‘Jika anda hanya berusaha menilai seseorang, maka anda tidak akan pernah dapat menyayangi mereka’
Kutipan diatas saya temukan entah dimana, saya lupa. Namun yang pasti itu adalah ucapan yang disampaikan oleh Bunda Teresa.
Saking kagumnya dengan kedalaman kalimat itu, saya sampai menuliskannya di secarik kertas dan menyimpannya sebagai pembatas buku. Mau tidak mau, kalimat itu pasti saya temukan saat membuka halaman-halaman buku yang kebetulan sedang saya baca.
Buat sebagian orang, menilai orang lain adalah perbuatan yang menyenangkan dan menggairahkan. Bahkan bisa jadi bikin ketagihan.
Coba bayangkan, betapa seru dan asyiknya kita kalau sedang ‘berdiskusi’ tentang kekurangan atau masalah yang sedang dihadapi saudara, teman bahkan artis dan tokoh politik yang sebetulnya hanya kita kenal melalui layar kaca.
Apalagi kalau orang tersebut bukan orang yang kita sukai atau justru sangat kita benci.
Dari A sampai Z hanya keburukannya saja yang menarik buat dibahas. Sedangkan sisi positifnya, seperti menghilang entah kemana. Bahkan kita seolah lupa, bahwa manusia itu tidak diciptakan melulu dengan keburukan tapi juga punya banyak kebaikan.
Saya mengalami kejadian ini belum terlalu lama.
Waktu saya pulang dari Jakarta beberapa waktu lalu, seorang remaja putri berkerudung putih meminta saya agar mau bertukar tempat duduk. Rupanya dia ingin duduk di dekat jendela kereta. Dengan halus permintaannya saya tolak.
Selain saya memang sengaja memesan tempat duduk di sebelah jendela, saya juga ingin mengajarkan bahwa untuk memperoleh sesuatu itu perlu proses dan tidak terjadi seketika. Harus minta pada saat pesan tiket, dan cari alternatif bila kursi yang kita minta ternyata sudah penuh terisi.
Sesaat kemudian, setelah kita duduk berdampingan, dia lalu bertanya kemana tujuan saya. Sambil tersenyum saya menjawab kalau saya mau ke Surabaya. Wah, rupanya tujuan kita sama. Setelah itu dia minta izin untuk memasang charger handphone yang stop kontak-nya memang ada di sisi kanan kaki saya.
Ok-lah, biarpun kaki saya sebetulnya agak geli karena kesentuh-sentuh kabel charger di sepanjang perjalanan, tapi hal itu saya biarkan.
Sesaat setelah kereta meninggalkan stasiun Gambir, dia melepas kerudungnya dan menutup rambutnya dengan topi jaket yang dikenakannya. Sambil tetap mendengarkan musik melalui kabel yang terus terpasang di telinganya, dia mulai membuka ransel biru yang rupanya berisi bekal makanan buat di perjalanan.
Saya meliriknya dari balik buku yang sedang saya baca.
Eh, rupanya dia mengambil sekotak biskuit bersalut coklat panjang-panjang yang mulai dimakan dengan asyik. Sekali-sekali dia menyesap minuman bersoda dari botol ukuran sedang yang juga diminumnya dengan nikmat.
Tak lama kemudian, dia kembali memejamkan mata.
Saya juga mengalihkan pandang ke luar jendela dan kembali asyik dengan buku yang saya baca. Sawah, kebun, tepi laut, rumah penduduk semua berkejaran silih berganti.
Saya juga tidak terlalu beramah-tamah dengan si gadis karena rupanya dia kurang suka bertukar cerita.
Menjelang tengah hari, si gadis kembali terbangun. Kali ini sasarannya adalah keripik kentang merk ternama berukuran jumbo yang iklannya sering saya lihat di layar kaca. Lagi-lagi dia makan sendirian. Minum juga tanpa berusaha untuk menawarkan.
Saya yang duduk di sebelahnya jadi merasa agak diabaikan. Tapi saya biarkan saja, toh namanya juga anak muda. Jangan-jangan generasi saya yang terlalu perasa dan penuh dengan etika sehingga sering berprasangka buruk pada generasi yang lebih muda.
Perjalanan kami pun tetap dalam kebisuan.
Sekitar 15 menit sebelum kereta tiba di stasiun Pasar Turi, saya merasa tangan saya disentuh pelan. Oho, rupanya gadis di sebelah saya bertanya sesuatu tapi saya tidak mendengar karena perhatian saya tercurah sepenuhnya pada pemandangan di luar kereta yang sudah gelap gulita.
Sambil tersenyum saya minta dia mengulangi pertanyaannya.
