‘Bu, Ica udah gajian lo…’
‘Oya? Berapa?’
Astaga, lihatlah betapa matrenya saya!
‘Sembilan ratus enam puluh ribu rupiah, bu…yang dua ratus lima puluh ribu buat bapak, yang dua ratus lima puluh ribu lagi buat ibu, sisanya buat Ica yaaa…’
‘Ok, De…makasiiih…’
Pembicaraan antara saya dan Risa malam itu memang terkesan biasa-biasa.
Setelah 12 hari berada di daerah Karangsambung - Kebumen karena bekerja sebagai asiten praktek lapangan dari mahasiswa geologi angkatan dibawahnya, rupanya hari itu Risa sudah bisa menerima uang lelah buat kerja kerasnya selama ini.
Itu adalah gaji kedua Risa sebagai seorang mahasiswa.
Yang pertama waktu dia bekerja sebagai asisten praktek laboratorium mineral di kampusnya dan yang kedua sekarang, saat dia kembali menerima gaji karena bekerja sebagai asisten praktek lapangan di daerah Karangsambung.
Perasaan saya jelas campur aduk.
Uang sebesar itu ternyata bisa diperoleh karena dia sudah bekerja purnawaktu dari pagi hingga malam hari. Jam kerja yang dimulai sangat dini seringkali baru berakhir lewat tengah malam atau bahkan nyaris pagi hari.
Maklumlah, sebagai pendamping mahasiswa geologi yang sedang melaksanakan praktek lapangan, Risa dengan satu orang teman seangkatannya bertugas untuk mendampingi sekaligus membantu mereka dalam melakukan penelitian aneka jenis batuan, evaluasi kegiatan maupun pembuatan laporan.
Tugas yang harus dilaksanakan dengan penuh dedikasi, tentu saja. Dan justru itu yang membuat perasaan saya tidak karuan. Kala uang hasil keringat anak kita itu diberikan juga pada kita sebagai orang tua, sungguh, itu adalah sebuah rasa yang luar biasa!
Rasa terbesar yang saya punya tentu saja bangga.
Saya bangga gadis kecil kami itu kini sudah menjelma menjadi wanita dewasa yang bertanggung jawab untuk membuat dirinya berguna. Anak yang saya timang dengan sepenuh sayang itu, sekarang sedang menata langkah baru menuju masa depan bertabur bintang. Disana akan ada ribuan kerja keras dan semangat yang harus terus dilakukan, ada niat baik yang harus terus ditegakkan, juga ada idealisme dan pengabdian yang harus terus dibagikan.
Ah, cepatnya waktu berlalu…
Dekapan hangat penuh doa yang selalu saya berikan kala memeluknya, seringkali membuat saya meneteskan air mata bila mengingatnya. Seperti saat ini. Kala semua kenangan itu berkelebatan secepat angan. Masa lalu memang akan menjadi keping terindah dari masa depan yang kita punya. Dan memiliki belahan jiwa itu tak pernah terbayangkan oleh saya di masa muda.
Betapa Tuhan Maha Baik.
Saya yang tak pernah punya banyak mimpi, justru diberi-Nya anugerah luar biasa yang tak bisa dinilai oleh harta dunia. Tak juga bisa ditukar dengan gemerlapnya permata. Sebanyak apapun. Sebesar apapun
Apalagi kami bertiga seringkali tinggal di kota yang berbeda.
Sejak kelas 1 SMP dia sudah tinggal terpisah dari kami dan mulai merajut mimpi serta ribuan asa. Tanpa banyak keluhan, tanpa banyak omelan. Dia menjalani hari demi hari sebagaimana layaknya hari itu harus dijalani. Dengan banyak cinta, juga dengan selalu bertukar cerita.
Saat menulis kalimat ini, air mata saya jatuh sudah. Menulis tentang Risa selalu saja membuat saya meneteskan air mata dan kehilangan kata. Karena cinta, karena rindu, juga karena bangga.
Rasa ini entah kenapa selalu disertai juga dengan rasa haru yang mengharu biru.
