a journey of my life…

‘Ir, waktu suamiku dinas di Papua, aku bisa ngumpulin premi 4 miliar lo, bonus aku yang 300 juta aja nggak pernah aku ambil sampe sekarang…’

Deg!

Saya kaget sekaget-kagetnya. Telpon salah seorang isteri senior tadi pagi sempat membuat saya terhenyak. Saya mengenal mbak yang menelfon itu sejak saya menikah karena kami memang bertetangga di salah satu asrama di kota Malang.

Waktu itu saya dan dia langsung akrab.

Mungkin karena kami seumuran, berasal dari SMA di kompleks yang sama dan sama-sama berstatus sebagai PNS, cara berkomunikasi kami juga tidak terlalu kaku.

Selain itu kami juga mempunyai jabatan yang lumayan strategis di organisasi tempat kami berada saat itu. Mbak tadi menjadi ketua seksi organisasi sedangkan saya sebagai sekretaris.

Balik ke telfon tadi.

Rupanya sudah beberapa tahun terakhir ini mbak tadi menjadi agen asuransi yang cukup bergengsi. Malah saking banyaknya nasabah yang didapat, si mbak itu sudah keliling ke negara-negara di Eropa Barat bareng rombongan. Tentu saja dengan dibiayai agen asuransi tadi.

Tapi hal itu tidak membuat saya iri. Jalan-jalan itu kan bisa kapan saja sepanjang ada waktu, rezeki dan kesempatan.

Tapi angka yang 4 miliar itu bener-bener membuat saya kaget bukan kepalang. Duh, saya kok jadi merasa tidak berarti ya!

Kenapa begitu?

Karena saya jadi merasa tidak bisa memberi kontribusi finansial buat keluarga.

Apakah saya merasa kekurangan uang?

Insya Allah tidak.

Tapi begitu mendengar mbak tadi bercerita, saya langsung merasa tidak berharga…hehe, nyali saya rasanya langsung turun ke titik nadir!

Padahal sungguh, saya tidak merasa sedang kekurangan uang. Merasa kelebihan uang juga tidak. Biasa-biasa saja lah.

Selama ini saya memang tidak pernah mengerjakan hal-hal yang tidak saya kuasai seperti berjualan atau menjadi agen asuransi itu tadi. Bukannya tidak mau mencoba, tapi apa gunanya mengerjakan hal-hal yang membuat kita tersiksa?

Terus terang, itu bukan keahlian yang saya miliki.

Tapi cerita si mbak tadi pagi betul-betul membuat saya terpana. Bukannya mau ikut-ikutan menjadi agen asuransi atau apa. Sama sekali tidak.

Saya hanya berpikir, alangkah mudahnya mencari uang sedemikian banyak ‘hanya’ dengan menjadi agen asuransi. Ditawarkan di Papua pula. Sebuah propinsi yang di mata saya memiliki prospek rendah untuk mencari nasabah.

Kata si mbak tadi pagi, modal utama jadi agen asuransi itu cuman satu : jangan gengsi…

Itu dia yang saya tidak punya.

Saya termasuk orang dengan gengsi tinggi. Sepanjang bisa dikerjakan sendiri, saya tidak pernah mau merepotkan orang lain. Apalagi membujuk mereka agar mau memberikan kemudahan-kemudahan pada saya.

Selama ini, bekerja sebagai ibu rumah tangga saja sudah membuat saya merasa luar biasa.

Mendukung suami, memotivasi anak, menghibur mereka kala berduka, menikmati berbagi cerita suka. Hal itu saja sudah membuat saya merasa berharga. Status sebagai ibu rumah tangga itu tidak pernah membuat saya minder sama sekali. Apalagi menyesali pengunduran diri saya sebagai seorang pegawai negeri.

Toh dulu hal itu pernah saya nikmati. Dan saya yakin, tanpa koordinasi seorang ibu, rumah tangga tidak akan berjalan cukup sempurna.

Tapi telpon tadi pagi sempat membuat saya minder sejenak.

Apa iya mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya itu harus menjadi tujuan hidup kita? Apa iya saldo di tabungan itu harus mencapai angka setinggi-tingginya? Atau memang sudah menjadi hakekat kita sebagai manusia bahwa bekerja dan menghasilkan uang itu adalah sebuah keniscayaan?

Entahlah, saya bingung…


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?
Juni 7th, 2012 at 16:32


59 Responses to “Duh, saya minder!”
  1. 1
      mechta Says:

    Hidup memang ’sawang sinawang’ ya mbak… Tapi yakini saja bahwa tanpa kontribusi dana sejumlah itu bukan berarti tak ada kontribusi mbak bagi keluarga bukan? semua kasih sayang, perhatian & upaya yg telah mbak curahkan buat keluarga tak ternilai harganya…kalau gak percaya, coba tanya keluarga tersayang, hehe…
    *tampaknya saya malah jadi minder sama mbak Irma deh..* :)

    Saya pengen nangis baca komentar ini, Mechta…sungguh, mata saya sekarang lagi berkaca-kaca…

  2. 2
      alamendah Says:

    Nominal maupun panjangnya digit saldo tabungan saya rasa bukan ukuran kebahagian dan kepuasan. Pun bukan tujuan hidup kita. Apalagi tolak ukur sebuah kontribusi dalam keluarga.
    Sering kali suami dan keluarga lebih membutuhkan yang lainnya dari istrinya.

