Hindari bertengkar dengan anak remaja.
“Kebijakan yang paling buruk adalah menyerang kota yang memiliki tembok pertahanan. Menyerang kota hanya dapat dilakukan sebagai upaya terakhir…”
Kutipan diatas dapat ditemui dalam salah satu sub bab buku Senandung Cinta dari Rumah Kayu yang sudah berulang kali saya baca.
Saya tertarik dengan strategi perang Sun Tzu ini. Bukan hanya karena saya memiliki seorang anak remaja (yang justru tidak pernah bertengkar dengan saya!), namun karena bahasan pertengkaran diantara aroma cinta yang dihamburkan dari buku rumah kayu terasa begitu unik dan berbeda.
Usia remaja adalah usia labil seorang manusia. Masa transisi antara seorang anak yang akan berubah menjadi sosok manusia dewasa. Dimana masa kecil baru saja dilewati, tapi kematangan jiwa masih belum dimiliki.
Banyak kita temui, anak remaja yang ‘tersesat’ dalam kebanggaan ego pribadi. Pamer kehebatan semu, namun miskin karya dan prestasi. Mereka terlalu sibuk mencari jati diri, untuk melengkapi kematangan jiwa agar bisa disebut manusia dewasa.
Seringkali anak remaja juga merasa super dengan kebebasan yang dimilikinya. Mereka lupa bahwa batasan-batasan itu selalu ada. Batasan untuk berbuat sesuai norma, batasan untuk tidak melanggar aturan hukum, bahkan batasan untuk bersikap santun dan beretika pada orang-orang disekelilingnya.
Emosi yang meledak-ledak itu bukan untuk ditumpahkan dimana saja dan pada siapa saja. Emosi itu diberikan, agar anak remaja belajar menghagai dan berempati kepada orang lain. Agar anak remaja itu kelak pantas menyandang status sebagai manusia dewasa.
Di sisi lain, orang tua juga harus senantiasa waspada.
Anak remaja adalah tetap seorang anak yang sama. Anak yang dididik sejak dalam kandungan, diasuh pada masa balita dan diajarkan ilmu serta etika di usia dimana dia sudah mampu diajak berkomunikasi oleh orang tuanya.
Masa remaja adalah ‘hasil didik’ orang tua di masa sebelumnya, yaitu masa anak-anak. Bila bekal yang dimiliki seorang anak baik, maka baik pula seorang anak remaja.
Seorang anak yang dibekali dengan budi pekerti, kelak dia akan pandai untuk berempati. Namun bila seorang anak dibekali dengan banyak bentakan dan ancaman, tidak mustahil dia hanya akan menjadi menjadi seorang remaja anti sosial. Seorang perusuh di lingkungannya. Seorang anak remaja pendobrak norma.
Atau bahkan sebaliknya, dia akan menjadi orang yang tidak peduli dengan keadaan sekelilingnya dan hanya sibuk dengan kepentingan-kepentingan pribadinya.
Dalam buku disebutkan, bahwa banyak orang tua yang karena ego-nya seringkali menolak untuk mengalah, dan pertengkaran kecil yang sering berulang itu makin lama makin membesar sehingga menjadi ‘peperangan’ yang konsisten.
Menurut saya, sesungguhnya bukan hanya orang tua yang harus mengalah bila ada pertengkaran. Anak juga perlu tahu bahwa dia memiliki kewajiban untuk mendengarkan apa yang dibicarakan orang tuanya. Harapan orang tua terhadap dirinya. Keinginan orang tua untuk dihormati sekaligus dicintai.
Perbedaan pendapat itu hanya bisa diselesaikan, bila orang tua dan anak sama-sama mau mendengar dan didengar.
Orang tua yang terus menerus mengalah sebagai alasan pemaaf karena seorang anak remaja sedang berada di usia dan emosi labil, hanya akan membuat anak remaja itu semakin tidak terkendali. Suka-suka melampiaskan emosi. Bahkan mungkin bisa membuatnya menjadi pribadi yang selalu lepas kendali.
Mereka bahkan tidak menyadari, bahwa orang tua adalah sosok yang perlu disayangi sekaligus dihormati. Karena sesungguhnya hanya dari cinta mereka, seorang anak remaja itu ada.