Saya terharu dengan perhatiannya yang ingin membagi uang itu pada saya dan suami, juga pada kepeduliannya untuk membuat kami merasa dicintai. Bukankah perhatian dan kepedulian itu tidak pernah bisa dinilai dengan nominal materi yang kita miliki?
Terima kasih ya, Nak…terima kasih buat semua yang sudah Risa berikan selama ini. Terima kasih juga sudah membuat kami merasa berarti. Teruslah melangkah. Teruslah mengejar cita. Nanti. Pada satu titik kelak, berhentilah untuk memulai satu langkah baru. Langkah yang sangat berarti bagi seorang wanita seperti kita…

pertamax duluuu
Okeeeee
18 Juli 2012 @ 22:51berarti, dulu begini pula rasa yang membuncah di dada mamakku ya mbak. sebagai anak, senang saja rasanya bisa memberi pada orang tua. bukan sebagai pembayar apa yang ntelah dterima. tapi lebih pada ingin menyenangkan orang tua. apalagi tau jumlah uang yang kami berikan pun taklah seberapa jika dibandingkan isi pundi2 orang tua sendiri. tapi itu tadi, sensasi memberi itu yang tak bisa dinilai dengan jumlah uang itu sendiri.
walau saat ini belum punya momongan, sedikitnya saya bisa membayangkan rasanya mamak saya dulu. biarlah saya ge er, karenan mamak tak pernah sekalipun mengungkapkannya dalam kata, tapi saya kira setiap ibu pastilah punya rasa yang kurang lebih sama ya
semoga Risa sehat selalu dan pekerjaannya pun lancar ya mbak
Amiiin…
18 Juli 2012 @ 22:56Trima kasih niQue, trima kasih sudah berbagi cerita lewat komen ini. Saya yakin, mamak niQue juga merasakan hal yang sama dengan saya saat menerima uang gajian Risa
ikutan terharu & bangga membaca tulisan ini …
Kayaknya saya bakal seperti Mbak Irma ya, kalau suatu hari nanti Fauzan melakukan hal yang sama.
Iya Dey, mungkin rasa itu adalah rasa yang dimiliki setiap ibu kala menerima uang gaji milik anaknya…
18 Juli 2012 @ 22:59Salam SELAMAT UNTUK KAK RISA ya tante..
semoga kak Risa tambah Sukses..
Dan mencapai cita-cita yang gemilang..
Amin..
Salam dari mama dan tante Nunuk untuk semua yang ada di sana ya tante..
dan Selamat menunaikan ibadah puasa ya tante…
Trima kasih Fir, selamat puasa juga yaaaa…salam kembali buat keluarga di Araya
19 Juli 2012 @ 15:09gini toh rasanya kalau orang tua di beri uang sama kita ya….. biasanya cuma dapat terima kasih doang… ternyata dengan tulisan ini saya jadi tahu…. terima kasih…
Iya Applausr, dibalik ucapan terima kasih itu, ternyata ada rasa yang susah diungkapkan dengan kata-kata…
19 Juli 2012 @ 15:40Bu Iiiir, speechless…
Ah, jadi pengen nangis lagi, Riiin…
19 Juli 2012 @ 16:38bunda Iiir… speechless….
)
sy smp berkaca2 dan hampir ikut meneteskan air mata juga membaca cerita bunda (krna baca’y di depan bu bos jd brhasil ditahan..
seperti itu ya rasanya menjadi orang tua
sukses sll buat neng Risa’y & bahagia sll dlm keluarga ya Bunda..
oh iya, selamat menunaikan ibadah puasa..
Trima kasih buat doa dan apresiasinya, Livyah…saya jadi terharu bacanya…
19 Juli 2012 @ 17:47Selamat menunaikan ibadah puasa juga buat Livyah, mohon maaf lahir dan batin
mbak Irma gak mau tah dikasih duit sama Risa? kasih saya wae wis Ris duite hehehe
Kalau saya jadi Risa mungkin saya akan melakukan hal yang sama seperti Risa lakukan mbak. Karena Risa pasti bangga kok punya ortu semacam mas dan mbak Irma.
cup.cup dong ah.. ojo nangisan mbak Irma hehehe
met Ramadhan ya mbak, mohon maaf jika mungkin ada guyonan saya yang kelewatan
Hehehe, sama-sama Lozz, selamat menunaikan ibadah puasa juga, mohon maaf lahir dan batin…
19 Juli 2012 @ 19:15Ayo sini uangnya balikin!
Ikut berbangga atas anugerahNya berupa semua pencapaian mbak Risa. Kita ortu berperan tutwuri handayani ya Jeng. Selamat menunaikan ibadah puasa.
