Saya lupa kapan tepatnya, saya menaruh perhatian cukup besar terhadap alat tukar resmi di negeri ini.
Uang adalah sesuatu yang dicari setiap orang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari atau bahkan berinvestasi. Begitu juga saya, eh…suami saya. Sebagai isteri yang baik *ehm,ehm*, saya juga berusaha agar uang yang kami dapat bisa membawa berkah dan kebahagiaan.
Cara yang tepat menurut saya adalah dengan menyisihkan sebagian uang tersebut dan memberikannya secara konsisten kepada mereka yang membutuhkan. Sedang banyak rezeki atau tidak, berbagi itu kan tidak boleh berhenti. Hanya prioritas dan jumlahnya saja yang harus disesuaikan.
Lalu, apa hubungannya dengan uang baru?
Sebentar.
Sebelum sampai ke topik itu, saya juga ingin menceritakan ‘kebiasaan aneh’ suami yang sudah sukses ditularkan pada saya.
Apalagi kalau bukan cara menyusun uang kertas di dalam dompet!
Ya, itu dia.
Kalau suami cukup puas hanya dengan menyusun rapi uang-uang tersebut berdasarkan nilai nominal terbesar sampai terkecil saja, saya justru lebih parah lagi.
Uang yang ada di dompet saya selain harus disusun berdasarkan nilai nominalnya, juga harus menghadap ke arah yang sama. Artinya wajah-wajah pahlawan nasional yang ada di lembaran uang tersebut harus disusun searah berdasarkan sisi mata uang dimana wajah mereka berada.
Ribet banget kan?
Jadi jangan heran, kalau suatu saat melihat kami berdua sibuk membongkar dompet kami masing-masing setibanya di rumah setelah heboh berbelanja. Selain menyobek dan membuang bon pembayaran, biasanya kami juga sangat tekun memilah uang mana saja yang layak masuk dompet atau tidak.
Uang yang amat lecek dan bau, biasanya saya taruh di tempat tersendiri. Bila sewaktu-waktu membutuhkan, saya tinggal mengambilnya di tempat yang biasa. Seringnya sih buat belanja harian atau kebutuhan-kebutuhan kecil yang tak terduga datangnya.
Kalau suami beda lagi.
Dia justru memberikan uang-uang tersebut kepada saya dengan pesan khusus agar ditaruh di dasbor mobil untuk bayar tol dan parkir. Eh, kalau ada petugas pintu tol dan tukang parkir yang baca tulisan ini, jangan protes ya!
Memang sudah takdir, kalau uang lecek dan bau itu biasanya memiliki nilai nominal tidak terlalu besar. Kalau tidak seribu, dua ribu, lima ribu, mentok-mentoknya ya sepuluh ribu.
Seandainya saja uang lecek dan bau yang dikasih suami itu nilainya selalu lima puluh ribu atau seratus ribu, hoho, saya pasti sudah kaya raya…
Balik ke topik.
Kami berdua, saya dan suami maksudnya, adalah pencinta uang kertas baru. Bukan apa-apa. Kalau ada undangan nikah, khitanan atau bahkan kebetulan perlu memberikan hadiah uang pada seseorang, kita berdua selalu sibuk mencari uang baru sebagai hadiah.
Kesannya jadi lebih menghargai orang yang kita beri.
Apalagi saya pernah mengalami satu kejadian yang membuat saya geleng-geleng kepala.
Sudah menjadi tradisi kalau ada teman satu organisasi yang pindah, maka kita akan memberikan sejumlah uang untuk dibelikan cindera mata bagi yang bersangkutan. Jumlahnya sudah pasti.
Kalau dulu uang tersebut biasanya dibelikan perhiasan atau kain batik mahal, maka sudah beberapa tahun terakhir ini uang tersebut diberikan dalam bentuk uang tunai yang dimasukkan kedalam kotak cantik agar kesan uangnya tidak terlalu vulgar.
Berhubung itu uang iuran, maka nilai nominal dan jenis uangnya juga beragam. Ada yang nominalnya besar, ada juga yang lebih kecil. Ada yang kertasnya licin, ada juga yang lecek parah.
Awalnya saya cuek.
Apalagi saat itu saya masih yunior. Saya hanya ikut iuran *dengan uang kertas yang masih baru dan kinclong* lalu menyerahkannya pada yang paling senior untuk disatukan dengan uang teman-teman lain.
Begitu melihat kalau uang itu hanya digabungkan begitu saja, saya terkejut bukan kepalang. Ya ampun, kesannya kok iuran banget sih? Mbok ya ditukar dulu dengan uang dengan nilai nominal sama gitu, syukur-syukur kalau uang tersebut kertasnya masih agak baru…
Ini tidak. Pokoknya digabungin, dimasukin amplop dan kotak, beres.
Setelah hampir menjadi senior, kebiasaan itu langsung saya ubah. Biasanya saya akan menyiapkan terlebih dahulu sejumlah uang baru dengan nilai nominal sama. Nanti kalau ketemu dengan teman-teman yang akan iuran, mereka tinggal memberikan uangnya saja pada saya karena uang yang mau diberikan tadi toh sudah disiapkan.
