Keluarga besar saya bukan penganut kebiasaan ini.
Kebiasaan yang kami lakukan kalau mau pergi atau masuk rumah adalah cium pipi kiri dan kanan plus sebuah kecupan di kening. Agak kebarat-baratan?
Entahlah.
Yang pasti kami merasa lebih dekat dengan kebiasaan sederhana yang sudah berpuluh tahun ini kami lakukan. Dari sana saya belajar tentang kepedulian, kasih sayang dan nilai-nilai kekeluargaan yang ditanamkan lewat sebuah kecupan.
Setelah menikah, kebiasaan ini saya berikan juga pada ibu mertua dan suami tercinta. Berhubung suami memiliki darah Jawa yang lumayan kental, maka acara cium pipi kiri, kanan dan kening itu saya lengkapi juga dengan acara cium tangan bila akan bepergian atau baru datang ke rumah. Khusus buat ibu mertua dan suami lo ya…
Tidak masalah.
Menurut saya cium tangan yang dilakukan dengan tulus pada orang yang kita hormati sekaligus sayangi akan menjadi pengikat batin yang kuat pada saat kita tidak berdekatan. Tapi tetap saja, cium pipi dan kening itu saya teruskan karena sudah menjadi kebiasaan.
Setiap berkunjung ke rumah ibu mertua, cium tangan itu selalu saya lakukan dengan takzim dan penuh sayang. Saat itu pula saya berterima kasih dalam hati, betapa beliau sudah demikian baik mendidik suami sehingga berimbas positif pada kehidupan perkawinan kami.
Ada lagi satu cerita tentang kebiasaan ini.
Sebagai keluarga muslim, sholat berjamaah adalah kebiasaan yang kami lakukan bila suami sedang berada di rumah. Selesai mengucapkan salam, biasanya suami akan menyodorkan tangan kanannya untuk saya cium. Setelah itu gantian dia yang mencium pipi dan kening saya, plus kecupan di bibir juga sih kadang-kadang…
Baru setelah kami punya anak, kebiasaan cium tangan ini mulai saya ajarkan juga pada Risa. Lucu rasanya saat saya melihat dia menunduk dalam-dalam dan menaruh tangan kita di kepalanya yang berambut tipis.
Alasan idealnya, tentu saja saya ingin mengajarkan pada Risa agar memahami bahwa kedekatan keluarga itu selalu berawal dari kebiasaan-kebiasaan sederhana yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Berpamitan lewat cium tangan itu misalnya, karena acara cium mencium ini selalu kami lakukan bila akan pergi dan saat datang di rumah.
Beberapa tahun terakhir, cium tangan yang dilakukan oleh banyak orang pada sembarang orang, seringkali membuat saya risih dan salah tingkah.
Sekalipun baru sekali bertemu, tapi karena orang itu sangat kita hormati, kita buru-buru menarik tangannya untuk kita cium. Padahal itu di sebuah acara resmi. Duh, duh, saya suka salah tingkah kalau diperlakukan seperti itu.
Kalau boleh memilih, saya lebih suka kalau berjabat tangan saja seperti biasa, mata kita saling bertatapan, dan berikan senyuman hangat pada orang yang kita ajak bersalaman.
Terus terang, saya merasa kurang nyaman kalau tangan saya dicium oleh orang-orang yang usianya tidak terlalu jauh dari saya, teman sebaya atau bahkan ibu-ibu yang usianya lebih tua hanya karena kedudukan saya sebagai ketua.
Sebaliknya, mungkin saya juga sering dianggap aneh oleh lingkungan di sekitar saya.
Saat semua orang berebutan untuk mencium tangan pejabat yang amat sangat dihormati, saya hanya sekedar tersenyum penuh hormat, menangkupkan kedua tangan saya di dada, menyalaminya dengan hangat lalu kembali membawa kedua tangan saya ke depan dada. Tak lupa saya juga akan menatap matanya dengan hangat dan penuh hormat saat tangan kami berjabatan.
Jual mahalkah saya?
Menurut saya tidak. Karena saat bertatapan mata itulah saya mencoba menularkan rasa hormat saya pada orang lain lewat sebuah tatapan. Bukan ciuman. Cium tangan menurut saya adalah kebiasaan yang harus dilakukan pada orang-orang terdekat dan amat sangat kita hormati seperti orang tua, mertua atau suami.
Cium tangan yang diberikan pada banyak orang jadi seperti kehilangan makna karena tidak takzimnya cium tangan yang kita lakukan. Sekedar menaruh punggung tangan orang lain di kening, kepala, pipi atau bibir, sudah. Padahal dalam budaya itu, ada unsur hormat yang harus ditanamkan.