Bila anak remaja memiliki masalah hingga emosinya memuncak, mereka harus belajar untuk tidak menggunakan senjata bentakan pada orang tuanya. Mereka juga perlu menyadari bahwa komunikasi dalam suasana yang tenang akan jauh lebih menyenangkan.
Dengan begitu menjadi jelas, bahwa yang harus mengalah bukan hanya orang tua pada anak remajanya. Tapi juga seorang anak remaja pada orang tuanya.
Mengalah adalah pelajaran berharga bagi jiwa agar berani bersikap kesatria. Mengalah adalah pelajaran bagi logika agar pandai mengatur emosi.
Karena sesungguhnya, orang tua dan anak adalah satu kesatuan darah yang hanya dibedakan oleh usia dan masa.
Benang merah yang mengikat mereka, adalah cinta.

Prosesi kehidupan manusia dari dulu sammaaaa …
… lahir - balita - abg / remaja - dewasa - tua …
Masa remaja adalah masa penentuan, masa pancaroba … itulah pencerahan yg sangat *mencerahkan dari seorang BintangTimur …
Se7 banget kata2 BintangTimur : “Sesungguhnya, orang tua dan anak adalah satu kesatuan darah yang hanya dibedakan oleh usia dan masa”.
Halo Abrus, senang sekali baca komentar ini…hehehe, datangnya cepet banget sih…
20 Januari 2010 @ 17:08Makasih ya!
Anak juga perlu tahu bahwa dia memiliki kewajiban untuk mendengarkan apa yang dibicarakan orang tuanya. Harapan orang tua terhadap dirinya. Keinginan orang tua untuk dihormati sekaligus dicintai. <– saya setuju banget dengan kalimat ini
walaupun saya sering membantah (mungkin tepatnya berbeda pendapat) kepada orangtua sendiri, tp bukan berarti harus mengurangi atau menghilangkan rasa cinta dan hormat
“mengatur emosi”nya kayaknya pas dengan post terakhir saya yang kemarin ya mbak
Hehehehe, iya Depz, kayaknya (lagi-lagi) kita se-ide…
20 Januari 2010 @ 18:04Makasih komentarnya Depz, makin panjang, saya makin seneng nih!
yah lumayan masuk 2 besar
*halah*
Waduh…kayak Indonesian Idol aja…
20 Januari 2010 @ 18:04Assalamu alaikum .
Wah.. Tulisanya dri kemarin yah mba’ ? Ko’ bru muncul padahal dri kemarin aq udah Cek, ngumpet kali yah ? Aq gk ad komen mba’ cman mau blang, Mau blajar bxk sma Mba’.. Menjadi ibu yg Bijak dan Bersahaja..
Salam . .
Itaaaaa….ibu yang bijak dan bersahaja itu, bikin saya ge-er berat
20 Januari 2010 @ 18:14Saya juga belajar kok, ini malah ditambah belajar posting buat lomba…hehehe, thanks a lot ya!
(maaf) izin mengamankan KELIMAAAAXXXZ dulu. Boleh kan?!
Masa remaja adalah masa yang rentan dalam usaha pencarian jati diri. Karenanya, keluarga dan lingkungan harus memberikan perhatian.
Yup, setuju banget dengan mas Alam, lingkungan juga sangat berperan dalam pembentukan pribadi seorang anak remaja…
20 Januari 2010 @ 18:45Ups.. Kirain hri ini tgl 21? Duh.. Blum ap2 udh pikun. Dalam hal mendidik anak apalagi dlm tahap menginjak Remaja, memang bukanlah hal yg mudah tetapi sbagai orang tua kita harus senantiasa sadar dan cerdas serta mengerti akan jiwa mreka, kita hrus pandai menyiasati akan karakter atau kecendruangan mreka dgn demikian akan mempermudah bgi kita selaku Orang tua untuk bsa masuk ke dalam jiwa mereka dan menyelam ke dunianya, untuk selanjutnya menanamkan nilai2 yg tinggi dan sifat2 yg terpuji serta berakhlakul karimah dgn menggunakan cara2 yg baik, dan tentunya hrus di tanamkan mulai dri kecil .
