Perhatian : Buat yang sudah sering ke Singapura tidak disarankan membaca posting ini!
Sebelum menceritakan hal-hal yang menyenangkan, saya akan menceritakan satu kejadian yang ‘memprihatinkan’ dulu…
Karena satu dan lain hal, saya dan Risa berangkat terpisah dari suami. Hanya beda menit dan maskapai penerbangan sebetulnya. Jadi kita tetap tiba di Singapura pada hari yang sama.
Berhubung suami berangkat dengan rombongan tersendiri, saya ‘terpaksa’ berangkat berdua dengan Risa. Kami bertiga janjian ketemu di hotel saja. Bukan apa-apa, di bandara sebesar Changi yang harus memakai sky train untuk menghubungkan antar terminal, tentu heboh banget kalau harus saling mencari.
Terakhir kali saya menginjakkan kaki di Changi Airport untuk berkunjung ke Singapura pada tahun 1988. Setelah itu Changi hanya sekedar tempat transit, bila akan bepergian ke lain negara.
Tahun 2007 lalu, saat saya dan teman-teman organisasi berkunjung kesana, kami menyeberang lewat Batam. Jadi Changi Airport itu sekarang modelnya seperti apa, saya juga tidak tahu.
Risa juga punya cerita sama. Biarpun sudah ‘menjelajah’ Singapura selama lima hari dengan keluarga adik saya, tapi dulu mereka berangkat dari Jakarta via Batam, baru menyeberang ke Singapura.
Alhasil kita berdua memang buta total soal Changi. Kita saling ‘menguatkan’ (duuuh…kayak ngapain aja ya!) bahwa sepanjang orang-orang disana masih bisa berbahasa Inggris, pasti semua masalah bisa diatasi.
Oya, ada lagi satu perbedaan dalam perjalanan kali ini.
Berdasar pengalaman sebelumnya, jika kami akan berkunjung ke suatu tempat baru pasti ada anggota keluarga atau teman yang datang menjemput. Kami tinggal duduk dan ‘pasrah’ saja di dalam mobil mengikuti ajakan sang tuan rumah.
Tapi berhubung kemarin kami niat banget jadi ‘nekad traveler’, terbanglah saya dan Risa ke Changi Airport hanya bermodal search google. Katanya nih, kalau memakai taxi bandara jarak dari Changi Airport ke hotel tempat kita menginap, sekitar setengah jam.
Ongkos taxi berkisar antara S$ 18 - S$ 38. Saya juga heran, rentang harganya kok jauh banget. Tapi sudahlah, mungkin yang satu mobil corolla kuno, yang satu limousine…
Sekitar sore hari, kami berdua mendarat di Changi Airport. Saya benar-benar terpesona dengan kebersihan dan kemegahan bandara tersebut. Tanaman beragam jenis disusun di sepanjang jalan menuju tempat pemeriksaan paspor dan pengambilan bagasi penumpang. Semua serba tertib, bersih dan indah.
Internet gratis juga ‘berserakan’ di banyak tempat. Hampir saja saya tergoda untuk meng-klik bintangtimur, tapi batal karena masih ‘gegar budaya’…
Sambil berjalan keluar, Risa berhenti di satu rak dan mengambil beberapa tourist map yang disediakan gratis dalam berbagai bentuk. Semuanya lengkap dan mudah dibaca.
Setelah mengambil bagasi, kami berdua berdiri di antrian taxi. Tapi baru seperempat jam kemudian kebagian taxi berwarna silver. Mobilnya baru dan nyaman. Pengemudinya sih (menurut saya) terlalu ramah.
Sepanjang jalan dia asyik bercerita tentang event Singapore Air Show, membludaknya turis asing, sampai menjelaskan detail tentang berbagai obyek yang harus dikunjungi selama saya disana.
Perjalanan dari bandara ke hotel nyaris tidak terasa. Saya kagum dengan penghijauan dan kebersihan kota Singapura. Pohon-pohon yang rindang, bunga-bunga yang bermekaran, dan semua sudut jalan terlihat amat bersih. Tidak ada satupun sampah berceceran. Hanya tampak sedikit saja daun kering yang berguguran.
