a journey of my life…

Pertanyaan sederhana ini, pasti bisa dijawab dengan mudah. Setiap wanita, apapun tingkat pendidikannya pasti ingin bekerja (kecuali yang punya cita-cita jadi isteri orang yang kaya raya sekali dan wanita itu tidak ingin mengapresiasikan dirihahaha).

Cita-cita saya waktu kuliah dulu adalah menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Kayaknya kok enak ya, jam kerja jelas, tidak kelamaan ninggalin rumah plus dapat pensiun!

Harga diri juga agak naik sedikit dibandingkan ibu rumah tangga. Jangan tersinggung ya, ini pendapat saya duluuuuuu, waktu masih kuliah dan belum tercemar seperti sekarang.

Bapak saya almarhum, malah bercita-cita supaya saya jadi anggota dewan! Hehehe, jangan bingung, bapak saya tercinta ini punya cita-cita yang mungkin belum umum pada saat itu.Maklum, dulu saya lumayan aktif di berbagai organisasi, mulai di kampus, pencinta alam sampai di organisasi kemasyarakatan. Yang pasti, bapak saya juga ketua organisasi sosial politik terbesar saat itu, di tingkat propinsi. Klop kan?

Jadi hanya anggukan kepala saja yang harus saya lakukan, dan sim salabim, saya akan jadi calon anggota legislatif di tingkat kotamadya dimana saya berdomisili.

Saat itu, KKN sedang “in” dan bapak mana yang tidak ingin membuat kehidupan anaknya berada di jalur yang aman dan nyaman…

Tapi….saya tidak mau!

Saya tetep pengen jadi PNS, apalagi saat itu pacar (baca : sekarang suami) tentara, pasti pindah-pindah keliling Indonesia, bahkan luar negeri kalo bahasa Inggrisnya hebat. Daripada nanti bingung milih ikut suami atau tetap bekerja, saya mempertahankan untuk tetap mau jadi PNS.

Bapak saya juga tidak putus asa (kayaknya nggak sreg banget, anak perempuan satu2nya ini, dengan nilai akademis yang lumayan membanggakan…hehehe, enggak deng, saya dulu biasa aja, hanya memang selalu mengerjakan semua hal dengan sungguh-sungguh, kok cuma jadi PNS saja), saya disarankan untuk menjadi dosen.

Terus terang tawaran ini menarik untuk dipertimbangkan. Jadi dosen lebih keren dan ilmu kita juga selalu terpelihara. Tapiiiiii…..ternyata saya harus bikin perjanjian dengan pihak universitas untuk melanjutkan ke S2. Wah, nggak janji…tahun 90, isteri tentara lulus S1 kayaknya sudah hebat…haha, lagipula kalau suami saya dinas di tempat yang nggak ada kampusnya, masa saya harus kuliah di hutan? Idiiiih…didramatisir banget nggak sih…

Akhirnya, saya dan bapak sepakat (suami belum ada, ibu sih selalu mendukung apapun pilihan terbaik) kalau saya tetap dengan cita-cita saya dulu, yaitu menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil.

Setelah test ala kadarnya, jaman dulu tau sendiri kan…saya diterima menjadi PNS Departemen Dalam Negeri, jadi bekerja di kantor pemerintah daerah setempat.

Singkat cerita, saya menjadi PNS 4 tahun, cuti diluar tanggungan negara 8 tahun karena suami dinas ke luar Jawa (ajaib, bisa lo, jabatan dan gaji saya lepas, hanya status tetap) dan bekerja kembali waktu suami saya dinas di propinsi pada saat saya menjadi PNS pertama kali.

Saya akhirnya menjalani rutinitas sebagai wanita bekerja, walau harus hidup terpisah di 3 kota dengan suami dan anak. Untung masih satu propinsi, jadi paling tidak seminggu sekali kita bisa kumpul. Satu tahun saya jalani, suami ternyata pindah dinas ke kota yang sama dengan anak saya tinggal dengan neneknya. Wah, tanpa membuang waktu, saya langsung mengajukan mutasi (sudah pantas juga menurut saya, karena begitu diterima lagi dengan NIP yang sama, saya sangat rajin masuk kantor dan mengerjakan pekerjaan apapun tanpa pilih-pilih…menebus kesalahan ceritanya!).

Akhirnya selama 7 bulan kami tinggal di kota yang sama, ibukota propinsi pula, ada ibu dan keluarga adik saya pula walau beda rumah….ah, nikmat mana lagi yang saya ingkari?

Ternyata hanya 7 bulan suami disana, setelah itu pindah ke Jakarta.

Saya bingung lagi, mau ikut suami atau nemenin anak yang kelas 3 SMA?

Setelah dijalani selama satu bulan, suami meminta saya untuk tetap mendampingi anak dan meneruskan karier saya sebagai PNS. Rasanya tidak pantas, baru diterima, mutasi, eh, pindah lagi….memang kantor siapa,bu?

Mula-mula saya curiga, jangan-jangan suami punya niat lain nih!

Di Jakarta kemungkinan apapun bisa terjadi. Belum lagi banyak yang memojokkan saya, kenapa pilih bekerja dan suami dilepas sendiri di Jakarta?

Saya hanya tersenyum, percuma menjelaskan pada orang yang opininya sudah negatif…hehehe…sing waras, ngalah!

Kondisi tersebut kami jalani hampir 3 tahun.

Hampir tiap Sabtu dini hari (karena pakai penerbangan terakhir) saya terkantuk-kantuk membukakan pintu. Hari Minggu malam, saya dan anak saya mempunyai jadwal rutin untuk mengantar suami ke bandara.

Hei, jangan berpikir saya kaya lo, seminggu sekali pp pakai pesawat. Saat itu harga tiket masih terjangkau, saya juga bekerja, jadi bisa diatur-atur tanpa mengganggu pengeluaran rutin. Dan yang penting Tuhan Maha Baik, jalannya adaaaaaaa aja….

Nah, masalah baru benar-benar muncul, pada saat suami mutasi (untuk promosi lagi!) ke pelosok Sumatera Utara. Saya jelas harus ikut, karena suami mendapat jabatan struktural yang menjadikan saya sebagai seorang ketua dengan kurang lebih 1500 anggota…duh!

Anak saya tetap tinggal untuk menyelesaikan SMA. Saya sibuk mengajukan mutasi dengan status pegawai titipan. Saya bekerja disini, tapi gaji yang bayar sana. Sudah diterima di pemerintah daerah sini, sudah dilepas juga dari pemerintah daerah sana…hehehe…jangan penasaran ya!

Tapi….seminggu setelah menerima skep, saya malah bimbang.

Saya bertanya pada diri sendiri, apa yang saya cari?

Kalau saya tetap bekerja, kapan waktu untuk melaksanakan amanah yang diberikan?

Ada 7 tempat yang tersebar di Sumatera Utara dibawah koordinasi kami. Paling jauh dengan waktu tempuh 7 jam, jadi kapan saya masuk kantor?

Ada yang saran (bagus sih, tapi tidak logis…), masuk aja kalau sempat, titip absen kalau ada kegiatan dan gaji saya dikasihkan ke anak yatim kalau takut tidak berkah. Yang penting status PNS tetap. Suatu saat kalau memungkinkan, saya bisa bekerja kembali. Dapat pensiun lagi!

Terus terang, yang membuat saya berat adalah tidak bisa menjalankan setiap kewajiban dengan optimal. Kalau setengah-setengah, lebih baik nggak deh…

Anak saya juga pasti perlu sering ditengok, apalagi sudah mau ujian dan persiapan masuk ke perguruan tinggi. Masa saya harus ijin seminggu dari kantor lagi untuk menengok anak? Belum lagi kegiatan organisasi yang tentunya akan datang bertubi2.

Dengan dukungan suami, anak dan ibu saya, akhirnya saya putuskan untuk mengundurkan diri jadi PNS. Biarlah status tersebut menjadi milik orang lain yang lebih berhak. Idealisme saya tentu banyak mendapat tentangan. Komentar seperti : sayang, orang susah cari kerja, ini kok malah dilepaskan…atau, ah, PNS kan gampang diatur, atur-atur aja deh, masa sih nggak bisa…

Saya lagi-lagi hanya menjawab dengan senyuman (kadang-kadang bete juga sih…kalimat yang sama seringkali berulang). Saya menyadari, kita tidak bisa memiliki semua hal dalam hidup. Ada pilihan sulit yang harus kita ambil.

Pilihan saya sudah jelas, keluarga adalah prioritas utama. Saya juga tidak pernah merasa minder biarpun sekarang hanya seorang ibu rumah tangga.

Banyak hal positif yang bisa dilakukan setiap orang, termasuk seorang ibu rumah tangga.

Terus terang, saya sangat salut dengan wanita bekerja yang menjadi ibu rumah tangga. Mereka adalah wanita perkasa yang bisa menempatkan diri di posisi yang tepat.

Jadi, menjadi apapun kita, yang paling penting adalah menjalani pilihan dengan nyaman, mendukung suami dan anak dengan tulus dan berguna buat orang lain dengan teladan dan motivasi yang kita berikan….

Segini dulu ya, besok-besok saya nulis yang lebih santai…


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?
Februari 24th, 2009 at 15:48


84 Responses to “PNS atau ibu rumah tangga ya?”
  1. 1
      deliastrawberry Says:

    setuju bgt bu, tapi waktu kuliah dulu saya paling tidak pernah bercita2 jadi PNS, sampai sekarang pun tidak prnah bercita2 jadi PNS, tapi siapa tau 5 tahun lagi menjadi PNS pilihan yg terbaik buat aku nantinya? jadi yg paling penting, apapun kita dan plihan kita, dijalanin aza dengan nyaman :D

    setuju banget…makasih komentarnya ya, salam kenal dan semoga nyaman menjalani apapun pilihan kita : D

  2. 2
      'dee Says:

    tulisannya keyeennnn dan dalem, as usual :D

    and congratz ya… tulisan ini masuk blog pilihan…
    wow, untung waktu itu ada yang berhasil ‘diracun’ bikin blog ya… ;-)

    d.~

    hahaha…semua karena motivasi dan ‘paksaan’ dari orang yang tepat, dee.. ;) thanks, thanks, thanks

  3. 3
      lischantik Says:

    Dalem bgt maknanya. Meski melepas PNS tetap aja jadi ibu rumah tangga yang luar biasa mendampingi suami

    Insya Allah, makasih ya sudah kasih support, salam kenal… :)

  4. 4
      yangputri Says:

    Cerita yg sangat menarik bu……:-)

    Makasih ya…pengalaman pribadi, memang paling mudah ditulis…

  5. 5
      Aira hayya Says:

    Salut akhirnya ibu bisa membuat keputusan yg menurut sy sangat tepat.kebetulan sy juga pns dg suami yg beda kota.seminggu sekali baru bisa ketemu.rasany suatu saat nanti saya akan ikuti jejak ibu.

    wah, senang sekali bisa menjadi inspirasi…semoga keputusan bisa diambil di saat yang tepat dan dengan kesepakatan bersama… :)

  6. 6
      a-rief Says:

    keadaan ibu memang sulit. kalo dipikir2, lbh baik jd ibu rmh tangga aja. takut g bs jaga amanah

    bener banget, harga yang dipertaruhkan terlalu mahal kalau saya tetap bekerja…makasih buat supportnya, salam kenal :)

  7. 7
      febritalks Says:

    Akhirnya pengabdian sama keluarga tetap jd prioritas ya Bu?

    kayaknya itu pilihan saya, karena kita tidak bisa memperoleh semua hal dalam hidup…makasih komentarnya!

