Takayama Old Town - Shirakawa-go - Kyoto

6 Aug 2015

Saya bukan penggemar keriuhan.

Itu sebabnya ketika berkunjung ke Jepang beberapa waktu lalu, saya begitu terkesan dengan Gujo Hachiman. Selain itu ada lagi 3 tempat yang membuat saya terpesona. Daerah-daerah tersebut adalah Takayama, Shirakawa-go dan Kyoto.

0dc224f98b2ddf3f9227dc4ab544fc3c_picture5

Selokan di Takayama Old Town

Tanpa bermaksud membandingkan dengan selokan yang ada di negara sendiri, selokan di Takayama Old Town ini membuat saya berdecak kagum karena kebersihannya. Selain airnya jernih dan mengalir bebas tanpa hambatan sampah secuilpun, selokan ini juga membuat jalan-jalan disini terkesan adem. Bayangkan saja, di tempat se-kuno ini, air yang mengalir gemericik membuat acara jalan kaki kami seperti ‘meloncat’ ke suasana beratus tahun lalu. Semua rumah yang dijadikan toko memiliki bentuk dan atap yang hampir sama. Warna kayunya juga serupa, hanya dagangan mereka saja yang berbeda. Ada yang buka toko cindera mata, camilan khas Jepang, gerai teh hijau bahkan pernak-pernik unik buatan tangan yang sangat personal.

4b37c53e138982411452043a001f16c8_picture6

Salah satu rumah di Takayama Old Town

Sedangkan ini adalah salah satu rumah penduduk di Takayama. Selain sebuah sepeda yang digunakan sebagai alat transportasi, di depan rumah juga tampak deretan pot bunga aneka warna dan boneka-boneka imut yang lucu buat difoto. Kalau di rumah saya boneka-boneka keramik itu dijadikan pajangan di lemari kaca, disana malah ditaruh begitu saja di pinggir jalan. Ada boneka anjing, kucing, orang, bahkan sepasang kodok hijau tampak santai di sebuah kolam mungil. Bener-bener penurunan status!

79b6147c3e5af673c5cf6019ba572c79_picture4

Rumah penduduk di Shirakawa-go

Nah, ini nih yang namanya Shirakawa-go.

Daerah ini adalah sebuah desa wisata yang keunikannya sudah diakui oleh UNESCO. Desa yang terletak di sebuah lembah tersebut bisa dicapai setelah kita melalui deretan anak tangga serta melewati sebuah jembatan gantung yang bikin saya deg-degan. Selain toko cindera mata dan gerai ice cream, disini juga terdapat rumah masyarakat Jepang di masa lalu yang dijadikan museum. Diantaranya adalah Kanda House dan Myozenji Temple Kuri.

7c46e9447e1de72b4cd2deac01c6995e_picture3

Kanda House yang ‘bening’

Memasuki rumah-rumah ini, aura kuno dan bau kayu lama langsung terasa. Di Myozenji Temple Kuri malah ada sebuah ruangan penuh asap yang awalnya bikin saya menerka-nerka. Ternyata disana ada sebuah perapian yang dikelilingi para turis, lengkap dengan sebuah teko berisi air mendidih. Kayu yang terbakar membuat ruangan itu penuh asap dan mata jadi perih. Pantas saja. Saya langsung mundur. Di Indonesia juga banyak nih kalau perapian yang model begini…

0ecb03ffd91faadb662411c2244aec96_picture2

Kyomizu Dera Temple

Kunjungan ke Kyomizu Dera Temple di Kyoto dilakukan sehari sebelum saya pulang ke Jakarta. Jalan setapak dari tempat parkir menuju kuil ini membuat saya hiteris saking banyaknya toko-toko unik yang sangat menarik. Harganya juga bersahabat. Aneka dompet kain, kipas, kaos, kue-kue, semua dikemas keren dan mengundang buat dibeli. Saking kalapnya, saya sampai harus dipegangin sama Risa supaya tidak belok ke semua toko…hehe, makasih ya De, buat perjuangannya!

ebce0af341cee12be6502ecd007b2e34_picture1

Tiket masuk ke Kyomizu Dera Temple

Buat saya kunjungan ke Jepang beberapa waktu lalu itu memang sangat berkesan. Selain negara impian yang sudah lama ingin saya kunjungi, Jepang juga ternyata menyimpan banyak pelajaran positif yang sebelumnya tidak saya ketahui. Mau tahu?

Baca deh buku Mengenal Jepang yang ditulis oleh Yusuke Shindo, mantan Wakil Duta Besar Jepang di Indonesia yang baru saja selesai melaksanakan tugasnya pada bulan Maret 2015 lalu.

Beneran, keren banget bukunya!



TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post


Categories

Archive