Beres kan?
Entah kenapa saya kok sedetail ini. Saya juga bingung.
Hal yang dianggap orang lain biasa, buat saya justru menjadi sesuatu yang luar biasa. Jangan-jangan saya yang berlebihan kali ya. Atau justru orang lain yang kurang peduli?
Entahlah…
Yang pasti saya merasa lebih menghargai orang lain kalau saya bisa memberi dengan uang kertas yang masih bagus. Apalagi kalau nominalnya juga besar…wah, itu sih jangan ditanya…penghargaannya bisa jadi berlipat ganda!

pertamax duluuuuuu….
Ok, ok, dicateeeeet!
28 April 2012 @ 09:59hehe.. saya juga seperti bunda, menata uang menghadapnya harus sama. bukankah di bank juga begitu? hehe.. *alesan
saya kira ada informasi uang jenis baru lagi
Hohoho, nggak Ri…judulnya ternyata menipu ya!
28 April 2012 @ 10:01Toss dulu dong kita…
aku dapet premium setelah bibi
hihi
Iyaaaa…solarnya nih yang belum diambil…
28 April 2012 @ 10:02ya ampuuuuuun….
inih emang beneran ribet sih mbaaaa…
masa sih mba Irma se’aneh’ ituuuu???
beneran nih?
Beneran inih?
segeralah kembali ke jalan yang benar ya mba…hihihi..
ckckck…*geleng geleng kepala*
Haiiiayyyaaaa…ini namanya rapi, Ryyyyy…amat sangat rapi sampe terkesan ribet…hihihi…iya, iya, nanti deh saya ajakin mas Budi juga biar segera kembali ke jalan yang benar…
28 April 2012 @ 10:03Aku gak pernah terlalu merhatiin sih mba…
dan sebenernya siiiih…
aku jarang punya uang cash banyak banyak tuh mba,
kalo ada pun biasanya di taruh di laci aja,
dan kalo bepergian biasanya nge debit gituh,
atau dadakan ngambil di atm…
soalnya kalo gak gitu..duitnya suka abis terus sih mbaaa…hihihi…
Jadi biasanya dompetku cuman sekedar pajangan ajah, isinya kartu dan bon doang…hihihi…
Abaaaaah, ini Erry buka rahasia nih, ngebocorin isi dompet itu kan sama juga dengan ngebocorin rahasia negara, Ry…rahasia kepala keluarga khususnya…hihihi…siap-siap perang dunia ya!
28 April 2012 @ 10:05Jadiiiii…
maksudnya…
mba Irma buka jasa penukaran uang baru gituh kali yah…hihihi…
tapi kalo gocap-an atau cepe-an mah…biar selecek apa pun daku selalu siap menerima sih mba…hihihi…
eh tapi ceban-an atau noban-an juga tetep aku terima siiih…hihihi…
*mencoba nge tes kemampuan mba Irma dalam bahasa dagang…hihihi…*
Ampun deh Ry, nggak ngertiiii!
28 April 2012 @ 10:09Apa itu noban?
Ceban?
Uang receh ya?
Sorry ya Ry, saya cuman ngerti gocap sama cepe doang….hihihihihi *kabur pake helm*
hihihi, sama dengan erry, saya di dompet gak pernah menyimpan banyak uang, hanya buat sehari2 aja.
Kalau pergi2 yang lsg ngedadak ke ATM.
Alasannya juga sama, duitnya gampang habis kalo ada di dompet ,, qeqeqeqe ..
Kalau sedang rajin, uangnya sy susun rapih seperti mbak Irma, berdasar nominal & menghadap ke arah yg sama. Kebiasaan dulu waktu kerja juga sih ..
Oya?
28 April 2012 @ 10:25Sebenernya isi dompet saya juga nggak pernah banyak kok, Dey…
Alasannya juga sama, uang kalo disimpen di dompet memang suka cepet habis. Sama juga dengan saldo di ATM yang cepet banget turunnya karena sering diambil…hehe
hihii..idem..sama komen erry dan t dey..
gak pernah naro banyak uang di dompet..
terkecuali buat bensin dan tambal ban tak selipin di STNK hahaaa…
aku tuh ga mau pegang uang Mba, mendingan di kasih aja..
soalnya jatah sebulan suka abis di minggu ke 2 wkwkwk…..
kesananya pada puasa tuh hihi
Hohoho…Nchieeee, kalo dikasih gitu susah dong ‘berkreasi’ dengan gaji suami…
28 April 2012 @ 11:05Tapi sama kok, kalo udah ngomongin uang di dompet saya juga suka tersipu, apalagi sekarang pas tanggal 30, duuuuh
Maas Budii rajin bangget..
Persis si Aa begitu loh,..
Mo uang baru uang lecek, di taro di dompet ..
Berhadapan sama gitu deh pahlawannya..
*ceritanya mo baris ya* hihi..
udah kebiasaan katanya Mba..
Iya Nchie, kayaknya saya juga udah ketularan tentara, uang aja sampe dibarisin…
28 April 2012 @ 11:10Kayaknya uang merasa terhormat banget kalau masuk ke dompet Mbak Irma. Dan kagum pada ketekunannya memberi perhatian detail pada hal-hal kecil, seperti menysun uang berurut berdasar nilai nominalnya, terus di jejer rapi menghadap satu arah.