  8. 8
      Heri Says:

    Wah..ceritanya hampir sama dengan dilema yang saya (istri saya) alami sekarang…walaupun saya tidak mengharuskan istri nanti bekerja, sepenuhnya saya menyerahkan keputusan pada istri, apakah mau jadi IRT atau bekerja…hmmm, semoga kami diberi pilihan yang terbaik…

    pasti…dengan kesepakatan bersama, apapun pilihannya akan menjadi pilihan terbaik…salam buat isteri ya!

  9. 9
      hesti Says:

    Dear mom,
    hidup adalah pilihan…..
    apapun, kerja or jadi ibu rumah tangga pasti pertimbangannya sama2 ada ….
    Dan menjadi ibu rumah tangga bukan berarti berhenti berkarya .
    Salut untuk ibu.

    makasiiiih banget, saya jadi tersanjung, salam kenal ya… :)

  10. 10
      r3tno Says:

    Wah.. blm sebulan sdh masuk blog pilihan,hebat euy! selamat ya Bu..
    Jd tdk sabar nunggu kejutan selanjutnya dari Bintang Timur ;)

    hahaha…siapa dulu dong yang ngajarin saya…guru bagus, murid menyesuaikan… :)

  11. 11
      soket Says:

    sy 3xcb CPNS gagal mulu& tetap berharap smp skrng..cerita ibu pasti pilihan yg berat ya?smoga jd pilihan yg paling tepat akhirnya..tetap semangat y(sy jg,hehe)

    ya dong, harus semangat…semoga NIP saya kelak jadi milik anda…

  12. 12
      cyperus Says:

    kuserahkan pada ibu2 dan calon ibu… hehehehe..
    kalo aku seh ga pengen dan ga kepikir untuk jadui PNS.

    Berarti berkurang satu orang antrian…hahaha

  13. 13
      wiri2572 Says:

    istri saya selalu mau jadi pns, selalu mau skolah lagi, selalu mau kerja juga (sama seperti saya). tp sy katakan situasi kerja PNS yg tidak beres (korupsi waktu, korupsi uang, dll). Akhirnya dia menurut juga walau terpaksa.
    Sy bilang ibu dan bapakku tidak skolah, ibu tdk kerja, tp tetap baik-baik sja kami di rumah.

    ya sih, tapi kayaknya isteri juga harus setuju dengan keinginan kita, kasihan lo, isteri punya hak untuk mengeluarkan pendapat…hehehe, kalo u/ sekolah kayaknya pilihan yang ok lo biar bisa mendidik anak dengan lebih baik, sekalipun seorang ibu rumah tangga…

  14. 14
      ghana Says:

    Saya rasa pilihan ibu sangat tepat, karena waktu tak dapat dibeli dan dikembalikan,atas nama seluruh anak dan suami di indonesia saya ucapkan
    Terima kasih kepada seluruh Ibu Rumah Tangga,
    Telah kau mendedikasikan seluruh waktu dan tenaga mu untuk merawat kami semua para anak dan suami.

    Terima kasih kembali, kami para ibu rumah tangga juga sangat bangga bila suami dan anak bisa berpestasi optimal…. :)

  15. 15
      3umi Says:

    saya seorg istri yg haus akan ilmu tp kdg suami menyuruh saya u/ berhenti kuliah,suami say”buat apa titel yang penting skill” tp saya kekeh ingn melanjutkan kuliah sambil kerja,wal hasil kerjaan rumah terbengkalai karna sibuk krj dan kuliah,saya g mau sepenuhnya membebani suami saya ingin membantu suami yang krjny jg warnet,tkt anak kelak serba kekurangan,intrinya saya ingin hidup lebih baik dgn keluarga kelak!amin….

    Anak-anak ibu pasti bangga punya ibu yang senantiasa haus ilmu, semoga ibu dan suami juga bisa membicarakan masalah ini dengan baik dan…pekerjaan rumah tidak boleh terbengkalai ya!

  16. 16
      nadira-alif Says:

    Boleh curhat kan bu? Sebelum menikah, saya sempat merasakan nikmatnya punya penghasilan sendiri (gak minta ortu).
    Namun ternyata saya berjodoh dgn tentara. Karir di bank yg sudah saya perjuangkan terpaksa ditinggalkan karena tak tega melihat ortu yg sdh ingin menimang cucu, dan demi cinta pula kepada “pujaan hati”.Alhamdulilah,sampai saat ini kami bahagia dgn dua buah hati yg lucu2. Rasanya bahagia sekali melihat ibu saya begitu mencintai buah hati kami. Bagi saya,Karir bukan segalanya.
    Obsesi saya sederhana, saya ingin punya usaha yg bisa dijalankan di rumah agar bisa lebih “punya waktu” untuk suami dan anak2. Untuk meng-apresiasikan diri tak harus berkarir di luar rumah kan??

    setuju d, menyenangkan orang tua dan keluarga tentu lebih berharga, apresiasi diri juga beragam bentuknya, apalagi kalau sekarang sudah dirintis, usaha di rumah akan menjadi pilihan terbaik…sukses ya, makasih udah baca dan kasih komentar, senang sekali!

  17. 17
      'dee Says:

    bintangtimur : hahahasiapa dulu dong yang ngajarin sayaguru bagus, murid menyesuaikan

    ‘dee : siapa ir, yang ngajarin?
    (GR-berat*mode*ON)… ha ha ha ha ha! :D

    d.~

    guru jarak jauh Dee…guru jarak dekat d r3tno…jadi, saya tinggal menyesuaikan… hehehe :)

  18. 18
      Atma jayadi Says:

    ya… hampir smua wanita “karir adalah sebuah impian”, klo emang begitu…, skrng laki2 pekerjaan bukan lagi sebuah kewajiban.jadi wanita tidak lagi wajib menuntut suami untuk menjadi tulang punggung keluarga, abis… dimana2 lap. kerja semakin sempit bagi kaum pria…

    jangan putus asa dong, buat pria berkualitas pasti ada pekerjaan yang menjanjikan, kalau wanita ingin bekerja kadang-kadang hanya untuk aktualisasi diri saja :) , jadi suami tetap wajib bekerja karena suami adalah imam dan tulang punggung keluarga…setuju?

  19. 19
      tia Says:

    Ibu…Selamat ya tulisan ibu banyak respon positif….Siapa sih Bu yang tidak ingin jadi PNS?non sense kalau hanya golongan minoritas saja yang menginginkan pekerjaan menjanjikan itu?kalau dalam hitungan prosentase mungkin 10% saja yang tidak ingin,yang 90% ngantriiiiiii…….Nyatanya di setiap ujian CPNS ribuan orang dari satu daerah rela melakukan banyak hal mulai dari main suap,ikut kursus test CPNS,Download soal dari internet,puasa,tahajud,sampai mungkin ke dukun biar nomor ujiannya masuk,….ironis memang semua usaha dilakukan hanya untuk menduduki beberapa ratus formasi dari ribuan pelamar….Bisa kita lihat betapa susahnya lapangan kerja di negeri ini,belum lagi gambaran masa depan terbentang indah dari PNS antara lain:pensiun,kesejahteraan,santai,dan yang pasti opini masyarakat Indonesia yang masih mengakar bahwa PNS mempunyai”prestice”sendiri dibandingkan pekerjaan lainnya.Tapi itulah anehnya(atau mungkin istimewanya?)kita Istri TNI…demi suami kita rela melepaskan salah satu hal yang paling berharga dalam hidup kita,hal yang begitu diidam-idamkan banyak orang….karena itu saya salut sekaligus juga bertanya-tanya begitu BESAR HATINYA Ibu melepaskan status Ibu sebagai PNS,dengan cara mengundurkan diri???bukan pensiun dini misalnya?kalau niat Ibu untuk berbagi kepada orang lain?Insya Allah orang yang beruntung itu akan membawa berkah untuk Ibu dan keluarga….AminSebetulnya tidak jauh beda dengan orang-orang yang Antri tadi,Orang tua saya PNS…saya tau betul bagaimana kehidupan PNS….entah dari sisi apanya tapi saya kok pengen juga…jadi cita-cita malah…tapi itulah ketika saya mengatakan “Ya” untuk dijadikan calon pendamping hidup Suami….semua kemungkinan yang mengarah ke test CPNS di pending oleh calon suami dengan alasan nanti kalau sudah nikah susah ngurus pindahnya…saya kok terbodoh menurut saja…yah mungkin itu yang namanya CINTA he..he..he(maaf Ibu tidak sopan…Ups),sehingga saya belum pernah mencoba sama sekali…padahal teman saya kuliah ada yang sudah sampai 9 kali saking penasarannya…Sampai pada pembukaan CPNS terakhir di sini saya iseng ijin suami mau mencoba…tapi dengan syarat hanya cari pengalaman…sehingga saya tidak menggunakan Ijasah keguruan saya padahal formasinya banyak pendaftar terbatas…saya hanya menggunakan ijazah S1 murni dengan formasi 1 orang pendaftar saya kurang tau ,yang pasti saya sudah dapat No 124….dari situ saya bisa melihat antusiasme orang untuk PNS luar biasa….Ngeri!!!!mulai orang biasa,sampai anak Sekda ikut test….katanya sudah 3 tahun ini test dilaksanakan tanpa KKN (betulkah?)dengan alibi rata-rata pemkab/pemkot sudah bekerjasama dengan Universitas-universitas ternama di Indonesia.Singkat cerita saya tidak lulus…mungkin karena saya hanya iseng,tanpa restu suami,tidak ada usaha seperti saya kalau menginginkan sesuatu biasanya tekadnya kuat ini malas-malasan,atau mungkin saya memang belum mampu?tapi dari 4 type soal masih bisa dinalar dan dihitung…tapi 40 soal terakhir…pertanyaan DAERAH???murni soal marga,suak,ulayat?apa itu saya belum pernah dengar?saya wong ndeso orang jawa tulen,mana baru pertama kali ikut test tidak ada persiapan ke arah sana?blank semua….Memang bukan rejeki saya,munkin tempat saya memang harus selalu di samping suami….agar saya dan suami yang di perantauan,tidak ada satu saudarapun di Sumatra ini bisa mengurus rumah tangga dengan baik,mencurahkan seluruh perhatian untuk mendidik dan membesarkan anak,serta mendukung tugas-tugas organisasi,karena kalau bukan saya SIAPA LAGI?Kalaupun kemarin saya sempat mencoba biarlah itu jadi salah satu pengalaman hidup saya,dan kalaupun saya sekarang bekerja motivasi saya bukan lagi untuk mengejar PNS…dengan keluar bekerja ilmu saya tidak mati,tambah teman,tambah wawasan,dan paling tidak bisa untuk tambah-tambah beli garam di rumah karena kebetulan saya dan suami berasal dari keluarga biasa-biasa sajaYang pasti ada yang bisa saya fahami dari dari pupusnya keinginan saya untuk menjadi PNS…Pasti Allah punya RENCANA TERBAIK kenapa saya belum diberi jalan ke arah sana kalaupun tidak sekarang pasti nanti,kalau tidak kepada saya pasti untuk anak atau suami saya rencana-Nya itu akan terealisasi….demikian juga dengan Ibu semua pengorbanan Ibu tidak akan sia-sia saya yakin ituLebih kurangnya mohon maafKind regard from Us”anak ranting 4″

    Makasih komentarnya ya, banyak jalan untuk mengabdi, jadi tidak perlu putus asa kalau tidak lulus jadi PNS…tetap semangat d Tia, salut untuk kerja kerasnya yang tidak pernah putus!

