Istilah ini sudah sering kita dengar.
Sejak saya menikah dan tinggal di sebuah asrama tentara, saya juga sudah diwanti-wanti oleh banyak orang untuk bisa menjaga setiap ucapan yang akan dikeluarkan. Maklum, rumah yang saling berdekatan suka membuat kita larut dalam berbagai obrolan.
Kenapa demikian?
Karena dari obrolan itulah biasanya timbul beragam gunjingan. Dari mulut kitalah kemudian muncul bermacam-macam opini menyudutkan yang membuat orang lain tersinggung bahkan dendam berkepanjangan.
Topik yang tadinya sekedar dibahas di permukaan, bisa saja berubah menjadi praduga negatif yang kebenarannya kadang diragukan.
Saya juga menyadari bahwa setiap kalimat yang sudah kita keluarkan mustahil ditarik kembali dengan kalimat koreksi sebagai pembetulan. Tidak ada penghapus ajaib yang bisa mencoret sebuah kata. Tak ada alat apapun yang bisa mengganti kalimat yang terlanjur terucap.
Sekali kalimat itu keluar dari mulut kita, maka buuum…kesan dari kalimat itulah yang akan menunjukkan siapa diri kita sesungguhnya. Dan anehnya, hal tersebut terus melekat dalam benak banyak orang sehingga menjadi stigma negatif tentang diri dan kepribadian yang kita miliki.
Tutur kata, pendapat, kesan atau apapun itu adalah ungkapan dari apa yang sedang kita rasakan. Kalau hati sedang gembira maka kita akan mudah menebar senyum dan menyapa dengan kalimat berbunga-bunga.
Demikian pula sebaliknya.
Kalau hati dan pikiran kita sedang dipenuhi benci dan amarah, maka kata-kata sinis, kasar serta menyakitkan yang biasanya kita lontarkan. Sering kita lupa bahwa tidak semua orang memiliki tingkat emosi setara. Ada yang mudah tersinggung karena kata-kata tak biasa. Ada juga yang bereaksi sekedarnya karena sudah biasa mendengar kalimat-kalimat serupa.
Intinya adalah jangan pernah ingin menjadikan orang lain seperti diri kita.
Setiap orang memiliki pemikiran berbeda karena itulah inti dari keberadaan kita di dunia. Adanya perbedaan juga bukan untuk diseragamkan, melainkan diselaraskan. Hargai pendapat orang yang berbeda dengan kita karena kita juga tidak ingin pemikiran kita disudutkan.
Oleh sebab itu, menjaga lisan adalah sesuatu yang sangat dianjurkan.
Bukan apa-apa. Membuat orang lain tersinggung itu jauh lebih mudah daripada membuat orang senang dengan kalimat-kalimat yang kita ucapkan. Sulitnya mencari sahabat sejati berbanding terbalik dengan mudahnya mencari musuh abadi.
Perkataan apapun yang akan kita keluarkan, hendaknya dipikirkan dengan lebih dalam. Dampak dari sebuah kesan atau gunjingan, biasanya akan diterima dengan tangan terbuka. Berbeda dengan kebaikan. Kita perlu berpikir seribu kali untuk menilai seseorang itu baik atau tidak.
Sebaliknya dengan gunjingan.
Sedikit saja ada cerita tidak menyenangkan, maka hilanglah penilaian positif yang selama ini kita miliki. Kalaupun kelak terbukti bahwa gunjingan tersebut tidak benar, kesan itu toh tidak mungkin sama lagi.
Membandingkan kelemahan orang lain dengan kehebatan kita juga sangat tidak dianjurkan. Biarlah semua berjalan di koridor kepantasan. Jangan terlalu mudah menilai orang hanya dari kesan sepintas apalagi ikut-ikutan.
Sebagai makhluk sosial, kita tentu kerap bersinggungan dengan sesama. Berinteraksi dan bersilaturahmi dengan mereka. Atau sekedar bertukar sapa kala berjumpa.
Sering kita lupa bahwa semua yang kita ucapkan pada lawan bicara adalah cermin diri kita seutuhnya. Tanpa bisa ditutupi. Tanpa bisa ditambah ataupun dikurangi.