Begitu memasuki Raffles Boulevard, saya melirik argometer taxi. Disitu tertulis S$ 17,60. Aman. Berarti search google betul nih…
Tapi begitu taxi berbelok ke Mandarin Oriental, saya mendengar sopir taxi itu meng-klik sesuatu 2 kali. Saya tidak terlalu perhatian karena sibuk mengeluarkan dompet. Risa juga asyik memperhatikan pemandangan di luar jendela.
Pada saat saya menanyakan harga yang harus dibayar, ternyata sopir taxi itu minta S$ 38. Wah, gila . Saya langsung berpaling melihat argometer tadi. Disana sekarang tertera angka S$ 37,80!
Berhubung pintu sudah dibukakan oleh door man hotel, dan kalau mau marah juga mesti ‘diterjemahkan’ dulu oleh otak saya…sudahlah, saya bayar saja sebesar yang dia minta. Saya juga malu, masa sih begitu datang sudah bertengkar dengan sopir taxi!
Begitu ketemu suami di lobby hotel, saya langsung curhat masalah harga yang bikin bete itu. Bukan hanya uangnya, tapi dibohonginnya itu yang bikin sebel. Suami hanya tertawa, katanya dia sih hanya membayar S$ 18 untuk perjalanan dari bandara ke hotel itu…
Duh, hari gini…ternyata penipuan ada dimana-mana ya!
Kejadian itu membuat saya dan Risa segera berusaha mencari alternatif lain untuk jalan-jalan ke tempat yang letaknya jauh dari hotel. Taxi dihindari, kecuali terpaksa. Selain takut dibohongin, mahalnya itu yang bikin kapok.
Sebenarnya disekitar situ juga ada beberapa pertokoan seperti Marina Square, Esplanade Mall atau City Link Mall. Tapi bosan juga kan kalau hanya jalan-jalan di toko. Rasanya jadi sama saja dengan belanja di Paris Van Java atau Bandung Super Mall.
Tanpa sengaja, pada saat jalan-jalan di malam hari kami melewati stasiun Mass Rapid Transit (MRT) yang teletak persis dibawah hotel Mandarin Oriental. Ini dia sasaran berikutnya. MRT.
Jalan yang ditempuh dari hotel ke stasiun MRT juga relatif mudah dan nyaman. Tidak panas pula.
Setelah melewati beberapa pertokoan keren di lorong bawah tanah, sampailah kami ke stasiun MRT City Link. Tinggal lihat peta, beli karcis dan langsung duduk (atau berdiri kalau tidak kebagian tempat…) di MRT.
Semangat yang nyaris runtuh gara-gara taxi tadi, langsung bangkit kembali. Terus terang saya penasaran dengan kepraktisan dan harga MRT yang relatif murah.
Bayangkan, hanya berkisar antara S$ 2 - S$ 3 saja kita sudah bisa pergi ke berbagai penjuru Singapura. Itupun yang S$ 1 dollar adalah deposit dan akan dikembalikan berupa uang koin bila kita mengembalikan kartu MRT yang sudah dipakai ke mesin pembelian tiket.
Oya, waktu itu S$ 1 setara dengan Rp. 6700.
Harga yang berbanding terbalik dengan harga taxi tadi sore, membuat saya jadi bersemangat untuk mencoba naik MRT…!
Sssst, saya bingung nih mau nulis apa duluan!
Terlalu banyak cerita yang ingin dibagi, membuat saya tidak tahu harus menulis tentang apa di posting kali ini.
Ehm, sebelumnya saya akan berterima kasih dulu deh pada rumahkayu yang telah memberi award writing contest dan semua teman yang sudah berkunjung ke blog bintangtimur. Entah kebetulan atau sengaja berkunjung (ulang…), semua itu berhasil membuat saya merasa sangat tersanjung.
Tanggal 1 Pebruari kemarin, saya mendapat kehormatan (cieeee…) menjadi salah satu pemenang writing contest yang diadakan rumahkayu. Katanya pula, saya bakalan dapat Ipod. Wah, keren!