Selamat menuaikan ibadah puasa juga, mbak Prih…mohon maaf lahir dan batin, matur nuwun atas perhatiannya…
19 Juli 2012 @ 20:23Mbak Irma, aku juga berlinang air mata sewaktu diberi uang oleh si sulung dari hasil jualan barang di Internet. Uangnya sampai saya simpan di laci lemari, gak digunakan. Itu saya anggap sebuah momen untuk jadi kenangan kelak. Bahwa bayi saya sudah bisa nyari duit hehehe..
Selamat untuk Risa yang telah berhasil menjadikan dirinya berguna. Ini bibit bagus untuk menyumbang pada bangsa kelak
Amiiin…
19 Juli 2012 @ 21:04Kita sama mbak, uang dari Risa itu juga saya simpen di slempitan dompet…hehe
mungkin itu juga ya mbak yg dirasakan alm. ibuku dulu saat aku dah mulai bisa kerja dan menyerahkan uangnya ke beliau
salut sekali buat Risa !
Begitu ya mbak, ibu saya meninggal waktu saya masih kelas 2 SMP jadi saya tidak sempat memberikan uang apapun pada beliau…tapi mudah-mudahan rasa itu akan sama mbak Ely, karena cinta orang tua pada anak adalah cinta sejati yang tak pernah berhitung materi
19 Juli 2012 @ 22:22Wah..selamat ya Mbak Irma..putra tercintanya sudah mulai menunjukkan hasil keringat ayahbudndanya.. semoga Risa selalu sukses kedepannya..
Amin ya robbal alamiiin…
19 Juli 2012 @ 23:47Trima kasih buat doa dan perhatiannya, mbak Made
duh, mba.. aku jd ngebayangin kalo si kaka-dede udh kerja dan bilang mau ngasih sebagian buat mamanya… pasti langsung nangis bombay dirikyu ini…
huhuhuhuhu
Iyaaaa, coba deh nanti dilihat kalo mereka sudah pada besar, Hilsya…
20 Juli 2012 @ 04:50Ya Allah. Merinding banget saya Mba Irma.
Berusaha buat gak berkaca-kaca karena baca di kantor.
Semoga Risa sehat selalu ya Mba, tentu saja orang tuanya juga saya doakan sehat selalu.
*Ikut terharu, bangga dan campur aduk rasa*
Trima kasih doa dan apresiasinya Dan, kelak Dani dan Bul juga akan merasakan hal yang sama kalau Aaqil sudah dewasa…
20 Juli 2012 @ 09:28wah, senangnya punya anak yang berbakti…semoga kelak ketika saya sudah berkeluarga anak saya juga berbakti,,,aamiin,,,
Amiiiin…
20 Juli 2012 @ 10:41Ikut mendoakan juga Dina.
Trima kasih buat komennya
tak terasa ya bunda waktu berjalan begitu cepat. Saya ke adek juga gitu rasa2nya baru kemaren dia masuk SD eh skrg udah kuliah aja
Tuh kan, Rahmi juga sudah punya anak yang sudah kuliah…betapa cepatnya waktu berlalu…
20 Juli 2012 @ 11:13Whoaaaa…
Risa udah bisa dapet uang sendiriiiii…
keren banget Ris!
