Sebulan terakhir ini saya kedatangan banyak sekali tamu.
Ada yang datang berombongan, hanya sekeluarga atau bahkan sendirian karena memang niat banget pengen ngobrol berdua dengan saya. Salah satunya adalah dik Santy, wakil saya saat suami menjabat sebagai Komandan Batalyon di Lumajang tahun 2001 lalu.
Tahun itulah kami terakhir bertemu.
Komunikasi yang selama ini terjalin biasanya hanya lewat telfon atau sms. Apalagi tempat tugas para suami juga selalu beda propinsi. Jadi waktu dia bilang pengen datang dan bermalam di rumah, saya senang sekali.
Kebetulan saat itu suami-suami kami mengikuti penataran yang sama di kota Bandung. Hanya berdua sama Yuli di rumah, sudah menjadi hal biasa saking seringnya. Jelas kedatangan dik Santy itu menjadi sesuatu yang saya tunggu-tunggu.
Sekotak besar empek-empek menjadi buah tangan yang dibawanya saat itu. Pertemuan pertama setelah berpisah sekian lama, terjadi saat saya menjemputnya di hotel tempat dia menginap di Bandung.
Tawa, pelukan, mata yang berkaca-kaca rasanya menjadi kombinasi lengkap buat menggambarkan pertemuan kami itu. Pertemuan yang sanggup membuat ingatan saya kembali ke 10 tahun yang lalu. Saat kami bahu membahu membina ibu-ibu dan menjalankan organisasi dengan sepenuh hati…
Setelah makan malam di Bandung, kami langsung pulang ke Garut.
Baru sekitar jam 22.00 kami tiba di rumah. Hujan yang mengguyur sepanjang jalan membuat kendaraan kami tidak bisa melaju kencang. Jadilah kami datang kala malam sudah lumayan larut.
Sesudah memasukkan koper ke kamar depan yang berfungsi sebagai kamar tidur tamu, tiba-tiba saja dik Santy berkata kalau dia tidak berani tidur sendirian. Saya kaget. Duh, ternyata sama!
Seumur hidup, saya juga tidak pernah berani tidur sendirian. Apalagi kalau di rumah orang. Jadi saya ngerti banget gimana cemasnya dik Santy begitu tahu kalau dia harus tidur sendirian.
Sekarang malah saya yang jadi bingung.
Gimana dong, selama ini tidur malam saya juga selalu ditemani. Entah suami, Risa atau bahkan saudara. Kalaupun suami sedang bertugas ke luar kota seperti saat itu, biasanya saya akan mengajak Yuli untuk hijrah ke kamar saya, lengkap dengan kasur, bantal dan selimutnya.
Tapi kalau tamu saya tidak berani tidur sendirian, kayaknya saya harus mengalah deh. Saya terpaksa memberanikan diri agar tamu saya ada yang menemani.
Untunglah antara kamar saya dan kamar tidur tamu itu ada pintu penghubungnya, jadi kalau Yuli dan dik Santy tidur di kamar depan, saya masih agak tenang karena pintunya toh bisa dibiarkan dalam kondisi terbuka…
Terus terang saya agak deg-degan.
Selain belum pernah tidur sendirian, saya juga takut kalau mendengar atau melihat sesuatu tengah malam dan tidak ada orang yang bisa dibangunkan. Tapi sudahlah, kita lihat saja nanti. Kalaupun ada sesuatu, toh saya tinggal berteriak sekencang-kencangnya biar terjadi sedikit kehebohan.
Ternyata malam itu berjalan aman.
Biarpun beberapa kali terbangun karena merasa tidak tenang, saya bisa terlelap sampai pagi menjelang.
Disinilah cerita bermula.
Saat membuat roti dan secangkir susu untuk sarapan, dik Santy masuk ke dapur dengan cerita yang membuat jantung saya berdebar kencang. Sambil tertawa-tawa dia bilang gini : Mbaaaak, tadi malem saya ada yang mijitin lo…
Hah?
Yang bener?
Siapa?