Detik-detik menjelang pengumuman, sebetulnya saya sedang bersiap-siap berangkat menuju Singapura dengan keluarga. Di saat yang hampir bersamaan pula, ternyata saya menjadi salah satu pemenang kontes. Sungguh, dua hal itu adalah anugerah tidak terduga yang membuat saya hampir kehilangan kata-kata.
Hadiah yang satu berupa Ipod dari rumahkayu dan satu lagi adalah kesempatan untuk menginap 4 hari 3 malam di Mandarin Oriental Hotel Singapore…sebuah hotel bintang lima, yang nyaman luar biasa!
Saya betul-betul tidak menyangka!
Setelah dua posting terakhir tentang Trinity dan Aldo, saya jadi seperti diberi kesempatan untuk melihat negara tetangga (heran deh, kok justru bukan pulau-pulau terluarnya ya…) dengan suami dan anak saya.
Ke luar negerinya mungkin tidak terlalu membuat speechless. Tapi bisa berangkat bersama orang-orang tercinta, menjadikan kesempatan itu begitu luar biasa.
Selain itu, kami bertiga juga baru mendapat kepastian dua hari menjelang keberangkatan…waduh, pontang panting cari tiket pesawat itu, berhasil membuat adrenalin saya mengalir deras.
Bukan apa-apa, di Singapura saat ini sedang ada event Singapore Air Show yang melibatkan banyak negara di dunia. Belum lagi perayaan Tahun Baru Imlek yang membuat suasana disana sangat meriah dan sukses mengundang kedatangan banyak turis asing, termasuk kami bertiga. Tingkat hunian hotel jelas meningkat pesat. Dan bisa menjadi bagian dari kemeriahan itu, ehm, tentu saja sesuatu yang harus saya syukuri…
Buat Dee dan Kuti, thanks a lot, semoga opini saya bisa melengkapi keindahan isi buku rumahkayu. Saya juga harus berterima kasih buat tampilan posting saya di halaman muka blog detik, karena setelah itu, blog ini mendapat banyak kunjungan teman baru.
Artinya…
Dana yang dikirim per bulan kepada teman saya di Medan, juga bertambah banyak. Masih ingat kan, dengan rahasia kecil itu?
Jumlah kunjungan setiap hari dikalikan dengan nilai nominal rupiah tertentu, akan ditransfer per bulan kepada teman saya yang sudah kehilangan suami tercintanya. Almarhum (teman satu angkatan suami saya…) meninggalkan seorang isteri dan tiga orang anak usia sekolah yang memerlukan banyak biaya untuk meraih cita-cita.
Tidak terasa, sudah 7 bulan teman-teman membantu saya berbagi melalui kunjungan teman-teman ke blog bintangtimur. Jumlah uang yang ditransfer setiap bulan itu semoga memiliki arti buat mereka.
Sungguh, hal tersebut membuat saya terharu dan bangga.
Sekali lagi, saya mengucapkan trima kasih banyak buat kunjungannya selama ini.
Berbuat sesuatu tanpa mengeluarkan biaya dari dana pribadi, semoga menjadi sesuatu yang berkesan bagi silaturahmi kita. Kenapa begitu?
Karena semakin sering teman-teman mengunjungi blog bintangtimur, semakin besar juga dana yang akan mereka dapatkan. Silaturahmi sambil berbuat baik, mudah-mudahan memiliki nilai lebih bagi pertemanan (atau persahabatan…) kita di dunia maya.
Eh, saya belum cerita tentang Singapura kan?
Sebentar lagi deh, tungguin ya!
Sudah hampir satu bulan, anak kecil berkulit gelap itu datang mengetuk pintu rumah saya. Waktunya tidak pernah berubah. Di pagi hari, atau mendekati siang hari.
Awalnya saya heran.
Tapi setelah saya tanya tujuannya mengetuk pintu rumah saya. Jawabannya justru makin membuat saya bingung.
Rupanya dia menawarkan nasi bungkus.
Tangannya yang tidak membawa tas apapun, membuat saya bertanya-tanya dalam hati. Namun keheranan itu segera terjawab, saat dia menurunkan tas ransel kecil berwarna hitam dari punggungnya. Dari ransel lusuh itu dia mengeluarkan beberapa bungkus nasi yang dimasukkan dalam kantong kresek warna hitam.
