Dua jenis masakan ini adalah menu favorit keluarga kami.
Sebetulnya saya lebih memilih teri atau ikan asin sebagai lauk setiap hari, tapi nggak mungkin juga kan kalau di meja makan kami selalu terhidang dua jenis lauk kesukaan ini?
Iya, teri dan ikan asin itu lauk favorit saya. Nggak keren sih, tapi biarin deh, yang penting rasanya amat cocok di lidah.
Alasan lainnya, tentu bukan supaya hemat atau pelit. Selain bisa masuk dengan semua jenis masakan, teri atau ikan asin itu tadi juga mengolahnya nggak ribet. Tinggal digoreng, jadilah.
Beda dengan ikan, udang, ayam maupun daging.
Semua orang pasti tahu kalau protein hewani itu rasanya enak. Tapi mengolahnya itu lo, bener-bener perlu kerja ekstra biar rasanya juga istimewa. Sekali saja kita salah mengolah, bisa dipastikan kelezatannya juga akan musnah.
Rendang terenak yang sangat kami sukai adalah rendang bikinan Bato. Selain tidak terlalu kering seperti rendang yang biasa dijual di banyak rumah makan, warnanya juga tidak ’sehitam’ rendang padang.
Rasa bumbunya selalu pas. Tidak terlalu pekat, juga tidak hambar seperti layaknya masakan kurang bumbu. Saya juga tidak tahu kenapa rendang buatan Bato itu bisa memiliki warna oranye kemerahan yang begitu menggoda. Minyak yang tampak samar di permukaan daging, menjadikan rendang itu tampil menawan.
Tampilan rendang yang indah, sepertinya menjadi nilai tambah bagi rendang bikinan Bato. Oleh sebab itu, tidak heran kalau ada acara-acara istimewa rendang itu akan menjadi ‘pusat perhatian’ para tamu dan undangan.
Apakah saya juga jago bikin rendang?
Oho, tunggu dulu…
Sebelum sampai pada topik tentang rendang, saya akan bercerita dulu tentang masakan berkuah hitam yang bernama rawon. Sepengetahuan saya rawon adalah masakan khas masyarakat Jawa Timur. Kalau orang Jawa Barat biasanya sarapan dengan nasi kuning, maka orang Jawa Timur akan makan pagi dengan menu nasi rawon.
Entah sejak kapan, rawon itu akhirnya jadi salah satu makanan favorit di keluarga saya juga.
Rasanya yang unik karena tambahan kluwek menjadikan daging yang merupakan bahan dasar rawon itu memiliki cita rasa tidak biasa. Lebih sedap dan segar karena rawon akan dimakan dengan nasi berkuah banyak.
Sejak menikah 23 tahun lalu, baru di Garut inilah saya berani bikin rawon sendiri. Artinya baru sekitar satu setengah tahun yang lalu rawon itu menjadi bagian dari menu harian keluarga kami.
Itu juga karena kebuntuan saya waktu mengatur menu. Bolak-balik ketemu dengan sayur lodeh, sayur asem, capcay, pecel, sop, tumis, semur, balado, sayur bayam dan soto, saya akhirnya nekad buat mencoba bikin rawon sendiri.
Kebetulan, saya tidak suka masak dengan memakai bumbu instan.
Jadi jangan harap bakal ada persediaan aneka bumbu instan di dapur saya. Jangankan bumbu instan, sepanjang bumbu-bumbu itu masih bisa diulek dengan cara tradisional, saya juga akan menghindari pemakaian blender.
Repot memang. Tapi apa daya, militansi saya pada cara pengolahan bumbu tradisional itu masih melekat sangat erat.
Setelah bertanya pada Bato via telpon, saya dikasih tahu kalau bumbunya ternyata sederhana. Ada bawang merah, bawang putih, kluwek, kencur, terasi, cabe merah, laos, daun jeruk, kunyit, salam, sere, ketumbar dan jintan. Pakai garam tentu saja, plus sedikit penyedap rasa….ehm, Bato sih menyarankannya gula putih, tapi saya lebih suka memakai vetsin yang agak-agak nggak sehat itu…
Rawon pertama yang saya buat ternyata menuai pujian.