Semakin tajam kata-kata yang kita keluarkan, artinya semakin rendah pula empati yang kita miliki. Semakin labil emosi yang kita punyai, akan semakin sering pula kita lepas kendali.
Semua memang kembali pada pilihan.
Ingin menjadikan mulut kita seumpama harimau yang buas tanpa kompromi, atau membuatnya bijak layaknya lisan manusia yang dibatasi norma dan etika.

ngetek ngetek … xixixi
Ya ampuuuun, niQue…cepet amat!
29 Januari 2012 @ 21:37*tersanjung*
klo kata bapa saya sih, dan ini salah satu nasehat yang teramat sering dilontarkan ke anak2nya
kata2 itu seperti ludah, sekali dilepeh udah ga bakal bisa dijilat lagi. kata2 itu sekali keluar dari mulut, udah jadi milik orang lain, dan bila dia marah/tersinggung biar minta maaf sampe cium kaki tetap saja akan diingat sepanjang masa.
dan saya setuju, hanya saja, seringkali banyak faktor membuat seseorang lepas kendali. atau seperti kata mba Irma, jika tidak dalam frekuensi setara, maka bisa2 1 kalimat diartikan negatif.
saya padahal udah selesai bikin postingan berjudul BAK PISAU BERMATA DUA
… nunggu giliran tayang, eh mba Irma udah duluan aja hehehe
Hihihihi…artinya keinginan kita lagi setara, niQue…lagi pengen nulis tentang sesuatu yang sudah terlontar dan nggak bisa ditarik lagi…
29 Januari 2012 @ 21:41hahaha soale lagi jaga gawang niy mba
para asisten kan dah ga ada, mudik semua.
mau tak mau ya mantengin kompi dari pagi ini.
nungguin pelanggan beberapa orang lain niy
klo mereka pulang baru aku bisa bubu
jadi batal tersanjung ga niy mba hahaha
Nggak dong, apapun alasannya, kalo posting cepet dikomenin itu pasti bikin kita tersanjung…iya kan, niQue?
29 Januari 2012 @ 21:42Semakin labil emosi yang kita punyai, akan semakin sering pula kita lepas kendali.
Ini benar sekali Bu …
Menurut saya … jika suasana hati sedang tidak bagus … lebih baik … Diam …
(kalau perlu tulis di selembar kertas post it kuning … tempel di atas layar monitor …
Setiap kali kita akan tetap ingat … untuk diam dulu … jangan bereaksi … suasana hati sedang labil.
Saya ingat perumpamaan …
Bicara kasar dan tidak pada tempatnya itu … Ibarat paku yang ditancap di kayu pagar …
Kita memang bisa mencabut paku tersebut …( sebuah kiasan untuk menggambarkan perkataan maaf …)
namun tetap saja … ada lubang yang tertinggal di pagar tersebut … (kiasan dari hati yang terluka)
Salam saya Bu Irma
Selamat pagi Pak Nh…
Senang sekali membaca komen ini, saat saya perlu semangat buat mengobati hati yang ‘agak’ terluka.
Betul sekali yang Pak Nh bilang, sekali paku tertancap, maka bekasnya susah hilang meskipun paku tadi sudah diambil kembali. sama dengan kalimat, sekali *bahkan ada yang beberapa kali* kalimat pedas terlontar, maka sakit yang dirasakan sulit buat begitu saja dihilangkan.
Trima kasih sudah diingatkan. Saya akan belajar buat lebih berhati-hati kala berbicara langsung maupun menulis komen…maaf ya kalau selama ini ada salah-salah kata
29 Januari 2012 @ 22:45Tulisan yang sangat menyentuh dan mengingatkan kita semua,khususnya buat aku..
Dan ini wanti-wanti yang ada dalam hati pas aku sudah menikah dan menempati rumah sendiri dalam sebuah komplek yang rata-rata termasuk Usia Muda,dengan keegiosannya dan saling menunjukkan diri ini loh..
Banyak perkataan yang tak enak,gunjingan,huuu..