Percuma juga rasanya, kalau kita sudah repot-repot mencium tangan orang yang tadinya ingin kita hormati tapi diam-diam malah menggunjingkannya di belakang.
Budaya ini juga seringkali dilakukan tanpa pandang situasi.
Mau acara resmi, setengah resmi, santai ataupun setengah santai, cium tangan ini seakan-akan jadi keharusan untuk menunjukkan rasa hormat kita pada atasan atau orang lain yang harus kita hormati. Bahkan ada anak buah suami yang masih menggunakan seragam dinas, tiba-tiba saja melakukan ritual ini sesaat setelah dia selesai mengangkat tangan kanannya untuk memberi hormat. Alamak!
Buat saya itu berlebihan.
Cium tangan memang hak setiap orang. Kita bebas mau mencium tangan siapa saja yang ingin kita hormati.
Namun lebih bijak kiranya, kalau hal itu kita lakukan dengan tidak berlebihan apalagi sampai terkesan mendewa-dewakan. Kita memang harus saling menghormati, saling menghargai. Tapi bukankah ada banyak cara untuk menunjukkan rasa hormat dan penghargaan itu tadi?

Di keluarga kami tidak biasa cium tangan, makanya ketika suami saya cium tangan bapa, kliatan risih. Sampai bapa menolak dicium tangannya dan sy sudah duga itu akan terjadi
Sebaliknya, saya rada kagok mengikuti kebiasaan suami yg slalu cium tangan ke mertua, dan ibu mertua akan mencium pipi kiri dan kanan, terakhir cium kening. Ciumnya beneran lho, bkn cm menempelkan pipi ke pipi. tp klo ke bpk mertua sih tdk cium2lah hehehe
Emang risih ya mba liat org2 yg sampai cium tangan di tempat umum, mana kekerabatannya pun ga ada ato ga dkt2 amat hehehe
Hehehe, iya niQue, apalagi kalo gayanya sampa kayak mendewa-dewakan gitu…duuuuh
13 Juli 2012 @ 14:05saya membiasakan Fauzan untuk cium tangan dengan mereka yang lebih tua kalau bertemu, terutama Mbah & neneknya.
Juga kalau dia pamit atau pulang kerumah, pasti dia langsung cium tangan mbah-nya.
Ada satu kejadian yang bikin saya gondok sampai saat ini. Seorang tetangga yg seumuran kakak saya, saat salam waktu lebaran, tangannya disorongkan supaya di cium saya. Huahhhh, tidakkk… toh selama ini juga hubungan kami tidak dekat. Apa karena sekarang dia sudah jadi orang berada ?
Sama kakak sendiri aja saya gak pernah cium tangan kok, hehehe …
Saya cium tangan hanya sama orang tua & mertua juga suami ..
Sama Dey, orang-orang yang Dey tulis di komen ini juga jadi orang-orang tercinta yang wajib saya cium tangannya.
13 Juli 2012 @ 14:24Anak ke orang tua, saya juga setuju.
Tapi kalo sekedar tetangga dan sudah jadi orang berpunya?
Oho, tentu saja tdak…
nambahin, selain ortu/mertua/suami, paling2 sama mereka2 yg seumuran orang tua aja saya cium tangan.
Salah gak sih ?
Nggak ada yang salah dengan cium tangan Dey, semua kembali pada niat di hati kita masing-masing. Yang salah itu justru kalo kita nggak menghormati orang lain, hehe…
13 Juli 2012 @ 14:27Ok, ok?
Ok atuh
Hihihi iya sih kalau cium tangan atau cipika cipiki abis salaman itu kayaknya dekeeet gitu.
Tapi keluargaku ndak biasa gitu… cium tangan sama simbah pun enggak. Tapi simbah suka nyiumin cucunya hihihi. Pas SMP di Jogja juga gak dibiasain cium tangan sama guru. Eh pindah ke Jakarta pas SMA, agak kagok juga suruh cium tangan guru -___-”
Hehe, iya Una, segala sesuatu yang nggak biasa kita lakukan, tapi terpaksa harus kita kerjakan, biasanya memang suka bikin canggung…
13 Juli 2012 @ 14:35siip lah,,,saya juga gituh kebiasaan di rumah,,tapi kalo buat orang yang baru dikenal gak segitu nya ,,hehe
Iya, semua tergantung pada kedekatan hati kita juga, kan?
13 Juli 2012 @ 14:58Setuju.
Saya hanya mencium tangan orang2 yang saya hormati dan banyak berjasa -hingga tidak bisa saya balas- kepada saya dan keluarga saya.