Rupanya dia bertanya dimana saya tinggal di Surabaya. Saya jawab saja sejujurnya sambil balik bertanya dimana daerah yang menjadi tujuannya malam itu. Ternyata dia mau ke rumah ibunya di Sidoarjo karena baru saja menghabiskan liburan selama seminggu di rumah bapaknya di Jakarta. Deg. Perasaan saya mulai tidak enak.
Gadis kelas 2 SMA itu betul-betul menarik perhatian saya justru saat kereta akan tiba di perhentian terakhirnya. Dengan hati-hati saya bertanya dimana dia bersekolah selama ini. Ternyata di Pekalongan.
Setelah kedua orang tuanya bercerai saat dia berumur 5 tahun, dia lalu dititipkan di rumah nenek dari pihak ibunya yang tinggal di Pekalongan itu. Dia juga bercerita bahwa sebagai anak tunggal, sekarang dia sudah punya 3 orang saudara tiri yang tinggal di Jakarta dan Sidorajo bersama keluarga baru bapak dan ibunya. Sedangkan dia sendiri tetap tinggal bersama neneknya.
Duh, perasaan saya jadi tidak enak betulan!
Penilaian saya tentang gadis ini rupanya salah besar. Saya jadi mengerti kenapa sifat tidak pedulinya begitu dominan selama di perjalanan. Rupanya benteng untuk menutup diri itu telah dibangunnya selama bertahun-tahun karena merasa ditinggalkan.
Saya juga sangat menyesal karena tidak mau memberikan tempat duduk saya kala dia memintanya untuk bertukar tempat. Bukankah seharusnya dia yang perlu diberi banyak kegembiraan karena sedang liburan?
Apa boleh buat. Sesal kemudian memang tidak berguna. Saya hanya bisa mengucapkan selamat jalan dan berharap agar liburannya menyenangkan. Malam kian larut. Dan penyesalan itu tak juga hilang dari hati saya.
Penilaian sesaat, memang seringkali tidak tepat.

sebenarnya tidak salah juga kita menilai orang dari penampilan fisik dan tingkah lakunya, namun memang tidak sebaiknya kita langsung mengkritisi secara negatif. Sebaiknya kita mengambil kesimpulan atas seseorang tersebut setelah kita lakukan wawancara yang baik dan tepat akan seseorang tersebut.
Yup Yadi, menilai seseorang itu adalah sesuatu yang sangat manusiawi.
9 Juli 2012 @ 12:18Penilaian itu bisa benar, bisa juga salah.
Tapi yang sebaiknya kita hindari adalah menilai seseorang habis-habisan sehingga kita tidak memberi kesempatan pada diri sendiri untuk mengenal seseorang dari banyak sisi
ini susah nih…. harus lebih banyak berlatih biar terbiasa dalam menilai orang kemudian yang keluar adalah pikiran positifnya…
Itu dia, Applausr…saya juga masih terus belajar agar semakin peka dan berpikiran positif
9 Juli 2012 @ 12:19Ada lagunya tuh mbak Irma dari bang haji. ‘kuman yang di seberang lautan jelas kelihatan, tapi gajah di pelupuk mata tiada kelihatan”.
nithili kekurangan orang mudah, tapi kadang kita lupa jika diri kita sebenarnya juga banyak sekali kekurangan.
wis nanti kalau sampean ketemu gadis itu sampaikan saja salam sayang ya ciyeeeee
Ciiiieeeee…salam sayang dari bang Lozz gitu?

9 Juli 2012 @ 14:16Tengkyu komennya Lozz, saya jadi mikir-mikir nih lagu mana yang dimaksud Lozz di komen ini, mikir-mikir nada dan liriknya juga sih…hehehehe
semoga gadis itu mengerti mbak. sayang sekali yagak ada bas basi menawarkan snack yg dimakannya sama mbak irma
eh tapi kalau ditawaripun kita haurs hati2 ya mbak takut, oops suudzon jadinya
Ah, ah…itu juga yang jadi pertanyaan saya Lidya, kenapa dia tidak menawarkan cemilan itu ya? Atau justru sebaliknya, kenapa saya yang tidak berinisiatif membuka percakapan ya?
9 Juli 2012 @ 14:39Bu Iiiir, aku kok malah jadi ada inspirasi cerita ya baca postingan bu Ir yg ini he he
Oyaaaaa?
9 Juli 2012 @ 14:54Yang mana, Rin?
Yang posesif itu?