Masih dengan tertawa, dik Santy berkata bahwa entah jam berapa, dia merasa kasurnya seperti digoyang-goyang. Kemudian pinggangnya yang membelakangi tembok terasa seperti ada yang mijitin. Pake dua tangan pula. Katanya sih lumayan lama. Sekitar 5 menit-lah.
Tanpa menghiraukan kekagetan saya, dia meneruskan ceritanya.
Antara sadar dan tidak, katanya dia juga sudah berusaha buat baca-baca ayat Al Qur’an. Tapi yang memijat itu tidak mau pergi. Dik Santy pun pasrah. Selain pinggangnya memang pegal, pijatannya juga katanya lumayan enak…
Duh, sampe segitunya!
Saya yang sedang mengaduk susu spontan berhenti. Dik Santy yang melihat kekagetan saya lagi-lagi tertawa dan berkata bahwa da tidak apa-apa. Bahkan tidak merasa takut sama sekali.
Dia hanya kaget waktu tangan itu mendadak ada di pinggangnya. Ruang kamar yang gelap membuatnya tidak leluasa untuk membuka mata. Dia hanya merasa yakin bahwa itu adalah tangan seorang ibu karena ada suara yang berkata begini : hatinya lagi enak…
Alamak, saya makin merinding!
Tapi karena hari masih pagi dan kita sudah menjadwal banyak tempat buat jalan-jalan dan makan, maka cerita itu tidak saya masukkan dalam hati. Saya juga tidak terlalu panik karena toh sudah ada matahari.
Saat malam tiba, barulah cerita tadi pagi itu menjadi sesuatu yang membuat saya senewen setengah mati. Mau tidur sendirian, jelas saya tidak berani. Mau ngajak Yuli tidur di kamar saya, kayaknya malah aneh. Wong dik Santy yang digangguin kok jadi saya yang tidurnya ditemenin…?
Apa kata dunia?
Setelah melalui berbagai pertimbangan, akhirnya kami tetap tidur seperti malam sebelumnya. Saya di kamar tengah, sedangkan dik Santy dan Yuli tetap di kamar depan. Pintu penghubungnya?
Jelas dibuka dong…saya tidak mau ambil resiko apapun dengan pintu kamar yang tertutup…
Bedanya hanya ada di lampu. Kalau malam sebelumnya lampu kamar tidur kami semua dimatikan. Malam itu hanya kamar saya yang lampunya dimatikan. Sedangkan kamar depan lampunya tetap menyala terang.
Selama 15 menit, saya diam membeku dibawah selimut. Tiba-tiba saja jantung saya deg-degan dan badan saya basah oleh keringat. Mau bergerak sedikit saja, saya tidak berani. Boro-boro ganti posisi, buat bernafas saja saya amat hati-hati.
Lama-lama saya menyerah. Daripada semalaman gelisah dibawah selimut tanpa ada kepastian bisa tidur atau tidak, akhirnya saya mengambil keputusan yang cukup memalukan.
Hehe, iya…saya turun buat membangunkan dik Santy dan Yuli, sekaligus mengajak mereka berdua buat tidur di kamar saya saja.
Istilah dik Santy waktu itu sih bedhol desa. Iya, soalnya semua kasur, selimut dan bantal yang ada di kamar depan dipindahkan ke kamar tengah. Bayangkan, itu tuh sudah hampir tengah malam. Saat semua orang tertidur lelap, kita justru sibuk boyongan dan mindah-mindahin bantal…
Eh, ternyata betul.
Setelah kami bertiga tidur di kamar yang sama, tanpa perlu waktu lama saya langsung terlelap tanpa gangguan apalagi pijatan. Sampai pagi. Sampai matahari terbit lagi.
Duh, leganyaaaa!

haduh mbak pasti itu aku juga keik gitu….huwaaaaa mbak irmaaa so scary
Iya Mauna, so scary memang…hiiii
6 Desember 2011 @ 08:13haaa aku yang pertama… jd pengen komen lagi.
aku jg punya pengalaman tinggal di tempat2 yang menakutkan. jd terinspirasi buat cerita nih
Ayo, ayoooo…ditunggu ceritanya ya!