Singkat kata, saya hanya mencium tangan Ibu mertua saya, Bapak, dan Ibu saya.
Orang lain yang saya hormati, saya akan menjabat tangan dengan kedua tangan saya dengan hangat dan menunduk dengan taklim.
Rupanya kita sama, Andi…tapi karena saya seorang isteri, jadi saya mencium tangan suami saya juga
13 Juli 2012 @ 15:49aku mah nggak baisa mbak nyium tangan org lain
tanagn suami atau mama juga nggak, tapi kalau cium pipi mah setiap hari
Hehe, ini mah seperti kebiasaan saya sebelum menikah, mbak
13 Juli 2012 @ 16:04menurutku kalo mencium tangan orang yang jauh lebih tua dari kita itu adalah sangat wajar, menunjukkan bahwa menghormati mereka sebagai orang tua kita, namun kalo sama atasan kita, itu sepertinya hanya sebagai ajang “cari muka”. Kecuali memang atasan kita tersebut jauh lebih tua dari kita, itu masih wajar. kita anggap dia adalah orang tua kita. itu menurutku ya…
Semua memang kembali pada niat dan kebiasaan masing-masin orang, Yadi…
13 Juli 2012 @ 16:39Pantas dan tidak itu akhirnya jadi relatif
Di keluargaku jg ada kebiasaan cium tangan, cium tangan tp gak ke bibir sih, biasanya dikening. Terutama untuk org tua, om, tante,bude, pakde, dan org2 yg di anggap tua.
klo sebaya sih, lazimnya cipika cipiki aja kali ya bu..hehe
Iya Mel, lebih asyik gitu kayaknya…hehe
13 Juli 2012 @ 16:44jadi terinspirasi untuk segera diterapkan dalam keluarga suami istri,he he…
cium tangan yang tidak seharusnya dilakukan, memang seringkali kita temui. apapun alasannya kalau bukan untuk kedekatan kasih sayang, itu tentu bikin resah penglihatan mata.
Iya Achsuryadi, resah sekaligus risih kayaknya…
13 Juli 2012 @ 17:35Soal cium tangan saya sering salah tingkah sama cewek2 SMP dan SMA. Setiap saya ketemu pengennya mereka pada berjabat tangan terus dilanjutkan cium tangan atau tangan saya ditempelkan ke pipinya.
Rada risih juga, sih.
Sekarang saya berani ‘melarang’ ibu-ibu untuk mencium tangan saya mas Alam.
13 Juli 2012 @ 18:51Selain disampaikan pada saat pengarahan bahwa tangan saya tidak perlu dicium kalo salaman, saya juga suka menarik tangan saya ke bawah kalau saya bersalaman dengan mereka.
Kadang-kadang suka kecolongan juga sih, saya lupa narik, dan mereka keburu ngebawa tangan saya ke keningnya
Kalau saya terbiasa mbak Irma mencium tangan orang yang saya anggap sebagai orang tua saya. Misal nih sama bapak Masbro dan ortu teman-teman saya yang lain. asal umure emang sepadan atau lebih dari ortu. Dengan guru sekolah/ngaji atau saudara-saudara macam paman/bibi atau kakak yang umure jauh lebih tua biasane saya juga lakukan cium tangan.
semua saya lakukan dengan wajar. Bukan sebagai bentuk kultus individu, tapi sebagai penghormatan. Dan bukan hanya sebatas basa-basi. bukankah mencintai yang lebih tua adalah kebaikan?
piye kira-kira kalau nanti kita ketemu sampean saya cium tangan sampean boleh gak yo? sampean kan wis tak anggap Tante saya hehehe
Weleh..weleh…tante kan bukan orang tua, Lozz…jadi please, jangan cium tangan saya ya!
13 Juli 2012 @ 19:40tradisi ini sudah aku lakukan sejak kecil..maklum orang jawa yang wajib cium tangan untuk orang orang tua kita.. cium tangannya juga harus betul..telapak tangan atas nempel di hidung..gak boleh ditempel dipipi atau kening.. hehehe ada filsafatnya
Ahaaa…kalo memang sudah kebiasaan dan ada filosofinya, cium tangan seperti itu tentu tidak boleh bikin saya risih kan, Aziza?