Gak kebayang gimana bangga nya yah mba…
dan Risa juga rela mem bagi gaji nya buat mba Irma juga…
terharuuuuu…
Harus sehat terus selama disana ya Risaaaaa ;p
Iya Ry, ternyata gini ya rasanya dibagi uang sama anak itu…
20 Juli 2012 @ 14:40Sulit membayangkan kalo suatu saat nanti Kayla ama Fathir udah sebesar dan se mandiri Risa deh mba…
Sekarang ajah kalo nge bayangin bahwa suatu saat nanti harus jauh jauh dari anak anak rasanya beraaaat banget…
*rada posesip*
Kagum sama mba Irmaaaaaa ;p
Ahaaa…posesif…eh, posesip itu mah pasti, Ry…tapi da gimana lagi…
20 Juli 2012 @ 14:43*kesannya kok jadi pasrah abis sih*
Thaks apresiasinya Erry, miss u very much..dan sumpah, saya nggak tau dimana harus cari alamat blog Erry yang satu lagi itu, saya jadi nggak bisa ninggalin komen deh
bahagia rasanya mendapatkan anak spt Risa..
cinta kasih anak buat kita sebagai ortunya melebihi apapun itu
Betul Bens, Alhamdulillah…
21 Juli 2012 @ 01:23Jadi begitu ya mbak rasanya dibagi duit gaji dari Risa, saya jadi bayangin bagaimana perasaan Orangtua saya bila saya kasih duit, barangkali mereka senang tapi tidak mereka tampakkan
Iya Yun, mungkin saja rasa bangga dan bahagia itu tidak terlalu kelihatan oleh Yuni
21 Juli 2012 @ 04:46Mbaak.. meski nominalnya belum seberapa bagi Mbak, tetapi keikhlasan Risa dalam membagi duit itu kelihatan ikhlaas banget, kayak apa ya.. kayak sahabat yang berbagi kepada sahabat-sahabatnya.
saya yang baca aja ikut bahagia membacanya, seolah saya juga dapat cipratan dari Risa
Risaa.. bagian buat saya mana? hihi..
Hihihi…tante bisa aja deh, kan tante yang uang gajinya lebih besar dari Risa…
21 Juli 2012 @ 04:51subhanallah
chika jadi inget waktu dlu waktu masih kuliah
mata ibu berbinar2 saat chika memberikan gaji mengajar private, memang tak seberapa namun ibu sangat bahagia
salam kenal mba
Salam kenal juga, Chika…
21 Juli 2012 @ 09:58Kebanggan ibu Chika bisa saya banyangkan, karena saya juga merasakan hal yang sama.
Sukses terus ya!
Ahh.. terharu banget bacanya mbak…
Terkadang membaca cerita ini banyak orang yang berpikiran, “Beruntung ya mbak Irma punya putri setegar dan secerdas Risa, dan sebaliknya beruntung pula Risa punya Ibu yang hebat seperti Mbak Irma”
Tapi apakah ini semua keberuntungan?
Aku selalu berprinsip mbak, bahwa keberuntungan itu tidak datang begitu saja, tetapi kitalah yang menciptakan keberuntungan itu.
Dalam hal ini, Kasih sayang dan perhatian Mbak Irma selama ini kepada Risa telah membuat risa tumbuh menjadi anak yang patuh dan tidak pernah lupa akan orang tuanya.
Sebuah pelajaran berharga untuk kami, para calon orang tua mbak. Selalu mendapatkan semangat baru, motivasi baru ketika habis berkunjung di blog ini
Amiiin…
21 Juli 2012 @ 13:33Saya merinding baca komen ini, Surya…trima kasih buat apresiasinya, trima kasih juga buat semua perhatiannya selama ini.
Mudah-mudahan Surya dan Dewi juga kelak bisa merasakan rasa yang saya rasakan ini. Keberuntungan memang tidak datang tiba-tiba, ada proses yang telah dilalui, ada keja keras yang telah dijalani.
Saya doakan, semoga Surya juga selalu memiliki banyak keberuntungan.
Eh lupa mbak.. Dari kemarin pingin komen ini..
Marhaban ya Ramadhan..
Dalam bulan yang mulia ini, aku minta maaf mbak kalau selama ini banyak kata atau komen yang kurang berkenan.
Selamat berpuasa ya mbak..