Itu juga yang membuat saya semakin percaya diri buat menjadikan rawon sebagai menu wajib seminggu sekali. Ditambah dengan telur asin, kecambah pendek, sambal terasi, kerupuk kanji dan tahu atau tempe goreng, maka kelezatan rawon itu akan makin sempurna.
Masak rawon?
Saya sudah bisa.
Sekarang giliran bikin rendang. Biarpun bapak saya asli orang Minang, tapi karena lahir dan besar di kota Bandung dan Malang, maka masakan-masakan Jawa itulah yang lebih akrab di lidah saya.
Kalaupun masak rendang, biasanya teteeeep aja ditambahin gula putih biar agak manis…
Kedatangan Bato dan Bi Entin pas tahun baru kemarin membuat saya tertarik buat mengintip bagaimana membuat rendang yang baik dan benar. Iya, saya cukup mengintip saja, karena tugas buat belajar detail tentang ilmu bikin rendang itu sudah saya delegasikan penuh pada Yuli…
Setelah sukses dengan ilmu baru tentang rendang, baru hari ini saya mencoba mempraktekkan masakan tersebut tanpa kehadiran Bato. Kebetulan sedang ada Risa dan temannya yang menginap disini. Jadi ini memang momen yang pas kalau saya mencoba memasak rendang versi Bato.
Di dapur, daging sapi dan aneka bumbu itu sekarang sedang berproses.
Ada bawang merah, bawang putih, ketumbar, merica, kencur, jahe, kunyit, cabe merah, laos, sere, daun kunyit, daun jeruk, garam dan sedikit gula putih.
Semua bumbu diulek jadi satu, kecuali laos, sere, daun kunyit dan daun jeruk. Kemudian tumis bumbu halus tadi sampai harum, lalu tambahkan santan. Aduk sampai bumbu dan santan menyatu sempurna. Santannya juga harus banyak supaya rasa rendangnya mantap.
Tak lama kemudian, santan berbumbu itu akan mendidih. Inilah saat dimana daging sapi yang sudah dipotong-potong itu tadi kita masukkan kedalam wajan berisi santan berbumbu. Setelah itu tunggu saja sampai dagingnya empuk, santannya mengental dan bumbunya meresap.
Jadi deh rendang istimewa kesukaan kami sekeluarga…

ngetek dulu baru lanjot baca xixixi
Idih niQueeeee…cubit lo, gemeeeeeees!
3 Februari 2012 @ 15:14sudah sebulan ga masak
rawon ga apalah ga lewat sini
tapi rendang?
buat suamiku aja mba
aku sih ga doyan, ga demen pas daging nyelip di gigi hehehe
emang yah klo masakan di puji, pasti deh jadi semakin semangat belajar masaknya hehehehe
Daging nyelip di gigi?
3 Februari 2012 @ 15:20Ke dokter gigi atuh, niQue…bukan rendangnya yang harus dihindari…hihihi…yang jelas, saya juga lumayan males kalo makan daging, selain mahal *dooooh…*, daging juga katanya lebih susah buat dicerna sama usus kita.
Iya gitu?
seneng ya komen di sini, klo capcainya enak dan ga alot
Itu dia masalahnya, capcai disini sering banget nggak enak dan alot…
3 Februari 2012 @ 15:20Aku suka rawon mbak, tapi beli jadi aja, karena di rumah cuma aku aja yg doyan
Oya?
3 Februari 2012 @ 15:26Memang buat sebagian orang, rawon itu jenis masakan yang agak ‘aneh’, mbak Monda…
mba Irmaaaaaa…
astaga…
kenapa postingannya bikin stres begini sih mbaaaa…
kluwek, kencur, terasi, laos, daun jeruk, kunyit, salam, sere, ketumbar dan jintan
apa itu semua mbaaa???
apa ituuuu??
Selama ada sajiku bumbu jadi..kenapa harus pake itu semua mbaaa…
kenapaaaa???