    Mas Alam, trima kasih sudah membesarkan hati saya.
    Shock therapy kemarin rupanya sukses membuat saya sejenak merasa ‘tidak berharga’ buat keluarga…padahal di mata suami dan anak-anak, mungkin saja sumbangan non finansial saya lebih berarti buat mereka :)

  3. 3
      nicamperenique Says:

    wah kirain pertamax, gak taunya mba Mechta lebih cepet hehehe … lanjut baca dulu ah :D

    Oke…oke…kalo udah baca, wajib dikomenin lo, niQue… :P

  4. 4
      nicamperenique Says:

    waduh? klo saya tau Papua itu pasar potensial, pasti saya udah ‘kabur’ ke sana waktu masih jadi agen asuransi beberapa tahun yang lalu. apalagi waktu itu saya mengerjakannya cuma paruh waktu hehehe malah sibuk sama kerjaan lain.

    well, angka tetaplah angka. berapa panjang pun digitnya tak bisa membeli dan menjadi tolok ukur kebahagiaan seseorang. semoga mbak yang di telpon tadi sebahagia yang kita bayangkan, tapi kita tidak tau juga toh?

    saya sih gak minder mbak, rejeki tiap orang beda2 ‘kan. sing penting, saya mah dikasih nikmat SEHAT jauh luar biasa ketimbang dikasih harta banyak. apa saya bicara begini karena gak punya 4M ya? hihihihi

    Hihihihihi…ketawa baca alenia terakhir!
    Iya niQue, menmbesarkan hati itu memang perlu, dan kalau saya tidak mau minder, seharusnya saya ‘menghitung’ jumlah berkah yang sudah saya terima saat ini, bukannya menghitung jumlah saldo di tabungan saya dan membandingkannya dengan si mbak… :D

  5. 5
      lozz akbar Says:

    nurut saya itu sawang sinawang kok mbak Irma. saya dulu berpikir andai saja ortu saya kaya mungkin saya akan bahagia. Setelah saya pikir mending enak gini aja deh. sebab andai saja saya anake orang kaya, bisa aja saya jadi anak takabur hehehe

    mensyukuri apa yang ada di tangan saya rasa itu lebih baik dari pada selalu ngiler dengan yang orang lain punya.

    mbak Irma top kok nurut saya, meski secara finansial tidak seperti teman sampean, tapi bisa mendidik Risa dan mendampingi kangmas dengan sangat telaten.. saya rasa itu lebih dari essip markosip hehehe

    Lozz…berkaca-kaca lagi deh baca komen ini :(
    Iya bener, sawang sinawang itu ternyata bisa menghampiri siapa saja.
    Kenapa juga kemarin pagi saya bisa merasa tidak berguna gitu ya?
    Padahal sesungguhnya, tidak ada manusia yang tidak berguna. Hanya tugas, kewajiban dan fungsinyalah yang berbeda…

  6. 6
      Yunda Hamasah Says:

    SEtuju sama Uncle Lozz, mensyukuri semua yang kita punya adalah hal terindah dalam hidup kita ^^

    Dan sepakat juga sama Uncle Lozz Mbak Ir memang Essip Makosip :)

    Aduh Yunda, berbanding terbalik dengan kemarin, hari ini saya jadi berbunga-bunga baca komentar Yunda ini…makasih ya!
    :D

  7. 7
      prih Says:

    Sungguh kagum dengan cara Jeng Ir meng-encourage sahabat Bintangtimur melaui postingan ini. Mari simak penguatan dari Jeng Ir …Status sebagai ibu rumah tangga itu tidak pernah membuat saya minder sama sekali…. Trimakasih Jeng, salam

    Mbak Prih, status ibu rumah tangga juga tidak membuat saya minder…yang kemarin bikin saya mak jleb itu karena saya tidak bisa memberi kontribusi finansial buat keluarga…hehehe, sekarang mah udah nggak ah mbak, soalnya saya punya banyak sahabat yang mendukung melalui komen-komen hangat mereka.
    Dari mbak Prih ini salah satunya ;)

  8. 8
      diandrarafi Says:

    what…4 miliar…?
    ckckckck….*geleng2 kepala*

    kalau jualan kosmetik yg hanya ngambil untung 3 rb an dan dicicil 3x bisa dpt untung segitu gak ya…?
    hihihi….

    Hohohoho…kayaknya nggak deh, Diandra!
    :P

  9. 9
      diandrarafi Says:

    aq juga termasuk yg gak bisa berbisnis/menambah penghasilan suami mbak….
    bisanya cuma ngabisin duit suami
    hihihi….
    *maksudnya buat beli sayur dan susu mbak*
    kalau buat beli tas hermes gak cukup
    hehehe….

    Ssst, bukan menghabiskan uang suami itu mah, tapi mengelola uang suami dengan baik… ;)

  10. 10
      irmarahadian Says:

    Alhamdulillah…masih diberi kesehatan buat bund irma dan keluarga…
    yang pastinya suami juga anak2 ga menuntut yg macam2…
    ibu rumah tangga juga HEBAT kok…:)
    kenapa minder bund…??

    Mbaaak, yang bikin saya minder kemarin itu bukan karena ‘hanya’ jadi ibu rumah tangga, tapi karena saya tidak bisa memberi kontribusi finansial buat keluarga…ehm, ehm, padahal sebenernya kontribusi kita itu tidak harus berupa materi ya?
    ;)

  11. 11
      Lidya Says:

    jangan khawatir mbak, aku juga ibu rumah tangga sejak nikah Allhamdulillah walaupun tidak punya penghasilan tapi bisa menghasilkan anak2 yang Insya Allah baik:)

    Betul Lidya, kontribusi yang non materi, bila diberikan dengan setulus hati pasti akan memberikan hasil akhir yang baik juga…saya sependapat dengan Lidya :)

  12. 12
      Dani Says:

    Saya salah satu yang percaya kalo bukan uang bukan segalanya meskipun kita bisa beli beberapa benda pake uang.