  20. 20
      warmorning Says:

    yang penting berani bersikap,
    dan sampeyan udah bersikap dengan benar,
    salut buat ibu !!

    Makasih banget, saya jadi tersanjung…. ;)

  21. 21
      Adityawarman Says:

    SSalut deh buat ibu yg masih mau memberi kesempatan pada mereka yg masih berharap untuk mendapatkan kesempatan itu.Karena saat ini banyak PNS yg makan gaji buta.

    Hahaha…itu yang saya hindari, kasihan negara kita membayar gaji buat orang-orang yang tidak berprestasi!

  22. 22
      Erwin Pradtya Says:

    Tulisan ibu itu mewakili golongan menengah ke atas, yang tidak pernah pusing memikirkan kebutuhan mendasar, jadi setelah saya baca saya jadi pusing dan mata berkunang-kunang

    tapi makasih bu pusing ini tanda tidak sanggup memasuki ranah kehidupan seperti ibu, istriku kerja keras, sayapun kerja keras, itu saja masih serba kekurangan.
    bagaimana kalo berhenti…. toloooongggg

    Tidak juga kalau saya sudah merasa cukup, kata cukup untuk materi harus kita yang memberi batas. Saya mengerti kalau mas harus banting tulang dengan isteri untuk memenuhi kebutuhan keluarga, saya juga pernah mengalami hal itu. Tapi sekarang, saya memang harus memilih dan pilihan saya adalah keluarga. Salam buat isteri ya….

  23. 23
      ione Says:

    wah ceritanya jadi inspirasi buat saya dan istri berdiskusi,karena saat ini kami mempunyai problem yang hampir2 mirip,moga ibu tetap konsisiten dengan niat dan amanah yang dijalankan,semoga menjadi keluarga yang sakinah,amin………………

    senang sekali saya baca suami isteri yang selalu berdiskusi, rumah tangga memang milik bersama, semoga keputusan yang diambil membawa kebaikan buat keluarga…makasih dukungannya ya!

  24. 24
      jovico Says:

    Selamat…ibu telah mengambil keputusan yang sulit…. dan menjadi ibu rt yang baik adalah suatu pekerjaan yang mulia….

    Amiiin…komentarnya berarti sekali buat saya!

  25. 25
      frazi Says:

    idealis berubah menjadi realis begitu kira kira bu…dan salut atas pilihannya .

    begitulah kira-kira, idealisme memang bukan sesuatu yang murah…

  26. 26
      rudi Says:

    Cerita ini dpt menjadi inspirasi bagi yang lain. Bersyukurlah ibu dikaruniai tutur alur pikir serta lingkungan cerdas. Sekarang, tinggal kita syukuri apa yang telah kita perbuat.
    Selamat ya bu.

    saya berterimakasih pada orang tua saya, yang telah mendidik saya berani mengambil keputusan sulit ….makasih komentarnya, sukses ya!

  27. 27
      melly Says:

    Keluarga tetep nomor satu yah bu :)

    Harus itu….hehehe, salam kenal :D

  28. 28
      depz Says:

    nice post

    thanks a lot!

  29. 29
      fajr Says:

    Ibu ini bijak sekali, memang betul bahwasannya; “live is choice” dan pilihan itu harus dipertanggungjawabkan. Walau memang terkadang pilihan itu amatlah sulit, yang penting melalui kesepakatan bersama niscaya tiap pilihan itu akan baik. sabar, tulus, ikhlas dalam menjalani segala sesuatu.

    Makasiiiiih, saya setuju…..

  30. 30
      wongdeso Says:

    dari kecil saya bercita-cita untuk tidak jadi PNS..hehehehe..soalnya saya banyak melihat PNS di daerah saya banyak nganggurnya..siang-siang sudah pada maen gaple..saat itu saya berpikir rasanya sayang jika masa produktif saya hanya seperti itu..
    Alhamdulillah sekarang cita-cita saya tercapai ….

    salam

    mampir ya ke

    http://wongdeso.blogdetik.com/

    baru buat euy…

    ya deh, selamat buat cita-cita yang tercapai dan blog barunya…..

  31. 31

    Kerja Ok Tapi keluarga paling yes…..
    saya mendukung keputusan yang ibu ambil

    Betul…pekerjaan rumah tangga, nggak ada habisnya.

  32. 32
      Iqbal Says:

    inspiring banget…. coba lihat di luar sana bagaimana mengurus keluarga dianggap sebagai pekerjaan nomor 2? mau dibawa kemana keluarga kita?

    ya mas…makasih komentarnya, ada juga kok yang menganggap mengurus keluarga sebagai pekerjaan nomor satu…salam kenal :)

  33. 33
      zuanlover Says:

    dulu pernah ikut test CPNS Tapi emang belum Rezeki kali Yah.Sayang banget masa depan yg cemerlang malah di sia-siakan.yah tapi yg namany keluarga TETEP NO 1

    Tidak ada jaminan masa depan saya sebagai PNS cemerlang, jadi saya lebih memilih untuk ‘mencemerlangkan’ keluarga saya saja…hehehe, makasih komentarnya ya!

  34. 34
      Galih Says:

    wah.. menjadi ibu Persit (Persatuan Istri Tentara) emang penuh perjuangan, saya sendiri melihat susah payah menyatukan keluarga karena Ayah saya adalah seorang tentara, dan ibu seorang PNS..
    tapi ibu saya bukan PNS yang berdinas di pemerintahan, melainkan Dosen PNS yang diperbantukan ke PTS istilahnya Dosen Kopertis..
    jd cukup tenang ikut Ayah berpindah2 dinas,ibu pun masih bisa mengajar karena kebetulan di sekitar kota dinas Ayah ada PTS yang butuh pengajar..

    Salut kepada ibu bintang timur…semoga bisa menjadi contoh bagi ibu2 Persit yang lain

    Makasih ya :D , saya senang ada yang tahu singkatan Persit padahal saya belum pernah menjelaskannya….salam hormat untuk keluarga hebat yang bisa saling mengisi, bapak tentara, ibu dosen…pasti mas anak yang beruntung punya orang tua seperti mereka.

  35. 35
      lia Says:

    wah ibu benar2 bintang bagi keluarga dan bagi kita semua deh!!! TOB Banget……:-)

    Oya? Makasih sudah mendukung pilihan saya, salam kenal ;)

  36. 36
      susan Says:

    selamat ya bu, ternyata cerita ibu banyak sekali fansnya he.. he…jadi bintang di bintang timur. saya rasa 100% dari PNS wanita 99%nya hampir sama problemnya. tapi keputusan ibu adalah yang TERbaik dari yang terbaik. uang dapat kita cari tapi ketenangan hati dan keluarga tidak dapat kita beli.

    Betul d susan, keluarga adalah harta yang paling berharga…

  37. 37
      Yuma Says:

    Waktu baca judulnya, saya lgs masuk pingin baca isi blognya. Sebab hal ini juga saya alami, istri PNS dan sbg dosen pula. Sebagai pasangan muda, kami kerap bertengkar karena saya tidak setuju waktu istri saya tll byk tersita utk urusan diluar RT. Apalagi ada kewajiban S2 di luar kota, anak kami sudah ada 2 orang, batita semua. Tapi saya tidak melarang dia utk bekerja, cuma ya itu…harus bisa memprioritaskan RT termasuk urusan anak. Ada juga kewajiban tidak tertulis agar mengikuti bbrp pelatihan di LN. Tentu pusing saya dibuatnya…
    Ada tulisan ibu spt ini, semoga banyak para istri dan ibu utk bisa terilhami langkah2nya. Jadi ibu RT bukan pekerjaan mudah, banyak wanita bisa menjadi wanita karier. Tapi jadi ibu RT yg baik? Nanti dulu…gak semua mau dan bisa. Salut deh bu…semoga Allah SWT membalas semua kebaikan ibu…terutama sbg ibu RT.

    Amiiin…makasih dukungannya, semoga ada solusi terbaik bagi keluarga yang dua-duanya bekerja. Sepanjang saling memahami dan selalu berkomunikasi, tidak ada masalah dalam keluarga yang tidak dapat diselesaikan…salam untuk isteri ya!

  38. 38
      Aryn Says:

    Wah…
    Hebat deh bu tulisan ibu semakin menarik untuk disimak…
    penggemar ibu juga sudah semakin banyak..
    Ibu siapa dulu donk, he..he..he..

    Saya sangat setuju sekali dengan keputusan ibu bahwa keluarga adalah no 1,walaupun ibu sudah mengorbankan PNS ibu,tetapi ibu masih mencintai keluarga dan juga Persit tentunya.

    Sukses selalu ya bu…
    saya tunggu kejutan ibu selanjutnya…

    Hahaha, d Aryn tau aja…saya sedang mencoba membuat terobosan di lingkungan kita, semoga bermanfaat :)

  39. 39
      luvjoy Says:

    Halo Ibu, tulisan Ibu kena banget di hati saya.
    Dalam hati saya pun sebenarnya ingin jadi Full Time Mom, tapi saya saat ini belum sanggup melepas Comfort Zone saya (kerja dan digaji tiap bulan) dan saya takut mengambil resiko jika rumahtangga hanya punya satu sumber income. Saya tahu bahwa sebetulnya income bisa diperoleh tidak hanya dari kerja 8-5, bisa aja dari bisnis sendiri, tapi memang saya belum ‘berani’ untuk ‘keluar’ dan mencoba bisnis sendiri. Saya sungguh salut sama Ibu, atas keberanian dan keikhlasan Ibu dalam mengambil pilihan Ibu.