*komen yang rempong*
Hihihihihi…posting ini memang dibikin khusus buat Erry, cuman nggak pake link aja karena takut Erry makin stress…
3 Februari 2012 @ 16:19*dengan penuh cinta, Ryyyyy…dengan penuh cinta*
aku gak begitu suka rawon sih mbaaa…
dan untunglah abah juga *kayaknya* gak suka..
*gak tau juga, kalo sebenernya suka tapi percuma juga dibilangin ke aku…gak bakal dimasakin juga…hihihi…*
Dan kalo bisa sih Kayla dan Fathir juga jangan sampe suka…
cukuplah mereka sukanya sayur bayam aja…hihihi…
gampang kan…tinggal dicemplung2 doang…hihihi…
Haduuuuh, ketawa nggak berenti-berenti baca komen ini!
3 Februari 2012 @ 16:21Kebayang deh betapa ‘tersiksanya’ Abah kalo ternyata suka sekali dengan rawon a.k.a angeun hideung itu.
Kayla dan Fathir, sini deh tante cobain rawon…kalo suka, minta mama buat bikinin ya, inget lo…bikin, bukan beli di warung mama Ajeng…
Kalo rendang sih suka mba…
Tapi selama masih ada RM Padang di dunia ini…
Kayaknya aku gak perlu belajar bikin lah ya…hihihi…
btw…poto mbaaa…potoooo…
o iya…
sebagai info aja nih mba…*bukan pembelaan diri lho ya*
aku gak pernah nguleg karena ulekan aku pernah dipake main masak masakan pake tanah ama Kayla…dan belum kepikiran buat beli lagi…hihihi…
Huaaaaaaaaaa…makin panjang nih ketawanya!
3 Februari 2012 @ 16:24Pancingan saya tentang masak dan ngulek, ternyata disambut positif banget sama Erry…lihat aja komennya yang menggebu-gebu ini, tau nggak, saya mulai berpikir buat lebih sering bikin posting tentang masakan lo, Ry…buat curcol-nya Erry…
iya ya baru ngeuh ga ada fotonya hiihhiih
ayo mba aplot aplot
*kompor*
Alamaaaak, itu lagiiiii…
3 Februari 2012 @ 16:32wuah mbak Irma… jadi laper mbak bacanya… hehehe…
Kalau dirumah kami yang jago bikin rendang dan rawon itu mbak Atun, mbak… memang selera kami juga sama, rendangnya agak berkuah, nggak kering, dan warnanya oranye… kalau kata Bunda Monda sih ini namanya kalio ya? hehehe..
kalau mbak Atun, caranya agak beda mbak Irma.. jadi bumbu halus itu dimasak dulu sama dagingnya, sampai bumbunya meresap dan dagingnya empuk… baru terakhir ditambahkan santan…
Waaaah, saya jadi punya ilmu baru nih Tia…ternyata masak rendang itu bisa lewat banyak cara. Ah, ah, nanti saya cerita ke Bato deh!

3 Februari 2012 @ 19:27Ssst, salam buat mbak Atun dong, kapan-kapan saya pengen nyobain masakannya boleh kan?
Mbak mana gambar rendangnya??
Huhuhuhu…Bliiiiii, kok nanya ini lagi sih?
3 Februari 2012 @ 19:48bundaaaaa…..
lama tak ke sini… hehe.. dah disambut dg menu rendang, favorit saya bangetttttt…. ! hihih…itu pak padang yg depan,menu khasnya ya rendang. wuenak…
Uenak tenan, Ri?
3 Februari 2012 @ 20:06Kalo rendang padang memang tak ada lawan…lamaknyooooo!
sayangnya gak ada fotonya, eh, untung juga ding, biar aku gak pingin, hihi..
Hihihi…bener Ri, saya nggak pasang fotonya biar Ari nggak pingin…
3 Februari 2012 @ 20:09*lega*
aku hanya masak yg mudah2 aja, kayaknya kalo makanan yg disebutin masaknya terlalu lama, gk sabaran… hehe..
