• 26

    Aug

    Lebih tapi kurang

    Dalam sebuah tayangan di televisi, tampak sepasang suami isteri diwawancarai wartawan. Sepertinya mereka akan bercerai. Jadi wawancara itu dilakukan di tempat terpisah. Sang suami asyik menceritakan kesuksesan yang dicapainya setelah rumah tangga mereka bermasalah, sedangkan si isteri berulang-ulang mendoakan agar rezeki mereka berdua *biarpun nanti sudah berpisah* akan terus lancar. Saya jadi berpikir, apakah kesuksesan dan rezeki yang lancar itu demikian penting dalam hidup mereka? Apakah kesuksesan itu harus mengalahkan keutuhan dan kebahagiaan rumah tangga? Atau apakah kita begitu takut kalau rezeki kita sedikit terhambat? Kenapa pula sukses dan rezeki itu menjadi prioritas utama doa mereka? Dengan kata lain, kenapa bukan kesehatan dan kebahagiaan yang mereka minta pada Tuhan? Ters
    Read More
  • 6

    Aug

    Takayama Old Town - Shirakawa-go - Kyoto

    Saya bukan penggemar keriuhan. Itu sebabnya ketika berkunjung ke Jepang beberapa waktu lalu, saya begitu terkesan dengan Gujo Hachiman. Selain itu ada lagi 3 tempat yang membuat saya terpesona. Daerah-daerah tersebut adalah Takayama, Shirakawa-go dan Kyoto. Selokan di Takayama Old Town Tanpa bermaksud membandingkan dengan selokan yang ada di negara sendiri, selokan di Takayama Old Town ini membuat saya berdecak kagum karena kebersihannya. Selain airny...
    Read More
  • 2

    Jul

    Selamat jalan, Nunuk...

    Hari ini setahun yang lalu. Saya masih sulit melupakan kejadian itu. Tanggal 1 Juli 2014, sebuah sms masuk ke handphone saya. ‘ Tante, tante Nunuk meninggal. Mohon doanya ya.’ Dunia seakan berputar. Tanpa sadar saya bersandar ke tiang terdekat yang ada di toko buku. Dengan tangan gemetar, saya menekan nomor yang tertera di layar handphone. Jarak Bandung - Malang yang ratusan kilometer menghalangi langkah saya untuk segera berlari ke rumahnya. Ternyata benar. Suara terisak di ujung sana memastikan bahwa berita itu benar adanya. Nunuk Susilowati, sahabat yang sudah 30 tahun menemani saya berbagi cerita baru saja meninggal dunia. Innalillahi wa inna illaihi roji’un. Rasanya sulit dipercaya. Tanpa sakit apapun. Tanpa keluhan sedikitpun. Nunuk meninggal dalam tidurnya.
    Read More
  • 25

    Apr

    Khotimah menikah

    Hari ini Khotimah menikah. Masih ingat Khotimah kan? Dia adalah asisten rumah tangga kami di Surabaya. Selain menemani Bato dan Bi Entin, dia juga sekolah lalu kuliah dan sekarang sudah lulus S1 Keperawatan dari sebuah lembaga pendidikan kebidanan yang letaknya tidak jauh dari rumah. Begitu cepat waktu berlalu. Tidak terasa sudah lebih dari 10 tahun dia menjadi bagian dari keluarga besar kami. Saya ingat waktu pertama kali dia datang dari Lumajang. Wajahnya yang lugu, tatapannya yang selalu ingin tahu dan gerak-geriknya yang masih canggung membuat saya ragu, apakah dia akan betah tinggal di rumah kami? Ternyata betah. Alhamdulillah. Akhir tahun 2014 lalu dia sudah diwisuda dengan hasil yang membuat saya kagum luar biasa. Bayangkan, IP-nya saja 3,72 dan dia berhasil lulus dengan predi
    Read More
  • 22

    Apr

    Gujo Hachiman

    Ini adalah kota impian yang sangat ingin saya kunjungi! Yup. Gujo Hachiman. Sejak membaca sebuah majalah wanita yang memuat keunikan kota kecil di Prefecture Gifu ini, saya langsung suka. Selain suasana kotanya yang kelihatan nyaman, disana juga ada tempat pembuatan food sample yang unik dan sangat indah. Dalam tulisan kali ini, biarlah foto yang bercerita. Mie goreng yang menggoda…hayo, ini asli atau palsu?
    Read More
  • 17

    Apr

    Ada apa di Hotaka?