Ngmong2 kalau bosa menyusunnya transfer saja ke Serpong ya, biar nanti saya bantu
Hihihi…Alhamdulillah sampai detik ini belum pernah bosan, mbak Evi…jadi nggak bisa ditransfer deh!
28 April 2012 @ 12:17Sama mbak cara nyusun uang dalam dompetnya, hehe…
Iya uang lecek yang sampai ketanganku biasanya nilainya seribu, 2 ribu… jarang dapat uang 100 ribu yang lecek, hehee…
Tapi bener lho Mbak, aku juga kalu dikasih uang yang baru oleh seseorang rasanya kok beda kalu dapat uang yang dekil walau sama-sama 50 ribuan, berasa lebih senang dech kalu dapat yang kinclong
Toss dulu dong, Yunda…kita rupanya sama-sama penggemar uang kinclong…
28 April 2012 @ 12:39Sip banget…
Hehehe
28 April 2012 @ 12:56Berdasarkan pengalaman pribadi, memang lebih senang kalau dapat uang baru, jadi…mungkin seperti itu juga perasaan yg menerima sumbangan / bantuan dengan uang baru, akan lebih senang
28 April 2012 @ 14:08Ah, ngomong2 tentang kesukaan terhadap lembar uang baru ini, jadi ingat pengalaman wkt kuliah..*nabung bahan postingan,terima kasih mbak *
woww..mb Bintang orangnya apik yach..sampai2 uang juga disusun “searah jarum jam” (maksudnya susunannya beraturan dari yg terkecil hingga terbesar…) udah gitu sisi2nya hrs sama lagi..hehe
btw kalo urusan uang hadiah ke orang lain, aku juga kyknya gimana yach kalo kasih uang yg kumal dan lecek kyk gag menghargai sekali
Weits, ada juga kesamaan kita Bens, soal ngasih uang baru ke orang lain itu…ehm, kayaknya memang lebih baik ngasih uang baru deh daripada ngamplopin uang lecek dan bau…hehe
28 April 2012 @ 15:28Akun juga pecinta uang bu Ir, gak pedulu baru ataupun lama yang penting bisa dipakai nempur beras sekilo
Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan
Nempur?
28 April 2012 @ 15:36Apa bedanya sama nempil, mas Sugeng?
Hihi…beda-beda tipis kali yaaaa…
Sip.. kayaknya ini memang satu kebiasaan baik yang layak dicontoh nih mbak.
menghargai orang lain adalah penghargaan besar pada diri kita sendiri kan?
kalau kita ingin dihargai maka mulailah dengan ‘memuliakan’ orang lain, apalagi jika orang itu telah memberi kita bantuan, pastinya akan menjadi prioritas yang tidak boleh disepelekan seperti sepelenya uang lecek dengan nominal kecil itu tadi. hehe..
makasih pelajaran berharga ini ya mbak..
Sama-sama Iyha, trima kasih juga buat komen yang sagat menyenangkan ini …
28 April 2012 @ 16:04suka merapikan uang, tapi hal itu bukan yang paling penting sih bun.. yang terpenting mah, uangnya ADA. gituuhh.. haha
Hehehe, iya ya Ri, kalo uangnya nggak ada, apa yang harus dirapikan ya?
28 April 2012 @ 16:13KTP?
SIM?
ayahnya Rani paling seneng nyimpen uang baru. kenapa? alasannya simpel saja. biar gampang kalau mau setor tunai. maklumlah kami sedang belajar bisnis yang seringkali berurusan dengan setor menyetor uang tunai atau sebaliknya tarik tunai..
Oya?
28 April 2012 @ 16:25Smoga sukses dengan bisnis barunya, Dyah
wuih, kok bisa sih rajin banget gitu Mbak Ir??
aku mirip deh sama Bibi Erry ….
jarang ada uang banyak didompet.. hehehe…
paling2 hanya utk keperluan beli sayur harian saja…
(mau dong mbak dirapihin uangnya) hahaha
salam
Boleh…boleh…mau dirapihin model apa nih?
28 April 2012 @ 16:55Duh, mbak. Kalo masih banyak uang leceknya kasi aku aja. Mo baru atau lecek tetap bernilai. #Berharap dengan mata berbinar-binar. He he he …
LEMARI CINTA
Membantu Kamu dan Doi Selalu Tampil Beda Dalam Setiap Suasana
Hehehe…uang lecek di rumah saya juga tetep bermanfaat kok, nggak mubazir…
29 April 2012 @ 11:09aku juga nyimpennya sama seperti mbak,
cuma nggak harus yang baru masih kenceng asal nggak lecek2 amat,
yg lecek ditukar sama bendahara Puskes buat setor ke bank
dan suka nyimpan di selipan untuk darurat, kadang2 malah lupa eh pas ketemu lagi serasa dapat harta karun he.. he…
Idiiiih, sama mbak Monda…saya juga suka nyelip-nyelipin uang di bagian dompet yang tersembunyi, dan rasanya memang seneng luar biasa kalo kita ‘nggak sengaja’ nemuin uang itu tadi…hehehehe…
29 April 2012 @ 15:33Mbaaaak….
Rajin amat siiiih…..?
