• 12

    Dec

    Risa, saya dan Tokyo

    Beberapa hari yang lalu, saya dan Risa baru pulang dari Tokyo. Tidak ada acara spesial, hanya sekedar ingin menikmati suasana musim gugur yang berlangsung pada bulan November-Desember 2016. Konon, selain musim semi saat sakura berbunga, musim gugur adalah musim terbaik kalau kita mau berkunjung ke Jepang. Itu sebabnya kami tidak menggunakan jasa agen perjalanan karena hanya berkunjung ke Tokyo saja. Semua diurus sendiri oleh Risa. Transportasi, penginapan, tujuan perjalanan, bahkan sampai tempat makan pilihan. Saya hanya diajak bertukar pikiran tentang berapa lama dan kemana saja tujuan yang ingin saya datangi. Sebenarnya, ini adalah kunjungan kedua saya ke Jepang. Sementara buat Risa ini adalah kedatangannya yang ketiga. Jepang. Entah kenapa saya selalu ingin kembali kesana. Sebagai seor
  • 11

    Nov

    Penang...saya datang!

    Sejak suami dinas di Jakarta, saya jadi sering bepergian. Mungkin ini dampak baiknya. Saya yang dulu sangat berhati-hati kalau mengajukan ijin pada atasan, sekarang bisa bebas kemana saja. Cukup berbekal ijin suami, saya bisa langsung pergi. ‘Kebebasan’ yang menyenangkan tentu saja.  Jadi ceritanya, ada beberapa tempat yang sudah lama jadi incaran untuk saya datangi. Tidak banyak memang. Kalau di Indonesia, saya ingin sekali menginjakkan kaki di Ternate-Maluku Utara. Sedangkan di luar negeri, selain Jepang, saya juga penasaran buat berkunjung ke Penang, sebuah pulau kecil yang masuk dalam wilayah Malaysia. Alasannya apa? Entahlah. Hanya keinginan tak pernah padam yang akhirnya bisa kesampaian. Alhamdulillah. Rasanya susah diterima logika. Dalam dua tahun terakhir ini saja
  • 16

    Oct

    Dress Code

    Sebenarnya saya paling anti dengan dress code. Warna yang diseragamkan dengan nada tertentu, apalagi ditambah dengan model yang juga harus serupa, buat saya adalah penyiksaan. Aneh memang. Sebagai anggota organisasi yang melekat dengan tempat dinas suami, seharusnya saya adalah orang yang langsung setuju bila mendengar kata dress code. Maklum, seragam itu adalah kata pertama yang identik dengan status saya sebagai isteri prajurit. Ternyata tidak. Saya malah bisa tiba-tiba malas datang ke sebuah acara hanya karena masalah ini. Tapi karena berbagai alasan, antara lain karena keharusan atau tidak enak dengan teman lain, saya terpaksa memakai dress code yang sudah disepakati. Bisa dibayangkan dong betapa munafiknya saya…hehe! Tapi pagi ini saya seolah mendapat pencerahan dari sebuah tul
  • 26

    Aug

    Lebih tapi kurang

    Dalam sebuah tayangan di televisi, tampak sepasang suami isteri diwawancarai wartawan. Sepertinya mereka akan bercerai. Jadi wawancara itu dilakukan di tempat terpisah. Sang suami asyik menceritakan kesuksesan yang dicapainya setelah rumah tangga mereka bermasalah, sedangkan si isteri berulang-ulang mendoakan agar rezeki mereka berdua *biarpun nanti sudah berpisah* akan terus lancar. Saya jadi berpikir, apakah kesuksesan dan rezeki yang lancar itu demikian penting dalam hidup mereka? Apakah kesuksesan itu harus mengalahkan keutuhan dan kebahagiaan rumah tangga? Atau apakah kita begitu takut kalau rezeki kita sedikit terhambat? Kenapa pula sukses dan rezeki itu menjadi prioritas utama doa mereka? Dengan kata lain, kenapa bukan kesehatan dan kebahagiaan yang mereka minta pada Tuhan? Ters
  • 6

    Aug

    Takayama Old Town - Shirakawa-go - Kyoto

    Saya bukan penggemar keriuhan. Itu sebabnya ketika berkunjung ke Jepang beberapa waktu lalu, saya begitu terkesan dengan Gujo Hachiman. Selain itu ada lagi 3 tempat yang membuat saya terpesona. Daerah-daerah tersebut adalah Takayama, Shirakawa-go dan Kyoto. Selokan di Takayama Old Town Tanpa bermaksud membandingkan dengan selokan yang ada di negara sendiri, selokan di Takayama Old Town ini membuat saya berdecak kagum karena kebersihannya. Selain airny...
  • 2

    Jul

    Selamat jalan, Nunuk...