Saya juga nggak tiap hari masak ribet Ri, seminggu sekali cukuplah…
3 Februari 2012 @ 20:10Jeng Irma (lho ternyata merger antara Jeng dengan Uni nih) sungguh jempol pintar masak yang bumbunya komplit, diuleg sendiri dgn tingkat kesulitan tinggi model rawon dan rendang, pengin ngicip ah, salam
Mbaaaak, iya…iya…saya merger antara jeng dan uni ya!
3 Februari 2012 @ 20:32Hehe, boleh nyicip mbak Prih, monggo…ditunggu dengan senang hati…
Aku nggak makan daging sapi, Mbak..
Jadi aku tetep milih teri dan ikan asinnya aja deh he he..
Toss dulu dong, mbak Made…
4 Februari 2012 @ 09:45Samaaaaa!
Assalamualaikum ibu. Apakabar?
Senangnya bisa baca blog ibu lagi.
Ijin menambahkan bu.
Tentang teri dan ikan asin…
Ada info nih bu.
Beberapa hari yang lalu saya dapat “warning” dari seorang kerabat yang tengah kuliah di kedokteran. kabarnya dua jenis olahan ikan tersebut adalah pemicu kanker isofaring /tenggorokan. Jadi, kita mungkin harus mulai berhati-hati ya bu. Salam buat bapak dan mbak risa.
Diiiik…senengnya dikunjungin sama adik lagi!
4 Februari 2012 @ 17:09Trima kasih ya, saya langsung senyum-senyum baca informasinya…baruuuu aja saya makan ikan asin sama sayur asem, dan sekarang mulai berpikir buat nggak nyediain ikan asin tiap hari ah…serem
Sejak kapan ya tahu rawon? Tapi yang pasti sejak nyicip, aku dan keluarga langsung suka rawon. Tapi, belum pernah buat/masak sendiri
Rendang, aku juga suka, suami amat suka. Anak2 belum suka
Tapi aku sudah pernah lho Mbak buat rendang sendiri, lumayan enak juga.
Rahasia masakan enak memang wajib diulek ya Mbak
Aku juga musuhan sama yang instan kecuali kepepet, qiiqiii…
Hihihihi…kepepetnya nggak sering-sering kan, Yunda?
4 Februari 2012 @ 22:44Kabarnya emang gitu mba, makanya itu juga salah satu penyebab aku ga gitu cinta sama daging
wong sama daging ayam yg udah empuk itu aja pelan2 dikurangi.
Jadi klo beli nasi (maklum selama ga ada asisten, semua serba beli deh), saya cuma pake sayur+tempe/telor/ikan mas/mujaer, jarang pake ayam/daging/ikan laut. Ya, sesekali ayam, tapi daing dan ikan lauatnya BIG NO.
Big No?
5 Februari 2012 @ 07:06Hohoho…ternyata niQue udah berhasil menghindar dari protein hewani ini, saya belum bisa niQue…kadang-kadang masih pengen juga
jadi kangen rawon deh tante
*ini nggak termasuk bumbu instan kan tante?*
di bandung saya belum pernah nemu tempat makan yang jual rawon enak, kalau mau masak sendiri juga kluweknya jarang ditemui
jadi saya kalo habis pulang biasanya dibuatkan mama bumbu rawon setengah matang, terus di kos disimpan di kulkas dan tinggal dimasak sama daging
Waaaah, nggak Nin, itu pasti bumbu rawon yang dibuat dengan penuh cinta!
5 Februari 2012 @ 08:34Ayo dong ke Garut, nanti kalo Nina kesini, tante bikinin rawon deh
Saya termasuk penggemar rawon fanatik. Setiap lebaran bapak dan ibu saya selalu mudik ke Pasuruan, tempat mereka dulu lahir dan dibesarkan.
Bahkan bapak terkadang menjualkan sendiri nasi rawonnya setiap kami berkunjung membeli rawon yang saat itu dikenal dengan rawon Saminah Pasuruan.
Adelays dari Pasuruan?