Iya Mbak, betul, sering kali penilaian sesaat itu justru membawa sesal…
Kalau bertemu dengan gadis tersebut dan mengalami kejadian serupa, jujur akupun akan punya rasa yang sama denganmu Mbak
Ya semoga harinya menyenangkan kelak…
Iya Yunda, penyesalan itu masih saya rasakan sampe beberapa hari ke depan…nyesel kenapa saya kok nggak mau diajak tukar tempat duduk biar dia bisa duduk di samping jendela kereta
9 Juli 2012 @ 14:57Hm…terimakasih karena telah diingatkan lagi utk tidak begitu saja menarik kesimpulan / penilaian dari sekilas pengamatan ya mbak… Eh Pekalongan ya? jangan2 tetanggaan dg ku..*halah*
Halaaaah, jadi makin yakin deh kalo rumah Mechta itu ada disana!
9 Juli 2012 @ 17:26Jangan menilai orang dari “koper”-nya ya mbak?
Hehehehe, dari ransel-nya kali, soalnya dia memang bawa ransel…
9 Juli 2012 @ 17:54Aku rasa kebanyakan orang juga pasti begitu..
Tapi enak tadi aku baca ceritannya
Tengkyuuuu…makasih buat apresiasinya, Daltray
9 Juli 2012 @ 17:56Saya pernah membaca kutipan yang isinya kurang lebih begini,”Jangan gampang menilai orang negatif. Apa yang dilakukannya sekarang karena apa yang dialaminya di masa lalu.”
Cocok yaa sama postingan yang ini
Cocok, Dyah…cocok banget!
9 Juli 2012 @ 18:02Masa lalu kita biasanya akan memberi warna pada masa depan yang akan kita jalani.
Trima kasih komennya ya!
Mb Irma, sejujurnya saya juga sering seperti itu, menilai orang lewat standar nilai yang saya anut. saya melupakan bahwa saya punya latarhidup berbeda dng orang tersebut. seringnya penilaian yg saya berikan tidak adil jika disorot lewat sudut pandang orang yg saya nilai. duh kumaha ya Mb Irma. Mesti introspeksi terus meneris kayaknya. nice post
Betul mbak Evi, salah satu solusinya mungkin selalu memasang penilaian netral pada setiap orang
10 Juli 2012 @ 06:19Seiring berjalannya waktu, baik dan buruk, cocok dan tidak cocok kita dengan orang lain itu toh akan muncul dengan sendirinya…
Thanks apresiasinya, mbak!
itu menandakan betapa pentingnya berperasangka baik/ positif thinking kepada orang lain. rata-rata perilaku kita ditentukan oleh prasangka kita sendiri, jika peransangka itu baik, kemungkinan besar action yang kita berikan juga akan baik, begitu juga sebaliknya.
Betul Achsuryadi, aura positif yang kita berikan, biasanya akan kembali pada kita. Begitu juga dengan hal-hal negatif yang sudah kita bagikan…
10 Juli 2012 @ 07:56Kalau saya berada di posisi MBak Irma, penyesalannya bukan masalah tempat duduk, jujur saja duduk didekat jendela adalah harapan banyak orang termasuk saya dan kalau ada yang minta saya juga akan menolaknya, tetapi menyesalnya saya adalah kenapa selama perjalanan tidak saya saja yang mulai mengajak bicara duluan. karena pribadi saya aneh, suka penasaran sama kehidupan orang lain, dan biasanya dari cerita yang saya dapat bisa nempel terus di otak saya dan akan saya ingat sampai kapanpun untuk bahan cerita kepada orang lain lagi, tapi bukan ngerasani loh Mbak hehe..
Iya Yun, saya juga nyesel kenapa saya kok tidak berinisiatif buat membuka percakapan duluan. Kalo tau gitu, kita kan bisa gantian duduk di deket jendela, setengah perjalanan saya, dan setengah perjalanannya dia…
10 Juli 2012 @ 07:58Getun pol, Yun
secara spontan dlm hati akan keluar kata2, baik atau buruk kepada seseorang yang dilihatnya, apakah itu sdh termasuk suatu penilaian. Kita harus bisa jaga diri agar tak menimbulkan hal2 yang jauh lebih dalam terlibat dalam sifat orang lain yang kita sendiri belum/tidak tahu yg sesungguhnya
Iya Han’s, berhati-hati menilai orang lain itu memang langkah yang bijaksana
10 Juli 2012 @ 08:01sya ikut tersentil nich mb Bintang….
btw mmg hal2 spt ini perlu proses yg panjang dan sifat lapang dada kita tentunya
Yup, Bens…di tulisan ini saya juga sedang menyentil diri sendiri kok!
10 Juli 2012 @ 08:24benar sekali,,,tidak boleh menilai dari sisi fisik apalagi saat pertama bertemu,,usahakan saja berfikir positif walau itu memang rada susah..
Susah tapi harus kita lakukan ya?