    Makasih supportnya ya, saya juga pernah merasakan ketakutan yang sama, tapi setelah saya jalani dengan ikhlas, sampai sekarang saya tetap merasa nyaman dan mencari kegiatan lain yang bermanfaat…tapi, kalau memang belum berani untuk keluar dari comfort zone yang sekarang dijalani, jangan dipaksakan. Ada saatnya hati tergerak untuk melakukan sebuah keputusan dengan benar dan tepat…salam kenal ;)

  40. 40
      r3tno Says:

    bintangtimur:
    guru jarak jauh Dee.. guru jarak dekat d r3tno.. jadi, saya tinggal menyesuaikan hehehe

    Sungkan Bu sy dibilang guru.. sy hny teman belajar ngeblog koq Bu, kan memang sama2 belajar dan mengagumi bu Dee.. (the real teacher :) )

    Sesama guru harus saling mengagumi…dan memang guru yunior harus lebih mengagumi guru senior (Dee maksudnya…)… :D

  41. 41
      aries presley Says:

    yah semoga bisa di contoh wanita yg lainnya.

    makasih komentarnya mas, salam kenal… ;)

  42. 42
      'dee Says:

    to: bintangtimur & r3tno

    he he he… pada over estimate ah…
    saya sih bukan guru, cuma ‘tukang racun’…he he he…

    yang diracun-nya pinter2, ya pada bagus hasilnya, gitu aja. yang ngeracun sih, tetap aja error seumur-umur — uncurrable, emang bawaan lahir soalnya, ha ha ha ! :D

    d.~

    biasa, ilmu padi…..makin berisi, makin merunduk ;) …..

  43. 43
      anggoro Says:

    bravo untuk ibu, itu merupakan keputusan yang arif, bijaksana dan bertanggung jawab. sekali lagi bravo salut untuk ibu. jangan lupa mampir kekantor lama ya klo ada waktu

    hahahaha….saya seneng banget mas anggoro baca posting saya, makasih ya! sudah menjadi PNS kah? salam buat keluarga dan teman-teman…. :)

  44. 44
      heurnie Says:

    terima kasih ibu, tulisan ibu dapat menjadi inspirasi buat saya, saya adalah seorang PNS dan suami tentara awalnya saya bingung untuk membagi waktu antara pekerjaan (PNS) dan kegiatan (persit)dulu sempat saya mau berhenti bekerja tetapi suami selalu menguatkan saya katanya “sabar, hidup itu perjuangan” dari situ saya berfikir inilah hidup penuh dengan tantangan mungkin karena kebutuhan ekonomi juga yang membuat saya masih bertahan dengan situasi seperti ini, tapi saya bersyukur bu dengan berjalannya waktu sekarang saya dapat menjalani semuanya dengan baik, saya bisa bekerja dan saya pun dapat mengikuti kegiatan (pengurus juga loh bu), teman2 di kantor sudah terbiasa kalo saya ke kantor pakai baju persit he he (selesai kegiatan langsung ke kantor) tapi mungkin suatu saat pasti saya akan mengalaminya apa yang telah ibu alami, selamat bu, ibu telah lulus mengahadapi hari2 yang sulit dan pilihan ibu sangat mulia menjadi ibu rumah tangga

    setiap rumah tangga punya cerita…selamat menikmati hari-hari dengan gembira, be happy!

  45. 45
      frentianik Says:

    nggak nyagka jeng klo dikau akhirnya mau nulis juga, e… lha dalah apik tenan tulisane, bakat terpendam dah mulai muncul …. lama lama bisa jadi penghasilan lho ! siap siap jadi penulis yo ….. apapun itu ….. kau tetap sahabat terbaikku!!!

    sip, satu lagi sahabat SMA yang kasih komentar, senengnya …. :) sukses ya!

  46. 46
      linda Says:

    thx bu atas storynya, saya guru PNS daerah yang masih bingung mencari tempat yang mau menerima mutasi saya ikut suami karena sudah 3 th kami “berpisah” karena suami bertugas di Jakarta( jakarta sudah penuh guru atau sya yang tidak ada link ya soalnya ditolak terus), dengan 2 anak balita repot sekali tinggal terpisah seperti saat ini, tetapi kalau melepas PNS seperti ibu rasanya TIDAK RELA,diantara yang berjubel ingin jadi PNS saya hanya 1x ikut dan diterima dgn gratis( krn rumor yg beredar msk PNS hrs bayar ternyata tidak benar), alasan 1 lg klo keluar PNS dapur agak megap-megap bu, mungkin suatu saat kalau saya tidak bisa pindah saya coba ambil cuti diluar tanggungan dulu, thx tulisan ibu menambah wawasan saya

    Wah, senang sekali tulisan saya bisa menginspirasi, kalau memang sekarang belum ‘ikhlas’ melepas status PNS jangan dipaksakan karena akan timbul masalah baru, misalnya menyalahkan suami yang pindah-pindah melulu…hehehe
    selamat menikmati semuanya ya, sukses dan salam buat anak-anak tersayang :)

  47. 47
      muRni Says:

    Wuah..tantee,,jadi ngrasa bersalah sama mama…mama kan jg PNS,,tapi kerjaan nya d rumah adaaaaaa aja.pagi2 buta udah beberes rmh,blanja,bikinin sarapan…pulang kantor jg gitu…..saya nya juga jarang bantu……meskipun ngomel2 capek sgala macem,,tapi ya selesei smw kerjaannya…
    lama kelamaan saya sadar tante,,klo pekerjaan ortu saya itu (PNS mksudny)banyak bgt yg ngejar,,mas ipar saya aja girangnya minta ampun waktu ktrima PNS awal taun ini..
    jdii…saya bersyukur bisa punya kehidupan yang baik-bahagia kayak sekarang walau ortu cuma PNS…

    Idih….PNS kok cuma sih? Hmmm, mama Murni hebat, bisa ngebagi waktu dengan baik :) , makasih komentarnya ya, salam buat mama, selamat belajar buat Murni!

  48. 48
      ridhow Says:

    kenalin tante… komen di atas saya dari Murni, temen SMA risa dan saya juga :D yg rumahnya deket rumah tante d sby itu… hoho

    *wah oot nih saya*

    ridho@itb

    Sip, tante udah hafal kok gayanya….hehehe, makasih komentarnya ya, nggak ‘diancam’ Risa buat baca blog tante kan :D ?

  49. 49
      Yyunie Says:

    Ibu saya baru baca blog ibu…
    dan nggak terasa airmata mengalir dipipi…
    Apa yang ibu ceritakan menjadi penyemangat untuk saya,
    saya hanya bisa berdoa karena saya PNS disini
    dan suami bekerja di Eropa di Denmark, saya ingin
    segera ke Denmark tetapi terganjal dengan studi S2 saya,
    doakan ya bu ada jalan keluar supaya kami dapat bersatu…

    dan sukses untuk ibu yang sudah memberikan pilihan terbaik untuk keluarga…

    Senang sekali membaca cerita d Yuni :) , saya kagum dengan semangat d Yuni yang rela berkorban untuk keluarga. Berpisah dengan suami, PNS sekaligus melanjutkan S2 betul-betul perlu perjuangan luar biasa. Percayalah, keputusan terbaik untuk keluarga akan datang di saat yang tepat, salam :)

  50. 50
      San Says:

    Seandainya Ibu dan suami tidak pindah-pindah tempat tinggal, apakah Ibu tetap memilih jadi PNS, saat Ibu belum mengalami full jadi ibu rumah tangga? Alasannya?

    Kalau suami tidak berpindah-pindah tugas, rasanya saya akan tetap jadi PNS. Dengan catatan, saya harus bisa membagi waktu dengan baik antara keluarga dan bekerja. Menjadi wanita bekerja, PNS atau bukan, adalah kebanggaan pribadi dan tempat untuk aktualisasi diri. Bukan berarti ibu rumah tangga berada di ‘zona nyaman’, tapi dengan bekerja diluar rumah, kita akan bersosialisasi dengan banyak orang yang mungkin akan membuat kita lebih bijaksana dan cerdas menjalani hidup. Tapi apapun, sampai detik ini saya tidak pernah menyesal dengan pilihan saya :) , makasih komentarnya ya, salam kenal!

  51. 51
      Sandra Says:

    Mb Irma,
    Kaya’nya kisah ini jadi problem hampir sebagian besar PERSIT yang merangkap PNS ya….( atau PNS merangkap PERSIT. Tdk bermaksud SOMBONG, saya sdah 15 thn jadi PNS,tapi BARU 2 kali NAIK golongan, n itu saya sukuri sekali krn nggak diTURUNin golongannya, mengingat selama 15 thn masa kerja itu, yang beneran kerja hanya 5 tahun. Untungnya saya selalu punya atasan dan teman 2x yang sangat ngerti akan status kita ini, shg saya sll dapat banyak kemudahan. Tapi saya yakin kalau suatu saat saya pasti akan mengambil keputusan yang sama dengan mbak Irma. Hanya waktunya kapan ? Who knows ????

    Saat menjadi Ketua Koorcab atau Ketua Daerah, mbak… :D
    Apapun, saya juga bersyukur pernah menjadi wanita bekerja. Di saat harus memilih, memang pilihan saya tetap keluarga yang tidak kenal kata pensiun… :)

  52. 52
      siska Says:

    udah 9 bulan sejak melahirkan saya dirumah alias out dari kerja saya sebagai guru tk swasta.cos anak saya udah mau 2..dan lg di t4 kerja saya kalo mau daftar pns musti out.alias ga blh ikut pns.begitu nganggur,rasanya hidup saya seakan tak berarti,bnyk yg menyayangkan kenapa saya keluar dari t4 kerja saya?rasanya saya ga pd,malu…dan bnyk yg saya rasakan..ada semacam penyesalan..tp saya bangkit,dan ikut tes pns depag,gagal.ini ada lagi,tp blm pengumuman.doain ya bu 12 des besok…..ortu saya bangga kalo saya bs jd pns.tp kalo ga lulus,saya merasa ga bisa nyenengin ortu….deg2 an…

    Halo Sisca,
    Senang sekali Sisca mau berbagi dengan saya :)
    Menjadi PNS, bekerja di tempat lain ataupun menjadi seorang ibu rumah tangga murni, semua sama-sama kepercayaan yang diberikan Tuhan pada kita.
    Saya berharap Sisca mendapat yang terbaik, apapun itu.
    Menyenangkan ortu tidak hanya dengan menjadi PNS, Sisca. Banyak bentuk perhatian dan prestasi lain yang bisa Sisca tunjukkan pada mereka…
    Menjadi isteri dan ibu yang baik, tentu bukan merupakan tugas sederhana. Dukung suami dan anak dengan sepenuh hati, agar mereka berprestasi. Percayalah, kebahagiaan melihat keberhasilan mereka lebih daripada cita-cita untuk menjadi seorang PNS.
    Tapi saya tetap berharap, semoga tanggal 12 Des ini menjadi hari yang indah buat Sisca…
    Salam :)

  53. 53
      Nurie Says:

    Salut bgt bu…saya jg ibu persit n pns d kalteng suami dinas di purwakarta jawa barat hati saya jg berat tp gmn ya bu?

