabatan tersebut. Sebaliknya saat kami berdinas di sebuah institusi terpencil yang dinilai orang sebagai jabatan yang tidak keren, kebahagiaan yang kami rasakan malah berlipat ganda. Semua hal susah jadi mudah. Semua kesulitan jadi indah. Bahkan bisa dikatakan, bahagia itu selalu ada dalam keluarga.

Aneh memang.

Kemudian, ada lagi satu cerita.

Beberapa minggu lalu, seorang teman menelepon kalau karier suaminya masih saja menjadi wakil, sementara teman satu angkatan suaminya sudah banyak yang sudah menjadi komandan di institusi yang setara. Nasihat saya pun standar, pandai-pandai-lah bersyukur karena masih banyak tentara yang kariernya dibawah suami kita.

Tanpa diduga, di hari yang berbeda, seorang teman lain yang satu angkatan dengan teman itu tadi, menelpon dan berkata kalau sekarang suaminya sudah pindah dan menjadi komandan di satu tempat di daerah Jawa Barat. Institusi impian lah pokoknya. Dengan antusias, saya pun mengucapkan selamat atas promosi jabatan tersebut. Wajar kan, namanya juga baru naik jabatan.

Ehm, coba tebak apa reaksinya?

Sambil mengucapkan terima kasih, dia justru bilang begini : Mudah-mudahan cuman sebentar deh mbak, saya pengen suami saya lolos seleksi lemhannas biar bisa sekolah disana dan cepet dapet bintang…duh, mati gaya dong saya!

Jadi sebenarnya, apa cita-cita hidup manusia itu?

Menjadi orang sukses, kaya, atau bahagia?

Tidak bisa memilih semuanya tentu saja. Hidup itu tidak ada yang sempurna. Sama halnya dengan prioritas hidup yang kita pilih selama ini. Ada yang memilih jadi orang bahagia, tapi ada juga yang memilih jadi orang kaya dan sukses.

Sesungguhnya kemapanan materi itu sulit sejalan dengan kebahagiaan hakiki yang ingin kita miliki. Kesehatan, ketenangan jiwa, kemampuan mengelola emosi seringkali bertabrakan dengan hal-hal yang bersifat duniawi.

Disinilah kepandaian kita mengukur rasa cukup itu diuji.

Kalau kita ingin memiliki segalanya, pandai-pandailah merasa cukup. Jangan berlebihan apalagi sekedar pamer kehebatan. Kalau selama ini kita sudah diberi kesehatan, diberi keluarga yang menentramkan, pekerjaan yang berkah, teman-teman yang menyenangkan, kebutuhan yang dicukupkan saat kita memerlukan, maka rasa kurang itu pasti akan hilang.

Tidak percaya?

Siahkan dicoba…


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post


Categories

Archive