Sudah hampir 2 bulan saya tidak menulis di blog ini.
Ada sesuatu yang hilang, tentu saja.
Ada rasa yang tak terganti saat saya tidak bisa berbagi cerita lewat posting disini. Tapi apa mau dikata. Saya tidak bisa menjadikan kegiatan menulis ini sesuatu yang dilakukan setengah hati atau sekedar basa-basi. Menulis buat saya, harus dilakukan karena adanya keinginan dan tanpa tendensi. Dan repotnya, keinginan itu baru datang kala saya tak memiliki banyak kesibukan. Betul-betul tidak profesional, bukan?
Ah, ah…sekarang saya mengerti, kenapa sampai ada orang yang merasa tak memiliki cukup waktu untuk melakukan kegiatan-kegiatan pribadi yang menyenangkan hati. Terus terang, saya juga jadi makin kagum terhadap mereka yang tetap bisa membuat posting sekalipun memiliki setumpuk pekerjaan.
Aduh, sesibuk itukah saya?
Tidak juga sebenarnya. Karena di luar sana, ada banyak orang yang lebih sibuk dibandingkan saya, tapi tetap bisa menulis dengan rutin dan tetep keren.
Atau mungkin sayanya saja yang terlalu malas dan tak pandai membagi waktu?
Hehe, bisa jadi ini adalah alasan yang jauh lebih tepat.
Tapi yang pasti, profesi saya sebagai ibu rumah tangga yang isteri seorang tentara saat ini kembali diuji. Bagaimana tidak. Kami yang sudah 13 kali berpindah tugas dan rumah dinas, sekarang harus kembali merapikan barang dan tumpukan pakaian.
Yup, kami akan pindah lagi.
Setelah hampir sembilan bulan tinggal disini, suami mendapat tugas baru di kota yang pernah kami tinggali dulu. Ribet memang. Dulu barang-barang itu dibereskan untuk dipindahkan kesini, sekarang tumpukan barang tadi kembali dikumpulkan untuk dibawa balik lagi kesana.
Tapi itulah isteri tentara.
Kami tidak punya kewenangan untuk menentukan tugas apa yang kami inginkan. Kami juga tak bisa memutuskan tempat mana yang kami cita-citakan untuk dijadikan pilihan. Itulah seninya.
Masa depan kami, seakan-akan tergantung pada sehelai surat keputusan. Kami juga akan ikut deg-degan dan penasaran, kalau mendengar ada surat keputusan baru yang mengatur mutasi atau pergeseran tugas para suami. Dan, kala surat keputusan itu sudah ditangan, wush…barulah kami kembali sibuk mengatur barang-barang untuk pindahan!
Kalau dihitung-hitung, ini adalah pindah rumah ke 14 yang akan saya lakukan.
Entah berapa banyak pengalaman yang sudah kami dapatkan. Tak terhitung pula kenangan yang telah kami tinggalkan. Tentu saja ada ribuan keluarga tentara yang kami kenal. Dan lebih banyak lagi cerita-cerita mereka yang memperkaya pengetahuan saya tentang pentingnya arti kesabaran dan keikhlasan.
Pindah rumah buat saya, selalu dibarengi dengan beragam rasa yang sulit diungkapkan. Bukan karena malas beres-beres atau apa. Tapi selalu terselip sedikit kekhawatiran untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan baru yang akan saya masuki.
Bisakah saya diterima disana? Bisakah saya bermanfaat untuk mereka? Bisakah saya melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang bisa jadi lingkupnya lebih besar dari sekarang?
Tuh, bener kan!
Dua puluh empat tahun menjadi isteri tentara, ternyata tak otomatis menjadikan saya pribadi yang berani dan percaya diri…
Hari itu, tanggal 6 April 2013, kota Bandung disiram hujan.
Acara wisuda yang harus kami hadiri membuat saya dan Risa terpaksa bangun lumayan pagi. Bayangkan. Jam o3.00 dini hari, saat banyak orang masih dipeluk mimpi, kami berdua sudah sibuk membereskan kebaya dan pernak-perniknya untuk dibawa ke rumah kakak ipar saya di Padasuka. Maklum, salon mungil miliknya akan menjadi tempat untuk ‘menyulap’ kami berdua agar tampil pantas di acara wisuda.
Yup, betul.
Pagi itu saya dan suami akan menghadiri wisuda Risa di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga). Hujan yang turun sejak dini hari, membuat pukul 07.00 pagi terasa begitu sepi. Tapi tidak di Sabuga. Deretan mobil sudah mengular amat panjang. Jalan masuk yang menurun membuat antrian berjalan amat lambat. Ah, ah…itu dia!
Suami yang berangkat langsung dari rumah kami di Bandung, rupanya sudah datang duluan. Seragam militer dan baret kebanggaannya sudah dikenakan amat rapi. Saya langsung lega. Bukan apa-apa, karena banyaknya orang tua wisudawan, maka suami harus ‘pesan tempat’ duluan dengan menunjukkan undangan supaya kami bisa duduk di dalam. Melihatnya tersenyum lebar, saya langsung yakin bahwa tempat duduk itu sudah berhasil ‘diamankan’.
Memasuki Sabuga untuk kali pertama, saya merasakan sensasi yang berbeda. Apalagi ini adalah acara wisuda Risa. Bukan konser musik idola, apalagi kongres partai ternama. Di dalam ruangan, tempat duduk dan tribun untuk undangan sebagian besar sudah terisi. Pemain gamelan di kanan panggung memainkan tembang-tembang penyejuk hati. Sementara deretan angklung dan simbal di sisi kiri sudah siap untuk mengiringi paduan suara di pertengahan acara.
Bangga!
Rasa itu yang saya rasakan kala memasuki gedung Sabuga. Saya bangga bisa menjadi bagian dari acara wisuda sarjana salah satu universitas terbaik di Indonesia. Saya juga bersyukur pada Tuhan sudah diberi kesempatan untuk bisa menghadiri wisuda Risa. Air mata nyaris tumpah. Dan entah berapa kali tenggorokan saya tercekat karena rasa haru bercampur bahagia. Betapa Tuhan Maha Baik. Kalimat itulah yang membuat mata saya berulang kali basah oleh air mata.
Selain wisuda sarjana S1, saat itu juga berbarengan dengan wisuda sarjana S2 dan S3. Jumlah wisudawan yang hampir 1300 orang membuat acara berlangsung sampai siang. Orasi ilmiah rektor ITB yang menarik dan dibacakannya kesan serta pesan dari beberapa sarjana yang lulus dengan predikat cum laude menjadikan suasana penuh dengan tawa. Tidak ada lagi ketegangan berlebihan yang saya rasakan di awal acara. Semua gembira, semua bahagia. Dan kata suami saya, itu adalah acara wisuda paling ’santai’ yang pernah dia hadiri…
