Selamat jalan, Nunuk…

2 Jul 2015

Hari ini setahun yang lalu.

Saya masih sulit melupakan kejadian itu. Tanggal 1 Juli 2014, sebuah sms masuk ke handphone saya.

‘ Tante, tante Nunuk meninggal. Mohon doanya ya.’

Dunia seakan berputar.

Tanpa sadar saya bersandar ke tiang terdekat yang ada di toko buku. Dengan tangan gemetar, saya menekan nomor yang tertera di layar handphone. Jarak Bandung - Malang yang ratusan kilometer menghalangi langkah saya untuk segera berlari ke rumahnya. Ternyata benar. Suara terisak di ujung sana memastikan bahwa berita itu benar adanya. Nunuk Susilowati, sahabat yang sudah 30 tahun menemani saya berbagi cerita baru saja meninggal dunia.

Innalillahi wa inna illaihi roji’un.

Rasanya sulit dipercaya.

Tanpa sakit apapun. Tanpa keluhan sedikitpun. Nunuk meninggal dalam tidurnya. Tidur malam di hari Senin itu rupanya menjadi tidur panjangnya. Saya masih saja terpana. Tanpa terasa air mata mulai membasahi pipi. Tak percaya rasanya kalau Nunuk telah mendahului saya menghadap Sang Pencipta.

Saat itu saya baru sadar kalau telpon kami beberapa minggu lalu adalah pembicaraan terakhir kami selamanya. Hanya puluhan sms itu yang tersisa. Hanya puluhan sms itu yang berulang kali saya baca kala saya merasa begitu kehilangan atas kepergiannya.

Penyakit tumor otak yang pernah diderita Nunuk 3 tahun lalu itu sebenarnya telah dinyatakan sembuh oleh dokter yang merawatnya. Operasi pengangkatan tumor itu telah dilalui dengan baik. Bisa dikatakan operasinya berhasil biarpun sesungguhnya itu adalah operasi penuh resiko karena tumor itu tumbuh di tempat yang sulit dijangkau tanpa menggunakan alat canggih. Tindakan gamma-knife di sebuah rumah sakit ternama di Jakarta juga sudah dilakukan setahun kemudian.

Selama ini tak ada keluhan apapun yang diceritakan Nunuk pada saya. Tapi entahlah. Dia memang senang menyimpan semua dukanya sendirian. Sifatnya yang tertutup seakan berbanding terbalik dengan senyum hangat yang selalu menghiasi wajahnya.

Ini yang membuat saya senang berbagi cerita dengan Nunuk.

Ini pula yang membuat saya nyaman berbagi duka dengannya. Tak ada reaksi berlebihan, tak ada nasihat yang membuat emosi kian tersulut. Bahkan tak jarang dia memberikan cara pandang yang membuat saya jadi lebih tenang.

Untuk beberapa lama saya masih saja tidak percaya dengan kepergiannya. Saya berharap itu adalah mimpi buruk yang akan hilang ketika saya bangun. Tapi tidak. Harapan itu seolah lenyap saat saya berkunjung ke tempat peristirahatan terakhirnya. Saat itulah saya menyadari bahwa Nunuk benar-benar telah berpulang.

Kembali saya kehilangan kata-kata.

Begitu banyak rencana kita yang belum terwujud ya, Nuk. Begitu banyak diskusi kita tentang hidup yang belum tuntas kita bahas.

Bukankah seharusnya operasi besar itu yang beresiko tinggi untuk membuatmu tiada? Aku masih ingat pasca operasi dulu, koma dan kejang-kejang itu yang membuat dadaku berdebar kencang kala telpon dari Malang datang.