Duh, saya trenyuh. Nasi bungkus yang sudah tidak berbentuk rapi itu, ditulisi besar-besar dengan ballpoint hitam untuk menerangkan jenis lauk apa yang ada didalamnya.
Karena kasihan, saya membeli satu.
Rupanya dari situlah ‘malapetaka’ bermula. Sejak saat itu, hampir setiap hari dia mengetuk pintu rumah saya. Hampir setiap hari pula saya tergopoh-gopoh membukakan pintu depan karena mengira ada tamu yang datang.
Lama-lama saya berpikir. Kalau saya selalu membeli nasi karena kasihan (padahal nasi itu selalu saya berikan pada orang lain, sebab saya sudah memasak sendiri), rasanya hal tersebut akan menjadi sesuatu yang sia-sia dan tidak mendidik.
Suatu hari saya berpesan pada dia, agar tidak setiap hari menawarkan nasi pada saya. Cukup satu minggu sekali saja, yaitu pada hari Jumat. Saya pasti akan membelinya.
Rupanya dia masih coba-coba menguji rasa tega saya. Dia menawarkan nasi dua hari sekali. Saya menguatkan hati untuk menolaknya. Bukan apa-apa, saya hanya ingin memberitahunya lewat tindakan, bahwa janji dan konsistensi adalah sesuatu yang harus dihargai. Saya menolak tawaran nasi bungkus itu.
Tanpa kenal lelah, dia beberapa kali datang ke rumah diluar jadwal yang telah disepakati. Saya berulang menguatkan hati untuk tidak membeli nasi bungkus yang ditawarkannya.
Sambil tersenyum saya menjelaskan pelan-pelan, bahwa saya sudah memasak hari itu. Makanan yang terlalu banyak tersedia, tentu akan menjadi sesuatu yang sia-sia. Sambil tersenyum malu, dia pun berlalu. Saya yang didera ’sedikit’ rasa bersalah, menatap punggungnya saat dia berbalik pergi.
Hari Kamis kemarin, dia kembali menawarkan nasi. Saya tetap menolaknya. Besok ya, besok kan hari Jumat…
Tapi ajaib, setelah dia pergi, saya merasa bersalah luar biasa. Saya melihat makanan di kulkas yang melimpah, masakan di dapur yang masih lengkap serta semua kenyamanan yang saya miliki saat ini dengan rasa hampa yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Saat itu juga saya langsung memohon ampun pada Tuhan.
Mengapa untuk uang yang tidak seberapa saya begitu pelit untuk berbagi? Begitu susah-kah bagi saya untuk memberikan sedikit saja kebahagiaan pada anak kecil berkulit gelap itu? begitu sulit-kah bagi saya untuk memberikan sebuah kegembiraan saat dia menerima uang pembeli nasi bungkusnya?
Ah, betapa teganya saya.
Detik itu juga saya berjanji dalam hati, bila besok dia datang lagi, saya akan mengajaknya masuk dan bertanya tentang keluarganya. Tentang cerita hidupnya.
Harapan saya rupanya terwujud.
Hari Jumat tadi, dia kembali menawarkan nasi. Nasi bungkus berharga Rp. 7.000 yang dibungkus kertas coklat bernoda minyak.
Saya mengajaknya masuk.
Sambil menikmati segelas air dingin dan roti bakar isi selai kacang - coklat, dia mulai bercerita. Namanya Aldo. Anak kedua dari tiga bersaudara. Dia mempunyai saudara kembar bernama Alden. Baru 6 bulan ini mereka tinggal di Bandung, mengontrak sebuah kamar untuk ditempati bersama ibu, kakak dan saudara kembarnya.
Yang membuat saya terkejut, adalah saat dia menjelaskan bahwa sekarang dia dan saudara kembarnya sudah tidak sekolah lagi karena tidak ada biaya. Bayangkan, padahal mereka berdua baru saja lulus SD 6 bulan yang lalu. Mereka terpaksa pindah ke Bandung (setelah sebelumnya menetap di Surabaya), karena kakak perempuan satu-satunya mendapat program beasiswa di Stikom-Bandung yang terletak di Jl. Dipati Ukur.