13 Juli 2012 @ 20:18Kalu mencium tangan orang tua sangat dianjurkan karena jasa orang tua tiada terkira. Salam kenal gan. Fakta sebenarnya ttg kematian 7 Jenderal Revolusi ditutup rapat-rapat oleh penguasa orde baru. Untuk mengetahui fakta sebenarnya silahkan klik SEJARAH YANG TERSEMBUNYI Semoga bermanfaat
Trima kasih kunjungan dan komennya, Mandala
13 Juli 2012 @ 20:24cium tangan budaya yang bagus Gan, maaf numpang menyimak, thanks
Trima kasih kembali
13 Juli 2012 @ 20:24saya waktu sekolah dulu semua orang tua teman pasti saya ciumtangannya kalau ketemu. selama ngeblog baru pakde dan bude yang saya ciumtangannya karena saya anggap orang tua sendiri
Oya?
13 Juli 2012 @ 20:37Kebiasaan tiap orang memang tidak sama ya, Lidya…
mba Irmaaaaa…
di keluarga aku sendiri sebenernya gak biasa cium tangan…
Tapi semenjak nikah sama abah…
Abah ngajarin aku buat cium tangan…
eh malah jadi keterusan deh, aku jadi suka cium tangan ama mama dan papa aku…padahal mereka gak pernah ngajarin gituh…hihihi…
dan sekarang adek adek aku malahan jadi suka pada cium tangan papa ama mama, gara gara ngelihat teteh nya…bagoooos….
Hihihihi…sekarang juga saya suka cium tangan Bato kalo mau pergi jauh, Erry…filosofinya, mohon doa restu…
13 Juli 2012 @ 20:52Sekarang mah Kayla ama Fathir dibiasa in buat cium tangan lah…
Dan kadang kalo ada tamu gituh juga temen aku atau abah, suka pada reflek cium tangan…
ehm…tapi kadang Fathir masih suka ogah ogahan siiiih..
*lirik Fathir setajam mungkin!*
Waduuuuh, judesnya mulai keluar nih, takuuuuttttt…
13 Juli 2012 @ 20:56Tapi, pas baru nikah gituh, sebenernya aku masih rada kagok gituh mba kalo cium tangan ama abah *istri pembangkang*
Apalagi pas baru nikah aku kan masih kerja tuh mba…
Trus dianterin ke kantor pake motor kan yah…
Jadi pamit masuk kerja di depan kantor sambil cium tangan…
haduh…kadang suka maluuuu…dan suka diledekin temen kantor…hihihi…
Tapi pas kesinih sinih mah udah biasa aja…
Bener kata mba Irma, tanda hormat dan sayang kok
Iya, kalo sama orang-orang terdekat, saya juga sekarang udah nggak risih lagi, Ry…tapi kalo yang cuman kenal selintasan, biarpun mereka lebih tua *dan lebih terhormat*, saya lebih seneng berjabatan tangan ajah…
13 Juli 2012 @ 20:59*pembangkang jugakah saya?*
Cium tangan buatku adalah tanda hormat & sayang, terutama pada bapak ibu, kakak2 ataupun Oom tante pakde bude, hehe… Untuk diluar keluarga biasanya pada orang yg sangat kuhormati..dan niatnya bukan mengkultuskan…
Betul Mechta, semua memang kembali pada niatnya…
13 Juli 2012 @ 21:57bu irma,saya cium tangan khusus u ortu sdri,mertua,suami,plus orang2 tua yg masih keluarga sendiri. diluar itu paling cuma jabat tangan,cipika cipiki pun dilakukan karena orang lain duluan mulai bukan inisiatif sy sdri.tp klo di sekolah bu murid saya tuh heboh banget klo saya lewat didepan mereka,rebutan narikin tangan saya dicium sampe 3 kali( serasa dewa tp maluuuuuuuu).
setuju bu ada memang type orang munafik kayak gitu,habis hormat dibelakang malah jelek2kin gitu.
bu irma nama di fb apa sih? boleh ga jd temennya? ^_^
Hehehe…Heppy ternyata guru ya?
13 Juli 2012 @ 22:13Iya, saya juga kalo ke SD Kartika, suka diciumin heboh sama murid-murid kalo lagi salaman…kayaknya itu memang budaya yang diajarkan di sekolah deh…
Akun fb saya?
Irma Asrobudi, Heppy.
saya juga bukan penganut aliran cium tangan… tapi menurut saya setiap kali saya melihat adegan itu, rasanya saya senang melihatnya. menurut saya sikap menghormati dari cium tangan begitu indah terlihatnya…
Oya?
13 Juli 2012 @ 23:43Kesannya jadi lebih santun gitu, Applausr?
FYI, ternyata bukan hanya adatnya orang2 indonesia aja lho yg suka cium tangan, selain malaysia (ga heran ya karena faktor sejarah) tapi juga cium tangan adalah kebiasaan di filipina. tujuannya sama yaitu blessing ortu untuk anaknya. padahal filipina dikenal sbgai american style dalam kehidupan social nya. jadi mungkin ini sudah adat manusia2 di south east asia..