Terus terang, Nuk…operasi yang kamu jalani 3 tahun lalu itu selalu membuatku khawatir. Kecerewetanku yang berulangkali menanyakan kondisimu selalu saja dijawab dengan tawa ringan dan kalimat yang sama : bahwa kamu baik-baik saja, bahwa kamu tidak pernah merasa pusing dan sakit sedikitpun, bahwa kamu juga tidak merasa perlu untuk memeriksakan diri dengan rutin ke dokter manapun. Intinya kamu merasa sehat dan sudah sembuh total.

Aku percaya Nuk, karena nada suara dan perilakumu menunjukkan hal yang sama.

Beberapa kali kamu sempat berkunjung ke rumahku. Di Bandung, Surabaya bahkan waktu aku tinggal di Cilodong. Kamu tidak berubah. Aktivitas dan cara bicaramu juga tetap saja seperti dulu. Operasi itu rupanya tidak meninggalkan bekas apapun di tubuhmu. Aku justru melihat cara pandangmu tentang hidup makin positif.

Aku suka. Aku kagum.

Kesempatan kedua yang diberikan Tuhan kepadamu rupanya kamu manfaatkan untuk meningkatkan kualitas hidupmu. Ujian kesehatan yang kamu alami telah meningkatkan keimanan sekaligus menurunkan kadar egomu. Aku tahu, karena seringkali kamu membaginya dengan aku. Bahwa menjadi sosok yang rendah hati adalah nilai hakiki yang harus kita miliki. Bahwa kesombongan itu akan membuat kita kehilangan segala yang kita punya.

Mataku kembali basah.

Aku tak akan lupa, Nuk. Aku akan selalu ingat pesan terakhirmu itu.

Sampai sekarang tak ada yang tahu apa yang jadi penyebab pasti kepergianmu. Menurut kakakmu, sehari sebelumnya kamu sehat-sehat saja. Bahkan masih sempat menyiapkan menu berbuka seperti biasa. Dan keesokan harinya, ketika akan dibangunkan karena lampu rumahmu masih terang padahal hari sudah siang, ternyata kamu sudah tiada. Cerita tentang kepergianmu rupanya harus menjadi milikmu sendiri. Tidak untuk dibagi pada siapapun bahkan pada suamimu.

Kamu pergi dalam tidur panjangmu, Nuk.

Di rumah indah yang baru saja kamu tempati. Di rumah impian yang dibangun murni dengan idemu. Itu adalah rumah dengan gaya dan sentuhan pribadi yang sekarang tak lagi bisa kamu nikmati. Dan itu adalah rumah yang baru 6 bulan kamu tempati.

Aku ingat.

Dapur dan kamar tidur yang menghadap ke sebuah taman dengan kolam ikan mungil adalah area kesukaanmu. Kamu berhasil mewujudkannya, Nuk. Aku kagum. Betapa inginnya aku memelukmu. Betapa inginnya aku mengguncang tanganmu dan mengucapkan selamat buat salah satu impian besarmu.

Aku tahu Nuk, kamu selalu suka bila berada di area dapur dan kamar tidur. Apalagi setelah kamu berhenti dari pekerjaanmu sebagai karyawati sebuah bank ternama. Memasak aneka menu dan membagikannya pada semua orang adalah kebahagianmu. Aku juga tahu, sejak dulu tidur adalah kegiatan yang tak pernah membosankanmu.

Banyak orang bilang itu adalah rumah yang bersih, indah dan nyaman. Bahkan beberapa teman sempat mencium aroma wangi saat mereka datang di hari kepergianmu. Sungguh Nuk, aku menyesal tidak bisa mengantar ke tempat peristirahatan terakhirmu. Aku percaya kamu memakluminya. Aku juga tahu kamu memiliki banyak maaf untuk segala kekuranganku.

Selamat jalan, Nunuk.

Terima kasih untuk 30 tahun kebersamaan kita. Trima kasih untuk diskusi-diskusi panjang yang selama ini kita lakukan bahkan sampai lewat tengah malam. Semoga kelak kita bisa kembali bertemu dalam kebersamaan yang abadi.


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post


Categories

Archive