10 Juli 2012 @ 08:45Kesan pertama itulah yang terkadang menjadi point penilaian kebanyakan orang dan saya juga sering begitu Bunda… hehehehe
Nice Share Bunda, mengingatkan saya untuk tidak langsung menilai orang hanya kasat mata…
Iya Awan, penilaian sesaat itu sering membuat kita memiliki kesan yang salah terhadap orang lain…thanks apresiasinya, Wan, seneng Awan sudah datang kesini lagi…
10 Juli 2012 @ 08:59Bunda selalu bisa melihat dan terinspirasi dari hal-hal yang kebanyakan orang anggap tak penting untuk di bahas, namun cerita2 seperti ini sungguh sangat menarik dan sangat inspiratif untuk yang membacanya… salah satunya saya
K E R E N BUNDA
Alhamdulillah…trima kasiiiiih sekali buat komen yang amat hangat ini, Wan…
10 Juli 2012 @ 09:05Iya benar mba Irma, kita saat mendapatkan kesan pertama terhadap orang yang barui dikenal harus pandai menerapkan empaty agar tak salah paham
Apa yang dia tampilkan saat melakukan sesuatu dihadapan kita bisa jadi bukan pribadinya yang sebenarnya karena keadaan dan kondisi yang membuat dia bersikap demikian namun dasarnya masih tetap punya hati
Sependapat mbak, setelah kita tahu latar belakangnya, biasanya kita akan lebih memahami sikapnya yang kita pandang aneh atau negatif.
10 Juli 2012 @ 09:09Selamat Mba Ir, dari kemarin HL. Kemarin udah komen panjang2 eh gak masuk , error hehehe baru bisa ninggalin komen hari ini
Hehehehe, iya mbaaak, makasih ya buat apresiasinya…maaf kalo udah ngerepotin mbak Anny dengan nulis komen panjang tapi nggak bisa masuk…
10 Juli 2012 @ 09:10Menurut saya wajar kok apa yang dilakukan oleh Mba Irma, tidak perlu terlalu menyesalinya Mba. Saya yakin Mba itu bisa menerimanya.
Memang sih kalau saya yang mengalami, penyesalan akan datang juga, tapi lebih kepada kenapa gak ngajak ngomong duluan dari awal seperti kata Mba Yuni. Ini karena saya orangnya nggak enakan dan pasti ga nyaman banget kalo duduk berdekatan tapi ga berbasa-basi.
Si anak kelihatan cukup sopan ya Mba?
Btw pemandangan dari kereta kadang-kadang memang menghipnotis kok dan bikin kita lupa sekeliling. hehehe..
Hehehehe, iya Dan, mungkin pemandangan diluar jendela kereta plus buku yang saya baca itu yang bikin saya jadi jaim begitu…
10 Juli 2012 @ 10:31Ehm, ehm, sesama orang Surabaya komennya memang nggak jauh beda ya!
Jangankan menilai orang menilai diri sendiri dan menilai pasangan hidup juga sangat susah jadi intinya jadilah diri sendiri tidak perlu menilai orang dan slalu berbuat yang baik.
Betul sekali Dalian, saya sependapat
10 Juli 2012 @ 11:38Mbak Irma…
Saya jd salting deh. Saya juga jarang nawarin makanan ke org di sebelah saya, baik itu di kereta maupun pswat. Soalny dulu pernah liat ada spanduk gede dari pengurus stasiun Pasar Turi, katany jgn menerima pemberian makanan atw mnuman dari orang asing. Jadiny saya g nawarin deh, tkut dcurigai..hehe..
Maraknya kejahatan/pgalaman buruk masa lalu mmbuat kita sering membangun “dinding” kita sendiri-sendiri. Kita jadi sering curiga sama org lain. Padahal blm tentu org lain itu bermaksud buruk pada kita.
Saya prnah mglami kjadian memalukan. Di suatu siang, ada org asing ketok2 pagar rumah. Pas saya intip dari jendela, saya curiga itu org minta sumbangan. Akhirnya ga saya bukain deh. Dia lalu menyrah, n pergi.
Tapi oo..oo ternyta sebelum org asing itu prgi, dia menggantungkn sesuatu d sela2 pagar rumah. Ternyata bungkusan nasi kotak. Itu berkat dri syukuran rumah baru. Brarti itu tetangga baru saya !
Saya malu bgt, itu pelajaran buat saya yg negatif thinking ini…
Aduh Marisa, pasti nggak enak banget ya begitu tau itu adalah kiriman nasi kotak dari tetangga baru…
Tapi nggak apa-apa, kita semua kan belajar dari kesalahan. Mudah-mudahan ke depan, cara berpikir kita juga bisa lebih positif.