    Hari ini setahun yang lalu. Saya masih sulit melupakan kejadian itu. Tanggal 1 Juli 2014, sebuah sms masuk ke handphone saya. ‘ Tante, tante Nunuk meninggal. Mohon doanya ya.’ Dunia seakan berputar. Tanpa sadar saya bersandar ke tiang terdekat yang ada di toko buku. Dengan tangan gemetar, saya menekan nomor yang tertera di layar handphone. Jarak Bandung - Malang yang ratusan kilometer menghalangi langkah saya untuk segera berlari ke rumahnya. Ternyata benar. Suara terisak di ujung sana memastikan bahwa berita itu benar adanya. Nunuk Susilowati, sahabat yang sudah 30 tahun menemani saya berbagi cerita baru saja meninggal dunia. Innalillahi wa inna illaihi roji’un. Rasanya sulit dipercaya. Tanpa sakit apapun. Tanpa keluhan sedikitpun. Nunuk meninggal dalam tidurnya.
  • 25

    Apr

    Khotimah menikah

    Hari ini Khotimah menikah. Masih ingat Khotimah kan? Dia adalah asisten rumah tangga kami di Surabaya. Selain menemani Bato dan Bi Entin, dia juga sekolah lalu kuliah dan sekarang sudah lulus S1 Keperawatan dari sebuah lembaga pendidikan kebidanan yang letaknya tidak jauh dari rumah. Begitu cepat waktu berlalu. Tidak terasa sudah lebih dari 10 tahun dia menjadi bagian dari keluarga besar kami. Saya ingat waktu pertama kali dia datang dari Lumajang. Wajahnya yang lugu, tatapannya yang selalu ingin tahu dan gerak-geriknya yang masih canggung membuat saya ragu, apakah dia akan betah tinggal di rumah kami? Ternyata betah. Alhamdulillah. Akhir tahun 2014 lalu dia sudah diwisuda dengan hasil yang membuat saya kagum luar biasa. Bayangkan, IP-nya saja 3,72 dan dia berhasil lulus dengan predi
  • 22

    Apr

    Gujo Hachiman

    Ini adalah kota impian yang sangat ingin saya kunjungi! Yup. Gujo Hachiman. Sejak membaca sebuah majalah wanita yang memuat keunikan kota kecil di Prefecture Gifu ini, saya langsung suka. Selain suasana kotanya yang kelihatan nyaman, disana juga ada tempat pembuatan food sample yang unik dan sangat indah. Dalam tulisan kali ini, biarlah foto yang bercerita. Mie goreng yang menggoda…hayo, ini asli atau palsu?
  • 17

    Apr

    Ada apa di Hotaka?

    Perjalanan hari kedua di Jepang, tujuan kami adalah ke Gunung Fuji, Takayama dan Shirakawago. Lalu bermalam di sebuah hotel bernama HV yang terletak di Hotaka-Prefecture Nagano. Perjalanan dari Shirakawago ke Hotaka sekitar 45 menit. Jalan yang kami lalui berkelok-kelok dan sangat sepi. Pantas saja. Hotel itu ternyata ada ditengah hutan pinus yang amat luas. Rombongan kami tiba ketika hari sudah gelap. Hotelnya sendiri termasuk kategori antara bintang 4 dan 5. Tampilannya bagus biarpun bangunan itu terkesan seperti tahun 90-an. Suasananya sepi dan personal karena memang kesan itu yang ingin diciptakan. Buat yang ingin bulan madu, ok-lah…
  • 10

    Apr

    The Great Sakura

    Pesawat Japan Airlines yang kami tumpangi take off dari bandara Soekarno-Hatta jam 21.30 dan diperkirakan mendarat di bandara Narita jam 06.30 waktu setempat. Penerbangannya sendiri memakan waktu 6 jam. Perbedaan waktu antara Indonesia dengan Jepang itu 2 jam. Waktu Jepang lebih cepat 2 jam dari Waktu Indonesia bagian Barat. Jadi perbandingannya kurang lebih kayak Jayapura dengan Jakarta gitu deh! Terbang tengah malam sukses membuat saya terjaga semalaman. Dua orang penumpang laki-laki di kanan dan kiri, sepertinya orang Jepang asli, asyik menonton sebuah tayangan dari layar televisi dihadapannya. Saya mencoba baca novel tapi karena pikiran sudah kemana-mana, acara membaca itupun gagal. Pasrah. Kembali saya mencoba memejamkan mata walaupun hasilnya tetap sama. Tidak bisa tidur. Enam jam
- Next

Author

Follow Me

Search

Recent Post


Categories

Archive