Saat saya bertanya tentang ayahnya, dengan tenang dia menjelaskan bahwa ayahnya sudah menikah lagi dengan perempuan lain sejak tahun 2006 dan sekarang tinggal di Bali.
Ah, Aldo.
Saya paham sekarang, mengapa mata itu begitu sendu. Mengapa senyum itu tampak sangat samar. Mengapa semua kata-kata yang terucap selalu terdengar lirih dan penuh luka.
Hari itu saya kembali mendapat pelajaran berharga. Bahwa semua manusia selalu memiliki cerita.
Tuhan Yang Maha Baik, kembali menunjukkan kebesaran-Nya.
Bahwa saya seharusnya bersyukur dengan anugerah melimpah yang selama ini saya terima. Masalah apapun yang saat itu sedang saya hadapi, jadi tampak bagai setitik debu bila dibandingkan dengan cerita Aldo.
Aldo yang hanya berjualan 8 atau 10 nasi bungkus setiap hari, tampak begitu tegar menjalani garis kehidupannya. Saudara kembarnya, Alden, juga memiliki semangat yang sama. Berkeliling kemana-mana untuk menawarkan nasi bungkusnya dan membawa pulang sejumlah uang yang mungkin tidak seberapa.
Aldo lalu bercerita, bahwa setiap hari Minggu dia selalu libur karena harus pergi ke gereja.
Sekarang saya betul-betul menangis. Saya malu dengan banyaknya ketidakpuasan yang sudah saya lontarkan selama ini. Saya malu dengan semua keluh kesah yang sudah terlanjur dibagi dengan para sahabat.
Dengan segala keterbatasan, rupanya Aldo tetap percaya bahwa Tuhan akan memberi cahaya di setiap kegelapan. Bahwa bila Dia menutup satu jendela, maka jendela lainnya akan dibiarkan terbuka. Sehingga kita bisa melihat dunia, dengan warna yang berbeda…
Kemarin, saya pergi ke toko buku lagi setelah absen hampir satu bulan.
Kegiatan yang bertumpuk selalu mempengaruhi mood membaca saya. Bisa lebih rajin, bisa juga lebih malas. Yang terjadi beberapa minggu terakhir, adalah alternatif kedua. Saya jadi lebih malas membaca…
Tapi saat di toko buku kemarin, mata saya tiba-tiba berbinar. Setengah berlari saya memegang sebuah buku yang (memang) saya tunggu-tunggu. Lepas kontrol, plus ditambah acara berteriak histeris pada Risa, dengan girang saya mengacung-acungkan buku tersebut. Naked Traveler seri ke-2.
Wah, wah, orang-orang di sekitar saya malah jadi kebingungan!
Buku Naked Traveler karya Trinity (nama pena) seri pertama, sudah berhasil memikat saya. Cerita perjalanan ‘mbak-mbak kantoran’ biasa ini (istilah yang saya kutip saat Trinity menyebut dirinya sendiri…), sudah merambah ke hampir seluruh propinsi di Indonesia.
Selain itu, dia juga pernah mengunjungi lebih dari 36 negara di dunia (duuuuh, jadi pengen…) dengan konsep bepergian ala backpacker.
Buku yang ditulis dengan gaya bertutur yang ‘kagak ada matinya’ ini, bener-bener bagus, lucu dan sangat informatif.
Di seri pertama, dia bercerita tentang perjalanannya ke manca negara, dan di seri kedua ini ditambah dengan cerita perjalanan ke Lombok Timur, yang ditulis dengan sangat detail.
Tulisan yang berawal dari sebuah blog ini (nggak usah disebutin namanya deh, nanti dikirain promosi lagi…), dikemas dalam gaya bercerita yang bisa membuat saya seakan-akan menjadi teman perjalanannya.
Cara menulisnya bagus, idenya alami dan sudut pandangnya sangat cerdas. Saya selalu terpingkal-pingkal saat dia dengan sangat detail menceritakan kejadian-kejadian lucu. Hal remeh temeh, yang kadang membuat saya geleng-geleng kepala. Saking ajaibnya, saking lucunya.