Tentang menawarkan makanan ke orang yang duduk di samping kita, biasanya mereka memang tidak pernah mau menerima. Tapi paling tidak kita bisa ‘minta izin’ kalau mau makan atau minum…hehe, ini ilmu yang saya dapat dari orang tua saya soalnya, jadi pasti udah kuno banget kan?

10 Juli 2012 @ 12:18Trima kasih komennya, semoga hari-hari Marisa berjalan menyenangkan
nice post, kesadaran diri sendiri
Tengkyu
10 Juli 2012 @ 13:04Penyesalan yang diiringi rasa bersalah rasanya nggak enak banget ya, Bu…untuk mengurangi rasa sesal itu kita doakan semoga gadis tersebut selalu mendapatkan kebaikan dalam hidupnya.
Cerita yang menarik…
Ibu, saya sudah di Garut lagi soalnya Senin kemarin Irvan sudah mulai mengikuti matrikulasi dan MOS selama dua minggu.
Ibu apa kabar juga?
Iya DD ARY, solusi yang ditulis di komen ini juga menarik sekali.

10 Juli 2012 @ 13:53Selamat buat Irvan ya, mudah-mudahan di sekolah baru ini Irvan juga bisa mengharumkan nama sekolah seperti di SD Kartika dulu. Trima kasih juga sudah bisa memberikan kebanggaan buat sekolah dengan memebrikan NEM tertinggi…hehe, siapa dulu dong ibunya?
Alhamdulillah saya sehat, acara olimpiade kuark science kemarin lancar kan?
Memang kita tidak bisa menilai orang lain dalam waktu yang singkat ya mbak .. btw postinganku beberapa hari lalu temanya kok sama dengan ini, kita sehati mbak he..he…
Masa sih?
10 Juli 2012 @ 17:06Coba saja baca dulu…
Berbuat baik memang tidak seharusnya pilih2 ya mbak..

karena kita berbuat baik sebenarnya gunanya untuk kita juga, memberi tentu menyenangkan bukan?
kalo kebetulan yang kita beri bantuan adalah orang yang kurang menurut penilaian kita belum tentu menurut yang mencipta, dan insyaAllah kebaikan itu akan tetap berbuah baik untuk kita,,hehe.. ini menurut saya lho mbak..
salam sayang mbak irma..
Iyhaaaa…
10 Juli 2012 @ 18:24Kemana aja?
Sibuk banget kah?
Trima kasih sudah berkunjung lagi…trima ksih juga sudah diingatkan kembali, bahwa melakukan hal-hal positif itu jangan pilih-pilih atau ditunda terlalu lama, iya kan, Iyha?
Trimakasih, pancaran kebesaran sekaligus kerendahan hati Jeng Ir membuatku terkesima. Ikut belajar tuk tidak mudah menilai seseoerang dari tampilan selintasnya. Salam
Sama-sama mbak Prih, matur nuwun juga buat atensinya…sugeng enjang
10 Juli 2012 @ 20:36Hmm.. cerita yang menarik mbak..
Kalau menurutku tidak usah terlalu menyesal mbak.. Berdoa saja, semoga si gadis baik-baik saja. . .
Btw, bisa jadi, ketika mbak irma tahu lebih dalam tentang kondisi si gadis, maka itu akan membuat mbak irma kepikiran lho. Karena itulah, Mbak Irma hanya diberi secuil kisah tentang si gadis tadi..
Untuk masalah penilaian, memang sebagai manusia susah untuk berpikir positif ketika dihadapkan pada sebuah cover yang negatif. Apalagi jika itu adalah pertemuan atau perkenalan yang singkat. Tapi semoga kisah ini bisa memberi pelajaran positif untuk mbak irma maupun kita semua, Amiiinn
Amiiin…
10 Juli 2012 @ 21:17Mudah-mudahan begitu, Surya.
Iya, ya…bisa jadi kalo kita ngobrol terus selama di perjalanan, saya malah kepikiran terus sama cerita-cerita yang mungkin saja diceritakan si gadis pada saya, saya suka cepet hanyut soalnya.
Mendoakan agar si gadis baik-baik, itu juga ide yang sangat baik, Surya…
:)(
DAn aku termasuk orang yang cuek kalo aku ada di posisi Mba Irma, ya udah ga usah nanya aja hehee..
TApi ternyata, sikap orang lain begitu pasti ada sebabnya..
MAkasih Mba Irma sudah mengingatkan aku..
SAluut sama mba Irma yang punya hati selembut sutera, kerendahan hati, hiks..
semoga aku tertular dengan sifat2 nya Mba Irma yaahh..hhee
Yailaaaah, saya yang terlalu peka malah pengen bisa lebih cuek Nchie, suka kepikiran sama hal-hal sedih yang dialami orang lain itu kadang bikin saya ikutan sedih berlebihan lo…huhu, nggak bagus juga kan kalo segala sesuatu itu dipikir terlalu berlebihan?