    Tenang aja Mba Irma. Pasti ada trade offnya kok. Pasti ada nilai tukarnya uang 4 milyar itu. Kehidupan ga melulu diukur dari uang. Mba Irma mungkin belum tahu cerita selengkapnya dari Ibu agen asuransi itu. :D

    Hehehe.. :D

    Ada trade off-nya?
    Iya, kayaknya memang ada…dan saya sudah mendengarnya cukup lama ;)
    Thanks banget buat komennya, Dan :D

  13. 13
      nchie Says:

    Mbaaa Irmaa

    hadeuh apdet lagii
    asiik pisan..

    Whaat ? 4 milyar..

    Iya Nchieeee, iyaaaaa…
    :D

  14. 14
      nchie Says:

    #bangun dari pingsan..

    Tenaaang Mba, aku juga bangga sebagai ibu rumah tangga, meski ga punya penghasilan tambahan, asalkan hati dan pikiran adem..
    yang penting cukup..
    hadooh nikmatnya dan indahnya hidup ini..

    Betul Nchie, kontribusi buat rumah tangga itu kan bisa melalui beragam cara…salah satunya adalah mengelola penghasilan suami dengan penuh tanggung jawab agar membawa berkah dan kebahagiaan buat keluarga…
    :)

  15. 15
      nchie Says:

    Aku juga bingung Mba..
    buat apa ya menabung setinggi itu..
    tujuan hidup kah?
    Ahh..
    aku cuma bisa menabung kebaikkan aja..
    inyaallah hehe..

    Tiap orang kayaknya punya persepsi yang berbeda, Nchie…dan kita harus hormati itu…eh, saya mah ikut pendapat Nchie aja…karena dana sebesar itu saya memang tidak punya… :P

  16. 16
      Pakde Cholik Says:

    Kata orang Jowo ” Siro biso niru penggaweane ning ora biso niru rejekine ”

    Saya juga termasuk orang yang tak bisa bisnis, kalau melaksanakan sikap sempurna dan hormat grak memang hafal jeng.

    Setiap teman tanya : ” Bisnisnya apa sekarang mas ? Kerja di mana sekarang ?”
    Saya dengan penuh kebanggaan menjawab ” PT.Timah “. Mereka reply : ” Wah..semangatnya masih tinggi ya, masih produktif “.

    ” PT.Timah itu singkatan dari Pensiunan Tentara Tinggal di Rumah “, jelas saya.

    Saya juga pernah ditawari untuk menjadi Ketua salah satu partai tetapi saya tolak. Takut tak bisa melakukannya , takut ngrasani orang dan juga takut banyak musuh.

    Bagi saya pensiun ya pensiun untuk melakukan kegiatan lain yang saya rasakan perlu ditingkatkan selain mikir negara dan duit..duit..duiiiiiit saja.

    Nothing wrong with a housewife, jeng. Just relax !!

    Kalau mau ke luar negeri ya ke Makkah dan Madinah sana jeng.

    Salam hangat dari Surabaya

    Pakdeeee…nasihat-nasihat Pakde selalu bikin saya adem.
    Mata saya berkaca-kaca lagi baca komen ini.
    Betul Pakde, setiap orang memiliki bakat dan keahlian yang berbeda. Kalau saya dipaksa buat melakukan hal yang tidak saya suka dan kuasai, kayaknya saya juga bakal ngenes sendiri…

    Matur nuwun komennya Pakde, mas Asro juga pasti baca komen ini :)

  17. 17
      yadibarus Says:

    semua telah diatur oleh Allah, jadi ndak perlu dibawa minder, kita hanya bisa berusaha dan berdoa.
    btw mbak tinggal di tanah karo ya?

    Betul Yadi, semua memang sudah diberi porsi oleh Allah…ngomong-ngomong, sekarang saya tinggal di Surabaya, tapi dari tahun 1994 - 1997 saya tinggal di Kabanjahe :)

  18. 18
      Awan Says:

    Ga usah Minder Bunda, Bunda selalu ada buat keluarga kala suka dan duka, menjadi Istri dan Ibu yang baik buat keluarga itu nilainya tak bisa terbilang dengan jumlah angka berapa miliar pun… Semangat Bunda :)

    Yup Awan, gitu ya…setelah nulis posting ini dan baca banyak komen hangat, minder saya rasanya sudah lenyap entah kemana…thanks ya!

  19. 19
      Awan Says:

    Melakukan kerjaan yang bukan keahlian kita alias terpaksa sama saja menyiksa diri sendiri…. iya ga Bunda? hehehehe

    Enjoy saja Bunda dengan apa yang Bunda lakukan sekarang…
    Kebahagiaan sejatinya bukan terletak pada nominal uang, tapi bagaimana kita bisa menikmati segala yang kita punya dengan rasa Syukur….

    #Maaf Bunda kok saya jadi sok tahu ya… hehehehhe

    Ah, ah…ternyata Awan lebih dewasa dari saya!
    Makasih dukungannya Wan, tengkyu juga buat semangat yang ditularkan lewat komen ini…
    :D

  20. 20
      herry siomponk Says:

    dari seorang istri atau ibu buakn finansial yang dibutuhkan oleh keluarga, tapi perhatian, motivasi, suport untuk seluruh anggota keluarganya. Itu lebih berhaga mbak…
    selalu semangad terus untuk keluarga.

    Trima kasih banyak buat support-nya Herry…berharga banget buat saya :)

  21. 21
      Cipto Says:

    Buat saya seorang suami, yang penting istri itu bikin adem di rumah dan anak-anak pada seneng. Uang besar bukan segala-galanya. Namun bila ada istri yang melakukan hal demikian perlu kita apresiasi.