Ternyata mau kita tinggal dimanapun,tetep harus menjaga lisannya..
Betul Nchie, menjaga lisan itu wajib hukumnya.
29 Januari 2012 @ 23:37Kalaupun kadang lupa, saya juga suka buru-buru bertanya pada diri sendiri, betul tidak ya semua yang tadi sudah saya ucapkan…
Kadang ada beberapa gesekan, tapi mungkin itu yang akan mendewasakan
Komo kalo dah rumpi..ampyun deh emak2..*cuma bisa geleng2*
Kalo Aku sih lebih baik diam Mba..
Lebih banyak mendengarkan saja,dari pada berbicara,kalo di tanya jawab,kalo ga ya cukup dengan memberi senyuman..*sok imut pisan* hehe..
Iyaaa, saya juga begitu, takut omongan kita dipelintir atau diputabalikkan…resikonya ya itu Nchie, kita jadi kurang asyik buat diajak bergunjing…hihihihi
29 Januari 2012 @ 23:40BintangTi, betooll banget
‘mulutmu harimau mu akan mengerkah kepala mu …
itu lengkapnya kata bijak itu …
Apa itu mengerkah, Abrus?
29 Januari 2012 @ 23:44Samakah dengan menerkam?
BintangTi, ditengah nuansa ini perlu motto : “hormati dan sayangi tetangga kita karena tetangga adalah saudara kita terdekat”
Yup, betul sekali!
29 Januari 2012 @ 23:49Hormati dan sayangi siapapun yang sudah kita kenal.
Kalaupun mereka tidak menghargai kita, abaikan saja kali ya…
Sebagai manusia saya tentu tidak terlepas dari ini Mbak…kalau sudah labil, pasti emosian, dan saya kalau memang suasana hati ngak semangat gitu, mendingan saya diam, dan teman-teman mengerti,menunggu saya cengar-cengir lagi baru bicara…Takut kalau saya ngak mud malah membuat orang tersakiti…
TErima kasih banyak mbak…
Sama-sama, Bli…
30 Januari 2012 @ 07:11Saya juga sedang menyemangati diri sendiri
mbak Ir, apa kabar …
Hampir mirip dengan postingan Lidya - Mama Pascal ..
Masa sih?
30 Januari 2012 @ 10:05Waduh, waduh…perasaan kita berdua kayaknya ada di posisi yang setara nih…hehe
Mbak Ir aku setuju banget :Intinya adalah jangan pernah ingin menjadikan orang lain seperti diri kita.
Semoga kita termasuk orang2 yang mampu menjaga lisan
Iya mbak, smoga kita termasuk dalam golongan itu…
30 Januari 2012 @ 10:59*langsung tutup mulut*
saya sendiri termasuk orang yg sulit untuk mengontrol “mulut”
postingan ini bisa jadi reminder untuk saya untuk belajar lebih giat lagi untuk menjaga lisan
btw, pa kabar mba? baik2 aja kan?
kangen maen2 kesini
Eh, kenapa nggak pake istilah ‘jlebbbb”, Depz?


30 Januari 2012 @ 11:57Yang saya maksud disini bukan hanya orang yang banyak ngomong lo Depz, saya malah seneng kalo punya temen yang hobby cerita, jatah ngomong saya bisa dikurangi soalnya….hihihi, buat saya jadi pendengar itu jauh lebih enak dan menyenangkan…
Banyak orang yang pada dasarnya sedikit bicara, tapi ucapan-ucapannya sangat menyakitkan hati. Nggak perlu diuraikan kali ya, nanti bisa jadi satu posting lagi deh
Kangen main kesini?
Bangganya!
iyo bund…
bener bgt…mulut mu- harimau mu…
seperti kejadian d rmh kemarin bund…
wonge isoh ga sadar je….
alias “lempar batu sembunyi tangan”
bar omong njur lali je….
mestine kudu direkam yo bund…xixixiii
Iya, iya…harusnya direkam tuh biar kalo ada yang lupa, rekamannya bisa diperdengarkan ulang…
30 Januari 2012 @ 12:29Apa kabar, mbak Irma?
Kirain masalah bau mulut, kalo bau mulut mah harus cepat2 gosok gigi
Bener juga sih, kita musti berfikir dulu sebelum mngucapkan sesuatu. Tapi ya apa mikir trs baru ngomong, kapan kluar suara’y kalo kelamaan mikir, hahaaaa….