11 Juli 2012 @ 01:33bu irma saya juga termasuk suka menilai seseorang dari penampilannya,cara berpakaiannya,tutur katanya.dan dari situ alhamdulillah kebanyakan kesimpulan yang saya ambil selalu benar sih,maklum udh kerjaan saya sehari2.
tapi itupun terbawa di kehidupan sehari2,makanya saya mo merubah sikap saya,diluar kerjaan saya akan berusaha tidak menilai seseorang wlpn sulit tp diusahakan.terimakasih y bu
Wah, trima ksih juga Heppy sudah berbagi cerita disini…
11 Juli 2012 @ 05:36Merubah sebuah kebiasaan memang tidak semudah membalik telapak tangan. Tapi kalau kita terus mencoba, pasti bakalan bisa
mba Irmaaaaaa…
peyuk peyuk duluuuuu….
duh, kangeeeeen…
*kemaren nyari nyari mba Irma di Festival citylink..hiks*
Astagaaaa…kalo kemaren saya ada disana artinya itu cuman halusinasi, Ry…hihihi, atau jangan-jangan makhluk astral yang berubah wujud menyerupai saya…Weits, saya paling sebel dengan istilah makhluk astral ini, dan pagi ini saya lega banget udah menuliskannya disini *nemu alasan yang pas gitu*…
11 Juli 2012 @ 10:29Peyuk Erry juga aaaahhhhh!
Duh, sepertinya aku termasuk oknum yang suka sering disalah pahami orang deh kayaknya mba…hihihi…
Kalo baru kenal, sebenernya aku bukan tipe orang yang terlalu ramah dan suka kurang luwes ber basa basi gitu sih mba…hihihi…cenderung cuek sebenernyah…
Tapi untunglah aku dapet nya abah yang type orangnya terbuka banget sehingga aku jadi kebawa dikit deeeeh…hihihi…
Iya Ry, saya juga dah ngebuktiin kok kalo erry ternyata nggak seheboh tulisan-tulisannya…hihihihi…itulah manfaatnya Abah, buat penyeimbang pada hal-hal yang Erry nggak punya…sekarang, jadi punya sedikit kaaaaaan?
11 Juli 2012 @ 10:33*kata sedikit ini, cuman sekedar ngutip komen diatas*
Tapi waktu aku naik pesawat sendiri ituh mba, waktu ke Korea…aku diwanti wanti ama abah banget lho…
pokoknya gak boleh nerima apa pun dari siapa pun…harus waspada…blablabla…duh abah inih cinta banget ama aku yaaaah…hihihi…*kibas rambut*…
Jaman sekarang emang serba salah yah mba, mau ramah, dicurigain…kalo cuek dibilang gak ramah…hihihi…
*mending baca Harry Potter ajah mba*
Haaaiiiyaaaa…pelampiasan emosi yang nggak nyambung kayak gini memang Erry banget!
11 Juli 2012 @ 10:36waduh, kalo saya yang jadi cweknya
saya pasti seneng banget bertukar cerita dengan bund irma drpd diam saja…
Ah, ah…sayang sekali bukan kita yang duduk berdampingan di kereta itu ya, mbak?
11 Juli 2012 @ 12:30cerita yang hampir selalu ada di setiap kendaraan umum, duduk bersebelahan dengan orang lain yang baru dikenal…
kalau saya, seperti sudah kebiasaan (bawaan lahir?) … selalu berusaha untuk menyapa duluan, demi mencairkan suasana hening..
Jika sedang beruntung, saya bisa memiliki sahabat baru…. bertukar nomor telepon, dst dst…
jika tidak, ya “nothing to loose” saja….
tapi… tentang tentang si gadis sma…
jadi ikut trenyuh ya membaca ceritanya….
terima kasih mba,
telah berbagi cerita yang menggugah…
….
Sama-sama mbak, kadangkala saya juga suka berinisiatif mengajak bicara duluan, tapi entahlah kenapa saat itu tidak…trima kasih juga sudah berbagi masukan lewat komen ini
11 Juli 2012 @ 13:54Selamat juga buat Ibu, amin…terima kasih Bu, perhatian dan dukungan Ibu juga selama ini sudah membuat saya merasa besar hati dan memberi kekuatan yang sangat berarti buat saya dan keluarga.
Mengikuti jejak kak Risa ya, Bu…go ITB go…
Alhamdulillah Bu, acara olimpiade sains kuark-nya berjalan lancar walau hanya sebagai peserta finalis banyak pengalaman yang didapat Irvan.