Kemudian, tibalah saat yang ditunggu-tunggu.
Sarjana S1 dari jurusan Geologi Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian diminta berdiri dan membentuk barisan untuk bersalaman dengan rektor, dekan dan ketua jurusan. Saya melihat Risa dari kejauhan. Mata saya kembali panas. Anak kesayangan kami itu, tersenyum dan melambaikan tangannya ke arah kami yang duduk di tribun undangan. Ah, ah…rupanya begini ya perasaan orang tua saat menghadiri anaknya diwisuda…
Bahagia, haru dan bangga, semua bercampur menjadi satu.
Apalagi saat Risa berjalan mendekati meja panjang dimana rektor dan para stafnya berdiri, tiba-tiba saja pembawa acara mengumumkan kalau anak semata wayang kami lulus sarjana teknik geologi dengan predikat yang tidak penah disangka sebelumnya. Cum laude. Duh, ini benar-benar kejutan dari Tuhan!
Saya tidak menyangka, Tuhan memberikan kehormatan itu kepada keluarga kami. Nilai-nilai Risa memang selalu stabil dari semester pertama. Tapi saya dan suami sama sekali tidak menyangka kalau predikat yang agak asing di keluarga besar kami itu menjadi milik Risa. Banyak memang saudara dan keponakan yang sudah lulus sarjana, tapi predikat cum laude itu bukanlah sebuah tradisi.
Alhamdulillah.
Rencana Tuhan memang tak bisa diduga. Kelulusan Risa saja sudah membuat kami bersyukur tiada tara. Ditambah lagi dengan predikat ini. Entahlah, saya sampai kehilangan kata-kata untuk menuliskannya.
Saya berharap ini adalah awal yang baik untuk meraih mimpi-mimpi lainnya. Semoga hal ini juga akan menjadi pijakan kokoh bagi masa depan indah yang ingin dicapainya. Jalan itu masih panjang. Cita-cita itu juga masih sebatas angan. Saya percaya, Tuhan akan mewujudkan mimpi dan harapan itu di saat yang tepat sesuai rencana-Nya.
Insya Allah.
Alhamdulillah, setelah sekian lama tertunda karena kesibukan dosen pembimbing sehingga jarang memberi konsultasi skripsi apalagi menentukan jadwal sidang, akhirnya Risa ujian juga.
‘Risa, draft anda sdh cukup bagus, sy hanya ingin anda mendetailkan model sist panas buminya dibanding punya Joe Moore. Silahkan proses. Kalau anda cepat, anda bisa sidang 11 - 15 Maret 2013.’
Itu adalah sms yang diterima Risa tanggal 28 Pebruari 2013 dari sang dosen yang membuat Risa gembira sekaligus panik luar biasa. Esok adalah jadwal keberangkatan Risa ke Jepang. Tiket juga sudah ditangan. Sedangkan esok juga, tanggal 1 Maret 2013, draft skripsi dan persyaratan administrasi lainnya harus masuk ke universitas untuk dibuat jadwal sidang.
Artinya hari itu juga, semua persyaratan harus sudah diselesaikan.
Setelah sekian bulan tanpa kejelasan perbaikan skripsi dan jadwal sidang, sms itu benar-benar jadi titik balik Risa buat mempersiapkan skripsi dengan optimal. Jadwal sidang yang ditunggu-tunggu, ternyata nyaris ‘tabrakan’ dengan jadwal keberangkatannya ke Jepang.
Memang tak ada rencana manusia yang sempurna.
Jadwal keberangkatan yang semula tanggal 1 sampai dengan 8 Maret, sudah diubah jadi tanggal 1 sampai dengan 5 Maret saja. Itu juga sebetulnya agak maksa. Tapi daripada sia-sia membuang waktu menunggu jadwal sang dosen yang tak tentu, lebih baik ‘mencuri’ waktu akhir pekan untuk mengenal salah satu negara di Asia.
Benar saja.
Masih terbayang jelas bagaimana malam itu kami amat sibuk mempersiapkan pernak-pernik yang berhubungan dengan keberangkatan Risa. Lelah nyaris hilang. Perbaikan draft skripsi yang baru selesai pukul 22.00 malam, membuat kami tiba di rumah nyaris pukul 02.00 dini hari. Sedangkan pukul 04.00-nya kami sudah harus berangkat ke bandara kalau tidak mau terlambat boarding. Untunglah semua selesai tepat waktu.
Lagi-lagi tak ada hal sempurna yang dibuat manusia.
Setengah jam sebelum tiba di bandara, tiba-tiba saja Risa mengeluarkan tas paspor berwarna orange dan mengaduk-aduknya dengan panik. Antara kaget dan bingung, dia menatap saya sambil berkata : ‘bu, uang yen-nya ketinggalan…’
Duuuh, saya sampai tidak bisa berkata-kata saking kagetnya!
Solusi yang saat itu diambil adalah menarik uang tunai dari ATM bandara dan menukarkannya di money changer yang sudah buka. Sayang sekali semua tempat penukaran uang masih tutup. Dan akhirnya, Risa pasrah membawa uang rupiah saja.
‘bapak, ibu, makasih yah, udah ngedukung Ica selama ini…maaf kalo Ica baru lulus sekarang..hehe..maaf juga kalo Ica udah ngerepotin kemaren-kemaren, bolak balik Depok/Garut - Bandung..makasih ya pak, bu..’
Itu adalah sms Risa begitu dinyatakan lulus oleh dosen pengujinya tanggal 13 Maret 2013 lalu. Saya sampai keluar air mata saat membacanya. Bayi mungil yang saya timang dulu, sekarang sudah menyelesaikan ujian sarjana di kampus Ganesha. Terharu, bangga dan nyaris tak percaya.
Saya jadi makin yakin bahwa tak ada kerja keras yang sia-sia. Keringat dan air mata itu adalah harga yang harus dibayar bila kita ingin keberhasilan. Jalan itu memang masih panjang. Masih banyak kerja keras lain yang harus dilakukan untuk meraih impian. Dan masih banyak doa-doa yang harus dipanjatkan agar impian itu menjadi kenyataan.
Dan yang pasti, saya jadi semakin yakin dengan kebesaran Tuhan.
Tanpa kemudahannya, tanpa rizkinya, tanpa pertolongannya, manalah mungkin kami mengantarkan Risa menjadi sarjana dari tempat kuliah yang dicita-citakan. Saat menulis inipun, mata saya kembali basah oleh air mata. Saya tak kuasa menuliskan betapa besar campur tangan Tuhan dalam kehidupan keluarga kami. Semua kesedihan dan kebahagiaan yang selama ini diberikan ternyata untuk menguatkan. Hal yang harus kita lakukan hanyalah bertahan dan mengambil hikmah dari setiap kejadian.
Trima kasih ya Nak, trima kasih sudah membuat bapak dan ibu bangga. Trima kasih juga Ica sudah membuat kami amat bahagia…