Kalau aq justru kebalikannya mbak
Agak jorok kalau naruh uang
Apalagi uang kembalian selalu aq taruh sembarangan,kadang di dompet,tas,celana…ah berceceran deh pokonya mbak *parah ya?*
Tp positifnya pas lagi kekurangan uang aq sekonyong-konyong suka nemu uang gitu,jd berasa ditambah nyawanya mbak….hihihi,
Huuuaaaa..berasa dapet nyawa baru ya, Diandra?

29 April 2012 @ 18:42Suamiku paling sering ngembat uang receh plus ribuan
Alasannya ya itu bwt parkir + pa ogah …
Setiap uang kembalian ?? aq taruh diatas lemari pasti ngilang deh….
Ngilangnya kan diambil suami Diandra, jadi masih bisa dimaklumi…
29 April 2012 @ 18:47sejak jarang buka greader, jadi jarang bisa pertamax dimarih
gpp deh yang penting masih mampir ya mbak
soal uang, saya pun kurang lebih begitu, kecuali urusan UANG BARU. Saya justru ngeman2 uang baru, karena saya tahu sekali uang yang masih kinyis2 itu beredar maka dia akan menjadi lecek bin kumal, dan itulah yang saya tidak rela.
makanya saya cuma temen sama uang baru kalau pas lebaran saja.
tapi soal pengaturan uang, saya memang teliti, seperti mbak Irma juga, kepala ketemu kepala. semua yg kerja juga dititahkan seperti itu. tidak suka kalau kepala ketemu kaki hahaha … alhamdulillah mereka pun bisa mengikuti jejak saya membuat setoran dengan rapi sesuai urutan nominal.
entah kenapa, kalau liat uang, nominal berapa pun, tapi kalau dilepit tidak ketemu kepala sama kepala, rasanya gatel aja tangan ini hahaha … ribet yah? Emang!
tos dululah kita mbak hehehe
Hihihihi…berarti saya juga kayaknya berbakat jadi wanita pebisnis kayak niQue dong…*ge-er abis*
30 April 2012 @ 09:38Ayo niQue, biarpun beda profesi ternyata kita punya passion yang sama buat menyusun uang
Ngomong-ngomong, apa itu greader?
Semacam alat yang bisa ngasih tau kalo ada potingan baru di blog orang lain yah?
jadi inget wkt sy resign dr kantor sebelumnya, dpt gepokan uang baru. rasanya seneng sekali
soal merapihkan uang di dompet dgn arah yg sama, jd inget joke seorang comic, kebayang kalo para pahlawan itu misal patimura “berciuman” dengan pahlawan laennya di dalam dompet krn hadap2an.
Hehehehe…saya malah baru baca joke ini, Depz…dan saya yakin, mulai sekarang saya akan lebih hati-hati lagi kalo nyusun uang, biar mereka nggak ‘berciuman’…
30 April 2012 @ 10:09kekekeke mbaak kok dirimu setipe dengan suamiku :)) di amah dompetnya juga rapai, kalo dompetku pasti berantakan hihihi
trus kapan aku ketularan rapi ya
Tenang Yuk, semua akan indah pada waktunya…
30 April 2012 @ 10:32iya bund….
lebih puas klo dikasih dengan uang baru y..:)
Bener mamairma, rasanya lebih gimanaaaa gitu…
30 April 2012 @ 12:39rajin banget ya mbak Irma menyusun uangnya. saya kadang terburu2 asal masukin gitu aja didompet
Saya juga suka keburu-buru Lidya, apalagi kalo pas bayar di kasir, trus ada yang antri di belakang…tapi begitu sampe rumah, saya pasti sibuk benah-benah buat ngerapiin uang yang tadi dimasukin asal-asalan…
30 April 2012 @ 13:58*kayak kurang kerjaan memang*
Hueeehehehehe…
Mba Bintang, ini tarafnya ga sampe ke OCD kan ya?
Hihi.. Kalau saya dahulu memang juga suka mengatur uang dari besar ke kecil dan menghadap ke arah yang sama, cuma lama-lama kalo dipikir juga kasihan para pahlawan di uang itu, jadi ga bisa mengenal satu sama lain. Jadi ya akhirnya suka-suka uangnya sajalah mau menghadap kemana.. *dasarsayapemalas.
Hehehehehe…ketawa dulu boleh kan, Dan?
30 April 2012 @ 15:44Ngelesnya itu lo, bisaaaaa aja…..
mba Irmaaaaa…
si Idep menang ipad tuuuuh…
*selalu saja mampir untuk menyebarkan gosip…hihihi…*
ckckck…
dia memang selalu ingin menyaingi aku sepertinyah…hihihi…
Mari kita serbu dia beramai ramai mba
Oyaaaaa?