Iyaaaa…Irvan ditunggu Risa di ITB tuuuuh…
11 Juli 2012 @ 15:59Pengalaman ikut lomba tingkat nasional seperti itu pasti tidak terlupakan buat Irvan, semoga semua pengalaman dan wawasan yang didapat akan bermanfaat buat Irvan, sekaligus membuat bangga juga buat DD ARY dan keluarga…
Sekali lagi, selamat!
iya nih… emang lebih mudah menilai orang lain daripada diri sendiri… gimana dunia jadi damai???
Kalau semua orang selalu saling menilai…
11 Juli 2012 @ 17:153 hal Mbak Irma:
1. Tentang gadis itu
Sungguh, saya juga merasa terenyuh sekali begitu mengetahui nasib dan perjalanan hidupnya. Kesepian yang dia alami, pasti sangat menyiksa. Dia menjadi “yatim-piatu”, bukan karena orangtuanya meninggal dunia, tapi karena kesalahan orangtuanya sendiri.. Saya hanya bisa berdoa, semoga si gadis bisa memperoleh kebahagiaannya suatu saat nanti.
2. Ngobrol dalam perjalanan
Dulu, saya sangat suka mengajak teman seperjalanan untuk mengobrol dan berbagi cerita. Namun, belakangan ini, lantaran seringnya melakukan perjalanan untuk pekerjaan, saya justru lebih sering memanfaatkannya untuk tidur sebanyak-banyaknya, mencuri waktu untuk istirahat, mengumpulkan tenaga.. Besar kemungkinan ada orang yang seperjalanan menganggap saya seperti Mbak Irma menganggap si gadis itu ya, hehe..
3. Menilai orang lain.
Wajar saya sih menurut saya jika kita memiliki penilaian pada seseorang atas apa yang kita lihat dari lahiriahnya. Ada kalimat bijak yang mengatakan begini: “Manusia menilai dari yang tampak, Tuhan menilai dari yang ada di balik yang tampak”. Jadi, manusiawi saja, bukan? Namun, tentu kita harus berusaha untuk bisa lebih meningkatkan diri, dari sekedar menilai menjadi memahami..
Aduh, yang nomor 3 itu dalam sekali maknanya…trima kasih, Vizon…eh, semua orang manggilnya Uda Vizon ya, saya juga manggil Uda aja deh…
12 Juli 2012 @ 08:17Skali lagi, trima kasih buat komennya ya, bener-bener bisa melengkapi posting yang saya tulis ini
Keren ceritanyaaa…
Kadang aku juga suka ngejudge orang sembarangan…
Tapi mau berusaha biar gak kayak gitu lagi @.@
Thanks apresiasinya, Una!
13 Juli 2012 @ 11:16Menilai orang lain itu rupanya sudah jadi bawaan alami kita sebagai manusia kali yaaa…
emang kebanyakan org melihat dan menilai seseorang dr penampilannya ya mbak
Betul mbak, padahal penampilan itu tidak selalu jadi cermin kepribadian
13 Juli 2012 @ 16:06Jika dalam hati kita sudah agak curiga dengan orang lain maka apa yang dilakukan oleh orang itu sepertinya kok negatif semua ya jeng.
Saya pernah melakukan hal yang sama ketika anak buah saya kehilangan uangnya. Beberapa orang temannya mencurigai si A. Sayapun terpengaruh. Di mata saya anak itu kok tingkah lakunya mencurigakan. Matanya, roman mukanya, dll seakan menggiringnya sebagai tersangka.
Ternyata bukan dia pelakunya. Setelah itu dia kok kelihatan baik yaaa..ha ha ha ha..
Curiga bisa menyesatkan pikiran kita lho.
Salam hangat dari Galaxi
Betul sekali, Pakde…kadang naluri kita itu tergantung dari pandangan orang lain juga…hehe, mudah-mudahan saya sekarang sudah tidak pernah berprasangka seperti itu lagi ah, Pakde…
14 Juli 2012 @ 12:22Tahun 1985-1987 adalah suatu masa, dimana saya hampir selalu menilai orang lain termasuk kelakuannya.
Juga di Balikpapan ketika saya ngajar di Rindam he he he
Maklum saya jadi gumil di Pusdikpom.
Hohoho…menilai orang itu ‘terpaksa’ dilakukan karena diharuskan oleh pekerjaan, Pakde?