Iya Surya, samaaa…saya juga ngucapin selamat berpuasa buat Surya dan Dewi, mohon maaf lahir dan batin bila ada salah-salah komen…
21 Juli 2012 @ 22:39besar kecilnya bagi org tua bukan hal penting.. tp perhatian dr si anak ya mbak yg bikin org tua jd terharu ^^
Betul Ke2Nai, itu juga yang membuat perasaan saya mengharu biru…
22 Juli 2012 @ 19:22mba Irmaaaaa…
baru posting lagih di blog korea mbaaaa…
dan postingan blogcamp ada disinih ;p
http://bibitititeliti.blogspot.com/
ituh adalah blog aku buat latihan mba…hihihi…
tempat uji coba geto lah…waktu belum punya detik ;p
Oyaaaaa?
22 Juli 2012 @ 20:55Saya udah komen banyak di blog Korea-nya, terus blog yang satunya, saya intipin dulu yaaaa…
AH jadi ingat perasaan mami saya dulu waktu saya baru kerja.
Saat mendapat telepon final utk menyatakan bahwa saya diterima bekerja, dia rasanya lega dan senaaang sekali. Lalu saat gajian, tadinya saya mau kasih semua untuk si mami, tapi mami saya sudah cukup senang dengan menerima separoh saja. Tentu dia tahu bahwa anaknya juga ingin menikmati gaji pertamanya….
Hehe, iya Zee, yang udah capek-capek kerja juga pasti pengen merasakan gimana rasanya uang yang didapat dari keringat kita sendiri…salam hormat buat maminya Zee ya!
23 Juli 2012 @ 09:59duuh terharu bener bacanya ini mbak
inget gaji pertamaku yang 25ribu pas kerja sambil kuliah sama ibuku malah disuruh berhenti karena dia bisa ngasi lebih banyak
Risa bener-bener anak yang berbakti sama orangtua tetep inget ibu dan bapaknya pas gajian ya
karena sekecil apapun yang diberikan tentu gak masalah namun bentuk perhatian dari anak dan rasa haru karena ia sudah mampu menghasilkan uang sendiri itu yang membuat mbak irmanya jadi gak karuan hehehe
selamat buat Risa
nanti kalo Rico gajian berapapun dia mau kasi mamanya mudah-mudahan aku mau terima ah soalnya dulu ibuku gak pernah mau terima uang ku malah ngasi uang jajan terus gak berhenti2
Hohohoho…ketauan nih Julie seneng jajan, abis dikasih uang terus sama ibunya…
23 Juli 2012 @ 11:33Waktu itu saya dan suami terima uang yang dikasih Risa Jul, biar dia merasa dihargai, padahal setelah itu kita berdua juga ngasih balik buat jajannya dia…dengan lembar uang yang berbeda tentu saja
Terharu Bunda membacanya….
Waaaaah Neng Risa Keren ya… Seribu Jempol buat Neng Risa…
Amiiin…
23 Juli 2012 @ 17:48Trima kasih buat apresiasinya, Wan!
Neng Risa bisa seperti ini karena memang didikan dari orang tua yang memang luar biasa…
Semoga kebahagian ini terus berlanjut ya Bunda… Amiiiiiiin
Alhamdulillah, itu yang penting awan, smoga semua ini bisa berlanjut…sukses juga buat awan dengan semua kegiatannya…ehm, udah ada posting baru belum?
23 Juli 2012 @ 17:56Alhamdulillah mbak,punya putri sebaik Risa…. mandiri,cerdas dan sayang orang tua…
siapa dulu dong ibunya
Ah, mbak Monda bisa aja…apa kabar, mbak?
23 Juli 2012 @ 20:59Baru pulang liburan ya…
Ass. Bu, pkbr ? Slmt brpuasa y bu. Mhn maaf lahir bathin y bu. Slmt buat Risa udh bs buat ibu & bpk bangga. Smga saya jg bs seperti Risa. Amin Ya Rabbal ‘alamin. Msk apa bu hr ne buat berbuka ? Salam hangat selalu.