Betul sekali Ita, tidak pernah mudah tugas sebagai orang tua…jadi kalau seorang anak bisa membantu meringankan tugas tersebut, orang tua kita pasti sangat berterima kasih…
20 Januari 2010 @ 18:46seninya menghadapi si remaja ya sis… keknya kita emang gak cuma jadi ortu aja, namun juga sebagai teman yang mo ngertiin dia. Kenapa yaa… mereka suka terbukanya ma temen2nya ga malah ke ortunya… Aah, kalau para remaja itu jadi anak2 yg baik, maka akan baik pula masyarakat dan negara…
Betul Sunflo, berawal dari komunitas kecil yang baik, maka suatu bangsa akan menjadi lebih baik…
20 Januari 2010 @ 20:32Mereka lebih terbuka pada teman-temannya, mungkin karena orang tua terlalu sering menyalahkan, atau kurang sabar mendengarkan keluh kesah mereka…bisa juga karena malu deh, malu untuk bercerita…
Ass.
Bagi saya dasar agama yg kuat hrs diberikan sejak dini pd anak2 shg di ms remaja, ms pancaroba, mrk sudah mulai kuat untuk menghadapi godaan2 yg negatif.
Komunikasi yg akrab & terbuka, tentu sbg penunjangnya. Biarkan anak unt terbuka unt bicara ttg problema yg mrk hadapi sehari-hari.
Moga kita dapat mempersiapkan remaja2 kita sbg generasi penerus.
Salam,
Saya sependapat Bhamz, agama yang dikenalkan sejak dini, akan memperkokoh benteng pertahanan anak remaja…
20 Januari 2010 @ 20:40Keterbukaan, adalah syarat berikutnya ya!
Hehe, mesti bilang apa? Keren dan dalam, seperti biasa
d.~
Hohoho, pujian dari Dee, bikin dada saya berdegup bangga…thanks
20 Januari 2010 @ 22:21Assalamu’alaikum,
Wah…postingannya bagus banget nih mbak Irma, aku enggak bisa berkata banyak. Semuanya sudah diuraikan secara gamblang.
Bagi saya masa transisi anak menuju masa remaja perlu adanya peredam, penyejuk, dan pengayom. Peredam untuk mengendalikan jiwa yang labil seorang anak adalah agama, penyejuk untuk jiwa yang penuh ego adalah kearifan dan cinta kasih, serta penyayom untuk bisa mengendalikan diri adalah kekayaan jiwa, ahlak mulia dan kokohnya iman. Agama adalah mutlak harus digenggam kuat sang anak sejak kecil dan orangtualah yang harus terus mengarahkannya. Kearifan dan cinta kasih adalah mutlak harus dimiliki orangtua untuk menciptakan suasana yang harmonis dan menjauhkan diri dari konflik. Kekayaan jiwa, ahlak mulia dan kokohnya iman adalah sebaik-baik senjata untuk bisa menghindarkan diri dari jebakan nasfu yang membutakan akal pikiran diantara keduanya. Allahu ‘Alam bi Showab.
Komentar ini juga bisa menjadi peredam, penyejuk dan pengayom, Zapira…indah banget!
20 Januari 2010 @ 23:52Agama, adalah hal utama yang harus ditanamkan dalam keluarga, mutlak dan tidak bisa ditawar-tawar lagi…
duh senang dech pagi pagi membaca postmu ini
makkasih y
salam hangat dari blue
Makasih Blue…sore-sore gini, saya juga seneng banget baca komentar ini…
21 Januari 2010 @ 07:53wah, saia jd ingat masa remaja nih, mbak….
ternyata strategi perang jg dpt diterapkan utk mendidik anak ya….hehehe
saia setuju kalo dikatakan mengalah adalah salah satu kuncinya….
untuk keterbukaan, mungkin adanya waktu yg diluangkan bersama-sama antara anak dan ortu bisa membantu, seperti makan malam bersama, shopping bersama, ke salon bersama, atau berakhir pekan bersama….
eh, benar nih mbak irma nggak pernah bertengkar dg putrinya? koq bisa ya?