Jepang tidak hanya identik dengan sushi.
Hal ini saya ketahui dari cerita Risa selama berkunjung kesana. Tidak lama memang, hanya 5 hari termasuk perjalanan pulang pergi. Tapi alangkah banyaknya foto dan cerita tentang aneka camilan yang tidak ada di Indonesia. Semuanya menggoda. Semuanya ingin saya coba.
Camilan yang ingin saya tulis pertama adalah es krim green tea.
Sebagai pencinta es krim sejati, camilan ini menjadi prioritas pertama Risa buat dibeli. Rasa green tea yang biasanya agak aneh di lidah Risa, di negara aslinya justru terasa enak dan bikin ketagihan. Rasa manis es krim yang berpadu dengan keunikan green tea dalam takaran tepat, membuat tiap gigitan terasa kurang banyak. Apalagi es krim itu ‘dibungkus’ dengan semacam contong garing berbentuk segi empat yang renyah kalau digigit. Kata Risa, es krim ini nih yang bikin dia pengen balik ke Jepang!

Selanjutnya adalah kue manju.
Kue ini katanya saya banget. Hehe, iya…saya memang suka kue dengan tekstur agak lengket alias bantat. Mungkin mirip dengan kue mochi yang dijual di Indonesia. Isinya kacang merah tumbuk. Bentuknya agak bulat. Dan sebelum dimakan, kue manju ini harus digoreng terlebih dulu.
Yummy pastinya!