    Halo Nurie…
    Keputusan untuk berhenti bekerja, cuti diluar tanggungan negara atau tetap menjadi PNS ada di tangan Nuri dan suami.
    Saran saya, Nurie mulai mengajukan mutasi ke tempat dinas suami di Purwakarta. Agak sulit tentunya, tapi kan tidak mungkin suami isteri tinggal berjauhan terus…
    Apalagi Nurie juga isteri tentara yang harus mendukung tugas suami. Belum lagi anak-anak yang perlu figur seorang bapak sebaga panutan…tapi tenang deh, coba Nurie bicarakan dengan suami, lalu buat kesepakatan agar rumah tangga bisa terjaga tapi Nurie tetap bekerja.
    Kelak bila sudah tidak memungkinkan dan harus memilih, tentu rumah tangga adalah pilihan yang harus Nurie prioritaskan…
    Salam.

  54. 54
      cetia Says:

    hebat ibu satu ini…. tp kejadian ini akan baru terjadi pada saya. saya pns di semarang sedangkan pacar saya dosen pns jambi. saya bingung rumah tangga kami gmn?? berjauhan terus rencana tahun ini mau menikah… apakah ibu punya solusi atau bisakah dosen pns bisa mutasi ya bu

    Sebelum menikah, ada baiknya Cetia dan calon suamo berdiskusi akan menetap dimana. Baru setelah itu, Cetia mulai mencari informasi bagaimana prosedur untuk mengajukan mutasi antar propisi…
    Kalau PNS yang statusnya PNS Pemda dengan NIP Pusat (NIP 01….) bisa mutasi, Cetia, karena saya punya teman dari Surabaya, yang baru saja mengajukan mutasi ke Pemda Bontang-Kalimantan Timur.
    Semoga semua urusan Cetia dimudahkan Tuhan ya, salam untuk calon suami :)

  55. 55
      dewie Says:

    tulisan ibu telah memberi inspirasi banyak orang, terutama kaum hawa yang berstatus pns……….saya adl 1 dari sekian banyak orang yang bermimpi ingin jadi pns, dan alhamdulilah awal tahun ini saya lolos cpns. tapi bu, suami saya seorang entrepreneur, yang tak akan pernah mau melepas pekerjaannya yang menurutnya adalah harga dirinya….kalau saya mesti melepas “cpns” saya sprti ibu, jujur saya belum rela bu……sementara ini kami harus tinggal di kota yang berbeda dengan waktu tempuh 8 jam krg lbih………adakah solusi yang bijak bu…

    Halo Dewie,
    Maaf ya pertanyaan Dewie baru saya jawab sekarang, karena suami baru selesai dioperasi.
    Status CPNS yang sudah disandang, sebaiknya dijalani dulu. Selalu ada solusi bila kita sudah menjalani segala sesuatu dengan rutin dan teratur. Mengajukan mutasi ke kota tempat suami bertugas, misalnya.
    Tapi tentu saja hal tersebut tidak bisa diminta tiba-tiba. Kita harus membuktikan dahulu, bahwa kita memang bersedia ditempatkan dimana saja…
    Jarak 8 jam bisa diatasi dengan komunikasi terbuka dengan suami. Bisa gantian yang datang berkunjung. Dewie ke tempat suami, atau mungkin sebaliknya.
    Setelah semua dijalani beberapa waktu, pasti bisa ditentukan solusi terbaik yang harus Dewie ambil untuk berperan sebagai ibu rumah tangga, sekaligus sebagai wanita bekerja.
    Sukses ya, salam saya buat Dewie dan suami!

  56. 56
      Andre Says:

    salam kenal ya mbak..saya termasuk abdi negara yang kantor perwakilannya di seluruh provinsi di Indonesia Barat. kebetulan istri saya bekerja sebagai PNS di Pemda salah satu provinsi di Indonesia, kami hampir 1 tahun menikah dan Alhamdulillah istri udah hamil 7 bulan.tetapi tiba-tiba saya harus mutasi ke daerah Indonesia Timur, duuhh sedih sekali rasanya mbak..baru menikah dan mo jadi calon ayah tapi mutasi ke daerah yang lumayan jauh juga…kasihan istri saya nanti mbak..gimana mbak ya advicenya..makasih ya mbak..

    Halo Andre…
    Selamat ya buat dua berkah yang bersamaan : menjadi calon ayah dan meniti prestasi baru di daerah Indonesia Timur :)
    Saran saya dijalani saja semuanya selama satu tahun. Sementara Andre memantapkan posisi, biarkan isteri tetap bekerja dan melahirkan di kota semula. Andre bisa minta tolong mertua atau orang tua atau bahkan saudara untuk menemani isteri yang sedang hamil.
    Setiap rumah tangga tidak ada yang berjalan sempurna sesuai rencana. Tapi apa yang sekarang Andre jalani ini harus sangat disyukuri.
    Berpisah sementara dengan keluarga, adalah salah satu cara agar suami isteri makin dewasa. Agar rasa saling percaya itu teruji oleh jarak yang mungkin akan memisahkan.
    Gunakan libur panjang, libur pada hari-hari besar nasional atau libur akhir pekan untuk menengok isteri dan anak.
    Setelah semua dijalani sekitar satu tahun, Andre dan keluarga akan bisa memutuskan kemana perkawinan akan dibawa. Salah satu solusi yang saya berikan adalah isteri mengajukan mutasi untuk mengikuti suami ke daerah baru. Tentu saja setelah si kecil memungkinkan untuk dibawa ke luar kota atau bahkan luar pulau.
    Selamat menikmati semuanya, Andre, sukses ya…salam hangat buat keluarga :)

  57. 57
      anda Says:

    hidup para ibu rmh tgga

    smgat trus

    Semangat dong, itu harus… ;)

  58. 58
      Fitria Says:

    salam kenal mba,,,
    saya juga baru mengajukan cuti di luar tanggungan negara karena keinginan suami yang pengen anak2 diasuh ibunya sendiri full time,,,
    memang susah mengambil keputusan ini,,, apalagi keputusan buat resign, secara kan pns punya tabungan buat masa depan (pensiun), meskipun juga gaji saya sekarang tidak untuk mendukung kebutuhan rumah tangga,, sisi lain ortu saya juga tidak menyetujuinya,,, enaknya ya mba bisa ngurus anak2 full time? berapa lama dulu mba ngurus cuti di luar tanggungan negara?

    Halo Fitria, dulu saya cuti diluar tanggungan negara selama 8 tahun, lepas jabatan dan tidak terima gaji sama sekali.
    Salah sebetulnya, karena saya cuti diluar tanggungan negara hanya sepengetahuan Kepala Daerah dimana saya bertugas. Ujung-ujungnya gaji saya tetap turun tapi diambil oleh entah siapa…
    Untungnya adalah, setelah 8 tahun tidak bekerja, saya bisa masuk kantor itu lagi dengan NIP yang sama. Tapi pada saat mengurus kenaikan pangkat ke BKD Propinsi, saya ditolak mentah-mentah karena tidak punya surat cuti diluar tanggungan negara yang seharusnya mereka keluarkan…
    Fitria, ikuti prosedur dengan benar saja. Selmat menikmati peran ibur rumah tangga sejati ya, itu pekerjaan yang sangat indah dan mulia :)

  59. 59
      hani alamsyah Says:

    halo mba, mo share ni, aku ni adalah pns pusat, aku mau mengajukan pindah sebagai pns daerah karena mengikuti suami yg pegawai bumn selain itu juga lantaran ingin dekat dengan orangtuaku, selain itu aku juga punya bayi umur 3 bulan yg skrg ini aku bawa dikota tempat aku bekerja, aku mengutuskan pindah ke pemkot krn lantaran kalo pindah di bawah departemen yg sama, agak ribet urusannya ya biasalah prosedur di pusat, dimana pejabatnya lg gak kompak, en kita2 ni yg mo mutasi jadi dipersulit. tapi ternyata untuk pindah kepemkot statusnya adalah pegawai titipan, nah ini lagi yg dipermasalahkan, aku konsultasi ma biro kpagawaian disana ternyata tidak masalah, tapi ntahlah apa ini akal2an atasanku yang punya banyak alasan hingga aku jadi gak bisa pindah. dalam hati paling dalam aku pengen sekali berhenti tapi larangan dari orangtua yang mengatakan tidak terima kalo aku berhenti dari pns, mereka bilang udah mengkuliahkan aku tinggi2 tapi koq malah berhenti, “dasar anak tidak bersyukur”gitu kata mereka, gmana hati ini tidak sakit mendengar orangtua berbicara seperti itu kpd anaknya, ya krn jujur diantara kaka2ku cuma aku yang saat ini mapan. tapikan kondisinya aku sudah berkeluarga dan selain itu hidupkan pilihan, masa aku tidak boleh berbakti pada suami dan anakku,dari awal kami nikah sampe punya anak, aku belum sepenuhnya menjalankan kewajibanku sebagai istri sekaligus ibu, karena lantaran kami berbeda kota.menurut aku rezeki itu ada ajah koq,dan jujur aku merasa jabatan sebagai pns begitu membebani hidupku. tolong masukannya mba..terima kasih

    Halo Hani,
    Sebelumnya saya minta maaf baru sekarang saya baca dan bisa balas komen Hani.
    Bekerja bagi kita (kaum wanita) adalah pilihan. Kala masih memungkinkan tentu kita juga ingin memperluas wawasan dan menerapkan ilmu yang kita dapat saat kuliah dulu dengan bekerja. Tapi saat kita diharuskan memilih antara keluarga dan bekerja, persoalannya menjadi tidak mudah. Apalagi ada keinginan orang tua yang menginginkan Hani tetap bekerja. Menjadi PNS adalah profesi yang bisa membuat ‘martabat’ kita tampak hebat. Selain itu akan banyak yang menyayangkan kalau kita mundur dari status tersebut.
    Saran saya, Hani harus membicarakan masalah pekerjaan ini dengan suami karena dia adalah imam dalam keluarga Hani. Bila telah dicapai kata sepakat, sampaikan hal tersebut kepada orang tua dengan cara baik-baik.
    Bila akan terus bekerja, adakan pendekatan pribadi kepada atasan atau instansi terkait (kalau perlu dengan didampingi suami) agar Hani mendapat kemudahan untuk bisa mutasi ke tempat yang diinginkan.
    Sebaliknya, bila berhenti bekerja adalah pilihan terbaik bagi keluarga, maka Hani juga perlu menjelaskan kepada orang tua bahwa keluarga menjadi prioritas Hani untuk saat sekarang ini.
    Mungkin Hani bisa mengambil cuti diluar tanggungan negara, dan bila saatnya sudah tepat serta sesuai dengan aturan yang berlaku bagi PNS yang ingin mengajukan cuti diluar tanggungan negara, Hani bisa kembali bekerja. Tentu dengan melepas jabatan Hani saat ini.
    Selamat menentukan sikap Han, semoga pilihan itu adalah pilihan terbaik yang bisa Hani ambil. Sukses ya!