Hehehe…lucu…
30 Januari 2012 @ 14:44Guyonan yang tak mau peduli dengan kondisi, saya rasa kadang malah bisa mencederai ya mbak. makane saya sebagai yang muda mohon dielingno yo mbak Irma, jika guyonan saya masuk kategori ngelamak
Wis talah Lozz, saya juga sering kebablasen kalo sudah guyon, ujung-ujungnya pasti menyesal…kok iso yo kalimat itu saya ucapkan…
30 Januari 2012 @ 15:02mbak Irma… aku kalo di sekolahan Vania jd pendiam banget deh mbak (eh emang pendiam sih sebenernya)… hehehe..
aku nggak pinter bersosialisasi.. apalagi obrolan ibu2… kok bisa pada samber2an sih… ketawa2 kesana kemari.. jd ngerasa nggak bisa bergaul akunya… abis mbak, topik yg dibicarain buanyak banget.. baru aku denger, eh dah ganti topik lagi.. hahaha… *jadi berasa lemot bener aku*
tapi benar mbak Irma, daripada ngobrol ngalor ngidul nggak karuan, nanti malah “lepas kendali” alias keceplosan, takutnya malah nggak enak.. mending diam ya mbak..
*bawa majalah buat baca*
Ih, ini mah gaya saya kalo cari selamat…bawa sesuatu buat dibaca…hehe, tentu saja kalo lagi gabung sama ibu-ibu saya nggak bisa seperti itu Tia, di depan sejawat, atasan maupun bawahan, saya harus bisa berbicara spontan tapi tidak menyakitkan…duh, susah Tia…karena omongan kalo udah samber-samberan kayak yang Tia bilang, kitanya juga suka kebawa lepas kontrol…
30 Januari 2012 @ 15:52Harus belajar terus kayaknya, karena sampai sekarang saya juga belum merasa piawai bersosialisasi dengan baik
Ups *tutup mulut*.
Semoga kita termasuk manusia-manusia yg bs menjaga lisan ya Bu Ir, Aamiin
Amiiin…
30 Januari 2012 @ 15:57Mudah-mudahan begitu, Orin
Kunjungan perdana nih, salam kenal..postingannya menarik dan membuat akang bingung untuk mo nulis komen hi hi takut ketahuan taringnya. Kan kata orang “komenmu harimaumu”.
Hehehehe…kalo di dunia blog, apakah komen itu bisa diartikan seperti ucapan lisan, Abi Gilang?
30 Januari 2012 @ 21:08Mbaak, apa kabar? cieeee, iya saya baru beredar
saya juga mau ikut belajar mengontrol ucapan atau tulisan mbak, semoga tidak lagi menyakiti hati siapapun karena memang iya, sakit juga kalo disinisin atau dimaki-maki orang lain.
Selamat hari selasa besok mbaaak
Malaaaaa…selamat datang lagi!
30 Januari 2012 @ 23:19Kangen dengan kejujuran komen Mala selama ini…apa kabar, Mal?
Smoga selalu sehat, bahagia dan sejahtera
Ibu, sudah dua malam ini saya renungi tulisan di atas dan entah sudah berapa kali saya baca, menyimak kalimat demi kalimat yang membuat saya mengevaluasi jauh kedalam diri saya, saya akui salah ucap satu kata aja bisa bikin orang lain terluka…apalagi sampai nggak bisa diralat karena terlanjur tergores.
Sebagai manusia yang tak luput dari alpa, mudah-mudahan saya, bukan hanya sekedar bisa mengevaluasi yang sudah terlanjur terjadi tapi paling tidak, tidak terulang untuk menumpuk penyesalan karena sudah membuat orang lain tersakiti, walau harapan itu tidak mudah.