Enggak pernah, karena kalo salah satu ngomongnya udah agak sinis, yang satu buru-buru minta maaf…hihihi, biar nggak sempat berlanjut jadi pertengkaran, Van…
21 Januari 2010 @ 08:29Semoga hari ini lebih baik dari kemarin.
Jika hari ini sama dengan kemarin berarti rugi
Jika hari ini lebih jelek dari kemarin berarti celaka.
Oleh karena itu kita harus selalu meng-upgrade diri agar menjadi manusia yang beruntung.
Buku sudah saya terima dengan baik, terima kasih banyak.Semoga Tuhan membalas berlipat ganda. Amin
Salam hangat dari Surabaya
Lo mas, buku yang mana ya…?
21 Januari 2010 @ 10:11Tapi trima kasih buat kunjungan dan komentarnya, salam buat Surabaya…kota yang selalu saya rindukan
Mba, postingan mba Irma akan aku camkan buat bekal hadapi Sekar jika remaja nanti, karena ilmu itu harus dipersiapkan agar tidak kaget kemudian he…he….
great post mba
Wah, saya juga berguru pada orang tua saya, mbak…hehehe
21 Januari 2010 @ 10:33Makasih buat apresiasinya ya!
mba irma, tulisan ini pas banget untuk liza… kan liza masih remaja… hehehhehe…
Oya?
21 Januari 2010 @ 11:56Wah, tau gitu, saya posting dari dulu deh…hehehe, makasih Liz, saya yakin Liza remaja yang membanggakan orang tua…
hehehe..
anak akan belajar mengalah pada orang tua (ktika mereka beda pendapat) jika orang tua dari kecil emang mengajari mereka buat ngalah, diajari gmana cara bkomunikasi yg baik..
saya trmasuk yg spakat mbak, perilaku anak akan niru ortunya.. karna dasarnya emang ortu adalah objek lekat anak, beda lagi kalo dari kecil anak nggak diasuh ortunya.
kadang miris juga sih kalo liat anak delikuen yang langsung dimasukkan ke rehabilitasi, menurut saya justru orangtua dan keluarga-nyalah yg mesti diterapi bukan cuma anaknya..
Kalo ngomongin psikologi anak sama jagonya, saya ngaku kalah deh…

21 Januari 2010 @ 15:39Komentar Mala bener banget, tidak pernah ada anak yang salah, bila orang tua sudah mendidik dengan benar…
Wah keren habis buk
Hehehe, saya jadi malu…(dan seneng, tentu saja…
) Trima kasih ya!
21 Januari 2010 @ 18:09cinta yg mendarah daging dalam bahtera rumah tangga
asyikkk.. sekali mbak?
Insya Allah begitu…menyenangkan juga pastinya ya!
21 Januari 2010 @ 19:13kamu udah baca buku senandung cinta dari rumahkayu?
Pastinya sudah, karena itu saya bisa bikin posting ini…
21 Januari 2010 @ 19:35mbaaaa…..
ckckck…inspiratif banget deh….
Kok pemikiran mba bisa mirip gitu sama aku yaaa?…hehehe:)
AKu lagi nge-draft postingan yang isinya rada2 mirip….
Tapi kl mba’ kan menyoroti remaja nih, kalo aku lebih ke balita-nya….
ntar kalo postingan ku udah jadi…ijin nge-link ya mba….:)
Masa siiiiiih…?

21 Januari 2010 @ 20:19Hehehe, iya, saya juga heran…tadi waktu saya baca posting Erry (ehm, yang jadi posting pilihan itu tu…), saya juga langsung merasa klik dengan isi dan gaya bahasanya
Bagus banget, dan sungguh, kehormatan buat saya bisa di-link oleh posting sebagus itu…
Thanks!
Karena dulu saya pernah jadi remaja dan tahu betapa susahnya komunikasi dengan orangtua, saya pun bertekad untuk bisa jadi orang tua yg cukup mengerti ttg sifat anak saya nanti. Pertahanan seorang remaja tidak akan bisa dijebol dgn cara kekerasan kecuali dia yg mau membukanya sendiri…
Betul Zee, pertahanan mereka sesungguhnya bisa positif, bila digunakan untuk membentengi diri dari hal-hal negatif…
21 Januari 2010 @ 20:39remaja memang sulit ditebak, tapi dengan cinta dan kasih sayang semua bisa teratasi..
karena cinta merupakan hal dasar yg dimiliki manusia
Iya…dengan cinta, tembok pertahanan setebal apapun bisa ditembus ya…
21 Januari 2010 @ 23:01pernah remaja…yach gitu….bandel sama ortu….
sekarang jadi ngerasa bersalah….
jadi sayang banget sama ortu…..