Halo Dewiii…selamat menunaikan ibadah puasa juga buat dewi dan keluarga, mohon maaf lahir dan batin…smoga kelak Dewi juga bisa membuat orang tua Dewi bangga
24 Juli 2012 @ 08:37alhamdulillah….
mb risa sudah dapat gaji y…
selamat y mba….:)
Trima kasih, mamairma
24 Juli 2012 @ 13:06Alhamdulillah … Risa sdh ada ‘penghasilannya
Nicee
250 ribu utk bapak, 250 ribu utk BintangTi … 460 ribu utk Risa …
Risa, berapa utk infaq/sedekah …?
Ah, ah…itu kayaknya jadi rahasia Risa aja, Abruuuusss…

24 Juli 2012 @ 13:29Apa kabar?
Trima kasih sudah berkunjung lagi, selamat puasa ya, mohon maaf lahir dan batin…saya kehilangan nama blognya Abrus lo karena komputer saya sudah bolak-balik di install…jadi maafkanlah kalo saya nggak pernah kesana
Astaga, BintangTi … baru nyadar ya … bahwa kaummu itu pada dasarnya memang ‘matre kok ! Hahaha …
BintangTi, selamat menunaikan puasa Ramadhan … mohon ma’af lahir dan bathin … Salam taqzim utk bapak ya
Ohoho…dilarang ‘mencela, kaum wanita, Abrus…apalagi di bulan puasa…
24 Juli 2012 @ 13:33Mohon maaf lahir batin juga buat Abrus dan keluarga
yaahh… kemarin gak sempet ketemu risa ya. Waktu masih belum nikah rasanya saya ingin menggapai bulan Bu, tapi setelah punya anak, anak-anak bagaikan bulan untuk saya.
Kangen Bu, kapan ya bisa ketemu Ibu lagi?
Iya d R3tno, kemarin itu ngobrolnya sebentar banget ya, ada para suami pula…jadi kita nggak bisa cerita heboh kayak biasa…hehe, bener-bener saya merinding waktu d Retno nulis di komen ini, bahwa sekarang kita punya anak-anak yang menjadi pengganti bulan kita di masa lalu…
24 Juli 2012 @ 14:35Keren metaforanya!
Astaga, BintangTi baru nyadar bahwa kaumnya itu pada dasarnya ‘matrekk … hahaha
Salam Bu utk bapak… Met menunaikan ibadah puasa Ramadhan, mohon maaf lahir & bathin …
Sama-sama Abrus, selamat berpuasa juga, mohon maaf lahir dan batin…
24 Juli 2012 @ 18:19Kaum saya matre?
Hush, nanti banyak yang marah lo…
BintangTi …hikmah dari tulisan ini adalah Ibu sangat bersyukur dan bangga atas prestasi Risa …
Risa, putri semata wayang … membuat Ibu menjadi Perenpuan Sejati …merasakan sbg perempuan yg bisa hamil, melahirkan, menyusui, mengurus dan membesrkan putri semata wayang.
Kini Risa sudah menjadi ‘perempuan dewasa muda belia … nicee
Iya, Abrus…begitulah kira-kira perasaan saya sekarang…bantu doa ya, smoga seterusnya juga berjalan lancar dan menyenangkan…
25 Juli 2012 @ 00:15ndak bisa berkata-kata, semoga selalu bahagia mbak dan keluarga itu saja
Amin ya robbal alamiiin…
25 Juli 2012 @ 09:27Trima kasih buat doanya, Yuyuk!
Ass. Morning bu Irma. Lg ngapain ya bu ? Kayaknya banyak kegiatan ne. Oya bu saya mau tanya, klo d skolah Kartika itu baik TK,SD,SMP,SMA, Apa pengurusnya/ guru2nya harus ibu Persit ya ?? Soalnya di daerah saya begitu.
Siang Dewi, kalo untuk kepala sekolah, tenaga pengajar dan karyawan SD Kartika itu tidak harus ibu-ibu Persit, orang umum juga bisa. Tapi kalau untuk pengurusnya, biasanya adalah anggota Persit yang masih aktif atau suaminya sudah pensiun tapi masih memiliki kemampuan bekerja baik untuk yayasan…
25 Juli 2012 @ 10:24wah risa kerennn
makin membanggakan ya mbak
bacanya aja terharu apalagi klo jd mbak sendiri
hehe
maju terus cha, banggakan kedua ortu
Iya, om Depz…makasih ya, kapan kita makan-makan lagi di Sambara?