30 April 2012 @ 18:00Dalam rangka apa, Ry?
*selalu ketinggalan berita*
Heeee mbak…sejak smu sampai sekarang saya lebih suka menata uang dengan wajah pahlawannya menghadap keluar, meskipun itu uang seribuan, pokonya harus tertata. Kalau dapat kembalian, saya biarkan dulu, nanti setelah di rumah saya susun kembali.
Dan saya lebih suka pegang uang yang nominalnya besar, karena pasti jarang belanja heeee…kalau udah pecah kecil-kecil…ngak lama habisssssssss
Waduuuuuh, ini sih sama banget dengan saya…uang dengan nominal lecek dan kecil, cepet banget saya habisin. Kalo udah kepepet, baru deh uang dengan nilai nominal besar itu saya keluarin juga, Bli…
30 April 2012 @ 19:24mba Irmaaaaa…
gak bakalan dikasih tau ah…
Idep menang ipad gara gara apaan…
kayaknya mah gara gara sirik aja ama akuuuuu…
biarin mba Irma penasaran ajaaaa….hihihi…
*sayah memang kejaaaaam*
Hihihihi…saya udah tauuuuuu…
1 Mei 2012 @ 10:31Barusan abis ninggalin komen disana, ada Mechta yang ngucapin selamat juga, trus dikira-kira sendiri aja Idep menang apaan…hihihi…yang jelas menang sebuah lomba kan, Ryyyy?
*apatis tingkat tinggi*
tapi kejamnya gak akan lama lama kok mbaaa…hihihi…
beritanya udah heboh banget di FB tuh mbaaaa…
*teuteup gak ngasih jawaban…hihihi…*
Beritanya heboh banget di fb?
1 Mei 2012 @ 10:35Apalagi sekarang kan ultahnya Idep, Ry…berita menang dan yang ngucapin ultah itu kayaknya jadi overlapping deh…hehehe…tetep nggak mau maksa Erry buat ngasih tau lomba apaan yang dimenangin Idep
kasih tau aja deeeeh…
gak tega soalnyaaa….hihihi…
Idep menang survey online dari blogdetik mbaaaa….
*pada dasarnya aku memang orangnya gak tegaan mba…hihihi…*
Hihihihihi…akhirnya nyerah juga kan?
1 Mei 2012 @ 10:38Erry yang saya kenal memang orang yan baik, gemar beli teh botol dan paling hobby numpukin baju yang udah dicuci buat disetrika…
Mbak Irma..
boleh gak, aku minta dikomen di postinganku yang ini?
http://advertiyha.blogdetik.com/2012/04/25/teruntuk-pelangi-dunia/
kayak pengen denger komen mbak Irma, yang punya bidadari cantik..
salam sayang mbak,
makasih sebelumnya…
Aha Iyhaaa…apa sih yang nggak boleh buat Iyha?
1 Mei 2012 @ 12:10Saya kesana sekarang ya!
Menurutku mbak irma itu orangnya detil banget, sehingga sangat memperhatikan keseragaman..
Aku juga punya konsep detil yang sama mbak, hanya saja bukan pada uang, tapi dalam hal menamai folder di windows. Misalnya,
1. Foto
2. Music
lalu dibawah folder 1.Foto aku buat
1.1. Masa Sekolah
1.2. Masa Kuliah
dst, jadi kayak nulis makalah, he he he
Wah, wah…hebat!
1 Mei 2012 @ 12:40Mungkin kalo saya sedikit lebih canggih, saya juga bakal gitu Surya, tapi berhubung begini bisanya, yaaaa…nyusun-nyusun uang di dompet aja dulu deh…hehehe…
Sebetulnya saya juga termasuk detail kalo nyusun pernak-pernik rumah, buku dan tanaman. Semua harus pas dan enak dipandang *minimal menurut saya*…tetep parah abis juga kan, untunglah mas Budi dan Risa sabar menghadapinya…
Bu Iiiir, aku ga serapi itu sih. Paling menyusun uang sesuai nominalnya di dompet ‘betulan’, maksudnya dompet yg bener di situ ada KTP, ATM dan semacamnya. Nominal terkecil biasanya 20 ribuan.
Nah, kalo yg dibawa itu, kembalian belanja misalnya, aku masukin ke dompet lain tempat receh2an, dan ga diatur, beneran kek ‘dompet sampah’ aja semua dimasuk2in. Yg ini biasanya jd bahan omelan suami hihihihihi
Hihihihi…kita memang selalu punya ‘tempat sampah’ khusus buat uang ya Orin, kalo saya biasanya tempat buat uang lecek dan bau itu tadi…
1 Mei 2012 @ 14:05Jeng Ir, memang apik dan resik tercermin pula dalam penataan uang di dompet. Untuk cinderamata hasil iuran, setuju jeng Ir, lebih sreg gitu menghaturkan lembaran rapi meski tidak selalu baru dan nominal yang telah ditukar tidak berlembar2. Salam
Iya mbak Prih, kesannya lebih menghargai orang yang kita beri uang itu tadi…betul kan, mbak Prih?
