Hari itu matahari belum terbit sempurna. Kabut pagi masih menyelimuti bumi.
Rombongan kami sudah bersiap-siap melakukan perjalanan ke lokasi TMMD di Aek Kanopan, sebuah kota kecamatan yang harus ditempuh kurang lebih 9 jam dari Medan.
Kota kabupaten yang pertama kali dilewati adalah Lubuk Pakam, kemudian Kotamadya Tebing Tinggi, Kabupaten Kisaran dengan ibukota Rantau Prapat, setelah itu masuk ke wilayah Kabupaten Asahan dengan ibukota Labuhan Batu.
Di Sumatera, luas wilayah kota kabupaten bisa dua atau tiga kali di Pulau Jawa. Jadi biarpun hanya melewati empat kotamadya/kabupaten, jarak yang harus ditempuh hampir 8 jam. Padahal tanpa hambatan, dengan laju kendaraan rata-rata 100 km/jam.
Setelah memasuki Aek Kanopan, lokasi yang dituju masih berjarak sekitar 35 km. Saya memperkirakan, paling lama satu jam rombongan kami sudah tiba disana. Tapi perkiraan itu meleset. Setelah melewati jalan utama yang nyaris lancar, perjuangan sesungguhnya baru dimulai.
Jalan yang harus dilalui untuk sampai di lokasi adalah jalan diperkeras. Disana-sini lubang menganga dalam. Belum lagi genangan air yang tersisa dari hujan lebat malam sebelumnya. Kendaraan kami sempat beberapa kali meluncur tanpa kendali.
Setelah setengah jam pertama dilewati, mungkin baru sekitar 8 km dari keseluruhan jarak yang harus ditempuh. Mulai tampak perumahan penduduk yang digenangi air. Tadinya saya menduga, rumah tersebut kebanjiran. Ternyata tidak. Sepanjang musim, rumah-rumah disana akan selalu terendam air karena letaknya didaerah rawa-rawa. Saya juga melihat, hampir di tiap rumah ada perahu kayu yang ‘diparkir’ di halaman.
Bahkan yang lebih mengherankan lagi, untuk menjemur pakaian saja, mereka harus memiliki sebuah ‘jembatan’. Terbuat dari kayu panjang yang permukaannya datar, ‘jembatan’ tersebut dimulai dari pintu masuk rumah menuju ke arah tali jemuran itu dibuat.
Wah, saya benar-benar takjub. Saya membayangkan kalau cucian tadi jatuh tertiup angin, pasti langsung terjun bebas ke air rawa yang berwarna coklat. Jepitan jemuran? Saya tidak melihatnya sama sekali…
Di satu tempat setelah kurang lebih satu jam perjalanan, kendaraan kami tiba-tiba berhenti. Ada antrian panjang karena banyak mobil bahkan ada sebuah truk kelapa sawit yang terperosok dan harus ditarik keluar dari genangan lumpur dalam.
Bukan pekerjaan mudah tentu saja. Saya memanfaatkan kesempatan tersebut untuk keluar dari kendaraan dan menuju ke rumah terdekat. Numpang ke kamar mandi, maksudnya.
Dengan berbekal satu botol besar air mineral (kami yakin air bersih disana pasti sulit sekali), saya dan beberapa teman menanyakan dimana letak kamar mandi yang bisa kami gunakan. Rupanya karena kondisi halaman (bahkan rumah…) yang hampir setiap waktu terendam air, kamar mandi harus diletakkan di luar. Terpisah dari rumah utama.
Saya lalu melihat sebuah tempat yang saya tebak adalah sebuah kamar mandi. Bilik segiempat sederhana yang ditutupi oleh karung-karung plastik bekas aneka warna. Tingginya sebatas bahu dan tanpa penutup apapun diatas kepala. Begitu memasuki tempat tersebut, keheranan saya bertambah. Disana tidak ada lubang pembuangan sama sekali. Hanya plester semen yang nyaris hancur serta seember air keruh. Air yang bekas digunakan, akan langsung bercampur dengan genangan air disekitar rumah, menyatu dengan genangan air yang sudah ada.