6 Desember 2011 @ 08:15Di blog yang mana nih…yang itu, apa yang itu…?
Heeeee jadi belum ketemu tukan pijet virtualnya mbak yach…
Huhu, nggak mau ketemu ah, Bli Budi…
6 Desember 2011 @ 08:16Waduh…buru2 dapat pertama kurang g tukangnya heeee…
Hehehehe. orang Jawa bilang, itu namanya kesusu…
6 Desember 2011 @ 08:19So,sebenarnya apa yang terjadi ? Halusinasi atau halusidodoli?
Maaf, bukannya saya minta, tetapi sepanjang hidup saya kok belum pernah mengalami hal2 yang absurd kayak gitu ya.
Tapi waktu SD saya dan teman2 kan suka nonton Ludruk yang ditanggap orang yang sedang hajatan. Nah, berangkat dan pergi nonton selalu meliwati kuburan. Menjelang sampai kuburan, pasi ada yang tanya ” Mau lari apa jalan?”. Kami sepakat untuk lariiiiiiiiiiiiii.
Dianjurkan, sebelum tidur berdoa dan dzikir dulu jeng.
Jeng Santy di Palembangnya dimana ? Saya dulu 6 tahun di Palembang lho.Mulai Dandenpom, Wadanpomdam, Danpomdam. Lalu pindah menjadi Dapomdam V/Brw, trus hengkang ke Dephan.
Salam hangat dari Surabaya
(tumbencapcaynya gak gitu jembret)
Iya Pakde, lari kayaknya pilihan yang jauh lebih baik…

Itu dia, saya juga sampai setua *ehm, ehm* ini belum pernah lihat yang begitu-begitu. Mudah-mudahan jangan ah…serem
Insya Allah sebelum tidur saya biasana baca ayat kursi, kadang-kadang belum selesai juga udah ketiduran lo Pakde, dengan syarat harus ada suami di samping saya…hehe, entahlah, rasanya jadi lebih tenang gitu…
Oya, suami dik Santy Dandim di Sekayu…wah, Pakde pasti udah hafal Palembang luar dalam dong, saya belum pernah kesana. Penasaran juga dengan mie celor yang terkenal itu, terus pindang patin…aduh, Pakdeee…saya kok nggak bisa lepas dari membayangkan makanan ya!
Capcaynya gampang?
6 Desember 2011 @ 08:26Alhamdulillah…
apa kabar mbak?lama gak mampir kesini kayanya aku ya. lagi jadi model ya? hihihi
Hehehe…iya Lidya, model di blog-nya Pakde…sampe kaget lo, ternyata itu memang foto saya beneran…
6 Desember 2011 @ 09:06Sehat-sehat juga kan, Lidya?
waahhh itu beneran dipijat atau cuma halusinasi aja? kalo emang iya koq serem banget yachh……saya juga sebenarnya penakut tp ngga begitu terlalu sech…kalo di rumah sendiri msh berani tidur sendirian…..tp klo di rumah orang, mikir2 dulu dech heheh…..
Nggak tau deh, Nia…kalo dik Santy cerita sih kayak beneran, soalnya dia ngerasa banget kalo pijatannya enak…
6 Desember 2011 @ 10:20Hehe, iya…saya malah lebih nggak berani lagi tidur sendirian di rumah orang, soalnya di rumah sendiri aja nggak pernah
Selamat pagi Ibu, ijin berkunjung…
Hah?
6 Desember 2011 @ 10:24Ini DD ARY?
Halo..halo…selamat datang lagi, senengnyaaaa!
hahahahahaha #ups sorry buk bin.. lucu aja dhe baca cerita buk bin.. ternyata beneran ada to, orang yang nggak berani tidur sendirian dan sampe segitu parnonya.. kalo dhe mah selalu tidur sendirian buk, dan alhamdulillah aman-aman aja.. dan kalo habis nonton film horror atau cerita begituan.. biasanya dhe langsung nutupin seluruh tubuh pake selimut, trus dengerin musik biar nggak inget lagi hingga tertidur..
btw, lamaaa juga yaa buk bin nggak mampir ke gamazoe nya dhe.. hayooo, kemana aja..