    Betul mas, apresiasi saya juga buat para ibu bekerja yang hebat dalam mengurus rumah tangga…

  22. 22
      depz Says:

    hihihi… saya kok ngerasa sama ya
    maksudnya ngga pernah ngerasa “ngiri” sama yang kayak gitu
    disamping saya (merasa) ngga punya kelebihan menghasut (baca:marketing) saya jga bukan tipe yg ngoyo
    makanya sampai sekarang tabungan ya alhamdulilah segitu2 aja :D

    Hehehehe…segitu2 aja itu kayaknya istilah yang bermakna ganda Depz, bisa nggak kalo ditulis lebih detail?
    :P

  23. 23

    Memang uang bukan menjadi tolak ukur kebahagiaan seseorang tuk sekarang. Tapi, bukankah lebih baik baik banyak duit dan bahagia ? He he he … Nice share artikelnya, kak. Indahnya berbagi. :D

    LEMARI CINTA
    Membantu Kamu dan Doi Selalu Tampil Beda dalam Setiap Suasana

    Hoho, kalo bisa begitu mah Alhamdulillah banget kali ya… :D

  24. 24
      aswi Says:

    terus bersemangat dengan apa yang kita punya dan usahakan. Allah yang menghitung usaha kita, Mbak. Manusia bisa apa. Tapi kalau denger dari orang yang berduit, sebenarnya sama saja, kok, Mbak. Punya gaji 2juta, tagihannya 1,5juta. Punya gaji 5juta, tagihannya 4juta. Punya uang 4M, tagihannya siapa tahu 3,5M dan sisanya habis untuk anggaran bulanan. Nikmati saja ^_^

    Iya Bang Aswi, saya kan hanya diberi tahu jumlah pemasukannya, tapi tidak pengeluarannya…hehe, tetep semangat ah, thanks buat kunjungan dan komennya :D

  25. 25

    artikel yang bermanfaat.. sukses selalu

    Salam sukses juga :)

  26. 26
      Mas Huda Says:

    wow…. 4 miliar itu gede banget buat saya…

    ah tapi bagi saya cukup untuk makan saja sudah Alhamdulillah.. tetap bersyukur saja dengan apa yang dipunyai Insya Allah bahagia

    Betul mas Huda, sepanjang kita sehat dan bahagia, rasa syukur itu pasti tak ternilai harganya…
    :)

  27. 27
      anny Says:

    Punya digit saldo yang tinggi di Bank atau setumpuk harta melimpah tapi tak bisa menikmati hidup dengan tenang tak ada artinya mba :D
    Ada teman saya yang cukup mapan tapi ia bilang lebih nikmat jalan2 pakai metromini dan makan gado2 di kaki lima, lebih memuaskan katanya hihihi….dan saat2 seperti itu yg sering ia rindukan :D

    Oyaaaa?
    Ukuran nikmat dan bahagia memang relatif ya mbak, tidak dilihat dari besarnya materi atau properti yang kita miliki… ;)

  28. 28
      pink Says:

    bunda irma……aku juga ikut melongo membaca angka 4 m
    wow fantastis…
    tapi balik lg ke tujuan hidup ….apa yg akan kita bawa kelak kl menghadap sang kholik… ga munafik mslh uang kita mesti butuh…tapi alangkah indah nya ketika kita bisa berpikir dunia hanya sarana untuk sebuah perjalanan yg abadi………bagaimana kita bs bermanfaat untuk banyak orang…ya kan bunda..

    Betul Pink, kalau kita mau bermanfaat tentu harus bekerja dan punya uang juga…
    Tapi buat ibu rumah tangga murni seperti saya, rasanya mengelola keuangan keluarga dengan baik dan bermanfaat juga rasanya tidak mudah. Perlu kemampuan dan keahlian tertentu agar gaji suami bisa dipakai untuk keperluan yang tepat :)

  29. 29
      tebaksaja Says:

    senang baca komentar2 temen disini..ternyata masih banyak yg menilai nominal hanya nominal..bkn nominal=kebahagiaan

    Iya, sama…saya juga senang baca pendapat teman-teman yang berkomentar di posting ini, betul-betul membesarkan hati :)

  30. 30
      yuniarinukti Says:

    Mbaakk.. kondisi seperti ini sering sekali saya alami, seperti saya pernah mendengar cerita teman bahwa Ia memiliki stand di beberapa Mall lalu bisa membeli rumah, sedangkan melihat kondisi saya, rumah aja masih numpang orang tua rasanya seperti diri saya itu rendaaah banget.. kapan ya saya bisa seperti dia..

    Hehe, jangan Yun, sekarang saya sudah sadar bahwa ingin menjadikan diri kita seperti orang lain itu bisa bikin terpuruk dan susah bersyukur.
    Jadikan kemajuan orang lain sebagai semangat, toh mereka juga punya kekurangan yang kita tidak tahu. Bukankah kebahagiaan sejati itu adanya didalam hati dan hanya bisa dinikmati oleh diri sendiri?
    Yuni wanita bekerja lo, percaya deh, cepat atau lambat rumah idaman itu pasti bisa Yuni dapatkan. Insya Allah.

  31. 31
      yuniarinukti Says:

    Memang sih Mbak memiliki rumah dan menumpuk harta sepertinya sudah menjadi tradisi, tapi bila melihat teman itu setiap hari berangkat pagi pulang larut kok rasanya saya merasa lebih beruntung, pagi masih bisa leha-leha, ngobrol sama anak-anak tetangga dan pulang masih bisa main ke rumah teman, jalan-jalan sambil lihat pameran, sedangkan dia, masih sibuk dengan usahanya..

    Tuh kan bener, Yun?
    Harus ada yang dibeli dengan materi yang kita dapatkan…antara lain nih, capek, bete bahkan depresi tingkat tinggi :D

  32. 32
      yuniarinukti Says:

    Mbak Irma sepertinya saya harus belajar banyak tentang segala sesuatu yang berbau bijak kepada Mbak, melihat sikap dan tulisan Mbak di blog ini Mbak itu seperti guru BP yang memberi bimbingan konseling kepada anak-anak labil seperti saya..