25 Juli 2012 @ 11:36Ups…
Wah bangganya, penuh syukur dengan anugerah ini ya Bu, memiliki putri yang selalu memberi kebahagian dan kebanggaan buat Ibu dan Bapak.
Sukses slalu kak Risa…bikin Ibu dan Bapak seneng yaaa…
Trima ksih tante, smoga kak Devi, kak Desta dan Irvan juga selalu membuat om dan tante bahagia…
25 Juli 2012 @ 12:57Percaya deh sekarang niar, tulisan itu magic yaa bu irma, waktu baca ini niar ikutan mbrebes mili lho..
Mbak risa anak baik bu irma, pasti membagi buat mama papanya
Bu irma, mohon maaf lahir batin, semuga puasanya lancar semua salam buat mbak risa
Trima kasih Niar, selamat puasa juga buat Niar, mohon maaf lahir dan batin…salam dari kami sekeluarga ya!
25 Juli 2012 @ 15:41selamat ya mbak..ananda sudah semakin mandiri dan insya Allah makin berbakti… ah, jadi ingat saat gajian pertama dulu..mungkin begitu pula perasaan ibu saat itu ya..
Iya Mechta, rasa kaum ibu itu pasti tidak jauh berbeda saat menerima uang gaji dari anaknya…
25 Juli 2012 @ 22:51Alhamdulillah jeng Irma dianugerahi anak yang baik dan berbakti kepada orangtuanya. Semoga nak Risa selalu diberi kesehatan, sukses dalam hidupnya dan sholehah.
Pada saat gajian pertama tahun 1975 saya juga membelikan bapak dan emak sesuatu. Tak mahal tapi beliau sangat suka.
Saya baru membaca istilah \purnawaktu\ lho. Apa ya artinya ? Kalau paruh waktu kan terjemahan dari part time, kalau purnawaktu itu apa sih..apa dekat dengan purnawirawan kayak aku gini ya…ngeblog purnawaktu..dari pagi sampai malam.
Kapan2 minta ditraktir Nak Risa ach….mbakso atau rujak cingur he he he he.
Salam hangat dari Surabaya
Hehehehe…saya juga nggak tau artinya purnawaktu pakde, biar keren aja gitu, soalnya saya juga baca istilah ini lupa entah dari mana…pangapunten nggih…
26 Juli 2012 @ 05:17Tentang rujak cingur dan bakso, ehm…kayaknya harus nunggu waktu berbuka dulu ya…
Salam hangat kembali, Pakde.
Subhanallah …. bahagianya mbak … mudah2an saya bisa menjadi orangtua seperti mbak Irma sampai anak2 dewasa ..
Amiiin…saya juga masih terus belajar, Mugniar…
26 Juli 2012 @ 06:53Risa, bagian buatku mana ? Hehehe
Tantenya kesini dulu dong…
27 Juli 2012 @ 14:14gak mau banyak komen, gak bisa ngomong apa-apa mbak, *nangis..
salam sayang untuk Risa, teruslah menjadi bintang untuk kedua orang tuamu.. dan berguna bagi sesama…
sssttt *rahasia ya, cewek cantik itu dari senyumnya yang tulus lho Ris..
keep smile..
Ah, ah…iya tante Iyha, trima kasih ya Risa sudah diingatkan buat selalu tersenyum dengan tulus…
28 Juli 2012 @ 09:48His..hiks..terharuu
Air mata ini menggenang di pelupuk mataku mbaaa..
udah ahh, ga mau sediih..
Risa, buat aku mana ?? #Plaak.
Weits, tanteeee…sekarang mah udah habis atuh…
30 Juli 2012 @ 15:02gak kerasa jg aku netesin air mata baca post ini bu..
Ah, Mel…thanks apresiasinya ya!
7 Agustus 2012 @ 15:35Alhamdulillah … jadi terharu bacanya
Iya Bundakata, saya juga sampe keluar air mata pas nerimanya…
19 Agustus 2012 @ 01:31