Dheeeee…peluk erat-erat dulu dong…kangeeeen!
6 Desember 2011 @ 10:32Tadi saya udah ninggalin banyak komen disana. Ternyata menghilang sejenak dari dunia maya membuat saya ketinggalan cerita Dhe…hehe, iya Dhe, saya memang nggak berani tidur sendirian, dari dulu, dari masih kecil sampai sekarang
huaaaaa …. ceritanya itu? untung postingnya ga pas malam jumat hahaha …. saya penakut soale mba, tapi masih berani tidur sendiri sih, wlo klo pas ketakutan ke toilet aja bisa lari2 hahaha … seperti tadi malam, efek ngupi 1/2 cangkir ga bisa tidur, mo ke toilet kkok tiba2 takut, jadi aja lari2 semua lampu dinyalain hahaha … suami sih terlelap tidak terganggu istrinya lari2 *parah ya*
jadi mpek2nya mana mba?
Hihihi…ternyata saya punya temen…kalo saya pengen ke kamar mandi malem, saya pasti bangunin suami niQue, biarpun nanti saya udah di dalem kamar mandi, pasti saya masih manggil-manggil suami…biasanya dia akan ngejawab santai, iya…iya…nggak tidur kok…padahal matanya merem terus…
Nique?
6 Desember 2011 @ 10:45Mau empek-empek to?
Dikirimin virtual juga yaaaa…
Wah…bener hatinya lagi enak tuh…
Tamunya disapa dengan pijatan hehehe…
Saya juga pernah, Bu waktu itu saya menginap di rumah temen, sebelum tidur dalam hati mudah-mudahan besok bangun nggak kesiangan, saya tidur sendirian eh bener sebelum subuh saya terbangun kaki saya seperti ada yang mijit. sentuhannya terasa dingin banget di kaki.
Oyaaaa?
6 Desember 2011 @ 10:52Jadi bener dong, ada ’sesuatu’ yang hobbynya mijitin…
Dimana tuh, DD ARY?
Bukan di rumah saya?
Saya kan temennya DD ARY juga…hehe
waduh-waduh Mba..
Sekali ini baca postingan horor dari Mba. Seru juga sih ceritanya, penasaran aja apa setelah ngomong hatinya lagi enak ada kelanjutan lagi apa nggak.
tapi baik hati juga ya mba, klao kerjaannya tiap hari mijitin orang gitu boleh deh diekspor, ato pasang tarif aja Mba buat tamu yang nginep kalo mereka ternyata terima pijitan..
Hohohoho…jangan ah, saya nggak mau dipijitin sama ‘dia’ biarpun gratis…sereeeem!
6 Desember 2011 @ 12:10Eh, dia cuman ngomong sekalimat doang, Dan…itu dia satu-satunya kalimat yang katanya didenger sama dik Santy
Gak Minta nih Mbak.. klo dilihatin sesuatu yang begitu-begitu saya belum pernah, tapi klo tidur ketindihan, lumayan sering..
Idih, ketindihan siapa, Yun?
6 Desember 2011 @ 12:41Ketindihan suami?
Hihihi…please, please…jangan marah
Di kamar depan rumahnya Mbak Irma sepertinya ada penghuninya ya, tapi untunglah penghuninya baik hati dan tidak sombong, sampe rela mijitin tamu segala hehe..
Hehehe…iya, ‘dia’ juga kayaknya gemar menabung deh…
6 Desember 2011 @ 12:43aduh mbak bikin penasaran aja ceritanya
Jangan dong, ntar ikut dipijitin lo!
6 Desember 2011 @ 13:01Salam kenal Ibu, Mbak aja dech…
Modelnya diblog Pakde hari ini
Aku baca tulisan2 Mbak Irma, suka aku Mbak.
Aku mukim di Palembang Mbak
Oya?