5 Februari 2012 @ 19:26Ah, Jawa Timur memang terkenal dengan rawonnya yang enak…salam hormat buat bapak ibu ya, penasaran nih dengan rawon Saminah yang ada di Pasuruan…
jadi pengen makan rawon besok pagiiiii. hehehe
btw, mbak saya juga sukaaa sekali sama rendang. dulu saya pernah punya sahabat orang Riau yang sering banget dikirim rendang sama mamanya, yaaah otomatis saya juga kecipratan enaknya. sekarang sih kalo pengen biasanya beli aja di rumah makan padang
jadi laper lagi..
Ya ampuuuun, komen ini diawali dan diakhiri dengan rasa lapar ternyata…hehehe, Malaaaa…sebentar lagi kita kayaknya bisa ketemuan deh!
5 Februari 2012 @ 20:45Ehm…mau banget Bu, tuh rawonnya…
Hari ini menunya bukan rawon, DD Ary…tapi sayur asem
5 Februari 2012 @ 21:54Mbak Irma, apa kabar? maaf baru sempat maen lagi kesini, hehe…
Rawon juga kesukaan kami mbak…selain karena rasanya, juga karena kepraktisannya untuk dihidangkan saat ngundang tamu, sudah lengkap ada lauk dan ijo2nya ( karena selalu ada lalapannya kan? ) hehe. nah, kalau rendang aku ga berani pedesnya, hehe…
Mechta…aduh, duh…sampe kangen dengan komennya!
5 Februari 2012 @ 22:46Iya, rawon itu memang praktis, tinggal ditambahin tempe goreng, kecambah pendek, sambel, telor asin dan kerupuk, jadilah menu yang pantas buat dijadikan suguhan buat tamu…
Eh, Mechta nggak suka pedes?
Baru tauuuuu
sudah lama mbak aku nggak makan rendang apalagi rawon .. jadi cuma bisa membayangkan
Membayangkan enaknya ya, Ely?
5 Februari 2012 @ 23:23wahhhhhh ngiler bacanya..
kemarin aku baru makan rawon..
Oya?
6 Februari 2012 @ 08:34Jadi pengeeeeeen…
Apa kabar, Adi?
kenapa baca ini ketika saya belum dinner yah
tambah lapar saya mbak
hhiiihi
saya suka keduanya, tapi kalo disuruh milih saya pilih rendang aja deh
*seka air liur*
Hihihi…darah Sumatera Depz nggak bisa dituker sama rawon kan, jadi rendang tetep is the best ya!
6 Februari 2012 @ 19:10wah boleh dicoba ni bikin rendang sendiri,kesukaan suami saya juga mb. Hmm haruummmnya kecium sampai jogja pasti enak banget ni rawon sama rendangnya mb,hehe..icip doong
Boleh Intan, boleeeeh…ntar kalo saya bikin rendang, datang kesini dong…
6 Februari 2012 @ 21:08~BintangTi … saya ikut nikmati aja ya

saya juga suka sama ‘ikan teri dan ikan asin..tapi paling enak ex Riau sana
Kemaren saya dinas kesana sekalian pulkam sambil lihat kebon sawit …kalo saya tahu ibu suka teri & ikan asin pasti dikirimkan pas lagi disana … hehehe
Aduuuh, nyesel juga kenapa posting ii nggak dipublish sebelum Abrus ke Riau
7 Februari 2012 @ 23:57~BintangTi … hebat ya - masih mau ‘ngulek bumbu sendiri …padahal sekarang serba instan, tinggal pilih di supermarket…angkat jempol 4 dah buat ibu
Ssst, yang ngulek sih sebenernya Yuli, Abrus…
)
8 Februari 2012 @ 00:01waduh…ma kasih banget y bunda…
buat resep rendangnya…
dr dlu pengen banget masak rendang….
alhamdulillah….ma ksh y bund…:)
Mamairma…trima kasih kembali, selamat memasak rendang ya!
9 Februari 2012 @ 09:44Kalo masak pertama belum terlalu enak, coba deh bikin yang kedua, biasanya sih akan lebih enak…
Ibu Bintangtimur…kalau didepanku tersedia menu *2R itu … hehehe … ‘rawon dan rendang, pasti saya pilih ‘rendang.