Mungkin begitu, mas Sas…saya malah baru tau kalo di Philipina ada juga kebiasaan cium tangan ini…
14 Juli 2012 @ 02:54Makasih masukannya ya!
aku diajarin dari kecil untuk selalu cium tangan dengan yg lebih tua. tp yah bukan untuk mendewakan…tp hanya penghormatan dan pengeratan silaturahmi dengan keluarga yg lebih tua.
tp memang budaya itu hanya ada di negara kita ya. di middle east ga ada tuh yg cium2 tangan. mereka palingan cipika cipiki kalau ketemuan
Begitu kah, mbak?
14 Juli 2012 @ 05:21Saya kira di negara-negara itu cium tangan malah jadi keharusan, eh, ternyata malah nggak…
Mba Irma..di keluargaku ga pernah ada kebiasaan cium tangan..
Ga tau cuek aja, orang tua mengajarkan begitu..
Paling lebaran aja hehe..
Memang aneh di keluargaku Mba Ir…
Nggak ah, Nchie…keluarga besar dari pihak saya juga sampe sekarang cuman cium pipi dan kening aja…dan bener, kita nggak merasa aneh dengan kebiasaan ini…hehe, tiap keluarga kan beda, yang paling penting adalah bagaimana kebersamaan dan kepedulian itu selalu selalu dibangun antar sesama anggota keluarga
14 Juli 2012 @ 08:57Di keluarga saya tidak pernah diajari untuk cium tangan, tetapi ketika saya sudah besar dan sudah mengerti cara menghormati orang akhirnya saya pelan-pelan memberlakukan acara cium tangan. tetapi cium tangan saya tidak ke semua orang, tetapi kepada orang tua atau orang lain yang saya anggap sudah dekat dan baik seperti halnya orang tua saya. Tetapi untuk mencium tangan pejabat aduuh.. jangan sampai deh meskipun saya dikasih duit.. terkecuali Kyai yang sudah sepuh dan kyai yang benar-benar kyai..
Tidak gebyah uyah ya, Yun…semua sesuai porsi dan penghormatan yang memang sudah dipertimbangkan oleh Yuni…
14 Juli 2012 @ 10:20Kami skluarga juga membiasakan dan sudah jadi tradisi. Kebiasaan ini sy bawa dari kampung tp biasanya kita melakukannya terhadap org2 terdekat yg usianya lbh tua dari kita.
Begitu ya, Daniel?
14 Juli 2012 @ 11:28Kebiasaan yang sudah mengakar dalam keluarga, sebaiknya memang tetap dipelihara agar kedekatan dapat terus dipertahankan
cium tangan tdk ada salahnya,antara orang yang lbh tua dari kita seperti; para kyai,ortu,mertua kita dll…dikalangan santri cium tangan ke kyai itu dinamakan istilah bahasa jawanya ngalap berkah…tapi klau yg bkn muhkrim cukup tos” pake tangan aja…
Ini satu lagi kebiasaan yang memiliki tujuan, Iyan…saya malah baru tau…
14 Juli 2012 @ 11:43Saya cium tangan hanya kepada emak.
Anak cucu-menantu, keponakan cium tangan saya.
Bahkan blogger2 itu kalau kopdar kok ya pakai cium tangan saya yaaa..tua banget rasanya ha ha ha ha
Salam hangat dari Galaxi.
Hehehehe…Pakde kan memang sudah senior *bukan tua lo*, jadi mereka juga dengan senang hati mencium tangan Pakde kalo lagi kopdar…ehm, ehm, kayaknya saya aja ya yang agak-agak bandel…salam hangat juga, Pakde…
14 Juli 2012 @ 12:12buat aku, budaya dium tangan itu hanya berlaku untuk anak kepada orang tua (oranng tua kandung ataupun mertua). kalo ama pejabat, kayaknya enggak deh…. hehe….
Iya, prinsip saya juga begitu…
14 Juli 2012 @ 14:10Setuju mbak, cium tangan pun lihat situasi juga. Dulu waktu membina adik2 sekitar desa lingkar kampus kalau bertemu pasti sy disalim sambil dicium tangannya.
Tapi ketika mereka sudah banyak yg beranjak dewasa, sy jadi agak kagok kalau salaman terus dilanjutkan dicium tangannya. Biasanya sy bilang “Salaman saja cukup, gak perlu cium tangan”. Lalu sy jelaskan bukannya tidak mau tapi sudah tidak tepat lagi rasanya… kecuali kalau dengan ponakan karena masih kecil dan beda umurnya jauh sy masih bersedia….