14 Juli 2012 @ 12:24Saya jadi ingat pernah menulis ttg “prasangka”, udah lumayan lama sih. Kalau mau lihat, bisa buka ini http://kopipakegula.wordpress.com/2010/04/21/prasangka-oh-prasangka/
Saya pikir, berprasangka adalah salah bentuk survival yang secara otomatis terbentuk dalam benak manusia. Hanya saja, manusia yang bagian otak rasional (otak neo-mamalia)-nya lebih “berjalan” biasanya bisa mengendalikan prasangka yang muncul tiba-tiba ini. Inilah yang disebut dengan “kedewasaan.” Semakin kita banyak pengalaman dan pengetahuan baru, kemampuan ini akan semakin terasah. Bersyukurlah pak’e, karena dirimu mendapatkan pengalaman dan pelajaran yang sangat berharga sebagai modal untuk kehidupan yang lebih baik di hari-hari berikutnya.
Huhuhu…saya bukan Pak’e, Rime…

14 Juli 2012 @ 22:59Tapi, trima kasih buat komennya ya!
menilai org dr penampilan luar, itu jg yg sering sy lakukan bunda.. hiks..
belajar utk sll berpikir positif trhadap org yg baru sj sy kenal itu trnyata susah bgt, seringkali klo selama dlm perjalanan di bus/kreta/pesawat malah org lain yg ngajak ngobrol duluan (duuh..sy jd merasa angkuh)
Iya Livyah, saya juga kadang merasakan hal itu kalo saya lagi malas beramah tamah…padahal sebetulnya nggak kan?
16 Juli 2012 @ 16:55dan aku sering banget terjebak penilaian sesaat mbak duuh …
Sama Yuyuk, samaaaa…
25 Juli 2012 @ 09:11*peluk Yuyuk erat-erat*
menilai seseorang itu perlu,untuk diri kita sendiri,menjaga diri kita sendiri,ibarat kita melihat cerminlah..jangan2 kita pernah seperti itu..hihi..tp biasanya egois kita yg menang..\ah itukan saya yg dulu.sekarang mah ga.\..hahahha..itu yang selalu sy lakukan buat membela diri..
Rasanya saya juga hampir seperti ini…
5 Agustus 2012 @ 03:37Kita memang harus selalu introspeksi, agar lebih peka dalam menjalin silaturahmi
assalamualaikum ibuku……….. kangen banget rasanya dengan ibu….. tulisan yang indah…. kadang memang tidak bisa menilai orang hanya sekilas saja. setuju bgt ibu….
Walaikum salam dik Eka…
1 September 2012 @ 22:43Wah, senengnya dikangenin sama dik Eka!
Trima kasih kunjungan dan komennya ya, trima kasih juga buat kangennya…udah betah kan tinggal di Garut?
Hmm.. Maaf ya buk, sejujurnya bukan cerita (pengalaman) yang menarik untuk di baca karena tidak ada kejadian istimewa..
Tetapi,.. mengapa artikel ini dan tulisan ibuk lainnya yang telah saya baca semuanya terasa “Spesial” ?..
Yang saya rasakan, ibuk selalu mengangkat dari sisi yang tidak umum dan hal-hal yang sering luput oleh banyak orang.. Jadi sesederhana apapun itu temanya akan terasa fresh (segar) karena pembaca akan menemukan hal-hal baru ..
Itu menurut saya lho buk, karena memang seperti itulah yang saya rasakan bila membaca artikel di blog ini..
Tentunya, akan banyak macam pendapat dari para pengunjung yang lainnya. Semoga perbedaan yang ada akan saling melengkapi..
Request:
..
Boleh dong buk bikin artikel tentang “cara menulis”, biar saya bisa menulis dengan baik he he
Waduuuh, trima ksih buat masukannya, Adheens…positif dan negatif, semuanya akan saling melengkapi…saya senang dengan kejujuran Adheens lewat komen ini.
10 Desember 2012 @ 04:57Bikin posting tentang cara menulis?
Alamak, itu bukan keahlian saya, jadi maafkanlah kalo saya nggak bisa memenuhi permintaan ini
Nice story mom…
I love it.
Thanks’ for your share
Sama-sama, trima kasih kembali, Cipluk
7 Januari 2013 @ 16:17He he.. Siip Buk, ga apa-apa kok. Yang jelas dengan sering-sering membaca artikel di Bintang Timur ntar ketularan juga tuch cara menulis yang baik dari Bintang Timur
Oh iya, salam ya buk semoga selalu sehat dan dalam lindungan yang Maha kuasa. Tidak terasa udah satu tahun aja ga’ main kesini he he .. taunya udah 2013 aja
Wah, iya ya…udah setahun kita nggak bersilaturahmi…nggak kerasa lo!
22 Januari 2013 @ 13:10Hehe, Selamat Tahun Baru, Adheens…smoga tahun ini membawa berkah dan kebahagiaan bagi kita.
Amiin…