Terima kasih Ibu suatu pembelajaran yang berharga.
Halo DD ARY,
31 Januari 2012 @ 00:32Wah, maaf lo kalo tulisan saya malah jadi ‘beban’ introspeksi buat DD ARY…sambil nulis posting ini, saya juga sedang mengobati hati dan belajar untuk tidak kembali menyakiti hati orang lain, dengan atau tanpa saya sadari…
Ass. Pa kabar bu ? Ma’f baru brkunjung. Sy sbuk bnyk tgs. Hehe. Sesuai dgn tema. Seharusnya kita bisa mengendalikan diri dgn sikap kita masing2. Yang sbr bu. Allah sayang sma kita. Sy jg minta maaf. Kalau ada kata2 sy yg slh dalam komen. Ma’f y bu. Bu irma, sy kgen. Lama ga maen kesini. Datang donk bu k pesta kakak sy bln 2 ne di kabanjahe. Bu irma, peluuuukkkk.
Aduuuuh, mau ada pesta, Dewi?
31 Januari 2012 @ 05:14Titip doa aja deh, smoga pestanya lancar dan menyenangkan.
Kangen juga dengan Kabanjahe, kangen dengan udara dinginnya yang menggigit, kangen dengan kabutnya yang masih tebal…
sejak kecil juga sudah tinggal di asrama tentara *toss* alah :))
dan rekor ibu saya ndak pernah sekalipun bentrok sama tetangga yang rumahnya empet-empetan di asrama hihihi kalaupun ada yang ngomongin ga pernah ditanggepin
mulai serius : ibu selalu mewanti-wanti saya, perempuan itu terkadang berbicara ndak mampir ke hati, tapi saat mendengar langsung pakai hati, jadi kalau mau ngomong musti dipikir dulu, jangan setelah ngomong baru nyesel karena udah nyakitin orang lain.
jadi mbak irma kenapa komentar saya bisa panjang begini, pasti gara-gara di kantor ga ada kerjaan ini
Hihihihihi…iya Yuyuk curcol dikit nggak apa-apa lah…mumpung di kantor lagi sepi
31 Januari 2012 @ 11:34Ngomong-ngomong, salam hormat buat ibunya Yuyuk ya, salut dengan kepiawaiannya menjaga lisan dan menghindari benturan karena terpeleset omongan…
hmmm *manggut-manggut*
setuju tante,jadi pengingat nih tulisannya
Pengingat di kala lupa, Nin…
31 Januari 2012 @ 13:37ada seorang atasan saya yang dulu kalau bicara semaunya sendiri, banyak orang tersinggung dengan kata2nya. saya berpikir, ketika itu, begitulah seharusnya menjadi pemipin agar perintahnya dilaksanakan dengan cepat.
seiring dengan perjalanan waktu, mulut harimau itu membawa petaka. Ternyata tidak semua harus diikuti dengan mulut harimau, ada kata2 yang lebih baik untuk bisa melakukan sesuatu tanpa harus dengan cara kasar….
Benar sekali Adelays, kadang kita perlu berbicara tegas tapi bukan kasar.
31 Januari 2012 @ 14:47Menyinggung itu kalo cuma sekali masih bisa ditoleransi, tapi bila kejadian itu terjadi sampai berkali-kali…maka kita harus mulai introspeksi…
Salam Adelays, seneng baca komen panjang ini
Hal yang sering terjadi dalam kehidupan kita, kadang sesudah mengeluarkan kalimat tak terkontrol itu kalau saya suka tersiksa sendiri mba, dimulai dari ingin menarik lagi ucapan saat amarah menguasai sebelumnya, tapi tak bisa, diliputi perasaan gak enak, dihantui perasaan bersalah yg berlebihan juga rasa penyesalan yg dalam.
Postingan Mba Irma sudah sangat mengingatkan saya untuk lebih berhati-hati lagi dalam berucap
Lebih baik hati-hati daripada membudalkan amarah ya hehe…menahan diri itu tak se-tersiksa dibanding persaan gak enak tadi ternyata.