Wah, syukurlah Asfan, tidak pernah ada kesalahan yang tidak dimaafkan oleh orang tua kita kan…
21 Januari 2010 @ 23:48iyaaa sayah juga suka bab ini di rumah kayu.
duuuhh udah bikin 2 tulisan ajah .. sayah kapan ya?
Hahahaha, Quinie…udah ditungguin sama Dee tuh…
22 Januari 2010 @ 00:11wah reviewnya bagus2….
jadi keder nih hwhheh….
Waduuuh…kenapa keder, Gusthy?
22 Januari 2010 @ 04:54Selera juri, siapa yang tau…
kuncinya adalah ada pada keluarga terutama orang tua, yang bisa memantau atau memetakan arah dri anaknya spy tdk terlanjur terjerumas kpd hal2 yg tentunya tdk hanya merugikan remaja itu sendiri, tetapi keluarga pd umumnya……..
salam
Iya, orang tua adalah sosok panutan seorang remaja.
22 Januari 2010 @ 10:22Figur terdekat yang mempunyai kedekatan batin dengan mereka…
[...] yang telah disinggung oleh salah satu teman (baru) nge-blog saya, “masa remaja ialah hasil didik dari orang tua di masa sebelumnya”. Saya sangat setuju itu, karena saya percaya bahwa usia 0-5 tahun (golden age) adalah usia masa [...]
Wah…wah..wah…trima kasih Erry, buat kehormatan ini
22 Januari 2010 @ 11:59mbaaa….
Ya iyalah…..dirimu lah teman baru ku….heheheh….
diriku sudah berhasil nge-link tulisanku ke tulisan yang ini yaaaa….
Tadi mah susah banget….maklumlah…gaptek ..hihihi…
Thanks buat kunjungannya ke blog ku yaaaa….
Hahahaha, kayaknya saya jauh lebih gaptek deh, bayangin, dipasangin banner lomba aja sama temen saya…
22 Januari 2010 @ 12:04Thanks juga buat komentar Erry yang selalu hangat, bikin saya jadi seneeeeng banget!
Dari kemarin-kemarin saya sudah baca post ini. Mau komen sebenarnya, tapi urung karena bingung.
Di satu sisi, saya engga mau meninggalkan jejak dg kalimat yg asal-asalan, di sisi lain ternyata pengetahuan saya akan psikologi anak terlalu cetek untuk menanggapi postingan hebat ini. *jadi malu*
jadi, saya tunda dulu, siapa tau nanti dapat ide…
dan ternyata sampai kini saya masih bingung… hehe…
(dilanjut ya baca novelnya)
Saya sudah baca dan berkomentar juga…hehehe, kayaknya tadi saya kesana, ayahnya ranggasetya berkunjung kesini, berpapasan di jalan deh…
22 Januari 2010 @ 18:53dooh aku kemana aja sih koq baru ke sini…………
bersyukur selama ini aku belum pernah marahan sama orang tuaku, mereka juga ngak pernah memarahi aku sampai yang parah..paling negur aja sih
Dooohhh…jalan-jalan ke Saudi kali, Ida…hehehe, Sunflo lagi belanja-belanja baju tuh…
23 Januari 2010 @ 01:01Iya, serem ah kalo bertengkar dengan orang tua, pamali bin kualat!
katanya anak muda itu tempatnya sombong Bu (sy pernah dengar waktu mengaji) tp bila anak muda gak sombong itu akan lebih baik daripada orang tua yang memang lebih bijak, he2
memang benar ya Bu? Maklum belum punya anak
tapi pas muda dulu sya malah kurang Pede walau akhirnya pede
smoga sy bisa mendidik anak2 sy dengan baik ya bu
oya, trimakasih informasinya BU ttg writing contest yang diadakan oleh rumah kayu
Halo Mio, senengnya liha Mio berkunjung kesini lagi…
23 Januari 2010 @ 04:38Makasih juga komentarnya…uadh ada posting baru kah?
Kesana ah…
izin untuk mampir… salam.