6 Desember 2011 @ 13:06Wah, senengnya kita bisa silaturahmi disini…salam kenal juga ya, mbak
Ide Pakde memang hebat, bisa menghubungkan banyak blogger lewat posting-postingnya yang unik…mbaaak, kebetulan dik Santy juga tinggal di Sekayu, katanya sekitar 3 - 4 jam dari Palembang…
wah..asyik tuh mba..kalo dipijitin sih mau aja yah..
tapi dipijitinnya gak sampe merinding…hehehe
Bener Muam, dipijit tanpa merinding kayaknya lebih baik deh…
6 Desember 2011 @ 13:13Ya Allah mbak Shanty itu berani banget yah, sudah dipijitin makhluk gak jelas masih tertawa-tawa ceritanya. Kalau aku mungkin sudah pingsan sampai pagi..Salam kenal ya Mbak…ceritanya seru banget
Iya Evi, saya juga heran, cerita tentang hantu kok sambil ketawa-ketawa…tapi memang orangnya santai banget kok…
6 Desember 2011 @ 13:17Hihihihihi….sama, Bu, saya juga penakut setengah mati. Kadang mau pipis malam pun membangunkan suami
Mungkin bisa dicoba cara saya, nyalakan TV atau nyalakan musik di kamar non stop, biar serasa ada yang menemani
Salam kenal ya, Bu
Halo, halo…salam kenal juga, Chocovanilla…*eh, manggilnya apa nih*
6 Desember 2011 @ 13:43Toss dulu dong, ternyata kebiasaan kita sama…hehe, ngebangunin suami kalo mau ke kamar mandi tengah malem
Nyalain TV dan musik di kamar non stop?
Aduh, nggak bisa tidur dong…solanya kalo saya tidur, suasana kamar harus temaram dan sepi…
udah kuposting mbak di blog rumahmauna.
Iyaaaa, tadi sore saya juga udah komen banyak disana, Mauna
6 Desember 2011 @ 14:24selamat sore ibu. ceritanya scary bu. kalo ada yang kaya gituh saya kok juga jd serem, saya juga punya cerita scary nih, nanti deh diposting…salam bu..
Oyaaaa?

6 Desember 2011 @ 14:35Ah, ah…jadi penasaran…ditunggu postingnya ya!
wah itu kayaknya yang mijitin lagi berbaik hati..
Iya, bener…baik hati banget kayaknya!
6 Desember 2011 @ 15:21Hoalaaah, jd ‘itu’ toh maksudnya pijat virtual? Orin suka dipijat Bu Ir, tapi kalo virtual spt itu mungkin skip dulu aj ya sereeem hohoho
Hohoho, iya Orin, serem sangaaaaaat…
6 Desember 2011 @ 15:22waduh, kalo kemaleman di Garut, berani nginep di rumah Mbak Irma apa ngga ya .. hehehe
Berani dong…kan ada suami Dey dan Fauzan yang nemenin…hehe
6 Desember 2011 @ 15:50Akhirnya main kesini ada postingan baru lagii..
Horee…
Hihihihi…kemarin-kemarin saya terlalu malas buat posting, Nchie…tapi setelah dibikinin posting sama Pakde, saya buru-buru deh publish tulisan ini, soalnya malu kalo posting terakhirnya tentang sampah terus…
6 Desember 2011 @ 17:27Wah..wah..ga jadi nginep di Garut ahh..
Takuut..!! hihiih..!!!
ngebayangin tidur barengan kayaknya seru juga haha..
Itu dia, Nchie…kalo nggak berani tidur sendiri di kamar depan, kan jadi bisa tidur sekamar sama saya…ahaaaa, siapa takut…
6 Desember 2011 @ 17:28Balik lagi ke mari Mbak Ir, iya aku yang bareng Tia buat acara GA muharam, gpp kok g ikutan, kita masih banyak kesempatan untuk bersahabat meski maya punya
Iya Mbak, Sekayu itu sekitar 3 jam dari Palembang. Ayooo kapan ke tempat kami? Sekayu kagak ada Bandara, jadi musti lewat Palembang lho
OOT:
Risa dah kuliah, tapi Mamanya masih muda banget ya… pasti salah satu resepnya adalah menulis, tulisan2 Mbak Ir bagus, beneran
Aduh, aduuuuh…baca komen ini malem-malem jadi nggak pengen tidur deh…hehe, makasih ya buat atensi dan kehangatannya, saya seneng sekali
6 Desember 2011 @ 17:47Iya mbak, dik Santy juga ‘mewajibkan’ saya buat berkunjung ke Palembang. Kapan ya?
Pengen sih, tapi jauh…
Insya Allah , biarpun jauh kalau memang sudh ada jalannya, kita pasti bisa ketemu. Iya kan, mbak?