Pengalaman bepergian kemana-mana tidak membuatnya mati gaya dalam bercerita. Dia mengamati dengan sangat baik hal-hal yang berhubungan dengan budaya, gaya hidup, tempat wisata serta tips-tips sederhana agar bepergian dengan nyaman. Dia tidak suka belanja, jadi jangan harap akan menemukan tas, baju atau sepatu merk ternama ditulis di buku ini.
Sebetulnya, pengalaman Triniy ini adalah salah satu obsesi (wuiih, ketinggian kali ya!) saya. Bukan di luar negeri, tapi di dalam negeri saja.
Swear, saya ingin sekali bepergian ke pulau-pulau terluar di Indonesia.
Pulau-pulau yang terletak berbatasan dengan negara-negara tetangga itu, sempat membuat saya menitikkan air mata saat menyaksikan tayangannya di acara Kick Andy beberapa bulan lalu.
Saya melihat banyak sekali keterbatasan yang masih dialami masyarakat disana. Mulai air bersih, transportasi, pelayanan kesehatan, bahkan untuk mecukupi kebutuhan hidup sehari-hari saja, mereka harus ‘berjibaku’ dengan gelombang laut yang sangat ganas.
Kita memiliki beberapa pulau terluar.
Antara lain, Pulau Rondo di Propinsi NAD, Pulau Sebatik di Kabupaten Nunukan-Kalimantan Timur, Pulau Miangas di Kabupaten Sangihe Talaud, Pulau Fanildo di Kabupaten Biak Numfor - Papua, Pulau Wetar di Propinsi Maluku serta Pulau Batek di Propinsi Nusa Tenggara Timur.
Padahal sesungguhnya, masyarakat yang tinggal di pulau-pulau terluar itu adalah penjaga tapal batas Indonesia. Pengawal wilayah Nusantara. Tanpa pernah digaji oleh negara apalagi dibanjiri aneka fasilitas berharga. Mereka adalah warganegara biasa yang hidupnya sangat bersahaja.
Namun mereka tetap setia mengibarkan Sang Merah Putih. Sekedar untuk menunjukkan pada dunia bahwa pulau-pulau dimana mereka berada, masih berada dalam wilayah Indonesia. Masih ada di pangkuan Ibu Pertiwi.
Saya kagum, dengan segala keterbatasan ternyata jiwa nasionalisme mereka tetap tegar tak tergoyahkan.
Indonesia, memang mereka yang menjaga…
Ah, saya jadi pengen nangis lagi nih!
Singkat kata, bila suatu saat nanti saya diberi kesempatan oleh Tuhan untuk mendampingi suami ke tempat-tempat impian tersebut, saya akan berbuat sesuatu yang bermakna dan menuliskannya menjadi sebuah cerita perjalanan di blog saya ini. Insya Allah, bila Tuhan mengijinkan.
Tentu saja dengan sedikit catatan, jaringan internet disana memungkinkan saya untuk posting, atau saya masih cukup rajin menulis disini…
Di suatu hari libur, saya dan suami mendadak ingin berolahraga.
Jenis olahraga yang paling mudah dilakukan untuk niat dadakan seperti itu, hanya lari atau jalan kaki karena bisa dilakukan tanpa alat apapun, tanpa sewa tempat dimanapun…
Jam 06.00 tepat, udara Bandung masih berselimut mendung.
Kami berdua terburu-buru mengenakan sepatu kets karena takut keburu hujan atau malah kesiangan. Tujuannya jelas, lapangan Saparua.
Lokasinya nyaman dan strategis karena dinaungi oleh beberapa pohon mahoni yang berdaun rindang. Selain itu, udara di daerah tersebut juga masih relatif segar untuk melakukan ‘olahraga mandiri’ seperti itu.
Salah satu tempat warga Bandung berolahraga ini masih sepi. Hanya tampak beberapa orang lari pagi atau jalan kaki mengelilingi track diluar lapangan sepakbola.
Setelah pemanasan, suami langsung lari mengelilingi lapangan dalam. Saya masih jalan pelan-pelan sambil menoleh kesana kemari mencari kamar mandi.
Tapi saya putus asa duluan waktu melihat kamar mandi itu dari kejauhan. Kotor dan (pastinya) bau banget!