*sudah lama gak main ke sini…lumayan agak sibuk mbak Irma
Hai Erfaaaan…apa kabaaaar?
14 Juli 2012 @ 14:34Trima kasih sudah berkunjung lagi, trima kasih juga buat komen yang melengkapi tulisan saya ini.
Cium tangan yang dilakukan memang kembali ke nilai rasa yang kita punya, Erfano.
Dan salah satunya memang tergantung pada selisih usia
@pakde galaxy : yo wes ntar klo ketemu, ga usah cium tangan, tapi cipika cipiki ya xixixi
Hihihihi…wis, wis, diselesaikan secara adat aja deh, niQue…
14 Juli 2012 @ 21:35Sebagai orang jawa, budaya cium tangan sangat melekat di keluarga saya Mba Irma. Tapi saya setuju banget sama pendapat Mba Irma kalo cium tangan hendaknya hanya untuk keluarga dekat dan orang0orang yang kita hormati.
Sekarang berkembang budaya baru di lingkungan teman-teman saya yang keluarga muda untuk tidak mengajarkan cium tangan ke orang lain selain keluarga dekat untuk mencegah timbulnya penularan penyakit melalui budaya cium tangan. Salah satu teman saya hanya mengajarkan anaknya untuk bersalaman tanpa cium tangan.
Kalo cium pipi dengan penuh rasa sayang mah harus atuh ya Mba Ir?
Hehe, cium pipi mah harus, Dani…apalagi kalo udah kebiasaan
16 Juli 2012 @ 08:28Tentang cium tangan, sejak Risa beranjak dewasa, dia juga sudah tidak pernah lagi bersalaman dengan cara cium tangan pada orang lain. Entah kenapa, saya juga tidak tahu, mungkin karena melihat kebiasaan saya yang hanya berjabatan tangan itu kali ya…
Wah, saya sependapat dengan mbak irma..
Kalau cium tangan untuk keluarga, aku rasa itu adalah sebuah keharusan mbak, karena selain untuk menghormati, juga untuk lebih mendekatkan diri dengan keluarga.
Aku juga gak setuju dengan budaya cium tangan untuk para pejabat atau atasan. Aku rasa cium tangan itu adalah sesuatu yang terlalu istimewa jika diberikan untuk pejabat atau atasan, he he he. Kesannya kok gak enak gitu, he he he
Iya Surya, saya juga suka malu hati kalo melihat orang lain melakukan hal itu, mangkanya saya nggak pernah cium tangan pada pejabat atau atasan, siapapun itu…hehehe
16 Juli 2012 @ 09:20setujuuu mba ir..
saya juga kalo cium tangan hanya dalam lingkup kluarga saja. orang tua..mertua dan suami..
risih rasanya kalo ada orang lain mencium tangan kita.. saya pikir hanya saya saja yang merasakan demikian. di kantor juga saya menemukan beberapa pegawai outsourcing yang mencium tangan saya..saya jadi merasa tak enak, padahal usia dia tak jauh berbeda atau mungkin lebih tua dari saya. dan saya merasa lebih nyaman dengan berjabat dan senyuman hangat.
Ahaaaaa..kayaknya kalo kita nanti ketemuan, jabatan tangan dan tatapan mata kita bakal hangat banget, Chusnul…toss dulu dong!
16 Juli 2012 @ 09:30Klo di keluarga saya tidak ada tradisi khusus untuk salaman plus cium tangan Bunda, paling pada momment2 khusus saja, seperti ketika lebaran atau akan pamitan atau baru tiba setelah bepergian jauh… Klo sama orang lain paling hanya salaman tanpa cium tangan saja…
Iya c, risih saja klo cium tangan orang yang tidak kita kenal… aneh kayanya… hehehehe
Hehehehe, lagi-lagi kita sependapat, Awan…cukup berjabatan tangan saja dan tanpa cium tangan, kalo bersalaman dengan orang-orang diluar keluarga dekat
16 Juli 2012 @ 13:15aku malah masih kecil gak diajarin cium tangan mbak tapi dicium pipinya sama bapak kalo ibuku sih nggak karena memang beliau orangnya cuek
tapi sekarang aku ngajarin rico cium tangan mama dan mama akan cium pipinya rico gitu deh
tapi aku setuju memang dengan opini mba irma kalo cium tangan yang dilakukan sembarangan dalam arti ke semua orang yang bahkan baru kenal itu bukan budaya kita
kalo ke orang tua ayah, ibu, om, tante, mertua itu wajar saja tapi kalau yang lain rasanya cukup bersalaman dan bila usianya seumuran orang tua kita cukup bersalaman dengan kedua belah tangan sambil menundukkan badan sedikit rasanya sudah cukup hormat koq hehe
Sependapat, Julie…saya sependapat dengan pendapat Julie ini, hanya yang sama om, tante dll itu, saya juga tidak pernah cium tangan mereka sampai sekarang karena memang bukan kebiasaan. Kalo ujug-ujug saya lakukan, jangan-jangan mereka malah bingung, ini Irma apa bukan siiiih…?