1 Mei 2012 @ 20:50Mbak Irmaaa apa kabaaar? Pindah surabaya yaa? Maaf, saya ketinggalan berita
Hahaha. Iya mbak Detaiil, tapi nggak ada yang salah sih kalo rapi-rapi begitu. Saya kebalikannya parah berantakan, uang lebih banyak ngumpet di kantong celana karna selalu lupa naro lagi di dompet (ato males?) mbaak. biasanya duit2 kembalian. Di dompet juga duitnya sedikit, karna seperti Mbak Erry, manfaatin ATM. Kalo soal uang baruu, baunya saya suka sih :))
Cuman suka baunya aja, Malaaaa?
Uang barunya nggak suka?
Ah, ah…
Mal, kita ketemuan yuk, biar Erry makin penasaran buat datang ke Surabaya. Masa cuman Korea aja yang jadi impian, sekali-kali Surabaya juga boleh dong jadi cita-cita buat didatengin…hihihi
4 Mei 2012 @ 14:38*pas jawab komen ini, Erry lagi wawancara buat ke Korea lo, sukses ya Ryyyyy*
Ini special buat mbak Irma ya…
http://advertiyha.blogdetik.com/2012/05/03/menjadi-bintang-dengan-sikap-ketimuran/
makasih menginspirasi saya mbak..
salam sayang
Iyhaaaa…
Saya baru baca tulisan itu pagi ini, duuuh…langsung speechless!
Trima kasih buat atensi dan apresiasinya Iyha, semoga kita selalu diberi kemudahan untuk menjadi sosok yang bermanfaat dan membuat banyak orang bahagia.
Amin.
Oya, selamat juga buat Iyha, posting itu kata Erry jadi salah satu pememang di blog-nya mbak Anny ya!
4 Mei 2012 @ 18:03Mba, apa khabar? maaf baru sempat berkunjung lagi, duh dapat khabar Mba Irma udah gak di Garut hiksss sedih
Oh ya, untuk etika nya kasih uang iuran saya setuju dengan ulasan Mba Irma diatas, setuju sekali kalau baiknya uang2 iuran itu ditukarkan dulu dengan bentuk yg lebih pantas
Kalo gitu mau ketemu Mba Irma musti ke Surabaya ya sekarang? Hehehehe
Iya mbaaaak, mbak Anny harus datang kesini…atauuuuu, saya aja apa ya yang datang ke Jakarta?
5 Mei 2012 @ 06:28Mba Irma, ini ada titipan dari Iyha
http://advertiyha.blogdetik.com/2012/05/03/menjadi-bintang-dengan-sikap-ketimuran/
Mbaaaak, saya bener-bener terhau baca posting ini…
5 Mei 2012 @ 06:31Kata Erry, posting Iyha ini malah jadi salah satu pemenang di blog Mbak Anny?
Duh, makin terharu deh…
Apapun, trima kasih buat perhatiannya mbak, salam sayang buat Sekar
saya minta uangnya bu..baru atau lecek gak pa..pa dehhh hehehehe…mantap
Hehehe…diambil sendiri kesini yuk!
5 Mei 2012 @ 10:34Bunda iRma apa kabar?
Hm…ternyata udah mulai merapat (ke Surabaya maksudnya, he he he)
Hani juga punya kebiasaan seperti itu, ditambah lagi kalau uangnya jelek Hani gak mau masukin ke dompet
Jadi, kalaupun dikasih kembalian biasanya masih sempat bilang “kok jelek? yang bagus dunk mbak :D” kalau yang udah biasa sih udah hafal…
Bukan apa sih,kan berusaha memperlakukan uang dengan baik…
Sama Haaaan, ternyata kita sama!
5 Mei 2012 @ 16:29Peluk dulu dong, kangeeeen banget baca komen Hani disini lagi…Alhamdulillah saya sehat-sehat, smoga Hani juga demikian. Dan diapa tau, suatu saat kita bisa ketemuan…hehe, kan udah deket sekarang
salam kenal mbak.. kunjungan perdana.. ^^
Sy pernah nyobain kyk gitu mbak.. Nyusun uang di dompet, tp gagal terus.. Emang gak apik nih sy kayaknya
Oyaaa?
6 Mei 2012 @ 16:33Nggak apa-apa, saya juga suka nyusun uang itu karena ketularan suami kok, dudlu sih nggak pernah sama sekali, Ke2nai…
tante kayaknya di surabaya lebih jarang nulis blog, sibuk ya tante?

wah uang baru bagus-bagus ditaruh kotak jadi kayak mahar nikahan deh
kalo mama saya ada uang kecil seribuan sama lima ratusan biasanya disimpen,kalo saya pulang dikasih ke saya sampai satu tas kecil gitu, buat naik angkot
Hihihihihi…ibunya Nina hebat, ngerti banget ya Nin kebutuhan anak kost…
7 Mei 2012 @ 11:59Hah?
Kayak mahar?
Jangan-jangan Nina udah persiapan mau nikah nih, nulisnya kok udah nyerempet-nyerempet kesana…
*langsung konfirmasi ke Risa ah*
mba Irmaaaaa…
waduh….
inih maksudnyah pindahan lagi atau gimana sih mbaaa…hihihi,…*komen songong*
aku rinduuuuu…
Hohohoho…iya, mindah-mindahin barang karena tembok rumahnya mau dibenerin, Ryyyyy…saya juga kangeeeeen!