Benar-benar memprihatinkan…
Sanitasi rupanya sebuah kata langka yang tidak pernah sampai disini. Selain itu, saya juga tidak pernah melihat tanaman produktif apapun selain kelapa sawit yang tergenang di belakang rumah penduduk. Buahnya subur dan siap dipetik dengan menggunakan perahu!
Setelah mengobrol sebentar, saya kembali ke kendaraan. Ternyata masih belum bergerak. Saya tertarik memperhatikan mobil yang letaknya tepat di depan kami. Sebuah kendaraan keluarga dengan pintu mobil yang salah satu sisinya terbuka. Sepasang kaki yang ditutupi kain batik terjulur keluar. Rupanya karena pasien (saya menduganya begitu…) tidak bisa duduk, maka harus diletakkan dalam posisi berbaring.
Saya juga sempat khawatir, takut kalau pasien yang sudah demikian parah, malah meninggal di jalan. Bukan apa-apa, tempat tersebut letaknya sangat terpencil, dengan genangan air bercampur lumpur yang siap ‘menelan’ kendaraan apa saja. Buktinya saat itu, sudah hampir satu jam kami antri menunggu truk yang terperosok sebelum akhirnya berhasil dievakuasi.
Iseng-iseng saya mendekat dan bertanya pada pengemudi yang berdiri di belakang kendaraan tersebut. Luar biasa. Ternyata mereka sudah satu malam ‘terjebak’ disana. Hujan lebat dan jalan berlumpur, membuat kendaraan mereka tidak bisa bergerak kemana-mana. Dan yang lebih membuat saya terpana adalah mereka bukan membawa orang sakit, tetapi jenasah yang akan dibawa pulang ke rumah…
Saya benar-benar tercengang. Pelan-pelan saya mundur teratur dan kembali ke kendaraan. Lalu terduduk lemas di dalam mobil. Berbagai perasaan berkecamuk di benak saya. Antara kaget, sedih, prihatin dan kagum. Betapa daerah yang demikian terisolir membuat penduduknya tegar bertahan. Sampai-sampai jenasah juga terpaksa harus ‘menginap’ di pinggir jalan.
Dari berbagai cerita yang saya dengar, kesuburan pohon kelapa sawit disana membuat mereka berat meninggalkan tempat tersebut. Sudah turun temurun, pohon-pohon itu berhasil mengantarkan anak-anak mereka untuk bisa sekolah dan bekerja mapan di kota besar. Jadi tantangan alam disana, justru mereka jadikan semangat untuk bisa menghasilkan buah kelapa sawit yang lebih baik serta mengantarkan anak-anak mereka bersekolah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi…
Semangat, memang bisa membuat hidup terasa lebih mudah!

Begitulah kehidupan keras selalu membuat kekuatan dan hal itu sudah menjadi prinsip mereka, Kanopan adalah tanah kelahiran Opung ku dan masih banyak kerabatku disana namun sudah jarang berkunjung kesana, terakhir kali tahun kemarin bersama bapakku kesana, tidak banyak perubahan memang seperti itulah adanya
Oya? Wah, saya benar-benar tidak menyangka
3 September 2009 @ 09:54Tempat itu, sangat berkesan buat saya, jadi biarpun sudah hampir setahun berlalu, keadaan disana masih terbayang jelas…
hmm.. benar2 pejalanan yang sangat berkesan ya mbak. btw dalam rangka apa nih kesana? semoga saja lambat laun seiring berjalannya waktu pola pikir masyarakat disana bisa berubah terutama tentang sanitasi lingkungan ya mbak. air tergenang dimana2 kan sumber penyakit.