16 Juli 2012 @ 15:56Sangat setuju dengan bunda Ir..
klo sy biasa’y cium tangan sm Orang tua sy, nenek, kerabat dekat yg lebih tua, dan orang2 yg sy kenal & sy hormati yg sekaligus usianya jauh lebih tua dr sy bunda.. hehehe
jd ingat di pesantren dulu, klo salim (jawa bgt ya bund.. hehe) sama pengasuh pondok/ustazd/ustadzah dicium tangan’y 3x.. konon katanya biar ilmu’y bermanfaat..
salam hangat bunda..
Ada filosofinya juga, Livyah…bahwa cium tangan yang dilakukan 3 X akan membuat ilmu itu bermanfaat…
16 Juli 2012 @ 16:44Salam hangat kembali, Livyah…trima kasih komennya ya!
Bu Ir, kok kebiasaan biz sholat berjamaah itu sama siiiiih hihihi…
Aku biasa cium tangan kalo ke ortu (dan kadang2 suami) aja sih Bu. aku jg sependapat sm Ibu, tidak mencium tangan dan lebih suka dg tatapan hormat saja, dan memang risih ya Bu dicium tangan sm orang lain ituh, keknya gimanaa gituh
Iya Orin, saya juga suka merasa tidak pantas kalo tangan saya dicium-cium oleh banyak orang begitu…masih belum terlalu bijaksana soalnya…hehehehe
16 Juli 2012 @ 17:32Kalau di kampung halaman saya gak ada budaya cium tangan, hanya jabat tangan. Bahkan ke orang tua sendiripun waktu diwaktu lebaran idul fitri,-saat dimana keluarga besar berkumpul- cukup dengan jabat tangan. Mungkin karena warisan egaliter yang sudah lama.
Betul Alris, kebiasaan yang sudah lama kita lakukan, memang sulit buat dihilangkan…tapi buat saya, jabat tangan itu justru lebih menyenangkan karena kita bisa melihat tatapan mata dan kehangatan orang lain saat kita berjabatan
17 Juli 2012 @ 08:38mba Irmaaaaa…
kabar gembiraaa…kabar gembiraaa…
Si Mamah Aldi sekarang pindah dan jadi jualan masakan di blok rumah aku…horeeeeh…jadi sekarang udah gak perlu pake motor lagih beli masakannya dan tinggal jalan kaki doang…hihihi…
dan…dan…bulan puasa dia buka lhooo…*aku gembiraaaa*…hihihi…
*sekian inpo tidak penting inih mba…hihihi…*
Huuuuaaaaaaa…ternyata Korea menularkan banyak bahagiaaaaaa…rejeki memang nggak kemana Ry, saya ikutan seneng karena sekarang beli masakan di mamah Aldi nggak perlu pake bensin, tapi cukup pake uang…
17 Juli 2012 @ 11:24Daaaan..link video yang ada di postingan aku kayaknya lebih jelas deh mbaaa…waktu ituh yang punya teh Dey emang suaranya rada belebeb yah, makanya aku aplod lagih pidio yang punya akyu ;p
Oyaaaa?

17 Juli 2012 @ 11:26Selain lebih jelas, kelihatan lebih keren juga nggak, Ry?
*hihihi, pertanyaan nggak masuk akal nih, abaikan*
kalo dicium tangan oleh ibu muda saya paling anti, karena takut terjadi yang nggak-nggak sama otak ngeres saya hehehehhee
Hohoho…lebih aman kalo tangan kita dicium sama anak-anak yaaaa…
17 Juli 2012 @ 18:47Eh… ternyata gitu ya pemikiran ibu. Hmm, saya kok termasuk yang suka cium tangan sana sini ya, hehe..
Sekarang tangan saya juga sering dicium oleh bekas mahasiswa di tempat saya mengajar dulu, saat saya bertemu dengan mereka dimanapun
Mbaaaak, pertimbangan dan pemikiran tiap orang kan berbeda, semua kembali lagi pada sreg-nya hati untuk melakukan atau tidak melakukan hal tersebut…hehe, apa kabar, mbak Akin?