Iya mbak, iyaaaaa…perasaan tersiksa setelah amarah terucap tanpa kendali itu memang bener-bener nggak enak…nggak enak banget malah…
31 Januari 2012 @ 15:03mending memang diam dan menilik ke dalam berkali kali dulu sebelum berucap
Betul Ely…
31 Januari 2012 @ 15:08sya selalu menekankan kepada belahan jiwa sya dirumah utk tidak kumpul2 yang tidak jelas juntrungannya…karena memang biasanya nnti akan menyeret kepada pergunjingan terhadap orang lain….
Yup Bens, bersosialisasi dan bersilaturahmi itu memang tidak haruis diikuti dengan bergunjing atau bergossip…batasnya sih biasanya waktu.
31 Januari 2012 @ 16:40Kalau sudah lewat dari setengah jam ibu-ibu ngerumpi, itu pertanda alaram buat pulang ke rumah harus segera dibunyikan…
Jeng Irma, terimakasih sharingnya untuk lebih berhati2 dalam berbicara, cepat mendengar lambat berkata2, Salam
Trima ksih kembali mbak Prih, tulisan ini mengingatkan saya juga buat lebih peduli pada perasaan yang orang lain miliki
31 Januari 2012 @ 18:30Apa Kabar Tante???
Setiap Lihat Blognya tante Irma makin banyak Ilmu yang aku dapat!!
Waktunya Introspeksi Diri NIH!
TULISANNYA JEMPOL 4!!!!
I LIKE IT! (LIKE THIS!)
Tante Nunuk juga sudah Baca
Salam Dari Tante Nunuk dan Mamaku untuk Tante Irma.
Firaaaaaaa…
31 Januari 2012 @ 19:51Halo, Nak!
Apa kabar?
Trima kasih ya, tante seneng sekali kalo Fira, mama dan tante Nunuk baca tulisan-tulisan tante Irma…bilangin ke tante Nunuk, ditunggui di Garut gitu ya…sama Fira juga, sama kak Rizka juga, sama mama juga…
mba Irmaaaaa…
ada apa inih..ada apaaa?
siapa orangnya…sapa orangnya???
*ini apaan sih dateng dateng langsung riweuh…hihihi*
Hihihihihi…apaan sih, Ry?
31 Januari 2012 @ 21:36Heboh amat…
Nggak ada apa-apa kok, beneeeeer,,,cuman lagi inget beberapa kejadian yang berawal dari ketidapandaian kita menjaga lisan…
mbaaaaa….
aku dapat merasakan jeritan hatinya mba Irmaaaaa…
jujur aja…kadang2 aku juga sering terjebak dalam percakapan *pergunjingan* antar ibu ibu…
gak pernah banyak omong juga…karena menurutku gak penting…
dan gak tau juga apakah mereka suka ngomongin aku juga…gak terlalu peduli juga sih…hihihi…
cuek ajah…
Iyaaa…harusnya cuek ajah…!
31 Januari 2012 @ 21:38Itu yang susah, bawaannya pengen dipikirin melulu, Ry…payah kan?
tapi aku sempet mati gaya…
ketika terjebak dalam suatu percakapan aneh…
dan perdebatan sengit antar ibu ibu tetangga…
apakah kalo mau buat bolu… telornya dikocok terpisah atau digabung aja…mentega nya dicairkan dulu atau langsung aja…eeerr..*langsung blank*
bodo amat ah…*langsung sms abah pulangnya mampir dulu ke brownies amanda…hihihi…*
Huuuaaaa…itu mah pelampiasan bijak Ry, tanpa pusing telornya dikocok terpisah apa disatuin, brownis amanda itu bakal dijamin nggak bantat…
31 Januari 2012 @ 21:41Mbak Ir met malem, balik lagi nih
OOT tap, hehe…
Aku lagi urus mutasi dari Lampung ke Palembang belum kelar2, mohon do’anya ya
Ke Garut? Mau banget, dulu pernah sekali, berkesan banget, kami ke Sabda Alam, ada sepupunya suami di Garut. Semoga suatu saat bisa ke Garut lagi dan ketemuan
Oyaaaa?