Bener banget, Liza…saya udah baca blognya dan kagum banget dg cita-cita dan motivasi Liza yg luar biasa
3 September 2009 @ 12:33Makasih komentarnya ya!
asslmu’alaikum
salam kenal ya,,,saya mau ikutan gabung jadi temennya…maen2 dan kasih komen ya di blog-ku
,,,soalnya saya pendatang baru,,,butuh banyak teman untuk share…trims
Boleh, boleh…seneng sekali punya temen baru D
3 September 2009 @ 12:47Tapi nama blognya apa nih, kasih tau saya ya!
Makasiiih…
setuju banget mbak dengan kalimaat pamungkasnya
tanpa semangat semua yang kita jalani akan lebih berat
thanks for sharing this
Sama-sama Depz, sesuatu yg berkesan dan menimbulkan semangat, selalu melekat erat di benak saya…
3 September 2009 @ 16:42untuk kesekian kalinya… sulit untuk berkomentar…
pengalaman unik, diceritakan dengan indah dan pesan moral yang dalam…
bagaimanapun ir, seperti itulah kehidupan. kita tak bisa memilih kita akan lahir dimana dan dalam kondisi apa, dan walau “punya” pilihan apakah kita akan seumur hidup berada di tempat yang sama atau tidak, juga tidak semua orang punya pilihan itu, atau berani memilih… ada banyak kondisi yang membuat orang bertahan berada di tempat asalnya.
selain itu, seringkali juga… apa yang kita anggap memprihatinkan, bisa saja membahagiakan buat mereka… (barangkali mereka kalau lihat orang2 di Jakarta yang tiap detik berlari di kejar waktu, dan gaya hidup semu serta hedonis orang2 di kota besar dalam hatinya bilang: kasian ya orang2 itu… he he he he he … )
d.~
Hehehe, bener juga ya, memprihatinkan buat saya, mungkin membahagiakan buat mereka…
3 September 2009 @ 18:55Betul Dee, sudut pandang tiap orang beda-beda, yg jelas mereka menikmati semua hal yang (menurut saya) dg penuh keterbatasan. Tapi saya juga percaya, mereka bahagia, dg semua yg mereka punya…
Pengalaman yang tdk mungkin saya lupakan Bu,mengharukan plus serunya perjalanan kita kesana.. Berasa banget jadi Ibu Persit

Hikmah yang bisa diambil dari perjalanan itu adalah harus banyak bersyukur dengan apa yang kita punya.
Membayangkan penduduk sana untuk bisa keluar menuju kota aek kanopan ongkos ojek yang harus dikeluarkan seratus ribu rupiah! Kalau sudah begitu tinggal di Galang jadi jauh lebih menyenangkan..
Saya masih simpan foto perjalanan kita kesana Bu,nanti coba saya kirimkan ke email Ibu
Ya,ya,ya…saya tunggu d R3tno, saya malah tidak punya foto sepotong-pun…hehehe
3 September 2009 @ 19:55dalam rangka apa ke sana? kayanya seru… hm,,,
Dalam rangka TMMD, singkatannya tau kan….
3 September 2009 @ 22:06Perjalanan itu seru banget, menyenangkan dan tidak terlupakan!
[...] Perjalanan ke Aek Kanopan Hari itu matahari belum terbit sempurna. Kabut pagi masih menyelimuti bumi. Rombongan kami sudah bersiap-siap melakukan perjalanan ke lokasi TMMD di Aek Kanopan, sebuah kota kecamatan yang harus ditempuh kurang lebih 9 jam dari Medan. Kota kabupaten yang pertama kali dilewati adalah Lubuk Pakam, kemudian Kotamadya Tebing Tinggi, Kabupaten Kisaran dengan ibukota Rantau Prapat, setelah itu masuk [...] [...]
3 September 2009 @ 23:25wah buk , pengalaman yang sangat luar biasa.Ternyata semangat mampu membuat keyakinan terhadap sesuatu semakin kuat
Betul, dengan semangat, semua akan terasa lebih ringan…
4 September 2009 @ 00:23Ga tau TMDD tuh apaan.. He he he.. Setelah di search di om google banyak kemungkinan ternyata.
Hehehe, masih penasaran ya?