7 Mei 2012 @ 15:25mbak Irmaaaa…..
apa kabar…?
kangen rasanya kalau beberapa hari tdk menyapa
Aduh Diandra,
7 Mei 2012 @ 18:37Maaf banget saya juga udah lama nggak kesana…Diandra sehat-sehat kan?
Sama Di, saya juga sono pisan nih…
Kadang-kadang, saya juga begitu Bunda. Baiiiik banget sama duit. Heheh.. Tapi kalau lagi banyak kebutuhan, mulai deh uang semua masuk tabungan dan baru ditarik kalau ada yang perlu. Selainnya, dompet sengaja dibiarin berada pada mode : hampir kosong
Hehehehe…kalo dompet hampir kosong, biasanya kebutuhan kita juga jadi nggak banyak kan, Riza?
7 Mei 2012 @ 21:51bunda irma suka benerin duit toh….wah rajin sekali, ini juga mulai ngerapiin duit sesuai pahlawan dan yang paling kecil kebesar tapi banyaknya kecil nya, heheheheh
Huuuaaa…nanti juga posisinya akan kebalik, Niar…di dompet Niar akan lebih banyak uang besarnya daripada kecilnya…percaya deh
8 Mei 2012 @ 16:21Saya tak pernah menyusun uang sedemikian rapi bu.
Lagian, uang saya selalu baru, yang merah2 itu. Makanya kalau kasir minta uang kecil selalu saya jawab \ ya itu uang saya yang paling kecil, emangnya masih ada uang yang lebih kecil dari 100 rb \
ha ha ha ha ha…pensiunan tetap nggaya kan.
salam hangat dari Galaxy
Hehehehe…Pakde bisa aja!
10 Mei 2012 @ 13:44Nyesel juga waktu saya sowan kemarin saya tidak sempat membuktikan hal ini
Pakdeeee, bukunya sudah tamat saya baca lo, bagussss…saking penasarannya, buku itu habis hanya dalam 3 hari…buat saya itu termasuk cepet banget, Pakde…
Saya gak suka pke dompet mbak, kesannya ribet gitu kemana-mana harus nenteng-nenteng dompet, paling banter sih saya bawa tas kecil dan duitnya di jeblos-jeblosin disitu, biar gampang klo perlu tinggal narik-narik aja..
Tapi tetaplah.. klo ada duit baru yang masih kinyis-kinyis saya simpan di amplop biar gak kelipat..
Tuh kan, uang baru ternyata tetep kita perlakukan beda ya, Yun…
11 Mei 2012 @ 11:42mbak Irma apa kabar?
Lidyaaaa…
12 Mei 2012 @ 13:11Alhamdulillah saya baik-baik, baru bisa mulai buka komputer pagi ini.
Maaf sekali saya lama nggak berkunjung kesana
Assalamualaikum
salam kenal bunda ir.. saya pemula di dunia perblogan,hehe
saya kenal bunda ir lewat tulisan mba iyha.. trus langsung ke tkp dan sudah beberapa membaca postingan bunda..bagus sekali tulisan2 bunda..dan banyak menjadi inspirasi buat saya.
ngomong2 uang baru..kebiasaan itu jg saya lakukan loh..ibu saya dari kecil mengajarkan untuk menyusun uang dengan urut,rapi,dan jangan sampai ada yang terlipat penggirannya. karna ibu saya seorang pedagang dan juga sering menjadi bendahara, beliau juga menularkan cara ini kepada pedagang yang lainnya. (wah jadi nulis panjang bgt bgini). maaf bila tidak berkenan.
^_^
Waalikum salam Chusnul,
Salam kenal kembali…
Ssst, baca komen ini saya langsung ngebayangin Nurul dan Ibu yang sedang menyusun uang dengan rapi lo, bener…uang itu kan memang harus dipelihara oleh setiap yang memegangnya karena uang itu alat tukar jangka panjang yang ‘dipinjamkan’ oleh negara…hehe, karena kita nggak bisa bikin uang sendiri, jadi memelihara uang yang sedang ada di tangan kita dengan baik itu kayaknya jadi sesuatu yang harus kita lakukan deh
Selamat menyusun uang, Chusnul…salam hormat buat ibu ya!
14 Mei 2012 @ 11:17Ning nong..
Ohh belom Apdet..
sstt..lagi bobo mba Irma nya.
*nanti balik lagi
Hihihi…nggak Nchieeee, lagi jawab komen Nchie niiiih….
14 Mei 2012 @ 21:16iya nih
saia juga suka uang baru. . .
tapi jadi agak sayang buad di belanjain
cz jarang2 juga dapetnya, hehehehe
Hehe, untung jarang-jarang ya, kalo keseringan dapet uang baru, Isaura malah jadi jarang belanja kan…
14 Mei 2012 @ 22:44oh…,, masih repot mbak?
Mbak Mondaaaa, kangeeeeeen….!