Maklumlah ‘orang seberang bokk …
Kecuali kalau yg masak Ibu Bintangtimur … pasti saya ikut nyicipin ‘rawon ala bu bintangtimur … hehehe
Hehehe…sayang di depan Omman nggak ada rawon dan rendang bikinan saya…kalau ada, bakal ketagihan deh!
10 Februari 2012 @ 07:05Halllloooo saudariku kemana yach…sibuk???
Bli Budiiiii…saya dataaaaang…!
11 Februari 2012 @ 05:53Ooooo … masih merendang dan merawon … iya dehhh
Hohoho…sekarang udah ada posting baru, Omman…judulnya Behenti Nge-blog…?
13 Februari 2012 @ 08:10Mba Bintang (padahal sudah tahu namanya tapi tetep paling suka manggil pake nama ini) postingan yang satu ini bahaya banget. Aseli bahaya.
Saya baca pas jam 12 malem. di luar sepi dan dingin dan ada postingan soal rendang dan rawon? Tidaak!! bikin saya LAPAR!
Bahayanya saya sama istri barusan masak rawon yang enak (pake bumbu instan merek b***u sih :P) tapi daging yang dipake daging rendang. enaak…*lapar tingkat tinggi*
-gapapakan ya selalu ketinggalan komen..
Daniiiii…pas baca komen ini saya langsung lihat jam, wah, udah tengah hari…pasti Dani lagi makan siang..dengan rawon lagi kah?
14 Februari 2012 @ 00:09Rawon adalah masakan berkuah yang paling saya suka kedua setelah sayur asem
Kuah hitamnya yang beraroma kluwek itu terasa eksotis dan membuat lidah dimanjakan, saya belum berhasil membuat rawon mba, suatu saat ingin bikin sendiri, kalau beli mahal hehehe…
atau kalau saya ke garut, bikinin rawon ya mba
Iya, iyaaaaa…kalo mbak Anny ke Garut, saya bikinin rawon deh!
14 Februari 2012 @ 15:07Wah, baru tau lo kalo mbak Anny termasuk rawon-mania…hehehe…sama dengan mas Budi dan Risa, mbak
waduh Ibu…jadi pengin bikin Rawon. Kalau Rendang,sementara belum bisa bikin-nya Ibu,tapi patut dicoba.
Sama seperti Ibu…saya juga fanatik banget dengan cobek,karena rasanya hasil ulekan nya beda ya Ibu.
Alhasil kemanapun pindah,pasti tak lupa dibawa.
Hohoho, iya dik…cobek saya juga ikut pindah kemana-mana tuh…lemari boleh tinggal, tapi kalo cobek sih jangan…
14 Februari 2012 @ 16:29masih belum update bun?
Sudah Ari, tadi pagi, baca ya…
16 Februari 2012 @ 08:35Baru tau rawon pas udh ngantor di tempat skrg bu ir, dan mgkn karena lidahku sunda bgt, agak2 aneh menurutku hihihi. kalo rendang lumayan suka, pernah jg masak sendiri, tp pake bumbu instan itu tuuuh hahahaha
Padahal di Sunda juga kan ada angeun hideung kan, Orin?
16 Februari 2012 @ 13:56Menurut saya, rasanya beda-beda tipis deh sama rawon itu…
Bikin rendang pake bumbu instan?
Ehm, boleh kok…
kalo ngomongin rendang…jadi ngiler nich mb bintang…
mmg rendang yang enak biasanya warnanya gag kehitaman, masalahnya BJ ku orang padang lho jadi dia sesekali buat rendang utk aku….gag tiap hari sich soalnya tergantung isi kantong….hahahaaha:D
nah kalo rawon aku gag begitu suka…gag tahu tuh ya kenapa…aku lebih suka “rawon padang” namanya kalo gag salah “sinciang”…kalo salah tolong diralat ya….soalnya mau nanya ama BJ-ku lagi di kantor dia saat ini….
ok…happy blogging ya
Bens…ternyata BJ-nya Bens sama dengan separuh darah saya…hehe, ada Minangnya juga soalnya…
17 Februari 2012 @ 07:45Kebayang betapa enaknya kalo di rumah Bens masak rendang, pasti rasanya asli, warnanya agak kehitaman, ada minyak di pinggir dagingnya dan baunya pasti sedap betul!