4 September 2009 @ 09:57Semacam kegiatan sosial yg dilakukan o/ sebuah institusi…
Dalam jangka waktu tertentu, biasanya berupa pembangunan fisik dan pembinaan mental. Sip?
senengnya ya bu, bisa jalan2 terus
Dulu Put, waktu masih dinas di Sumatera…hehehe
4 September 2009 @ 12:05Makasih ya!
pengalaman sangat indah dapat bertemu dengan orang yang memiliki tingkat survive tinggi, karena kita blum tentu bisa tegar dan bertahan seperti mereka bila menghadapi kondisi alam yang tak bersahabat tersebut
Bener banget, kesulitan mereka di mata saya, sudah menjadi keseharian. Jadi mereka malah bisa menikmati semuanya dg gembira…
4 September 2009 @ 14:32Semangat, disertai dengan keikhlasan, pasti ……. (dikau sudah merasakannya kaaan ..?)
Insya Allah sudah, tapi masih tetep harus belajar…
4 September 2009 @ 20:49Kalau saya hidup di tempat dengan medan seperti itu sanggup
ga yah. Mungkin yang udah turun temurun disana menganggapnya sebagai kehidupan yang biasa
Betul banget, semua karena kebiasaan…
5 September 2009 @ 10:25Dan ternyata mereka bahagia dg semua yg mereka jalani.
Bisa ya kecepatan 100 km/jam ? Padahal untuk kec. segitu kan paling tidak jalan harus lurus ..
Salam.
Sebelum masuk ke jalan diperkeras tadi, jalannya memang lurus dan sepi, tanpa hambatan…
6 September 2009 @ 08:31Setelah masuk ke jalan itu, wah, merambat banget!
memang, keterbatasan bukanlah halangan untuk bisa bahagia….tergantung kita menyikapinya saja kok
Hehehe, kebahagiaan bisa dimana saja dan kapan saja ya…
6 September 2009 @ 23:09Pakabar mbak??dah lama gak mampir nih hehehe….btw, dimata saya mba beruntung punya kesempatan mengunjungi tempat2 seperti ini, tempat yang bisa mengasah sisi kemanusiaan kita, membuat kita sadar bahwa kita termasuk orang -orang beruntung dibandingkan saudara-saudara kita yang lain….tempat yang membuat kita merasa malu karena kita sering mengeluh atas sedikit kesusahan sementara banyak justru orang yang sehari-hari bergulat dalam tingkat kesulitan yang tak pernah bisa kita bayangkan…
Alhamdulillah Mou, saya juga bersyukur dg semua kesempatan yg sudah saya terima. Membuat saya banyak belajar dan bersyukur, bahwa nikmat sekecil apapun tetap harus kita nikmati dg penuh terima kasih…
7 September 2009 @ 07:58Sehat, Mou? Selamat puasa juga ya!
pembangunan yg tidak merata nih, jd ada tempat yg sangat kesulitan, sementara jakarta berlimpah fasilitas. seharusnya tidak begini….nice post
Makasiiih…komentar yg manis
8 September 2009 @ 07:18kadang semangat timbul karena keterpaksaan/ketergantungan juga ya sis hehe…. tapi apapun alasannya mereka adalah org2 yg gigih
Betul, gigih dan penuh semangat…dua hal yg membuat saya kagum
8 September 2009 @ 07:57“sebuah kota kecamatan yang harus ditempuh kurang lebih 9 jam dari Medan.
Kota kabupaten yang pertama kali dilewati adalah Lubuk Pakam, kemudian Kotamadya Tebing Tinggi, Kabupaten Kisaran dengan ibukota Rantau Prapat, setelah itu masuk ke wilayah Kabupaten Asahan dengan ibukota Labuhan Batu.”
maaf mbak, sedikit koreksi : dalam keadaan normal jarak medan - aek kanopan cukup ditempuh dalam waktu 5 jam, baik menggunakan jasa angkutan jalan darat maupun kereta api. kisaran adalah ibukota kab.asahan, dan rantauprapat adalah ibukota kab.labuhanbatu namun kota ini tidak kita lewati jika kita menempuh rute medan - aek kanopan. aek kanopan sendiri adalah ibukota kab.labuhanbatu utara yang merupakan kabupaten pemekaran dari labuhanbatu induk.
Aduh, makasih masukan dan koreksinya Haris…
17 Desember 2009 @ 19:16Saya senang sekali dengan komentar ini.
Artinya data saya yang kurang tepat, sudah otomatis diperbaiki ya