Camilan berikut yang bisa dicoba adalah kue kacang merah.
Kue ini banyak dijual di tempat penjualan oleh-oleh karena dikemas dalam kotak karton praktis yang pas buat dijadikan oleh-oleh. Kue yang mirip dengan bakpia di Indonesia ini memiliki lapisan luar yang lembab dan mirip kue bolu. Kayaknya klop banget kalau kue ini dimakan dengan segelas teh tawar hangat!

Oya, sebagai pencinta kacang limbah sejati, saya juga dibawakan oleh-oleh aneka kacang yang dikemas dalam satu kemasan. Ada yang bersalut wijen, ada juga kacang dengan rasa pedas wasabi.
Aneka kacang dengan bentuk dan rasa berbeda, dikemas plastik bening yang menarik. Bedanya dengan kacang limbah yang ada di Indonesia, rasa kacang itu lebih tawar dan ada bau amis ikan di beberapa jenis kacang. Malah ada kacang yang dibungkus pakai nori segala saking uniknya…

Terakhir, adalah kit-kat green tea.
Sebagai penggemar berat coklat, Risa penasaran banget dengan rasa kit-kat ini. Konon kit-kat jenis ini hanya ada di Jepang. Jadi kesempatan itu tentu tidak disia-siakan.
Saya yang tidak terlalu suka coklat, akhirnya penasaran juga dengan rasa kit-kat ini. Menurut saya sih rasanya standard (ssst, jangan bilang-bilang Risa ya!). Ada aroma dan rasa green tea, tentu saja. Dan yang pasti rasa coklat yang saya bayangkan sebelumnya, jadi tidak kentara karena tertutup aroma dan rasa green tea itu tadi.
Mau tahu bentuk kemasannya?
Ini dia…