Waduh kalo saya nginep di rumah Ibu? Aaahh…mungkinkah???
Sebenernya sering saya mengalami kejadian mistis seperti ini, pernah di MAKO juga waktu korve malem-malem dijailin…asyik juga ada yang mau godain saya hihihi…
Setelah mau pulang baru saya ceritain sama ibu-ibu.
Seruuu penasaran deh…
Oya?
6 Desember 2011 @ 18:06Wah, kok berani ya ngejailin DD ARY…
MAKO?
MAKO apa tuh…?
Makorem, makodim atau makoyon?
*penasaran*
Alhamdulillah, ternyata bukan aku aja yang takut tidur sendirian plus tidur dalam kondisi gelap..karena dari dulu terbiasa tidur sekamar sama kaka dan selalu dalam keadaan terang, bisa dipastiin aku ga pernah bisa tidur sendirian.. sama seperti mba Irma, stiap di tempat baru bawaannya selalu cemas.. dulu pernah ditugasin motret di balitsa Lembang sendirian, aku cuma nyewa penginapan yang harganya murah untuk naro tas trus nginepnya? aku turun ke Bandung untuk numpang tidur di kosan temen yang kebetulan kerja di Batan Bandug, begitu terus selama 3 hari dua malam.. seandainya pun terpaksa harus tidur sendiri, biasanya aku bikin cape dulu dan tidur dalam kondisi TV nyala, walkman standbye di kuping, plus semua lampu nyala hahahahaha
Hohohoho…Anies ternyata sealiran dengan saya, biarpun kayaknya saya jauh lebih parah…iya, saya belum pernah terpaksa tidur sendirian, Anies…pernah pas ada undangan di Batam sendiri tanpa suami, saya bela-belain ngajak temen perempuan buat nemein tidur…jadilah malam itu saya bisa tidur nyenyak karena di sebelah saya ada temen buat tidur bareng…
6 Desember 2011 @ 18:19Parah ya!
sya dari awal udah geli lho bacanya….
mb @bintang spt anak2 ABG aja ya…malam2 ‘bedol desa’…
mb sya jga prnh sok brani nnton film horror INA ‘bangku kosong’ (mainnya jam 1o-an malam)….sya nggak berani sampai habis mb nontonnnya, soalnya serem juga….
ujung2nya sya jadi ngga bisa tidur trus mau ke kamar mandi juga mikir2…..:-D
wahh ntar baca komen sya mb @bintang jadi takut lagi nich…hihihihi
Hihihi, saya ketawa pas baca waktu mau ke kamar mandi mikir-mikir…memang bisa dipikir, Bens?

6 Desember 2011 @ 20:28Weits, nonton film horor malem-malem?
Horor Indonesia pula?
Aduuuuh, pasti serem banget tuh…
Apa kabar, mbak Irma?
Wah..lama ga maen sini, dapat cerita seyeem…hehe…
Mechtaaaaa…
6 Desember 2011 @ 21:12Peluk erat-erat dulu dong!
Kangeeen…
Sudah pulang lagi dari tanah Suci?
Saya barusan udah ninggalin komen di blog-nya Mechta.
Wuiiih, ikut seneng bacanya, Alhamdulillah semua berjalan lancar
Makorem dong Bu…
Hoho, bukan Makorem Garut kan?