    Perjalanan hari kedua di Jepang, tujuan kami adalah ke Gunung Fuji, Takayama dan Shirakawago. Lalu bermalam di sebuah hotel bernama HV yang terletak di Hotaka-Prefecture Nagano. Perjalanan dari Shirakawago ke Hotaka sekitar 45 menit. Jalan yang kami lalui berkelok-kelok dan sangat sepi. Pantas saja. Hotel itu ternyata ada ditengah hutan pinus yang amat luas. Rombongan kami tiba ketika hari sudah gelap. Hotelnya sendiri termasuk kategori antara bintang 4 dan 5. Tampilannya bagus biarpun bangunan itu terkesan seperti tahun 90-an. Suasananya sepi dan personal karena memang kesan itu yang ingin diciptakan. Buat yang ingin bulan madu, ok-lah…
    Read More
  • 10

    Apr

    The Great Sakura

    Pesawat Japan Airlines yang kami tumpangi take off dari bandara Soekarno-Hatta jam 21.30 dan diperkirakan mendarat di bandara Narita jam 06.30 waktu setempat. Penerbangannya sendiri memakan waktu 6 jam. Perbedaan waktu antara Indonesia dengan Jepang itu 2 jam. Waktu Jepang lebih cepat 2 jam dari Waktu Indonesia bagian Barat. Jadi perbandingannya kurang lebih kayak Jayapura dengan Jakarta gitu deh! Terbang tengah malam sukses membuat saya terjaga semalaman. Dua orang penumpang laki-laki di kanan dan kiri, sepertinya orang Jepang asli, asyik menonton sebuah tayangan dari layar televisi dihadapannya. Saya mencoba baca novel tapi karena pikiran sudah kemana-mana, acara membaca itupun gagal. Pasrah. Kembali saya mencoba memejamkan mata walaupun hasilnya tetap sama. Tidak bisa tidur. Enam jam
    Read More
  • 8

    Apr

    Jepang, saya datang!

    Suka dengan segala hal yang berbau Jepang itu sudah saya rasakan sejak SMP. Mulai dari koleksi perangko yang sampai sekarang masih tersimpan rapi, aneka kartu pos, boneka Jepang, bahkan novel-novel berlatar belakang budaya jaman Edo selalu saja membuat saya jatuh cinta. Sekitar setahun yang lalu, tiba-tiba saja anak saya, mencetuskan ide yang membuat saya terpana dan nyaris tidak percaya. ‘Bu, kita ke Jepang yuk, Ica yang traktir…’ Duh, rasanya campur aduk! Antara senang (pastinya) dan khawatir karena rencana yang dibuat terlalu lama biasanya susah terlaksana. Tapi untuk menghargai antusisme Risa, tanpa berpikir panjang saya langsung meng-iyakan. Tapi ujung-ujungnya saya malah ragu dan sempat bertanya, apa dia serius mau traktir saya kesana? Selain biayanya lumayan m
    Read More
  • 24

    Mar

    Orang-orang tercinta...

    Sejak menikah, saya selalu ditemani oleh Bi Entin, adik almarhumah ibu saya yang paling bungsu. Selain untuk menemani karena suami saya sedang tugas operasi di Timor-Timur, Bi Entin juga ternyata sangat membantu ketika saya melahirkan Risa. Apalagi saat itu saya masih bekerja. Meninggalkan anak hanya ditemani oleh asisten rumah tangga itu membuat saya tidak tenang dan selalu ingin cepat pulang. Untunglah ada Bi Entin. Kehadirannya membuat saya bisa melakukan banyak hal dengan lebih fokus karena yakin, anak saya ada di tangan yang tepat. Tanpa terasa, Bi Entin ini menemani saya hampir 12 tahun tanpa putus. Kemanapun kami ditugaskan, Bi Entin setia mendampingi. Ke Kabanjahe, ke Tebing Tinggi, bahkan ke Lhokseumawe. Kemudian, ada saat ketika almarhumah ibu mertua juga pernah tinggal di ruma
    Read More
  • 17

    Mar

    Blue Bird

    Catatan : Tulisan ini sebenernya kepanjangan, jadi kalau males baca juga nggak apa-apa :D Rasanya sudah makin lengkap saja pengalaman saya sebagai warga Jakarta. Setelah beberapa waktu lalu diajak suami untuk jalan pagi saat car free day antara Semanggi - Bundaran HI, hari Selasa beberapa minggu lalu saya justru ketinggalan handphone di sebuah taksi biru. Ceritanya begini. Siang itu, saya bikin janji temu dengan seorang dokter gigi di klinik gigi kantor suami. Dokternya komunikatif, kerjanya cermat, meja periksanya bersih dan biayanya juga logis. Itu sebabnya saya jadi rela bolak-balik kesana. Dari Semanggi ke Kebon Sirih saya pakai taksi yang memang tersedia 24 jam. Ini juga salah satu alasan kenapa kami memilih tinggal di tempat ini. Akses taksinya mudah, milik sebuah perusahaan taks
    Read More
- Next

Author

Search

Recent Post