Jadi, siapa nih yang berminat ke Jepang buat mencoba camilan unik ini?
Kamar mandi adalah hal pertama yang saya perhatikan kalau berkunjung ke banyak tempat. Kebiasaan ini rupanya menular dengan sukses pada Risa, anak saya. Nilai kebersihan tertinggi di mata kami tentu saja kamar mandi. Mau sebagus apapun sebuah tempat, kalau kamar mandinya kotor dan bau, nilainya bisa langsung terjun bebas.
Begitu pula waktu Risa berkunjung ke Tokyo beberapa minggu lalu.
Berhubung menggunakan maskapai penerbangan promo dan penasaran dengan cerita-cerita para backpacker saat mereka bermalam di bandara, maka Risa dan tante-tantenya juga sepakat ingin mencoba pengalaman baru itu. Artinya, mereka juga akan mencicipi ‘rasa‘ kamar mandinya.
Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 23.30. Bandara masih sibuk dan penuh lalu-lalang orang.
Sebenarnya kereta terakhir dari bandara yang berangkat ke Tokyo adalah pukul 24.00. Tapi kegiatan rutin di bandara kan tidak sederhana. Proses menurunkan penumpang dari pesawat, pengambilan barang di bagasi, pemeriksaan paspor dan visa serta transfer dari satu kereta ke kereta lain tidak mungkin dilakukan dalam waktu setengah jam. Mau tidak mau, alternatif bagi para penumpang pesawat yang tidak dijemput malam itu adalah bermalam di bandara.
Aha, Tom Hanks yang jadi pemeran utama di film The Terminal, rupanya sudah punya banyak pengikut!
Oya, balik ke kamar mandi itu tadi.
Kata Risa, kamar mandi di bandara Haneda bersihnya luar biasa. Tak ada becek-becek, apalagi bau-bau aneh yang tak sedap. Semua bersih dan nyaris steril. Semua tombol juga dilengkapi dengan gambar, bahasa Inggris dan huruf Kanji. Please deh abaikan pilihan terakhir ini…hehe
Saya yang selalu kagum dengan kamar mandi bersih dan tidak bau, dikasih oleh-oleh foto ini sama Risa. Katanya, bisa jadi inspirasi kalau nanti saya mau renovasi kamar mandi di rumah kami.

Toilet di Bandara Haneda

Suasana di Stasiun Shinjuku

Dinding unik di Stasiun Asakusa
Setelah tidur beberapa jam di kursi bandara, sekitar jam o8.00 keesokan harinya, Risa dan rombongan menuju stasiun yang ada di area Haneda. Mereka harus berganti kereta dua kali bila akan menuju ke penginapan, yaitu di stasiun Shinagawa dan Shinjuku. Dari Shinjuku, mereka tinggal berganti kereta satu kali dengan tujuan stasiun Shinjuku-gyoemmae. Jalan kaki 5 menit, sampai deh ke penginapan yang sudah dipesan.
Ada satu cerita lucu yang terjadi stasiun Shinjuku-gyoemmae.
Saat itu salah seorang tante ingin ke kamar mandi. Berangkatlah ketiga tante itu menuju toilet terdekat. Risa dan Rofiano menunggu tidak jauh dari sana sambil melihat-lihat peta dan rute kereta.
Tiba-tiba, beberapa petugas berlarian menuju kamar mandi yang tadi dimasuki para tante. Risa masih tenang-tenang. Tapi ketika makin banyak orang berdatangan, Risa mulai penasaran. Apalagi waktu mendengar sebuah suara yang amat dikenalnya. Ah, kenapa tante itu sibuk menyampaikan permohonan maaf dengan suara panik ya?
Risa buru-buru mengajak Rofiano ke arah datangnya kehebohan.
Alangkah kagetnya Risa ketika dia dan Rofiano hampir bertabrakan dengan para tante yang bergegas keluar dari arah kamar mandi. Wajah ibu Rofiano, salah seorang tante itu, tampak shock. Dia baru tampak agak lega setelah ketemu Risa dan anaknya. Tak lama kemudian keluarlah sebuah cerita yang tak disangka-sangka.
Rupanya kejadian menghebohkan itu berawal dari kamar mandi itu tadi.
Banyaknya tombol di dinding toilet membuat sang tante tidak waspada saat memencet sebuah tombol. Maksud hati ingin memencet flush, apa daya yang ditekan sang tante adalah tombol darurat. Ditekan berkali-kali pula karena air tak kunjung mengalir.
Oh, oh…itu toh sebabnya para petugas berlarian kesana. Mungkin mereka mengira ada kejadian darurat yang perlu penanganan cepat, sehingga buru-buru berlari ke arah datangnya panggilan.
Tawa pun meledak. Apalagi itu adalah hari pertama mereka menginjak Tokyo…duh, kamar mandi canggih ternyata bisa bikin mati gaya bila tak waspada!