17 Juli 2012 @ 19:05bu irma sy hbs ngirim permintaan pertemanan lo, hayo tebak yang mana.soalnya fb saya pake nama lengkap. klo koment di blog ibu pake nama panggilan.tebak ya kan kayaknya bu irma banyak yang mo jd temen ibu di fb.makasih y bu mo ngasih tau nama fbnya.
Aduh, Heppy…yang mana ya?
17 Juli 2012 @ 20:25Sebentar…sebentar…saya intip fb saya dulu ah!
Baik aku dan suami dalam keluarga punya kebiasaan cium tangan pada yang lebih tua Mbak, tak hanya pada Ibu Bapak, tapi juga pada Kakak atau Ayuk/Mbak yang umurnya lebih tua. Dan kebiasaan inipun menurun pada anak2, juga pada guru2 di Sekolah. Dan umumnya di Palembang seperti itu, pada keluarga atau pada para Kyai sebagai bentuk penghormatan, malah kalau nggak cium tangan suka dianggap tak sopan. Tapi tidak lumrah pada acara2 resmi, misalnya pada atasan.
Yang lucu, suamiku pernah cerita, ada sahabatnya cium tangan pada seorang Kyai, tapi yang dicium tangannya sendiri. Sang Kyai langsung menegur, kira2 begini: yang dicium kok tangan sendiri? *agak sengak, hehee…
Hehehe, agak sinis gitu ya, Yunda..yang dicium kok tangan sendiri…
17 Juli 2012 @ 20:56Kebiasaan apapun tentu saja harus kita hormati, apalagi kalau sudah dilakukan turun temurun sehingga jadi kebiasaan. Yang saya maksud di posting ini adalah cium tangan latah atau yang ada maksud terselubung…tanpa bermaksud su’udzon pada siapapun, banyak cium tangan dilakukan sekedar ikut-ikutan dan terkesan asal-asalan atau bahkan seperti mendewa-dewakan karena dilakukan pada atasan…
Trima kasih banyak buat masukannya Yunda, seneng banget bisa bertukar cerita lewat komen ini
kalau kebiasaan saya bukan cium tangan sih, mbak, tapi nempelin kening di tangan orang. dan itu jg cuma saya lakukan kepada orang tua, mertua, dan suami
jadi inget, saya pernah ngisi materi di TK, terus pas acara beres, anak2 disuruh baris dan wajib cium tangan. mungkin kebiasaan orang mencium tangan “secara tidak tulus” itu berawal dari sini, hehehe
Iya Rime, hehe, bisa juga seperti itu ya…karena keharusan, karena kewajiban dan karena orang lain melakukan hal yang sama
18 Juli 2012 @ 00:18kalo aku paling mau pergi keluar cium kening bj dulu dan dia balas dengan cium tangan sya…gag balance yach mb Bintang…
Saya juga begitu kok, saya cium tangan suami dan suami cium pipi plus kening saya…
21 Juli 2012 @ 01:32kebiasaan setelah sholat, sama bund…
cium tangan, cium pipi juga bibir
hehehe
Sssst, toss dulu dong mbak, rupanya kita punya kebiasaan yang sama…
24 Juli 2012 @ 12:55Hehehe
bhihihi sama mbak, mamahku juga ngajarin untuk cium tangan hanya untuk orang2 tertentu saja, bukan kenapa2 sih cuma ga enak juga kl tiap salaman dicium tangannya jadi aneh deh apalagi yang umurnya ga beda jauh
Iya Yuk, kesannya memang jadi agak-agak gimana gitu ya kalo cium tangan ke sembarang orang…
25 Juli 2012 @ 09:20kalo saya sih cium pipi ke kedua org tua itu budaya sejak kecil. ketika mau pergi sekolah ataupun pulang. dan itu berlanjut sampai saya kerja.
saya jga ngga suka liat org yg dgn gampangnya mencium tangan org lain “hanya” karena jabatan atau posisi org lain yg lebih tinggi. buat saya cium tangan itu hanya untuk org yg lebih tua dan sudah dekat
Sama Depz, cium pipi kiri kanan itu juga kebiasaan saya sejak kecil…ditambah cium kening juga malah…hehe, dan cium tangan itu khusus saya lakukan buat orang tua *sekarang Bato*, mertua *sekarang sudah meninggal dunia dua-duanya* serta suami…eh, mas Budi…
25 Juli 2012 @ 11:31Betul mba cium tangan adalah punya makna sakral dan folosofi untuk menghargai orang di lingkungan keluarga kalau menurut saya
Jadi, memang sebaiknya tidak dilakukan pada sembarang orang kan, mbak?
6 Agustus 2012 @ 15:37