    Hohoho…harusnya pujian ini Yuni berikan buat Pakde lo, saya kan belajar dari Pakde juga ;)
    Apapun itu, tengkyu Yun, mari kita menjadi manusia yang lebih baik lagi…

  33. 33
      Mugniar Says:

    “Bukannya tidak mau mencoba, tapi apa gunanya mengerjakan hal-hal yang membuat kita tersiksa?”

    Setuju sama itu mbak. Kita hidup kan mencari ketenteraman :)
    Pa kabar mbak? Lama gak main ke mari :)

    Aduh Mugniar, dikira sudah lupa sama saya…
    Alhamdulillah saya baik-baik. Mugniar juga kan?
    Trima kasih silaturahminya, smoga Mugniar juga selalu sehat dan bahagia :)

  34. 34
      Ocehanburung Says:

    Iya emang tuh…

    Kayanya agen asuransinya sama nih ama yang temen saya juga…

    Dia baru 2 tahun kerja… Bisa nyicil rumah dan beli mobil…

    emang blm milyaran, tapi sedikit bikin sesak dada juga..

    Tapi memang tidak pernah selesai jika kita terus saja melihat rumput tetangga…

    Betul mas, lebih baik kita nikmati saja ‘rumput’ di rumah sendiri…
    :)

  35. 35
      monda Says:

    aku juga pernah gitu mbak…., kok si ini bisa begini, padahal dulu dia bukan apa2,
    tapi kita kan nggak tau apa yang ada di belakangnya, atau di hatinya,
    yg penting sekarang sih enjoy aja dengan apapun yang dimiliki

    Betul mbak Monda, ‘keminderan sejenak’ saya itu rupanya mendapat dukungan hangat dari teman-temen…dan sungguh, rupanya itu yang sekarang membuat saya merasa ‘kaya’ :D

  36. 36
      Evi Says:

    Mb Irma, motivasi orang ngumpulin duit sih aneka macam. Ada yg karena ingin berprestasi dan ada pula yg karena senang banget punya uang. Karena salah satu fungsi uang adlh kebebasan. Tp semua jalan yg kita tempuh hrs ada hrg yg dibayar. Teman mbak Irma sepertinya bersedia membayar hrg tsb. Tapi diatas segalanya menurut saya adl apa yg kita suka
    Jika jd ibu rt murni adl sumber kebahagiian kita, mengapa tidak? Ngapain hrs minder Mbak? :)

    Mbak Eviii, boleh peluk mbak Evi dulu kan?
    *jadi pengen nangis lagi*
    Betul yang mbak bilang, selalu ada harga yang dibayar untuk sebuah kepuasan. Dan tidak bisa memberi kontribusi finansial buat keluarga, adalah ‘harga’ yang harus saya bayar buat bahagia…
    Makasih ya mbak, makasiiiih banget buat dukungannya!
    :D

  37. 37
      melly Says:

    Kalau buat saya, uang itu memang penting tapi kebahagian jg lebih penting dan kepuasan diri itu lebih penting.
    Banyak uang tp kita gak pernah puas?

    rasanya percuma ngumpulin uang banyak tp kita gak pernah ngerasa puas ato berharga.

    Iya Mel, saya sependapat…kebahagiaan dan kepuasan itu rupanya ada di sisi yang berbeda ya!
    :)

  38. 38
      melly Says:

    Kalau rasa iri pasti ada ya bu, ngeliat ‘tetangga’ lebih dr kita.
    tp kita harus bersyukur, bukankah yg cukup itu lebih baik dr pada berlebih2an dan gak bermanfaat :D

    … ngebayangin 4M aja dah bingung mau di apain tuh duit, dikumpulin doank tp ga digunain..hehe

    Hihihihi…dilihat, dipegang dan diterawang kali, Mel… :P

  39. 39
      Risa Asrobudi Says:

    Tujuan hidup kita bukan mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya kok, Bu. Tapi menjalani hidup dengan gembira dan berguna untuk orang banyak..hehe.. Hebatan Ibu kok.. Udah nggak kerja, tapi icanya bisa jalan-jalan kemana-mana.. heeehee..
    love you moooommmmm!!! :* :* :*

    Icaaaa…
    Komen ini yang bikin ibu merasa berharga luar biasa!
    Makasih ya De, makasih udah jadi sumber kebahagiaan ibu dan bapak, makasih udah bikin orang tua bangga…love u too, very much… :D

  40. 40

    Yah Mbak Ir, kok pakai acara minder sih? Orang cari duit kan berlandaskan motivasi. Ada yg menganggap sebagai prestasi dan ada pula yg menganggap prestasi gak disana. Menurutku, hidup itu haruslah menuruti kata nurani. Kalau kita sdh happy sebagai ibu rumah tangga, dan jauh banget bisa ngedapetin 4M dalam setahun, yah ngapain coba pakai minder segala..Kebahagiaan kita kan gak disana..Tapi beda kalau passionnya Mb Irma pada koleksi duit terus melihat teman dengan mudahnya mengumpulkan segitu banyak. Disana minder boleh. Tapi minder bukan untuk menyakiti diri sendiri. Minder yg energinya kita pakai untuk bekerja sama keras dan cerdasnya seperti si teman tersebut…
    Begitu pandanganku Mbak Ir :)

    Ahaaa…mbak Evi memang bijaksana…iya mbak, mungkin minder sejenak yang saya rasakan beberapa hari lalu itu lebih tepat kalo disebut ‘kaget luar biasa, sehingga saya merasa tak bisa berkontribusi apa-apa pada keluarga… :(
    Betu mbak, ngumpulin uang segitu itu bener-bener bikin saya tercengang karena dikumpulin cuman dalam waktu 3 minggu aja lo, bukan setahun. Memang premi *atau uang pertanggungan ya istilahnya* sih, dan komisi si mbak tadi mungkin di kisaran 300 juta itu…hehe, kenapa juga saya kok jadi merasa minder ya mbak…aneh deh… :D

  41. 41
      rhenie Says:

    setiap orang punya kehidupannya sendiri-sendiri mbak….
    ibu rumah tangga adalah profesi paling mulia di dunia dan di akherat. hehe….

    btw, dulu asrama di malang, dimana mbak ?
    suamiku asalnya juga dari malang, kebetulan dia anaknya tentara gitu,,, di daerah narotama (rampal) tinggalnya.