Sabda Alam yang ada water boom-nya itu ya?
Ah, ah…sayang sekali kita belum kenal, mudah-mudahan di kesempatan mendatang kita bisa ketemuan, Yunda
Saya doakan smoga mutasinya berjalan lancar, mendapat kemudahan dalam penyelesaian prosesnya dan membawa berkah buat keluaraga Yunda. Bismillah…
31 Januari 2012 @ 22:40setuju. Lebih baik jadikan mulut untuk modal kerja daripada menjadikan mulut sebagai harimaumu
Sip Djagad, kerja yang halal dan penuh berkah
1 Februari 2012 @ 10:57kalau udah keceplosan ngomong bikin aku nggak bisa tidur lho mbak,
takut buat orang tersinggung
tapi kok juga da aja orang yg dgn entengnya sengaja menyinggung orang ya
Itu dia mbak, saya juga suka nyeseeeeel banget kalo udah nyeletuk yang nggak pas.
1 Februari 2012 @ 20:16Tapi buat sebagian orang, sifat seperti saya ini suka disebut sensitif dalam konotasi negatif…
Ass. Pagi bu. Amin y Allah. Makasih doanya bu. Datang donk bu & keluarga. Kk sy jg calon Persit. Sekalian sy bs ktemu ibu. Salam hangat selalu.
Salam hangat kembali, Dewi
2 Februari 2012 @ 05:09mampir saya mbak Irma. tapi malah ketemu harimau.. takuuut.. mbalik maneh ah
Huuussshhh, pencinta alam kok takut harimau, Lozz…
2 Februari 2012 @ 15:46Setuju bu..
sekali udah keluar kata2 kita..gak akan bisa di tarik lagi.
Betul Mel, betuuuul sekali…!
2 Februari 2012 @ 16:25kalo di dunia online, jemarimu ularmu.
hati-hati kalo ngetik komentar, ntar malah dipatuk sendiri.
he
he
he
he
he
Hehehe
2 Februari 2012 @ 21:03ya ampuuun, mba… apa kabar?
semoga sehat selalu yaa..
udah lama banget ga saling mengunjungi
btw, thanks for sharing..
Hilsya…
3 Februari 2012 @ 11:17Terharu berat baca komen Hilsya lagi.
Makasih udah datang dan ninggalin komen…seneeeeeeng…
Laik dis!
Kalau baca ini saya jadi takut sendiri, langsung introspeksi diri, takut kena balak nya..
Weleh, weleh…laik dis ta, Yun…
3 Februari 2012 @ 15:39Semoga kemarin-kemarin aku gak seperti itu Mbak Ir..
Nggak Yun, nggaaaak…wis talah ojo kuatir…hehe
3 Februari 2012 @ 15:55wah.. tulisan yang mengingatkan aku untuk lebih berhati-hati kalau bicara.
Pernah sih pas lagi nggak mood sempat keceplosan ngomong yang (setelah dipikir-pikir belakangan) kayanya agak kurang baik & kurang strategis..eeh..malamnya nggak bisa tidur, penuh doa dan harap semoga orangnya nggak ngeh akan ucapanku yang kurang oke itu..(he he..bukannya meminta maaf, duhhh dodolnya..)
Thanks ya Mbak.. atas pengingatnya untuk memperbaiki kwalitas diri dan kehidupan kita.
Sama-sama mbak Made, saya juga sama kok, lebih suka minta ampun duluan sama Tuhan kalau kelepasan bicara dengan orang…
4 Februari 2012 @ 09:54Setuju byanget mbak…lesan kita memang mesti dijaga betul, karena dari sanalah seringkali masalah bermula. namun, kalau terlalu diam juga ada yg ngrasani…yg ga perhatianlah, yg sombong lah…
Hm, bener banget…kadang-kadang suka serba salah, Mechta…tapi mungkin kita yang sedang-sedang saja kalau ketemu dengan orang baru. Tapi kalo udah ketemu dengan teman-teman baik, waduuuuh…saya bisa heboh banget!