  60. 60
      Ifan Jayadi Says:

    Sungguh pilihan yang sulit bu melepas cita2 yang selalu didengungkan sejak masa kuliah dulu. Tentu tidak mudah. Dimana untuk mendapatkan pekerjaan itu harus mengalahkan ratusan atau ribuan orang yang memiliki tekad yang kuat pula utk mendapatkannya. Saya pun telah merasai persaingan itu. Meski sebenarnya pesimis karena isu2 yang selama ini sering beredar mengatakan bahwa untuk diterima menjadi PNS harus memiliki relasi atau apalah namanya. Namun, Alhamdullillah, keraguan itu sirna takkala saya berhasil lolos dan dinyatakan lulus sebagai CPNS dan bekerja hingga saat sekarang.

    Tapi memang dalam hidup harus ada sesuatu yang kita pilih dari sekian banyaknya pilihan tersebut. Dan keputusan ibu untuk resign dari PNS adalah sesuatu yang mungkin mengecewakan beberapa pihak tapi menjadi pilihan terbaik untuk ibu dan keluarga selanjutnya. Karena dalam hidup kita belajar bahwa tidak semua yang kita inginkan akan dapat kita raih. Ada masa suatu saat kita harus berdamai dengan keadaan.

    Ada masa dimana kita harus berdamai dengan keadaan…
    Saya suka kalimat ini, Ifan, semoga ‘perdamaian’ saya juga membawa kebaikan buat keluarga. Karena tanpa mereka, saya bukanlah apa-apa :)

  61. 61
      herti Says:

    Saya terkesan banget dengan tulisan mbak….apalagi saat ini saya punya masalah yang mirip.Sebenernya saya nggak terlalu mau jadi PNS tetapi ortu saya pengen banget saya jadi PNS. Setelah beberapa kali ikut tes, akhirnya saya lulus sebagai PNS pusat . Tapi setelah itu kok saya merasa mati dalam hidup. Setiap ke kantor rasanya nggak semangat. Apalagi sudah setengah tahun lebih saya dan teman2 seangkatan belum ditempatkan di posisi yang jelas. Apalagi ya….dunia PNS banyak yg gak jelas, membuat nurani saya bingung. saya malah merasa nggak gaul setelah saya menjadi PNS. Sebelum dan sepulang berangkat kerja saya full urus rumah, anak dan suami. Kalau hari libur saya habiskan benar2 untuk bermain dengan anak saya yang baru berumur setahun setengah. Ketika malam senin, mulai deh saya uring2an sampai mengigau segala. Sebelumnya saya bekerja freelance mengajar di sekolah dan aktif di organisasi kepenulisan dan sosial. Saya jadi merasa kehilangan diri saya. Saya pengen sekali resign dan kembali pada diri saya yang dulu,jadinya bisa menikmati hidup. Kalau masalah uang, rasanya sama saja, toh saya percaya bahwa rezeki itu dari Allah. Yang membuat berat saya adalah kedua ortu yang sudah sangat bangga anaknya lulus CPNS tanpa uang sepeser pun. Sekarang saya sudah prajab,tinggal menunggu 100 % kok bawaannya pengen resign terus.Kalau suami sih terserah saya aja, dia nggak pernah memberatkan karena dia tahu klo saya butuh aktualisasi.

    Herti, maaf kalau jawaban saya datang terlambat. Semoga Herti masih menengok jawaban saya di posting ini.
    Menurut saya, Hesti adalah orang yang beruntung.
    Memiliki keluarga yang mendukung serta pekerjaan yang diinginkan oleh jutaan orang di Indonesia.
    Tapi mengapa Herti selalu resah?
    Jangan dulu berpikir buat resign. Herti baru saja menapaki dunia kerja, khususnya profesi PNS ini. Tentu akan ada banyak ketidakpuasan, tapi bukan berarti tidak ada yang harus disyukuri kan?
    Kalau sekarang Herti ingin mengaktualisasikan diri di dunia luar. Herti masih bisa melakukannya di hari libur atau di saat-saat senggang. Saya yakin, bila Herti cermat membagi waktu dan memberi pengertian serta perhatian pada keluarga, semua akan berjalan seimbang.
    Nikmati anugerah menjadi seorang PNS ini dengan rasa syukur. Caranya adalah menjadi seorang pegawai yang bisa menjadi contoh atau teladan bagi lingkungannya. Bekerja keras dengan tulus. Serta selalu melakukan inovasi-inovasi agar kita bisa menjadi pelayan masyarakat yang disayangi sekaligus dihormati oleh mereka.
    Ayolah Hesti, nikmati semua berkah ini dengan penuh kebahagiaan. Kalau Herti selalu gelisah (sampai mengigau segala…), kasihan suami dan anak yang pasti tertular rasa itu. Tidak semua orang bisa memiliki suami dan anak. Tidak semua orang juga bisa menjadi PNS… :)
    Kasusnya berbeda dengan saya, dimana saya memang sudah dalam posisi harus memilih antara tetap bekerja atau mengundurkan diri. Bukan karena tidak suka dengan status yang (sebetulnya) sudah menjadi cita-cita saya sejak kuliah dulu…
    Semoga Herti bisa mengerti ya!
    Be happy :D

  62. 62
      denti Says:

    Makasih bu..tulisannya benar2 menginspirasi saya..mudah2an kluarga ibu selalu bahagia dan selalu diberkahi. Salam kenal..^^

    Trima kasih kembali, Denti :)
    Doa yang sama juga buat Denti dan keluarga. Salam hanget buat mereka ya!

  63. 63
      rini Says:

    salam kenal bu..pengalaman yang sangat inspiratif,setelah membaca pengalaman ibu hati saya bergetar saya jadi yakin dgn keputusan yang saya ambil..sharing ya bu..saya pns udah 4 thn lebih dan saat ini saya dlm proses pengunduran diri dgn alasan mengikuti suami yang saat ini sudah jd pegawai tetap di qatar selain alasan resmi tsb alasan lainya seperti yg ibu katakan d atas bukan saya tidak mencintai pekerjaan saya saat ini,tp skrg saya dlm posisi memilih..mau keluarga atau karier.memang berat apalagi d tempat saya kerja masih sangat d butuhkan profesi spt saya dan tentunya jenjang kariernya sangat bagus(GR niy…hehe..)di tambah saya hrs mendengar alasan temen2 saya yg tidak setuju dgn tindakan saya.tp smuanya kembali ke diri kita sendiri..saya yang hrs memilih….mohon doanya dari ibu supaya prosesnya lancar dipermudah dan semakin d beri kemantapan hati.

    Amiiin…
    Saya merinding baca cerita Rini ini.
    Trima kasih sudah berbagi, saya ikut bangga dengan keberanian Rini untuk memilih antara ibu rumah tangga atau wanita bekerja. Banyak yang bisa menjalani keduanya, tapi kalau dalam posisi seperti kita, pilihan itu harus dibuat.
    Semoga kemantapan hati itu akan segera Rini miliki dan tidak ada penyesalan di kemudian hari.
    Percaya deh, mengabdi pada keluarga itu ternyata membuat saya bahagia luar biasa, merasa begitu bermakna buat suami dan anak tercinta…
    :D

  64. 64
      Lyliana Tia Says:

    Hihihi… Jadi PNS ribet ya Ibu Bintang… Makanya saya juga nggak bercita2 jadi PNS… Si Papa pernah pegang jabatan Aspers, walah hampir tiap hari adaaa aja “rejeki” yang dateng kerumah, walaupun dibaliknya ada niat tersembunyi.. Hal2 seperti ini menentang segala prinsip di keluarga saya, Papa akhirnya minta pindah karena “gak tahan”, dan saya semakin nggak pengen jadi PNS.. Hihihi

    Betul saya setuju, aktualisasi bagi siapapun, ibu rumah tangga atau bapak rumah tangga, bisa diberbagai bidang, nggak harus jadi pekerja kantoran.. Malah saya salut sama ibu2 rumah tangga atau bapak2 yang merintis usaha, jadi enterpreuner, eehh terus dia “mempekerjakan” para sarjana.. Hihihi… istilahnya, orang goblok jadi bos nya orang pinter.. Saya keseringan melihat fenomena seperti ini, jadi… mari kita bersama2 menjadi goblok! hehehe…

    Hehehehehe…adik saya nomor dua juga wirausaha, tapi yang bungsu ikut perusahaan asing yang berkantor di Jakarta…
    Bener Tia, jadi abdi negara itu godaan nggak jelasnya banyak, apalagi kalau ada di jabatan kayak papa-nya Tia, aduuuh, itu mah judulnya godaan tiada henti… :P

  65. 65
      rochman Says:

    assala’mu’alaikum wr wb.
    setelah membaca blog ini,ane jadi salut sama ibu akan keputusan yang ibu abil. dan ane juga salut untuk istri ane karna sama kondisinya dengan ibu. istri ane juga keluar dari pns karena lebih memilih mengurus rumah tangga dari pada sama-sama pns tapi hidupnya berjauhan antara ujung barat sama ujung timur.semoga ibu menjadi muslimah yang didunia ini sudah merasakan wanginya surga

    Amiiin…
    Trima kasih buat atensinya ya, salam saya buat isteri karena sudah berani memilih diantara dua pilihan yang kata orang-orang sulit.
    Padahal jelas, keluarga itu buat para isteri adalah segalanya :)

  66. 66
      ummu zaid Says:

    bu,mau curhat nih,
    sy dan suami udah setahun menikah dan belum dikaruniai anak.suami baru 2tahun jd PNS Pusat di kalbar,sdgkan saya PNS pemda di jatim nunggu 100%.
    Suami pernah mgajukan mutasi k pemda,tp karena msh baru,oleh pusat dia malah dibuang ke pelosok meski akhirnya dikembalikan.
    Sebenarny saya dan terutama suami,sudah tidak tahan dg kondisi ini bu.bawaan sy pgen mgundurkan diri atau resign,tp utk mgundurkan diri, org tua sy jelas menolak mentah2.
    Sedangkan suami merasa gak sanggup lagi menjalaninya. Apa yg harus saya lakukan,bu?m0hon advice nya..hiks,

    Halo Ummu,
    Pertama-tama, saya mau mengucapkan selamat buat pernikahan dan status PNS yang bisa didapat Ummu dan suami. Hebat. Tidak semua orang memiliki rezeki seperti itu.
    Namun tentu saja, tida pernah ada yang sempurna. Sekarang Ummu dan suami hidup terpisah pulau, belum dikaruniai putra *mungkin* karena terpisah kota dan senantiasa memendam rindu buat bertemu.
    Saran saya, tolong Ummu jalani dulu agar memperoleh status PNS 100 %. Saya yakin hal itu tidak lama lagi. Setelah itu bicarakan dengan bagian kepegawaian propinsi agar Ummu bisa mengajukan mutasi pindah ke tempat tugas suami. Adakan pula pembicaraan dengan Pemda Kalbar, sehingga Ummu bisa diterima disana. Dengan demikian proses mutasi akan lebih mudah karena sudah ada kesepakatan antar instansi. Insya Allah bisa.

    Beberapa tahun yang lalu, saya juga punya teman kantor yang meminta mutasi untuk mengikuti suaminya pindah menjadi PNS di Bontang - Kaltim. Dan sekarang teman saya tadi sudah menjadi PNS disana.