    Wah, sama dong, saya juga dulu tinggal di seputaran rampal itu…dari sekitar tahun 1989 sampai dengan tahun 2004 gitu deh :)

  42. 42
      ajeng rismaniar Says:

    kalo minder pasti ada,,,tpi tentunya kembali lgi ke fikiran kita yg jernih,,,ngapai harus minder..?toh diluar sana masih bnyak yg kurang beruntung dari kita.Syukuri apa adanya… key :)

    Betul Ajeng, mari kita nikmati dan syukuri apa yang kita miliki…makasih komennya ya!
    :)

  43. 43
      ke2nai Says:

    sy juga termasuk yg suka rada minder kl liat ada temen yg sukses di karirnya.. Tp trus sy buru2 liat ke diri sy yg ternyata udah bahagia dg kondisi sy sbg IRT.. Jadi ya sy anggap aja itu cuma galau sesaat :)

    Tepat banget Ke2nai, galau sesaat itu kayaknya istilah yang pas juga buat saya… :D

  44. 44
      Hendrawati Says:

    Kira-kira kalo ikutan Kontes SEO Cyberbola.com Say No To Racism Piala Eropa 2012  http://blogclubbers.blogdetik.com/cyberb…) bisa dapet segitu nggak yach Mbak??? NGARANG…wkwkwkwkwk…
    Happy and enjoy for your life sister…. Always success for you dech ama family…..

    Tengkyu, tengkyu…salam sukses juga buat Hendrawati…
    :D

  45. 45

    tiap orang punya kelebihan masing-masing dan juga rejeki masing2 bunda,,gak perlu minder..

    Iya, betul…semua pasti diberi rezeki sesuai porsi… :)

  46. 46
      Orin Says:

    Errr…angkanya bikin mupeng berat ya Bu Ir hahahaha…
    Orin pikir, ‘rezeki’ itu tidak hanya melulu tentang uang, kesehatan-nama baik-kedamaian-iman, itu jg rezeki kan Bu Ir?

    tetap semangaaaats ;)

    Iya Oriiiin, tetap semangaaaaat!
    :D

  47. 47
      Surya Says:

    Kali ini cuman mau koment pendek…
    Menurutku tidak ada yang lebih berharga dari keluarga mbak Ir.. So, ketika mbak irma sudah bisa membuat keluarga bahagia, menurutku itu sudah sangat-sangat cukup :)

    Beruntungnya Dewi punya suami Surya, dan mudah-mudahan mas Budi juga memiliki pemikiran yang sama :D
    Thanks buat supportnya, Sur!

  48. 48
      Budi Arnaya Says:

    Heeeeee memang kadang kalau ada orang yang menceritakan kondisinya sekarang yang telah sukses…perasaan minder seketika menghantui mbak yach…saya pernah mengalami hal itu. Tapi saya kembalikan kepada diri, menjadi kepala keluarga yang baik sudah cukup membuat saya berharga di mata mereka, meskipun saya kurang berarti di mata teman yang wahhhhhhhhh

    Hehe…yang penting kita bisa berarti di mata Tuhan dan keluarga, Bli…
    Di mata teman itu biasanya relatif, kalau kita sudah sehati, pasti kita juga akan berarti buat mereka… :D

  49. 49
      julie Says:

    waah dahsyat juga itu bonus jadi agen asuransi ampe 4 milyar pantusan temenku bolak balik ngepush aku buat masuk asuransinya trus sekarang lagi ngejer2 aku supaya mengikuti jejak dia untuk jadi agen

    tapi seperti yang mba irma bilang, apa iya kita perlu nyari uang segitu banyak? memang sih kalo mba irma gak perlu lagi kalo aku perlu hehehe tapi aku kayanya gak kuat deh jadi agen asuransi karena butuh keberanian dan menurunkan gengsi utk jualan itu sulit banget ya mbak

    kalo kata temenku ini, dengan jadi agen asuransi nantinya aku bakal punya banyak waktu buat anak, tapi utk memulai itu aku kan pasti bakal ningalin anakku kesana kemari dan begitu dapet bonus bukannya jadi malah jalan2 ke luar negeri terus? :D

    Hihihihi…iya Jul, pilihan itu toh akhirnya kembali pada kita. mau banyak uang tapi sedikit waktu buat keluarga atau justru sebaliknya.
    Paling enak memang banyak dua-duanya sih, banyak waktu, banyak uang, selalu sehat plus bahagia…tapi apa ada yangseperti itu?
    Kayaknya nggak deh…
    Makasih komennya Julie, salam sayang buat Enrico :D

  50. 50
      chusnulasfia Says:

    Kalo aku dulu pernah minder juga mba.. waktu temen-temen pada lanjut kuliah lagi dan sbagian udah ada yang kerja. eh aku malah jualan bantu-bantu ibu. tapi alhamdulillah sekarang udah dapet pekerjaan dan menikah. dengan suami pun satu kantor ^_^
    tapi memang ada kalanya materi itu bukan segalanya. teman-teman saya yang mendapat penempatan luar pulau jawa banyak yang kabur loh..karna jauh dari kluarga, meskipun mendapat dengan gaji yang mnurut saya lumayan besar.
    tapi yang paling penting adalah bagaimana kita bersyukur. dan tidak membandingkan apa yang kita punya dengan milik orang lain.