17 Mei 2012 @ 19:21Masih ada kendala buat nge-blog, jadi memang saya jarang banget buka blog.
Beberapa minggu yang lalu, malah nggak pernah ngebuka sama sekali lo, mbak
sebenarnya sih tergantung niatnya saja
Tapi klo memberi selalu dengan uang baru. Menurut saya itu akan jadi nilai plus. Penerimanya akan jauh lebih senang….jangan sampai gak jadi memberi hanya karena tidak punya uang baru saja
Oh iya Saiful, jangan sampe kita nggak jadi ngasih uang ke orang hanya karena kita nggak punya uang baru, pamali…
19 Mei 2012 @ 10:28bu irmmmmaaaaaaaaaaaaaaa… lama aku tak kemari!
Bu irma apa kabar?
pertama: kebiasaan Bu Irma ngatur duit di dompet persis sama kek aku. aku juga seneng ngatur duit kek gitu. hihihihi. rasanya rapih aja. tapi yah itu … kalo udah di rumah di aturnya. kalo seharian pergi dan ngeluarin duit, dompetku gak keruan bentuknya. hahahahha
kedua: kalo urusan duit baru itu, namanya etika kali yah Bu, dan persis: biar gak berasa iurannya. hihihihi.
Aaaaiiiissss…kuangen sekaliiiiii!
19 Mei 2012 @ 23:13Alhamdulillah saya sehat-sehat, Ais juga kan?
Hihihi….kita ternyata sama, sama-sama ribet dan ‘beretika’ kalo ngatur duit di dompet
Lagi kemana mbakku ini yach, sehat selalu mbak yach
Bli Budi, saya baru aja posting…komenin ya?
20 Mei 2012 @ 14:49mau mampir aah
yah belum ada yang baru ya.. ntar balik lg
^_^
Halo Chusnul, baru aja saya bikin posting baru
22 Mei 2012 @ 15:36hehehe ternyata mba irma punya kebiasaan yg sama denganku dalam menata uang di dompet
trus aku suka heran sama orang yang membiarkan uangnya terkuwel kuwel berantakan di kantong celana ihh kesannya jorok deh
kalo untuk menghadiahkan uang baru kepada orang lain memang kesannya lebih berharga mbak karena secara logika aja kita pasti lebih suka nerima kembalian uang yang baru atau bagus daripada yang lecek atau robek kan hehehe
Sip Julie…setuju banget, nerima kembalian kucel aja kesannya beda ya, apalagi kalo dikasih uang kucel…ngomong-ngomong, gimana kalo kita ketemu nanti kita saling menunjukkan dompet?
22 Mei 2012 @ 16:53wah sama mb, saya juga baru mencoba hobi baru seperti mbak ir, hihi..kebetulan saya dipasrahin untuk mengurusi keuangan kantor, nah uang2 yang ada saya kelompokin dari ratusan, 50an, ribuan, sampai receh2 saya kelompokin sendiri2. tapi ga nyampe dipilih2 mana yang lecek mana yang baru sih, ga seribet mb Ir dan suami, xixi..yang penting duit kan semuanya laku buat beli barang, hoho
Kecuali untuk hadiah, saya setuju banget dengan mbak kalo lebih baik uang untuk hadiah itu baru dan juga dalam kondisi bagus.
Intaaaaan…
22 Mei 2012 @ 22:37Kemana ajaaaaa?
Wah, selamat buat jabatan barunya ngurusin keuangan kantor…kalo uang kantor mah nggak perlu baru semua kan karena sirkulasi uangnya juga pasti cepet banget
Gimana si kecil?
Pasti udah makin pinter dan…cakep
Mba Irma.
Kangen deh sama postingannya..
Baru aja posting lagi Dan, komenin ya!
23 Mei 2012 @ 08:59mbaaaaaa…kirain teh udah apdeeeet…
bela belain mampir sinih belum mandiin Fathir dan belum cuci piriiiing…hihihi…*emak emak sekali*
Coba kalo datangnya agak siangan, pasti udah baca posting terbaru saya, Ry…hihihihi
24 Mei 2012 @ 08:41kalo saya sih bu, biasanya uang yang lecek itu buat ditabung di bank, nah klo yg baru-baru itu kita buat belanja. khan klo yg lecek masuk ke bank pasti gak dikeluarin lagi. cuman klo didompet sih sama aja sama kebanyakan “laki-laki”, campur kayak gado-gado…..ha…ha…ha…
Hehehe…laki-laki biasanya memang nggak terlalu ribet kalo nyimpen duit kecuali suami saya.
24 Mei 2012 @ 09:46Pertimbangannya bener banget lo, uang jelek juga biasanya suka saya setorin ke bank *kalo pas bisa nabung, tentu saja…* dan yang bagus atau agak bagus, saya simpen di dompet buat belanja
Wah Bunda detail bangat ya….
tapi saya suka caranya Bunda, bisa saya contek tuch… secara saya sangat cuek tentang pengaturan uang di dompet… klo receh baru saya masukin di kaleng tersendiri…hehehehehehe
Hehehehe…receh saya juga disimpan di dompet tersendiri, Wan!
28 Mei 2012 @ 18:21kalo yg ini.. nati aku kenalin ama temenku yg di peruri mba.. uangnya baru semua tuh, hehe…
Oya?
2 Juni 2012 @ 07:48Mulai kumpul-kumpul uang lecek aaaahhhh…