Silahkan…silahkan…diterima dengan senang hati…
23 Januari 2010 @ 05:17ulasan yang lengkap dan mantabs,
benar2 mengerti apa yg dibutuhkan remaja dan orang tua
Wah, makasih apresiasinya ya, saya jadi malu nih…
23 Januari 2010 @ 07:02hehehehe mampir lagi….
gak enak kalo gak ninggalin jejak
Hahahaha, dengan senang hati Idana, posting baru lagi disiapin nih…
23 Januari 2010 @ 11:36untungnya orang tuaku cukup mengerti dengan masa remajaku..hehe
tapi aku tetep gak boleh pacaran kalo masih sekolah..:D
lulus sma boleh deh pacaran..
cuma memang ego masa remaja tuh kadang gak kurang ajar
aku baru ngerasain sekarang setelah melewati masa remaja, ternyata kadang ingin melakukan sesuatu yg diluar batas itu kuat banget..hehe
tapi alhamdulillah kesadaran lebih cepat datang ;p
Melly..ternyata tembok pertahanannya kuat ya!
23 Januari 2010 @ 11:49Mungkin karena anak pertama, dari dulu saya cenderung penurut lo Mel, posting ini saya tulis berdasarkan cerita temen-temen atau baca di majalah…hehehe, katanya sih seperti ini
Ok Mel, semoga posting Melly yang barusan saya komentarin menang ya, unik dan lucu banget…
justru menurut saya tersesat dalam mencari jati diri juga perlu,karena dari hal itu kita bisa belajar dan benar-benar mengerti diri kita.
Tersesat tidak terlalu jauh, mungkin juga bisa menjadi pelajaran berharga, namun tidak pernah ada jaminan untuk itu…
23 Januari 2010 @ 13:12Waduh ketinggalan kereta.. Udah banyak posting kereeeen disini. Inspiratif.. Apalagi untuk orangtua muda kyk saya yg masih harus banyaaaaak sekali belajar.
Ternyata susah jadi orangtua,24jam yg tersedia pun rasanya kurang utk mendidik anak..
Kalo saya paling suka kalimat ini : “Mengalah adalah pelajaran bagi logika agar pandai mengatur emosi” Susah juga utk dipraktekin hehehe.. Tapi saya akan selalu berusaha menjadi pendamping yg baik untuk anak2 terbaik titipan Allah pada kami.. Mhn doanya ya Bu ^^
Eh, kok ketinggalan kereta?
25 Januari 2010 @ 23:23Udah beli tiket peronnya belum…
Ehm, pagi-pagi disanjung begini, rasanya jadi pertanda baik deh!
Makasih d R3tno, saya yakin d R3tno bisa mendidik Nasywa dan Raffa menjadi anak yang pintar di bidang agama, budi pekerti maupun logika…
artikel ini sangat bermanfaat buat kita semua.
just info: kalau butuh akses internet murah bisa mampir di HamaSale Shop.. thanks sobat semua
Trima kasih informasinya…
26 Januari 2010 @ 04:57[...] serta merchandise dari blogdetik yang merupakan hadiah kedua diberikan untuk tulisan berjudul “Tembok Pertahanan Anak Remaja “ di blog [...]
Waduh, waduh…makasih ya!
1 Februari 2010 @ 00:04Speechless nih
mbaaaaaaa….
Selamaaaaatttt:)
*aku lagi bikin bubur dede subuh2 nih….sampai ditinggalin saking pengen buru2 mampir sini….hihihi*
siriiiiik ga dapet i pod!!! huhuhuh…..
Udah ya… lanjut bikin bubur dulu.:)
Hehehehe…saya juga nggak nyangka, kayaknya opini Erry lebih keren deh…kita tukar posisi, yuk!