    Betul Chusnul, semua orang pasti punya kelebihan dan kekurangan, tinggal bagaimana kita menyikapinya saja supaya ‘kesenangan’ orang lain itu tidak jadi ‘kesedihan atau keminderan’ kita…
    Trima kasih sudah berbagi cerita, sukses ya buat Chusnul dan keluarga :)

  51. 51
      Army Says:

    4 miliar?glek……yah,,,mungkin jalannya tiap orang memang beda2 ya mbak,,,tapi alhamdulillah,,,walau bagaimanapun kondisinya,,,,yang penting cukup+syukur=bahagia,,,,baca posting ini jadi inget nama temen sma saya,,,namanya singkat:SINAMURA,,,tapi arti singkatan itu bagus sekali yaitu sikap nerima murih rahayu,,,,

    Artinya apa, Army?
    Sikap ikhlas/nrimo itu menyebabkan kita bahagia?
    Ah, ah…sungguh nama yang memiliki arti luar biasa…
    :)

  52. 52

    ehm, saya kalau di posisi mba juga bakalan bingung kaya gitu. uang seperti itu ko kayanya gampang banget ya, ko enak aja dapetnya. namun saya yakin dia memperolehnya juga dengan cara yang tidak mudah, sama sperti mba utarakan tadi. so kita jangan hanya mau uangnya saja, tapi juga lihat usahanya.

    dilain pihak, mungkin sebaiknya kita juga mensyukuri apa yang kita miliki, daripada melihat ke atas yang lebih wah. mending melihat ke bawah sodara sodara kita yang untuk makah sehari aja sulit. harus mengais rejeki, kadang pun tak pasti dapatnya. kasihan sekali mereka pada dasarnya… semoga mba di beri kelapangan

    Betul banget, melihat ke dalam diri itu selalu bisa memberi ketenangan hati :)
    Trima kasih sudah berbagi pendapat, seneeeeng banget baca komentarnya…

  53. 53
      DD ARY Says:

    Ibu, justru saya kagum dengan Ibu…
    Bagaimana memanaj hati sebagai ibu rumah tangga untuk menjadi pribadi yang bijak, tau apa yang harus dihindari dan apa yang harus diberikan perhatian penuh, itu sudah suatu hal yang luar biasa.
    Ibu rumah tangga yang berkualitas bukan kuantitas, wah…asyik :)

    Hehe…iya DD ARY, kontribusi kita buat keluarga toh bukan hanya materi…tapi bener, pas mbak itu cerita dengan nada berbunga-bunga nyali saya langsung susut tak terkendali…ah, ah…ternyata minder itu bisa jadi milik saya juga… :P
    Gimana lomba science quark-nya Irfan?
    Semoga sukses dan berprestasi bagus, saya juga ikut bangga lo kalo siswa dari SD Kartika - Garut bisa berprestasi di tingkat nasional kayak gini :D

  54. 54
      Ari Tunsa Says:

    hehe.. dulu saya juga berpikiran begitu, hidup ini indah jika banyak uang.. karena semua hal yang kita butuhkan itu bisa didapat dengan uang. Tapi… ternyata tidak mudah dan tidak enak.. ada konsekuensinya.. saya pernah bekerja di salah satu perusahaan besar di Jakarta, banyak uang, tapi tidak nikmat.. karena saya jarang sholat jamaah :(
    lebih baik sekarang qonaah (menerima apa adanya pemberian dari Allah) sebab hanya dengan itu kita mampu bersyukur dan bisa membuat hati tenang lagi bahagia..
    wah.. salut deh buat bunda.. mau berpinda profesi menjadi ibu rumah tangga.. itu “sesuatu” xixi
    bener lho.. paling suka sama ibu rumah tangga, bukan ibu wanita karir yang sibuk sepanjang hari.. bahkan dikala akhir pekan.. :D
    semoga kelak istriku adalah ibu rumah tangga yang mengurus segala isinya, hihi
    salam

    Diadoain Ri, semoga harapan Ari tentang ibu rumah tangga ini kelak bisa Ari miliki…
    Amiiiiin.
    Ngomong-ngomon bisikin nama calonnya dong!
    ;)

  55. 55
      livyah Says:

    Salam kenal ya Bunda Irma… :)
    q sangat setuju dg penilaian smua yg komentar di sini, bahwa kebahagiaan tdk bs diukur dr banyaknya materi yg kita kumpulkan, tetapi bagaimana kita bs mensyukuri semua nikmat yg telah diberikan Tuhan kepada kita, sy lebih suka dg profesi bunda ir yg sll mndukung suami dimanapun berada, membesarkan anak dg penuh kasih sayang, dan brmanfaat jg utk byk orang :)
    q gk sengaja nemu blog ‘Bintang Timur’ yg Super keren ini, artikelnya sangat bagus2 &sangat menarik utk dibaca..
    tp br skrg berani komen hehehe :)
    sukses sll ya bunda.. & salam hangat :)

    Salam kenal juga, Livyah!
    Betapa senengna saya punya silaturahmi baru :D
    Trima kasih buat apresiasinya Livyah, mudah-mudahan kita bisa salin bertukar pengalaman lewat tulisan-tulisan disini…salam hangat…

  56. 56
      anna Says:

    halo mbak, BW siang ini membawa saya ke tulisan ini.. dan beneran saya tidak menyesal :)

    pertama, saya justru kagum dengan mbak yang berani jujur mengatakan pada dunia via blog ini, bahwa mbak lagi minder setelah menerima telpon dari temennya.

    ya, karena apa mbak.. saya rasa minder yang dirasakan mbak, sebenernya bisa saja terjadi dengan siapa saja. Termasuk SAYA. Ya, saya.. saya pun kadang minder ketika tanpa sengaja mendapati kabar temen2 saya yang jauh di atas saya.. beneran.