mba Irmaaaaa…
tolong bilangin ke Risa…tanggal 18 Feb nanti gak usah repot repot ke Singapore buat nonton suju *sok tau*…
Soalnya Suju jadi dateng ke Indo lho akhir April
nanti…*barusan Donghae telp…hihihi…*
Tapi kalo aku boleh kasih saran sih, kalo mau nonton suju, sebaiknya Risa ditemani sama wanita dewasa yang sudah matang dan keren untuk jaga jaga aja sih mbaaaa…hihihi…
Huahaaahhhaaa…ketawa ngakak baca komen ini, Ry!
Risa nggak akan ke Singapura kok tante, tapi ke Thailand buat nonton konser Suju yang bulan Maret ini…ikutan yuk
Ryyyyyy, nanti kalo Risa udah pulang penelitian lapangan, komen ini saya bacain deh, pasti dia juga terkikik-kikik
17 Februari 2012 @ 16:13Mbaaaaaa…….apa kabarrr ???
kangeeennnnn
Idaaaaa…gimana nih cerita pengantin barunya?

17 Februari 2012 @ 21:12Seneng kaaaaan?
Saya kangen juga Da, tapi takut ngeganggu kalo saya main-main kesana…
aku sebenernyaa suka sama rendang mbaa, tapi bumbunyaaa ajaaa hehehe…soalnyaa aku gk bisa mkn daging sapi
Iya ya, saya lupa…tapi kalo rendangnya rendang ayam dan telor boleh kan?
17 Februari 2012 @ 21:16Enak juga lo, Da…bener!
Bu Bintangtimur, kok nyari ‘bawang merah, bawang putih, ketumbar, merica, kencur, jahe, kunyit, cabe merah, laos, sere, daun kunyit, daun jeruk … lama ya … kemana sih nyarinya..?
Omman…semua bahan-bahan itu udah ketemu kok, buktinya saya udah bikin posting baru…hihihi, nggak nyambuuuung…
19 Februari 2012 @ 00:43Kalau di Surabaya ada rawon setan. Kenapa sampai disebut begitu, karena jualannya pas tenggah malam saja dan saat pagi menyingsing rawon nya sudah habis. Juga karena sambelnya yang super pedas jadi saat makan dan merasa kepedesan mulutnya langsung berucap “SETAN”
Bun….. promosi makana, koq aku langsung pingin nyobaain rendang dan rawon nya
Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan
Mas Sugeng, saya malah belum pernah nyobain beli rawon setan…mungkin karena suka bikin sendiri kali ya, tapi hebat lo, jauh-jauh dari Tabanan, mas Sugeng udah nyobain rawon setan yang ada di Surabaya…
19 Februari 2012 @ 06:55Salam kembali buat keluarga, mas
saya tetep pilih teri! dimaem sama nasi anget… yummmy….
Sama, mbak…samaaaaa…teri is the best!
20 Februari 2012 @ 13:39aduuuh aku udh lama ga masak rendang bu irma… , baru aja pengen masak rendang…eh. udh keduluan bu irma….
trs rendangnya bu irma sama hasilnya ama rendang bato ga?#penasaran. ga ada fotonya si…. hehehhe.kangen deh ama bu irma, pdhl juga blm pernah pes to pes…
Hehehe…rasa rendang saya ternyata beda sama rendangnya Bato, Mauna…enak rendang Bato pastinya, tapi tetep, masak itu kan ilmu katon, makin diulang biasanya jadi makin enak…
20 Februari 2012 @ 15:37ini yang punya blog lagi dolan ke mana ya gerangan?:D
Ada di rumah kok, niQue…nggak dolan kemana-mana
24 Februari 2012 @ 15:48masih sibuk banget ya…?
semoga sehat aja ya mbak
Mbak Mondaaa, saya malah baru sembuh sakit typhus, suami juga…Yuli juga…jadi deh diinfus di rumah tiga-tiganya
26 Februari 2012 @ 06:57Waw mau rawonnya dan rendangnya..
menu itu paling di sukai juga di keluargaku..
aku sering bikin rendang dan wajib ada di hari raya..