5 Februari 2012 @ 22:50ups…harus lebih bisa ngntrol ni mulut..coz seringnnya keblabasan kalo ngomong.haduuhh..makasih mb sudah mengingatkan,sekarang perbanyak kegiatan positif aja deh untuk mengurangi ngrumpinya.hehe
Bener Intan, saya juga harus belajar lebih hati-hati biar ucapan yang saya katakan tidak terlalu tajam…hm, suka nggak sadar soalnya…hehe
6 Februari 2012 @ 21:19duh, ngerasain betul nih.
saya sebenarnya cenderung pendiam, tapi kadang tersadar sendiri kalau sekali ngomong, suka nyeletuk pedas dan ga pantas. aih. istigfar. harus di stop kebiasaan seperti ini.
terima kasih atas postingannya. jleb pokoknya deh.
oh iya, lain kali suasana hati sedang tidak bagus, (memang) lebih baik, Diam! #selfreminder
Yup, Oktin!
7 Februari 2012 @ 11:19Kalau suasana hati sedang nggak bagus memang lebih baik diam, saya juga sependapat…thanks banget buat komennya, sangat hangat!
Terima kasih banyak Bu sudah diingatkan
Seperti kata Baginda Rosul y Bu \Bicaralah yang baik atau diam\
Lama tidak berkunjung ke sini, hehe
apa kabar Bu?
Semoga sehat selalu
Amin
Amiiin…
8 Februari 2012 @ 08:55Semoga Mio juga selalu sehat.
Seneeeeeng sekali bisa bersilaturahmi lewat blog dengan Mio, makasih sudah berkunjung, makasih juga sudah ninggalin komen…peluk erat-erat boleh kan?
Kangeeeeeen…
Laik diss mbak setuju ?? , terkadang walaupun aq tidak sepaham ?????? apa ?? diomongin orang aq suka mikir dulu untuk mengutarakannya, yaaa…hrs lihat kondisi lah.
Ini kunjungan perdanaku mbak sdg mencoba untuk mulai menulis salam kenal ? … Ditunggu kunjungannya di http://diandrarafi.blogdetik.com/ mudah-mudahan bisa berbagi pengalaman. Makasih ? …
Halo Diandra, salam kenal juga
9 Maret 2012 @ 22:37Makasih kunjungan dan komennya, semoga kita bisa nge-blog dengan gembira…
Eh, iya, sebentar lagi saya berkunjung kesana deh, tungguin ya!
Met malem bu..
saya adalah slh satu org yg terkesan sm tulisan” ibu
(maaf sy manggilnya ibu, soalnya sy masih kecil siyh, 2 tahun lebih tua dr umur anak ibu)
waktu 2010 lalu, sy sempat searching ttg persit, kemudian muncullah blog ibu
apa yg membuat sy terkesan??
krn kisah ibu ttg kehidupan” seorang istri sangat menarik *buat saya
sy jg smpat minta pendapat dr ibu sebelum memutuskan menikah dgn seorang tentara
ibu inget ga ya???
kini, sy tlh mengalami kejadian yg ibu posting
seringnya sy memilih utk ga ikutan keluar rmh krn males bergosip-ria
di lain sisi, dlm hati sy sbnrnya sedih juga, krn jd lambat mendapatkan teman
tpi setelah ditunjuk utk menjadi pengurus, akhirnya sy pun mulai sedikit dm sedikit mengenal ibu” di asrama
#tapi msh tetap ngumpet dibalik pintu
xixixi
Waaaah, selamat menjadi keluarga besar kami, Ayu!

23 Juni 2012 @ 00:15Menyenangkan?
Atau malah menjengkelkan?
Semua tergantung kita kok…
Bersosialisasi itu harus Ayu, berkumpul dengan teman atau tetangga kan bukan hanya bergossip. Ada banyak kegiatan lain yang menarik, misalnya olah raga bersama, bertukar cerita tentang resep masakan atau justru menceritakan hal-hal menyenangkan tentang kegiatan yang sedang dilakukan.
Semoga Ayu segera punya banyak teman biar hidup di asrama tidak terasa membosankan