    Saran saya bisa diterima, Ummu?
    Jangan lupa banyak berdoa dan memohon pada Allah agar semua dimudahkan. Selain itu beri penjelasan pada orang tua dan suami tentang rencana Ummu ini. Mudah-mudahan mereka semua bisa menerima dan mendukung keputusan Ummu.

    Percayalah, semua akan indah pada waktunya.
    Insya Allah.

  67. 67
      ummu zaid Says:

    bisa,bu,terima kasih..
    Suami di kementrian kelautan perikanan,di karantina ikan entikong..sdgkn sy d pemda kab.nganjuk,yg kalau mengajukan mutasi nantinya berarti ke pemda kab.Sanggau,minta di puskesmas entikong (bisakah?),

    yg saya khawatirkn bu,nantinya ketika 3-5 th lg ktika suami mutasi ke jawa,bisa2 saya mengurus mutasi sy sndiri lama sehingga tdk serta merta bisa langsung ikut suami (lagi).blm lg daerah tjuan blm tentu menerima krn tdk ada formasi.
    Katanya,pindah antar pemkab bakal sulit..
    Advice nya lagi,bu..

    Ummu…
    Janga berpikir atau berprasangka terlalu jauh. Bila Tuhan sudah mengijinkan, tidak akan ada yang terlalu sulit atau tidak bisa. Ummu percaya kan?
    Saran saya, Ummu mengajukan mutasi dengan alasan mengikuti dinas suami yang PNS. Insya Allah akan lebih mudah karena Ummu dan suami satu profesi. Teman yang saya ceritakan itu, suaminya malah bekerja sebagai guru sekolah swasta, dan ternyata bisa.
    Tentang waktu lama atau sebentar proses mutasi, kayaknya sih sesuai niat dan amal perbuatan kita, Ummu…hehe, bukan harus menyuap sana sini, tapi bila kita selama ini banyak memberi kemudahan atau pertolongan pada orang, Insya Allah urusan kita juga akan dimudahkan oleh Allah Swt…
    Kemudian, bila Ummu khawatir kalau setelah Ummu mutasi dan suami pindah lagi ke Jawa, itu namanya resiko. Di dalam hidup ini semua tidak bisa diprediksi. Tapi resiko yang sudah kita antisipasi tentu akan lebih baik daripada terjun bebas tanpa rencana. Jadi, pilihan itu ada di tangan Ummu dan suami, saya hanya sebatas menyarankan saja.
    Bisa diterima kan, Ummu?
    Semoga Ummu segera diberi kemantapan hati untuk mengambil pilihan :)

  68. 68
      Formal dresses Says:

    Good post! I plan to move into this stuff after Im done with school, as most of it is time consuming. Its a great post to reference back to. My blog needs more time to gain in popularity anyway.

    Thanks :)

  69. 69
      desi lentari Says:

    ibu saya baca ternyata kasus yang ibu alami sepertinya akan saya alami 10 tahunan kedepan.
    saya bersuami kan tentara juga di kalimantan timur, sedangkan saya pns di cimahi. dari cerita ibu saya tahu suami ibu pastinya perwira tapi sudah senior sedangkan suami saya perwira tapi masih junior maklum baru pangkat lettu.
    yang mengganjal ibu bisakah suami saya yang pindah ke cimahi? tadinya saya ingin ikut suami tapi selama 2 tahun ini suami saya sudah mengalami 3 kali pindah propinsi walau masih dikalimantan. mungkin ibu mengetahui cara bagaimana agar suami yang bisa pindah mengikuti istri. seperti yang ibu bilang karir bukan segalanya, dan itulah yang suami saya katakan bahwa dia tidak ingin mengejar karir di tni. dia hanya ingin berkumpul dengan keluarga di cimahi. mungkin ibu bisa membantu solusi untuk masalah kami.

    Desi, setiap tentara pasti mempunyai cita-cita tinggi, apalagi seorang perwira.
    Duluuuu sekali, saat masih menjadi Danki, suami saya ‘hanya’ bercita-cita menjadi Danyon.
    Setelah menduduki jabatan Danyon, keinginan untuk mencapai pangkat dan jabatan tertentu ternyata masih ada. Saya kira bagus. Seorang laki-laki memang harus punya ambisi untuk maju. Apalagi suami kita seorang tentara, dia tentu harus memiliki keinginan kuat buat mengadi pada negara tanpa dibatasai oleh kita, para isteri.

    Menurut saya, janganlah dikondisikan karier suami yang mengikuti isteri. Justru kita yang harus mengikuti suami kemanapun dia berpindah tempat dan jabatan. Kepala keluarga itu adalah suami, jadi seyogyanya kita yang menyesuaikan dengan kondisi tugas suami. Lagipula bukankah pada saat kita menikah kita sudah sepakat, bahwa kita akan siap ditempatkan dimana saja?

    Karier Desi saat ini mungkin masih bisa dijalani, sepanjang tuntutan tugas kita sebagai isteri prajurit belum terlalu berat.
    Saya berhenti bekerja saat suami menjabat sebagai Danbrig dan berpangkat kolonel. Jadi sekarang, pilihan kembali kepada Desi dan suami, apakah akan bertahan di Cimahi dan ‘mengurus’ agar suami bisa pindah kesini atau Desi mulai berpikir untuk mengurus status Desi sebagai pegawai titipan di kota dimana suami bertugas.

    Des, sayang kalau pangkat suami masih letnan satu tapi ‘dipaksa’ untuk selalu ada di Cimahi…hehe, maaf ya, jabatan sekarang susahnya luar biasa dan saya yakin, di lubuk hati suami Desi dia juga pasti ingin pangkat dan jabatan yang menjadi impian setiap tentara… ;)

  70. 70
      haidar Says:

    Bu, kalau sekarang mau keluar dari PNS prosedurnya gimana ya? apa ada denda?

    Halo Haidar, tidak ada denda apapun kalau kita mau keluar jadi PNS.
    Syaratnya cuma mengajukan surat pengunduran diri menjadi PNS ke instansi dimana kita bertugas, setelah itu surat itu akan berproses sesuai prosedur. Saya hanya perlu menunggu waktu 3 bulan saja sampai surat keputusan pemberhentian saya sebagai PNS itu turun.
    Salam :)

  71. 71
      Aileen Says:

    saya sedang berfikir untuk resign juga, dengan alasan yang sama :) selama menunggu surat turun masih aktif kerja kah mba?

    Nggak Aileen, karena tempat kerja saya dengan tempat tugas suami ada di propinsi yang berbeda, jadilah saya ikut suami pindah dan surat pemberhentian itu saya terima lewat pos :)

  72. 72
      verintz Says:

    baca tulisan mb jadi mikir….sama banget sama keadaan saya saat ini….dilema….saya PNS,suami tentara….beda kota,beda propinsi…saat ini mutasi masih memungkinkan,tapi terpikir apa nanti2nya mesti mutasi terus…:(

    Hai Verintz, dijalani aja sekarang yang harus dijalani, nanti kan ada solusinya sendiri…ok?
    :)

  73. 73
      REVI CITRAWATY Says:

    aslkm,sayav tdk sengaja menemukan blog ibu saat sy sdg bingung mencari jln keluar atas pemasalahan sy,
    sblmnya perkenalkan sy seoarang PNS dinas pkrjaan umum kab. karimun kepri. saya diterima sbagai cpns pd thn 2009 awal,saat itu sy sdh berpacaran dgn suami sy yg skrg slama 5tahun,dr pacaran kami sdh terbiasa pcran jrk jauh,kbtulan saat itu dia bkrja di samarinda,akhir 2009 kami menikah,saat itu blm ada panggilan prajab,sebulan stlh mnikah sy lngsung hamil otomatis sy jobless alias gaji buta sj dikantor,sy di karimun ngekost krn kluarga (ortu) ada di batam (karimun-batam 2jam prjalanan kpl ferry), sy hamil tanpa ada kluarga yg mndampingi,singkat crita sy melahirkan,sbulan stlh mlahirkan sy dipanggil prajab. jujur hati sy perih skali hrs meningggalkan anak sy,sy tdk bs memberikan ASI…suami pun di balikpapan(diterima di chevron oil/gas sbagai kontrak), stlh 4bln prajab kami dilantik…jadi udh hampir setahun lebih saya tiap jumat korupsi waktu krja utk mengejar kapal ke batam demi brtemu dgn anak sy,bnyk yg menyindir tp sy tdk pedulikan,hubungan dgn suami pun sulit krn suami swasta jd tdk bs ijin dgn mudah,sedih skali ertemu dgn anak begitu penuh perjuangan,suami hnya melihat prkembangan anak dr video yg sy kirim,sy ingin skli berhenti tp bapak sy menyuruh sy utk coba cara lain,akhirnya sy coba mutasi titipan ke balikpapan,rekom dr balikpapan sdh diterima tp dari bupati karimun di pending,saya mau pindah ke batam tp alasan apa…tdk mngkin alasan ikut anak,jadi saya sgt bingung skli bu. ada beberapa pertanyaan yg sy mash bingung :
    1. cuti diluar tanggungan itu pengajuannya kmn? ada batas waktunya?
    2. apakah bisa jika sy cuti diluar tanggungan trs 5thn kmudian sy muncul (krn PNS blh pindah stlh 5thn) trs mngajukan mutasi benerannya?

    maaf jika sy bnyk bertanya krn sy sgt bingung bu,trimakasih sblmnya.wass

    Revi, halo…
    Pertama-tama, saya kagum dengan perjuangan Revi selama ini.
    Kehidupan berumah tangga dengan posisi anggota keluarga tersebar begitu memang tidak sehat. Jadi tepat kalau sekarang Revi mulai berpikir buat membenahi hal-hal yang berkaitan dengan keharmonisan keluarga.

    Cuti diluar tanggungan negara bisa diajukan ke badan kepegawaian Pemda setempat. Biasanya selama 3 tahun saja. Setelah itu, kita harus masuk kantor lagi seperti biasa. Perlu diketahui, selama cuti diluar tanggungan negara tersebut kita juga harus melepas jabatan dan tidak menerima gaji atau tunjangan apapun.

    Cuti diluar tanggungan negara juga hanya boleh diajukan satu kali selama kita menjadi PNS.

    Sedangkan untuk hal-hal yang berkaitan dengan mutasi, saya kurang paham, Revi. Coba deh Revi tanyakan langsung ke institusi dimana Revi bertugas.

    Sukses selalu ya!

  74. 74
      Rofiana Dian Says:

    Hampir sama dengan yang saya alami sekarang, saya PNS Pemda dengan masa kerja 6 th, suami PNS Pusat dan pindah2. Tadinya penempatan di Pekanbaru, kemudian awal Januari 2012 Ikut Tugas Belajar selama 2 th di Jakarta, sedangkan posisi saya sekarang di PemKab Grobogan, Jateng. Kemudian saya ingin mencoba mengajukan mutasi sebagai pegawai titipan juga ke Jakarta tapi hanya sementara saja disana sampai suami selesai Tugas Belajar, kira2 prosedurnya bagaimana ya Bu?