6 Desember 2011 @ 21:31Ass. Morning bu. Ge paen ? Udah sarapn kn ? Mksh bu ats info sekolahnya. Seblm bo2k bca doa n zikir dlu bu. Insya Allah g ada yg gngu. Oy bu, ntr bln 2 dtg y k Kabnjahe. Insya Allah pesta’a kk sepu2 sy. Kbtln suami’a dlu pernh dinas d yonif 125/SMB. Tp skrg d Raider,Binjai. Dtg y ibu n kelrga. Slm hangat selalu.
Dewiiii, kejauhan ah kalo saya harus datang ke Kabanjahe…gimana kalo Dewi aja yang main-main kesini?
7 Desember 2011 @ 08:59hihihi..menakutkan tp lucu..
untungnya saya berani tidur sendirian..
kebayang..tiba2 ada yg mijitin
Ohohoho…saya kalah deh dari Melly kalo soal tidur sendirian, takuuuut
7 Desember 2011 @ 10:41Absen kembali mbak…mengunjungi rumah saudarinya
Bli Budiiiii…trima kasih sekali buat kunjungannya, makasiiiiih….!
7 Desember 2011 @ 11:47salam kenal mbak dari Pontianak :))
Halo…halo…salam kenal kembali…apa kabar?
7 Desember 2011 @ 11:50hihihi…Mba, sampe gak berhenti cengar cengir baca postingan mba yg ini, saat beku dalam selimut itu lho, kebayang mba
Tapi keputusan yg Mba buat gak memalukan kok, malah jadi berkumpul kan enak tidurnya, karena siapa tau dik santy itu juga dalam hatinya sih takut cuma segan mau curhat hehehe
Hehehe, iya kali ya…sama-sama takut tapi nggak berani bilang…swear mbaaaak, membeku di dalem selimut itu rasanya nggak enak banget, keringetan dan deg-degan pol!
7 Desember 2011 @ 14:22mbak Irmaaa… pertama kali disini aku juga disiguhi cerita sereem… eaaa kok lagi2 siiih…
yg pijet smpe 5 menit gitu.. kok ya nggak takut siih?
klo aku ya langsung lari terbirit2… huaaaa…. >.<
Iya Tia, samaaaa…saya juga pasti langsung terbirit-birit…
7 Desember 2011 @ 18:54huahahaha asli ngakak saya mba
soale saya biar ditemenin suami niy, tp ga keliatan orangnya, pasti manggil2, nah klo udah manggil2, akhirnya suami ga kehilangan akal, daripada dipanggilin terus to, akhirnya kakinya dijulurin 1 ke depan pintu kamar mandi hahahaha …. gitu juga udah marem hatiku hahahahaha … *asli ngakak puwolll*
Hihihihi…toss dulu, niQue….samaaaa…samaaaaa….saya juga gitu, biarpun cuman kedengeran suaranya, hati saya udah tenang…apalagi kalo kelihatan kakinya ya…hihihi
7 Desember 2011 @ 20:19hmm … serem sekali deh cerita Bu Bintang Timur kalau sudah seputar horor-horor, dalam rumah pula :’( tapiii, tulisannya teuteup menarik as always, two thumbs up!
Kitten…thanks ya, thanks buat atensi dan komennya…seneeeeeng banget!
8 Desember 2011 @ 19:06Beneran lho Bu, coba deh Ibu malem-malem ke mako…
Waktu itu ternyata bukan saya aja yang dijailin, ada seorang ibu juga yang kena jailnya, bajunya ada yang narik dari belakang, hiiii…
Hiiiiiiii…serem ah, sereeeeeeem…nggak berani nyoba DD ARY, kalo saya langsung pingsan gimana…
8 Desember 2011 @ 21:34Aih seruem (seru campur serem) juga ceritanya mbak … ^^
Salam kenal dari Makassar mbak …
Salam kenal kembali, Mugniar…apa kabar di Makasar?