Kalo rawon,masakan turun temurun dari keluarga..
sebagai orang jawa jharus bisa donk masaknya..
aku pernah nyoba dan rasany enak *menurut ku*
kalo papa dan olive bilang ga enak ntar pundung loh..
Hihihi…kalo pundung, nggak bakal dimasakin lagi kan, Nchie…?
27 Februari 2012 @ 11:29Percaya deh, masakan Nchie pasti enak, foto-fotonya aja menarik, apalagi rasanya…
*berharap dikirim rendang pas hari raya*
Mbaaa..
Kemana ajaa..
sibuuk ya..
tapis ehat-sehat kaan?
Baru sembuh, Nchie…baru sembuh…kenapa nggak ditengokin kesini?
27 Februari 2012 @ 11:31Langsung bawa nasi putih anget,,, hihihi
aku ngiler mbak,,, hahaha…
pengen banget bisa masak rendang, tapi males sama masakan bersantan, aku kalo masak santan2 kok gak bisa ya mbak,, hiks,,,,
Kurang sering nyoba mungkin…
28 Februari 2012 @ 15:00Hehe, nggak usah bawa nasi putih sendiri Iyha, saya siapin disini aja
Rawon???
makin hitam, makin suka makannya..
Gak usah dikasih daging, cukup dikasih tahu sama manisah aja sudah nyamleng sekali..
Mbak ta Manisah kan? itu yang buahnya kalau dipotong banyak getahnya.. “Opo seh bahasa Indonesia, lali aku..” tapi tau kan Mbak? biasanya dipke sayurnya kupat itulho..
Ohoho, tau Yun, saya itu kalo bilang manisah labu siem atau waluh…waluh itu bahasa Sunda…hihihi, jadi sekarang saya bilang manisah itu waluh karena lagi tinggal di Jawa Barat. Kalo nanti balik ke Surabaya, bilang manisah lagi pastinya…
29 Februari 2012 @ 20:47Selain Rawon saya juga Soto.. tapi yang soto daging, bukan Soto Ayam.. apalagi klo ada labelnya Soto Daging Madura, wahhh suka sekalee..
Weleh, weleh…di Ngagel itu ada soto uenak Yun, soto daging dan jeroan yang mantap abis…adanya cuman pagi Yun, di deket roti Merlin itu lo…tau kan?
29 Februari 2012 @ 20:48@Iyha: Jangankan masak yang bersantan, yang gak bersantan aja aku gak bisa-bisa hihi..
Hihihi…bisanya masakan jenis apa dong, Yun…
29 Februari 2012 @ 20:50Kebetulan sangat nih Mbak, keluargaku juga suka rendang dan rawon. Kalau rendang aku bisa membuatnya, yang bikin berdecak lidah keluarga. Kalau rawon, sampai hari ini belum berhasil bikin yg enak. Akhirnya menggunakan bumbu instant saja, yang rasanya lebih enak. Tapi bumbu instant ini sdh pakai MSG dari sononya, akibatnya jarang menggunakan. Jadinya ya gitu deh, sekalipun seisi rumah suka rawon, saya jarang membuatnya
Hehe, saya yakin kalo rendang buatan mbak Evi pasti enak dan jadi kesukaan keluarga…terus terang, saya jadi pengen nyobain
1 Maret 2012 @ 06:36Mbak, kalo bumbu instan biasanya memang ditambahin banyak MSG, biar enak kali ya, atau biar tambah gurih yang bikin kita ketagihan beli jenis makanan yang sama…
ini aku baca tulisan ini pas masih di pelatihan, sampe ngiler ngebayangin rendang sama nasi putih anget
kalo rawon aku ga gitu suka mbak, bau rempahnya agak menyengat tapi kalau rendang hhmmmm yummmyy suka banget
Wah, wah…bertambah satu lagi nih penggemar rendang!
2 Maret 2012 @ 12:24Pelatihannya sekarang udah selesai kan?
Saya barusan main ke blok Yuyuk dan nemuin banyak cerita seru…asyik lah pokoknya…