1 Februari 2010 @ 06:10Saya yang merchandise, Erry ditambahin Ipod…
ehhhhmmmm.. dapet ipod… cantik-tik-tik..
mbaaakkk.. slamat yaaaaa.. (tereak2 bawa bendera)
Mala…Mala…saya sok-sok kayak juara gitu, melambai-lambaikan tangan sambil tertawa lebar…
1 Februari 2010 @ 08:10Makasih Mala, makasih banget udah ikutan seneng dengan ‘kemenangan’ saya…
Terimakasih yaaa, untuk partisipasinya dalam Rumah Kayu Writing Contest, dan… congratulations! d.~
Trima kasih kembali…senang sekali bisa ikut berpartisipasi dan…menang
1 Februari 2010 @ 09:28mantaaabbb…memang layak untuk dapat Ipod…selamat yah Mba Irma…..bener mba…aku aja sekarang udah mulai nahan ego dan emosi sama bidadari kecilku….
Hehe, makasih Mou…menahan emosi itu bukan berarti kalah kan, karena ada kemenangan besar yang menanti kita di depan sana…
1 Februari 2010 @ 10:07Salam sayang Mou, buat bidadari kecilnya, juga buat ibunya
[...] serta merchandise dari blogdetik yang merupakan hadiah kedua diberikan untuk tulisan berjudul “Tembok Pertahanan Anak Remaja “ di blog [...]
Thanks…
1 Februari 2010 @ 10:37wah congrat yach pak…
Makasiiiiiiih…
1 Februari 2010 @ 11:33[...] serta merchandise dari blogdetik yang merupakan hadiah kedua diberikan untuk tulisan berjudul “Tembok Pertahanan Anak Remaja “ di blog [...]
Thanks a lot…
1 Februari 2010 @ 13:04cieeee tante dpt ipod nih
selamat ya tante
oya makasih banyak kirimannya kmrn tante
langsung saya coba,,mantap
Hohoho…pedessssssssssssss banget kan, Nin
1 Februari 2010 @ 19:09[...] serta merchandise dari blogdetik yang merupakan hadiah kedua diberikan untuk tulisan berjudul “Tembok Pertahanan Anak Remaja “ di blog [...]
Thanks…
6 Februari 2010 @ 07:01Wah-wah selamat-selamat.
Pertahankan tulisannya.
Dan Templatenya bagus, membuat pembaca jadi senang kesini.
Aduh, makasih banget…
7 Februari 2010 @ 02:05Template itu yang pasangin temen saya, hehehe, sering-sering berkunjung kesini deh!
[...] serta merchandise dari blogdetik yang merupakan hadiah kedua diberikan untuk tulisan berjudul “Tembok Pertahanan Anak Remaja “ di blog [...]
Makasih…makasih…
7 Februari 2010 @ 07:03Memang seorang anak memiliki kewajiban menghormati dan mencintai orang tuanya. Tapi bagaimana jika seorang ayah bersalah tetapi dia tidak mau mengakui kesalahannya dan melimpahkan kesalahan itu pada si anak. Apakah anak harus diam saja?
Hai Ferni…
29 Mei 2010 @ 18:36Seorang anak mempunyai kewajiban untuk patuh pada orang tua, tapi anak juga memiliki hak buat menyampaikan apa yang menjadi keinginan dan harapannya terhadap orang tua.
Bila di mata Ferni seorang ayah itu bersalah, Ferni dapat menanyakan langsung hal tersebut pada yang bersangkutan. Tanyakan dalam bahasa yang santun. Utarakan kekecewaan ferni dengan lugas namun sopan. Pilih waktu yang baik juga, agar pembicaraan itu dapat dilakukan di saat yang tepat. Kalau bisa, hadirkan juga ibu untuk menjadi ‘penengah’ bila diskusi tidak mencapai titik temu…
Selamat mengeluarkan pendapat, ferni, semoga semua dapat diselesaikan dengan baik. Salam hormat buat orang tua ya!
nice posting…
that’s important..
Thanks, Nanda…
1 Juni 2010 @ 10:16benteng kuat mambuat pertahanan sempurna…..
<Visit my blog>
Setuju, Rakel…
10 Juni 2010 @ 11:30jiwa yg kuad brasal dr tembok prtahanan yg kuat
ssaaalluuutt . . . . . . . .
Trima kasih atensi dan komennya ya!
23 Juni 2010 @ 23:07