9 Desember 2011 @ 00:35wahhhh … jadilah malam itu malam yg mencekam
tadinya saya berpikir sebaliknya, jangan2 terjadi malam yg terkutuk … syukurlah aman2 aja …
Idiiiih, kok terkutuk sih Omman…kayak di film-film ajah…
9 Desember 2011 @ 07:22Hantu tukang pijat.
:lol:
Weleh…weleh…
9 Desember 2011 @ 14:42waduhhh..saya pengn tidur tanpa gangguan..
Sama Ri, saya juga pengen tidur dengan nyenyak dan aman…
10 Desember 2011 @ 10:28piye sih mbak Irma ini.. bojone pak tentara kok takut ama hantu pemijat
Lo…lo…bojo tinggal bojo. Lozz…takut mah tetep aja takut…hehehe
10 Desember 2011 @ 12:23Berkunjung lagi di rumah saudarinya…tok..tok..
Bliiiiii…saya mau kunjungan balik kesana ah, malu ditengokin terus…
10 Desember 2011 @ 20:05haha…..
eh tp harusnya ini bkn cerita lucu ya mba
tp cerita horror kan?
Nggak apa-apa Depz, kalo udah terlanjur ketawa artinya ini masuk kategori cerita lucu juga kan…
12 Desember 2011 @ 10:31eh lah serem mbak, etapi di rumahku juga katanya ada anak kecilah apa lah alhamdulillah aku malah ga pernah liat bhihihi
aku dulu suka kebangun juga mbak kalau tidur sendirian, tapi pas ngekost sendiri akhirnya jadi berani
Iya Yuyuk, kadang-kadang keberanian itu datang karena terpaksa sehingga kita jadi biasa…
Ada ‘hantu’ anak kecil?
12 Desember 2011 @ 12:26Haduuuh
aku sebelas dua belas sama Pakdhe Bu Ir, aku ALhamdulillah belon pernah ngalamin yang aneh2.. walau kata temen2 yang bisa ;ngeliat’ kalau deket aku bawaannya merinding. idih bangeeet gak?

Aku malah tidur senengnya sendiri Bu Ir, rasanya enak aja bisa menjajah kasur sendirian. bisa ngapain aja posisi tidurnya. hahahhahahaha..
tapi tenang aja, kalau besok Bu Ir ke JOgja dan tidur di hotel sendirian, aku siap dipanggil Bu Ir
hehehhehehehehe
Hohohoho…bener lo Ais, kalo saya ke Jogja dan ‘terpaksa’ tidur sendirian, Ais saya panggil yaaaaa?

12 Desember 2011 @ 14:44Kalo deket Ais merinding?
Ah, jadi pengen nyoba…siapa tau saya juga bisa ‘ngeliat’ sesuatu…sesuatu yang indah maksudnya
Alhamdulillah ,,,gak terjadi apa2…walaupun pijetannya katanya enak,,,saya gak pingin ngerasain “pijatan virtual”
Iya Army, saya juga nggak pengen banget!
12 Desember 2011 @ 20:12Ooo … masih ‘pijat memijat …:P
Hihihi…masih belum pindah ke lain posting, Omman…
13 Desember 2011 @ 14:33Ooo Masih pijat memijat juga yaa..
Pulang membawa tangan hampa *ga bawa oleh2 deh*..
Nchieeeee…saya tadi udah ninggalin komen di blog Nchie…lagi ada lomba ya?
13 Desember 2011 @ 15:50mbaaaaaa…
kayaknya udah 2 kali mba Irma cerita horor tentang rumah di GArut itu ya mbaaa…
Kalo gak salah waktu itu tentang lampu yang tiba tiba nyala mati sendiri ya mba???
duh… untunglah aku oknum yang suka rada cuek gitu mba…
Tapi…boleh juga tuh uji nyali buat nginep di rumah mba Irma…hihihi…
Ntar aku pinjemin Kayla dan Fathir buat tidur sama mba Irma yaaaaa…biar aku berdua abah ajah…hihihi….
Hohohoho…bukan lampu mati hidup Ry, tapi rambut temen saya ada yang narik-narik…
14 Desember 2011 @ 14:40Dipinjemin Kayla sama Fathir?
Ayoooo…siapa takut?
wah untung pas tidur siang di rumah garut nggak ada yang mijetin
Pijatan itu khusus buat tidur malam, Nin!
14 Desember 2011 @ 19:17