Daripada saya ngomel-ngomel nggak jelas, akhirnya saya balik ke rumah hanya untuk pergi ke…kamar mandi!
Balik ke lapangan Saparua, baju suami sudah basah oleh keringat. Saya yang mati gaya, buru-buru memulai persiapan untuk lari diseling dengan jalan cepat. Beberapa putaran (malu nyebutinnya…) saya lalui dengan semangat empat lima, keringat mulai mengucur deras.
Tanpa disadari, ternyata saya merasa lebih gembira. Rupanya zat endorfen yang keluar dari tubuh mulai bereaksi. Tanpa perlu shabu, ganja atau mariyuana (wow!) saya sudah merasakan efek bahagia yang luar biasa. Betul kata teori, olahraga bisa merubah mood menjadi lebih baik, badan juga pasti lebih sehat.
Berhubung siangnya kami sekeluarga akan pergi ke rumah adik saya di Jakarta, saya berniat mencari oleh-oleh bakso sapi terkenal di daerah Kopo. Namanya bakso Panghegar. Kendaraan langsung saya arahkan kesana.
Sebenarnya jarak yang ditempuh lumayan jauh. Apalagi kami berdua sama-sama tidak tahu jalan menuju ke tempat itu. Tapi karena niat sudah bulat, diselingi bertanya kesana kemari, akhirnya sampai juga kami kesana. Bakso urat, bakso super dan bakso ukuran kecil-kecil langsung dibungkus untuk dibawa pulang.
Disana juga ada es mambo yang membuat saya terkesan. Isinya macam-macam. Ada kacang hijau, ketan hitam, rujak serut, es buah, semangka dan es mangga yang dipotong kecil-kecil. Semua rasa, saya borong juga untuk dibawa ke Jakarta. Biasa, kalap dan lapar mata…hehehe
Setelah itu kami memutuskan untuk makan batagor di daerah Bojongloa. Penjual batagor yang letaknya tersembunyi di sebuah gang kecil ini, langganan saya sejak masih anak-anak.
Batagor H. Isan itu selalu dipadati pembeli yang rindu dengan rasa batagor tradisional. Tidak terlalu banyak ikan tapi rasanya mantap karena kanji dan (lagi-lagi) vetsin yang gurih. Saking paginya datang kesana, kami malah sukses menjadi pembeli pertama…!
Ternyata kita berdua sama-sama ingkar janji. Kesepakatan awal untuk makan batagor kering plus sambal kacang, ditambah suami dengan pesan satu porsi yamien manis yang masih mengepulkan asap. Minumnya sih standar, teh tawar panas.
Keluar dari sana, tiba-tiba mata saya tertuju pada gerobak yang ada di depan penjual batagor tadi.
Hmmm…sasaran baru!
Saya baca judulnya. Kue kamir Rp. 500.
Penjualnya seorang bapak tua berkacamata. Gerobaknya bersih dan tampilan kuenya menarik. Seperti kue pukis, tapi bentuknya bulat. Saya langsung sibuk mencari alasan pembenar. Setelah makan batagor sebagai menu utama, tentu tidak salah bukan kalau saya mencoba sepotong dua potong kue kamir sebagai makanan penutup?
Lagipula, kue tradisional ini sudah sangat jarang dijual di tengah kota. Belinya juga cuma sedikit kok, nyobain doang…!
Ternyata usaha saya tidak sia-sia. Kue kamir isi coklat, kacang tanah dan pisang itu benar-benar enak. Saya sampai menyesal hanya membeli beberapa buah. Bukan apa-apa. Daerah Bojongloa ini, tempatnya jauh sekali dari rumah saya. Perlu tekad kuat dan niat tulus untuk bisa datang kesana lagi.
Pagi itu, saya berkeringat karena olahraga dan makan (lagi) karena tergoda aneka jajanan. Bayangkan, olahraganya sih hanya satu jam, tapi muter-muter cari makanan itu menghabiskan waktu hampir dua jam.
Pesan saya, olahraga ternyata sukses menghilangkan rasa bosan, jenuh atau bete. Makan juga selalu berhasil menghilangkan rasa lapar atau penasaran…
Senang sekaligus kenyang.