    Tapi saya gak berani mengakuinya.

    Namun, ketika saya baca postingan ini, saya sadar, bahwa saya tidak sendiri. Mungkin banyak orang merasakan hal yang sama dengan mbak dan saya.

    Minder itu hal yang lumrah, tapi.. jangan sampe kita lupa dengan hal2 baik yang terjadi dalam hidup kita. Beneran deh, kadang apa yg kita punya, kita sangka biasa aja, buat orang lain adalah sesuatu yang luar biasa.

    Selamat siang mbak :)

    Hai Anna,
    Makasih buat kunungan, komen dan apresiasinya ya…saya nggak nyangka, minder sejenak yang saya rasakan beberapa hari lalu itu ternyata pernah dirasakan juga oleh Anna…hehe, iya…kaget mungkin istilah yang lebih tepat, da entah kenapa rasa kaget itu kok jadi bermetamorfosis ke rasa minder ya…
    Tapi Insya Allah sekarang sudah nggak kok.
    Saya juga menyadari bahwa tidak ada kebahagiaan sempurna yang dirasakan manusia, lebih di satu sisi, pasti ada kurang di sisi yang lain. Iya kan, Anna?
    :D

  57. 57
      uyoy4hy4 Says:

    saya sih lebih memilih keluarga ya mbak,,,seandainya nasib berpihak pada saya. Saya ingin menjadi PNS dimana waktu untuk bekerja tidak terlalu lama dan saya bisa memanfaatkannya utk keluarga. …

    Betul Uyoy, sepertinya keluarga adalah harta kita yang paling berharga…
    :)

  58. 58
      intan rawit Says:

    mbak, saya pikir minder itu wajar dan semua orang pasti pernah merasakan hal yang sama. Tapi kembali lagi pada konsep kebahagiaan yang tidak bisa dibeli dengan uang, uang hanyalah alat tukar dan nominal hanyalah angka. Percuma dengan uang banyak tapi tidak bersyukur dan orang tersebut selalu merasa kurang terus dan selalu mengejar jumlah uang yang lebih dari sekarang…

    bersyukur memang inti dari kebahagiaan ya mb, saya bangga dan ingin bisa mengikuti jejak langkah mb irma dalam memberikan kontribusi yang penuh untuk keluarga.

    Aduh Intaaaaan, kenapa saya terharu baca komen ini?
    Makasih buat apresiasinya ya, saya yakin Intan juga akan bisa memberikan perhatian, kasih sayang serta dukungan terbaik buat keluarga.
    Uang memang hanya salah satu sarana yang bisa bikin kita bahagia, bukan satu-satunya cara…dan, sama…saya juga sependapat dengan Intan, bahwa bersyukur itu memang inti dari kebahagiaan…
    :D

  59. 59
      dey Says:

    Saya termasuk orang yang minder Mbak, apalagi soal materi seperti itu. Tapi kalau ngeliat Fauzan, kok mindernya jadi hilang ya … hehehe. Soalnya kalau ngeliat dia, bawaannya seneng walau kadang berulah .. :D

    Iya Dey, pasti…keluarga itu pasti segalanya buat seorang ibu rumah tangga :D

  60. 60
      Awan Says:

    Beberapa kali kesini ternyata Bunda belum update ya… hehehhehe
    Lagi Sibuk kah Bunda?
    Smg sll Sehat ya Bunda :)

    Iya Awan, begitulah kira-kira…makasih ya kunjungannya!
    :D

  61. 61

    menarik ceritanya ya…sukses slalu yaaa…:)

    Trima kasih banyak buat komennya… :)

  62. 62
      anny Says:

    Mba Ir, blm update ya hihihi saya udah bolak balik nih kesini :D

    Masa sih, mbak?
    Maafkalnah kalo saya bikin kecewa… :(

  63. 63
      r3tno Says:

    Mindernya gak lama kan Bu? Bisa dibayangin gak Bu berapa banyak ibu2 yang minder saat baca tulisan-tulisan Ibu di Blog ini :D Menjadi keren gak berbanding lurus dengan seberapa tebel dompet kita koq Bu hehehe..

    Ahaaaa…setelah baca kome ini, rasa percaya diri saya rasanya jadi naik lagi beberapa tingkat…tengkyuuuu d R3tno, makasih banget buat dorongan semangatnya selama ini :D

  64. 64
      Dwi Anggraini-Tri bharata Says:

    test

    Silahkan masuk, d Dwi ;)

  65. 65
      Dwi Anggraini-Tri bharata Says:

    assalamualaikum ibu…

    ibu juga kan sukses…. sebagai penulis, sebagai istri, sebagai ibu, sukses juga sebagai inspirator (minimal buat saya bu :D).

    kalau ibu sih beda, rela melepas peluang Miliaran demi keluarga… gak semua orang bisa lakukan itu dengan lapang dada. Salut!

    Aduh d Dwi, saya tersanjung baca komen ini!
    Pilihan kita kadang tidak mudah, tapi saya juga terus meyakinkan diri bahwa pengabdian saya buat keluarga, tak akan sia-sia…sukses juga di Morotai, saya bangga d Dwi sekarang bisa menjadi seorang Ketua…satu pesan saya, lakukan yang terbaik buat anggota, maka Tuhan akan memberikan yang terbaik buat kita.
    Insya Allah…
    *peluk erat-erat, soalnya kangen banget*
    :D