    Hai Rofiana,
    Maaf baru saya jawab sekarang ya!
    Menurut informasi yang saya dengar, pindah menjadi PNS di Jakarta itu lebih susah prosedurnya. Ada berbagai test yang harus diikuti. Tapi saya tidak tahu bagaimana kalau statusnya pegawai titipan. Mungkin bisa ditanyakan langsung kesana karena pengetahuan saya tentang birokrasi kepegawaian di DKI Jakarta juga sangat terbatas.
    Semoga sukses :)

  75. 75
      yani Says:

    Saat baca tulisan ibu jadi mikir apa nanti saya juga harus mengambil pilihan seperti yang ibu lakukan…
    Saya PNS BPN pnempatan Kalimantan.. Sudah hampir 4 th jd PNS, sejak pernikahan setahun lalu saya & suami hidup terpisah. Kondisi hamil seringkali membuat saya merasa sangat sedih di saat menghadapi saat2 sakit, capek karena disini gda siapa2. sudah berusaha mengajukan mutasi tapi ga di izinkan karena suami wiraswata dan atasan menganggap suami yang mengikuti istri…
    Bimbang, galau harus berbuat apa…
    Smg di berikan kekuatan seperti ibu..

    Yani, apa kabar?
    Maaf sekali komen Yani baru saya baca siang ini. Sudah beberapa minggu ini saya sakit, jadi jarang buka komputer apalagi blog.
    Betul Yan, kadang-kadang kita memang harus memilih.
    Tapi saran saya, dijalani saja sampai nanti Yani melahirkan. Tidak mungkin juga kan pindah ke tempat suami dalam kondisi hamil.
    Saya yakin, kelak ada ‘gerakan hati’ yang akan menuntun kita buat terus bekerja atau justru harus mendampingi keluarga sepenuhnya…
    Jaga kesehatan, Yan.
    Saya doakan semoga semuanya berjalan lancar dan menyenangkan. Jangan sering galau, sedih atau bete, nanti bayinya ketularan lo…
    ;)

  76. 76
      dyah(mama Rani) Says:

    duuh senengnya bisa kesini lagi. bersyukurnya cuma jadi ibu rumahtangga. ga ribet kalau suaminya mau pindah. asak jangan pindah ke lain hati aja….bu irma…kangen nih. kapan mau weiasta kuliner ke Banjarmasin..

    Eh, ini Dyah yang itu kan?
    Kangeeeeen…
    Iya Dyah, saya juga pengen jalan-jalan kesana, wisata kuliner itu apalagi…hm, amat menggoda!
    :D

  77. 77
      yani Says:

    makasih supportnya bu…
    Lg menikmati masa cuti menunggu kelahiran baby…
    Berusaha tetep optimis demi calon baby kami…
    Smg smua akan indah pada waktunya.. :-)

    Amiiin…
    Insya Allah semua akan indah pada waktunya, Yan!
    Semoga persalinannya berjalan lancar, doa saya dari sini ya :)

  78. 78
      luna Says:

    pengen aq… tp aq takut…

    Takut kenapa, Luna?
    ;)

  79. 79
      Liha Says:

    Salam kenal Bu… jujur saya saluuut banget sama ibu. sya jga mo curhat ni Bu.. kebetulan status saya jga PNS n suami tentara meskipun pangkatnya masih rendah. Yang paling membuat saya dilema skrag dah ada baby..n otomatis harus bagi waktu, utk kerja n keluarga. belum lagi kegiatan persit..
    Jujur sih bu.. selama ini yang sering saya nomor tigakan kegiatan persit, coz pulang kerja dah sore n itupun kadang gak sempat lihat anak terjaga, kita juga masih kontrak rumah di luar soalnya blm dapat rumah asrama masih penuh. meski demikian saya tetap rutin ikut pertemuan rutin persit yg tiap bulan meski harus izin kantor.
    Menurut ibu2 gimana bagi ibu bekerja terutama PNS yg juga mengemban tugas negara wajibkah ikut kegiatan mingguan (berupa senam&erobik)…? dulu sebelum saya bekerja n punya anak memang semua itu nggak berat dijalani. tapi sekarang dgn kondisi yg seperti ini beraaaat banget jalani semuanya karena terbentur waktu n capek…kasian juga jarang ada wktu buat anak.
    Mohon pendapat ibu2 ya…Thank’s..

    Hai Liha,
    Sebelum menjawab pertanyaan Liha ini saya ingin mengucapkan selamat karena Liha sudah memiliki peran sebagai seorang perempuan demikian banyak. Sebagai isteri, ibu, wanita bekerja juga anggota organisasi kita yaitu Persit Kartika Chandra Kirana.
    Peran yang bermacam-macam ini harus kita jalani dengan ikhlas dan sepenuh hati karena semua itu adalah amanah yang sudah diberikan Tuhan kepada kita.

    Capek pasti iya, repot apalagi.

    Tapi bukankah justru itu yang membuat hidup kita penuh warna?
    Kala kita bisa menjalani semua peran itu dengan seimbang maka kepuasan dan kebahagiaan yang kita dapatkan itu pasti luar biasa.
    Saran saya, ikuti kegiatan Persit, senam, pengajian atau apapun itu sepanjang memungkinkan. Kalau anak sehat, toh anak itu sekali-kali bisa kita bawa ke lapangan atau tempat pengajian. Kita juga jadi tidak terisolir dari lingkungan karena kita jadi punya banyak teman.
    Jalani saja semua dengan gembira dan tanpa beban, Liha…sepanjang kita sehat dan ada kesempatan, kenapa tidak?
    Ingat lo, tidak semua perempuan memiliki banyak peran seperti Liha…
    :)

  80. 80
      geulish Says:

    ibu…..makasi banget tulisannya sangat inspiratif. saya juga pns,masalah saya jg sama, saya mau resign tapi ortu menolak mentah2. gak enak banget hidup terpisah sama suami. jadi saya mau ngurus cuti luar tanggungan dulu. doakan spy berhasil ya bu…..

    Iya Geulish, mudah-mudahan semuanya dilancarkan oleh Tuhan.
    Keputusan apapun yang kita ambil smoga membawa kebahagiaan buat Geulish dan keluarga :)

  81. 81
      ayu Says:

    ibu… sepertinya saya juga akan mengalami hal yang sama dengan ibu. saya tidak sanggup kalo harus hidup berjauhan dengan suami dan anak. Rejeki kan tidak hanya dari PNS ya bu. kalo kita tekun dan berusaha, dan berdoa tentunya, rejeki kita pasti tidak akan tertukar dengan rejeki orang lain. dan yang pasti, saya senantiasa menanamkan di hati saya ( ini juga sebagai penguat saya bu kalo sedang bimbang, gelisah gundah gulana) bahwa \cukuplah Allah swt sebagai penolong kita. karena Dia sebaik-baik penolong\..
    sukses selalu ya buu..

    Halo Ayu…
    Setelah berkeluarga dan tidak memungkinkan lagi untuk bekerja, rasanya kita harus memprioritaskan keluarga di urutan pertama. Rezeki memang sudah ada porsinya, dan tugas kitalah untuk mengundang rezeki itu untuk datang dan menghampiri kita. dengan banyak cara, tentu saja…
    Sukses juga buat Ayu, smoga langkah apapun yang akan Ayu ambil, tidak membuat Ayu kecewa, sedih atau menyesal.
    :)

  82. 82
      rosaline Says:

    ass…sy salut ats kptsn ibu untk mgndrkn diri jd pns,sy mgkn ga sberani ibu untk mgmbl resiko itu…sy jg bkrj sbg pns bu sdgkn suami tntra tp yg ga gtu tinggi sc pngkt na sy dklmntn dn suami dsolo…suami ingin sy brhnti tp ortu tdk mmprblhkn klo sy brhnti jd pns ga akan dianggp ank lg itu yg bkn sy bingung+galau…hufft
    plhn sulit buat sy..
    Tp sy brsh untk tdk sdh dn meratapi nasib wlau srg sy dn suami brtgkr untk mslh kcl sdktpun sy ttp brsh tuk mengalah krn mmg sy yg slh tdk bs mgkti suami saat ini…
    Tp skrg sy ingin mengurus kpndahan sy bu wlau kt org ssh demi keuthn rmh tgga ga ad yg ssh kn bu..hee kan Allah jg ga akn beri cobaan mlbhi kmmpuan hmbanya…(brsh tk mmbuat tegar diri sndri),mdh2n smua brjln lncr mohon doa na ya bu..

    Iya Rosaline, saya turut mendoakan smoga kepindahan Rosaline akan dimudahkan Tuhan dan Rosaline bisa segera berkumpul kembali dengan suami di Solo.
    Amiiin…

  83. 83
      desi Says:

    assalamu’alaikum
    Ibu, saya juga sedang menyiapkan surat resign dari pns yg telah 7 th saya jalani. Saya ibu dr dua anak umur 5th dan 1th. Panggilan hati utk jd full time mom betul2 menggebu gebu dan saya sudah menahannya selama 5th. Tp menurut ibu apakah alasan ingin menjadi ibu rumah tangga cukup bisa diterima oleh bkd? Apakah pantas alasan itu saya cantumkan di surat pengunduran diri saya? Mohon sharing pengalaman ibu dulu. Trmksh bnyk.

    Desi…
    Saya bener-bener kagum baca niat Desi untuk menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya.
    Pemerintah yang diwakili oleh BKD tentu dengan senang hati akan mengabulkan pengunduran diri kita sebagai PNS. Bukankah masih banyak orang lain yang ingin menggantikan status kita itu, Des?
    Selamat menjadi full time mom ya, saya doakan semoga pilihan ini akan menjadi pilihan yang penuh berkah dan kebahagiaan buat Desi sekeluarga.
    Amin.

  84. 84
      aan Says:

    pengalaman hidup bagus banget mba…..saya terharu membacanya.
    sekarang ini pengalaman saya sama persis seperti mba…
    karena aq masih pns dan suami berjauhan karena menjalan tugas negara yang perwira polisi dan u sekarang kami berjauhan dengan jarak 5 jam perjalanan darat,sebenarnya aq sangat ingin trus mendampingi suami dmn di tempatkan…,cape juga mba hrs berjauhan trus karena aq jg harus mengikuti kegiatan organisasi perkumpulan istri2 polisi…bolak-balik,selama berkeluarga 8 tahun seperti ini trus suasana rumah tangga kami dan alhamdulillah baik-baik saja yang dikaruniai 3 orang putri…kami sangat ingin berkumpul…,mungki suatu saat aq seperti mba jg….

    Halo Aan,
    Senang baca Aan berbagi cerita disini. Makasih ya!
    Hidup terpisah dengan suami pasti tidak enak, apalagi kalau sudah sampai 8 tahun. Tapi itu kan kembali pada pilihan Aan yang didukung suami dan anak. Percaya deh, kalau suatu saat hati Aan berkata bahwa ini saatnya berkumpul dengan suami, kata hati itu sebaiknya dilakukan supaya anggota keluarga bisa selalu berkumpul bersama…
    Salam hangat dari saya buat Aan dan keluarga :)