Ada apa di Hotaka?

17 Apr 2015

Perjalanan hari kedua di Jepang, tujuan kami adalah ke Gunung Fuji, Takayama dan Shirakawago. Lalu bermalam di sebuah hotel bernama HV yang terletak di Hotaka-Prefecture Nagano.

Perjalanan dari Shirakawago ke Hotaka sekitar 45 menit. Jalan yang kami lalui berkelok-kelok dan sangat sepi. Pantas saja. Hotel itu ternyata ada ditengah hutan pinus yang amat luas. Rombongan kami tiba ketika hari sudah gelap. Hotelnya sendiri termasuk kategori antara bintang 4 dan 5. Tampilannya bagus biarpun bangunan itu terkesan seperti tahun 90-an. Suasananya sepi dan personal karena memang kesan itu yang ingin diciptakan. Buat yang ingin bulan madu, ok-lah…

8dba2bcbb41579b82c2ea9c99fae9731_picture8

Saya di depan hotel

3afa10536dfefeaecf5c64b77029c477_picture9

Pohon pinus tanpa daun

Biarpun terkesan lama dan agak suram, hotel ini bersihnya luar biasa. Pelayanannya juga hangat dan prima. Saking personalnya, di meja resepsionis sampai dipasang bendera Indonesia dan Jepang dengan burung garuda ditengahnya.

Begitu turun dari bus, rombongan kami disambut petugas hotel yang ramah dan tangkas. Jumlahnya sih tidak banyak, sekitar 3 atau 4 orang gitu deh. Semuanya memakai jas hitam resmi. Mereka ini sangat efektif karena selain bertugas sebagai tim penyambutan, mereka juga merangkap petugas angkat barang, penunjuk jalan ke ruang makan, menghidangkan sajian makan malam, bahkan jadi teknisi TV.

Wow banget lah pokoknya!

Ok, kita kembali ke topik.

Setelah makan malam dengan menu tradisional Jepang lengkap, kami menuju ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Entah kenapa, malam itu saya dan Risa kembali menempati kamar di area yang sepi. Lorong berkarpet yang kami lalui penerangannya temaram. Teman serombongan juga kebanyakan menempati kamar di lantai yang berbeda.

Jadilah kami berdua menyeret-nyeret koper sambil melirik kanan-kiri berharap ketemu orang yang tujuannya sama. Hasilnya nihil. Hanya ada satu petugas hotel yang berjalan terburu-buru melewati kami dan langsung berbelok di ujung lorong. Huh!

Akhirnya, sampailah kami di kamar yang dituju.

Kamar itu tidak seperti kamar hotel pada umumnya. Selain cukup luas, kamar tersebut dibagi menjadi beberapa ruangan. Untuk menuju kamar tidur utama, kita harus melalui sebuah lorong pendek dengan lemari dan kamar mandi di kedua sisinya. Di sebelah kiri terdapat walking closet yang menuju kamar mandi basah yang sangat bersih. Love it!

Kemudian di sebelah kanan, ada ruangan untuk closet yang letaknya sengaja dipisahkan dari kamar mandi basah itu tadi.

Ruang tidur utama hanya dilengkapi dengan tempat tidur dan sofa. Saya heran, dimana televisi dan kulkasnya ya?

Oh, oh, ternyata benda-benda yang saya cari ada di ruang sebelah. Pantas saja tidak kelihatan karena antara ruang tidur dan ruang duduk itu ada sekat kayu yang tertutup. Baru setelah dibuka tampak sebuah meja pendek untuk minum teh dan futon *semacam kasur* yang tersimpan rapi dalam sebuah lemari. Disana juga ada televisi, kulkas dan sepasang kursi untuk menikmati pemandangan dibalik jendela kaca.

Oya, diatas bantal yang terhampar juga disediakan sepasang kimono buat melakukan onsen (ritual berendam air panas ala Jepang). Sstt, ritual ini sangat unik. Orang yang mau melakukan onsen syaratnya adalah tidak boleh memakai busana sama sekali alias telanjang. Laki-laki dan perempuan memang ditempatkan di ruangan berbeda, tapi kalau sesama perempuan tanpa busana berendam di kolam yang sama?

Oh, no!

Itu memang budaya asli masyarakat Jepang yang diteruskan turun-temurun. Ada etika yang harus kita patuhi kala kita melakukan onsen. Selain tidak boleh berbusana sama sekali, saat berpapasan dengan orang lain tatapan mata kita juga harus tertuju ke bawah. Tidak boleh curi-curi pandang apalagi jelalatan.

Onsen-pun dicoret dari rencana.

Setelah mandi dan beres-beres karena besok pagi kami akan langsung check-out, kami bersiap tidur. Sejak awal saya merasa kalau aura ruangan itu agak aneh. Selain penataan ruangan yang berkelok-kelok, lampu kamarnya juga amat temaram. Susah tidur deh jadinya!

Sekitar tengah malam, tiba-tiba saja saya terbangun dan ingin ke kamar mandi. Agak aneh sebenarnya karena sebelum tidur (sekitar jam 23.00) saya sudah melakukan ritual wajib supaya bisa tidur aman sampai pagi.

Setelah membangunkan Risa, saya pun turun sendirian. Beberapa menit kemudian saya kembali ke tempat tidur.

Sebelum menarik selimut, tanpa sengaja saya melihat ke arah jam digital yang ada di samping ranjang. Jam 00.03. Wew, itu artinya saat terbangun tadi jam menunjukkan pukul 00.00 dong. Hiii, jadi merinding…

Untunglah saya bisa cepat tidur lagi.

Keesokan harinya, saat kami dalam perjalanan ke Gujo Hachiman, hampir semua teman serombongan bertukar cerita tentang kamar mereka di hotel HV.

Benar saja. Ada satu kejadian ekstrim yang dialami oleh Bu Tin.

Nenek berusia 75 tahun ini satu kamar dengan Bu Tanti dan Bu Lanny. Entah jam berapa, tiba-tiba saja Bu Tin ini terbangun karena TV di kamarnya nyala sendiri. Itu belum apa-apa. Air di termos listrik juga mendadak mendidih dan bikin kaget. Selain buru-buru mencari remote untuk mematikan TV, Bu Tin juga langsung mencabut stop kontak supaya aliran listrik ke termos terputus. Bu Tanti dan Bu Lanny justru tidak terbangun sama sekali.

Seisi bus langsung heboh.

Kejadian yang saya alami tadi malam ternyata belum apa-apa. Selama perjalanan ke Jepang kemarin itu hanya waktu bermalam di Hotaka saja saya terbangun dan ingin ke kamar mandi. Di tempat lain tidak. Apa mungkin karena udara disana sangat dingin?

Bisa jadi begitu.

Tapi tidak apa-apa.

Keindahan pemandangan, kenikmatan makanan saat sarapan, serta keramahan dan ketangkasan pegawai hotel tersebut bisa menutupi pengalaman aneh yang dialami oleh Bu Tin itu tadi.

Tidak percaya?

Bermalam saja di Hotaka…

:)

85198dbde971d57d0d25fe0ad649a2cb_picture10

Boneka-boneka yang menggemaskan


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post


Categories

Archive