a journey of my life…

Teman-teman dekat saya pasti tahu kalau waktu SMA dulu saya amat tergila-gila pada seorang penyanyi bernama Sandro Tobing.

Kasetnya sudah jelas saya koleksi.

Belum lagi berita-beritanya yang saat itu sering dimuat di sebuah majalah remaja. Semuanya bakal saya ikuti dengan teliti. Apalagi kalau sudah menyangkut berita tentang pacar atau teman dekatnya, wuih…bakal heboh deh dunia persilatan!

Saya masih ingat betul, bagaimana ‘patah hatinya’ saya saat dia digossipkan pacaran dengan Vina Panduwinata, si Burung Camar. Berita kedekatan mereka berdua itu sanggup memporakporandakan hati saya. Dan begitu terdengar berita kalau mereka putus cinta, ehm, ehm, saya malah lega luar biasa…

Saya juga akan tergopoh-gopoh ke kios majalah bila ada seorang teman yang memberitahu ada majalah yang memuat tentang penyanyi idola saya itu. Mau hujan atau panas, nggak masalah. Yang penting adalah Sandro Tobing, Sandro Tobing dan Sandro Tobing.

Duh, sampe segitunya!

Kalau sekarang diingat-ingat lagi, saya malah heran.

Kok bisa ya segitu sukanya saya sama dia, penyanyi pria yang memang beberapa kali jadi juara di ajang kontes musik Indonesia. Saat banyak teman saya tergila-gila dan menjadikan Fariez RM sebagai sosok idola, saya malah jadi fans berat Sandro Tobing yang tubuh dan wajahnya rada-rada kebapakan itu…

Yang lebih aneh, biarpun saya bukan penggemar musik, tapi saya betah mendengarkan lagu yang dia nyanyikan selama berjam-jam. Semua lagunya saya suka. Entahlah mana sesungguhnya yang lebih saya senangi, suaranya yang merdu atau justru sosok penyanyinya!

Seiring berjalannya waktu, tanpa saya sadari kapan tepatnya, saya mulai melupakan dia sebagai sosok idola. Apalagi waktu dia mulai jarang muncul di televisi maupun majalah remaja, sosok itu seolah lenyap begitu saja.

Ditambah lagi saat itu saya juga mulai pacaran dengan lelaki tercinta yang sekarang berubah status menjadi suami, sosok Sandro Tobing makin sirna entah kemana. Demikian pula dengan kaset, foto dan guntingan-guntingan beritanya di majalah. Semuanya lenyap tanpa bekas.

Dan sebagai gantinya, tersebarlah foto-foto pacar di seantero kehidupan saya. Mulai dari kamar tidur, dompet sampai diary pasti ada foto-foto pribadi dia yang saya miliki.

Kemarin, kenangan itu kembali datang.

Ah, ah…saya sampai tidak bisa berkata-kata waktu pembawa acara memberi tahu kalau pengisi acara di pertemuan itu adalah Sandro Tobing, penyanyi idola yang dulu membuat saya tergila-gila.

Duh, masa sih?

Sambil berusaha biasa-biasa, saya melihatnya tampil diatas panggung dengan segala macam rasa yang saya punya, kecuali rasa cinta…

Hehe, iya.

Tidak ada lagi kekaguman berlebihan seperti dulu. Tak ada lagi fanatisme aneh yang pernah saya miliki di usia remaja waktu itu. Sekarang, saya justru memandang Sandro Tobing hanya sebagai penyanyi profesional yang suaranya tetap menawan.

Mengenakan kemeja tangan panjang dan celana warna hitam, dia kelihatan lebih berisi. Suaranya tetap bagus, tawanya juga masih menarik. Rambut putih yang mulai tampak disana-sini, membuat Sandro Tobing yang saya suka dulu seperti sosok yang sedikit berbeda. Tampak lebih dewasa.

Apalagi saat dia menghampiri meja dimana saya dan teman-teman berada.

Ups, kenapa kok jadi deg-degan lagi?

Kehebohan teman-teman semeja saya rupanya berhasil mengundang dia untuk mendekat dan menyanyi sambil memandang wajah kami. Satu per satu. Ah, seandainya saja kejadian ini berlangsung 28 tahun yang lalu…

Tapi kemarin, saya cuma merasa heran *sekaligus senang*. Senang karena keinginan saya dulu buat bisa bertemu langsung dengan penyanyi idola bisa kesampaian. Dan heran kenapa di acara itu justru dia yang jadi bintang tamunya.

Hoho, sayang sekali rahasia ini kemarin jadi terbuka.

Ada seorang teman baik, namanya Yanti, yang pernah menjadi tetangga saya 23 tahun silam. Dia sibuk mengolok-olok saya agar berfoto berdua dengan penyanyi itu.

Astaga, saya sampai kaget…rupanya dia masih ingat kalau Sandro Tobing adalah penyanyi idola yang saya suka.

Sambil melotot dan mencubit pelan tangan kanannya, saya berkata lirih: Ssst, Yan, jangan keras-keras dong…sekarang kan keadaannya udah beda, kalau saat ini saya nekad foto berdua sama dia, saya takut suami bakal cemburu dan menutup rapat-rapat pintu hatinya buat saya…

Suit, suit!

Januari 24th, 2012 at 18:45 | Comments & Trackbacks (31) | Permalink

Kemarin saya datang ke sebuah pertemuan komunitas.

Pertemuan yang diadakan rutin 3 bulan sekali itu bertujuan untuk memelihara dan meningkatkan silaturahmi anggota. Tak kenal maka tak sayang, lebih kenal maka *diharapkan* lebih sayang.

Oya, minus arisan, tentu saja. Karena selain jumlah anggotanya terlalu banyak, saya juga tidak terlalu suka kalau arisan dijadikan ‘alasan’ untuk menarik anggota agar datang ke sebuah pertemuan.

Kesannya kok kayak datang buat beberapa lembar uang gitu lo…

Saking niatnya, jam 04.30 saya sudah berangkat dari Garut. Suasana masih sepi dan gelap, cuaca juga lumayan dingin. Berhubung saya bikin janji buat menjemput seorang teman di Gedebage, saya tidak langsung masuk tol Padaleunyi tapi keluar lewat Cibiru.

Hampir jam 06.00 saya tiba di rumah teman itu tadi.

Setelah istirahat sebentar, kami langsung menuju ke Cijantung, tempat pertemuan tersebut diadakan. Jalan masih belum terlalu ramai. Selain sedikit kemacetan di Buahbatu, perjalanan pagi itu lumayan lancar.

Sesuai perkiraan, kami tiba di tempat acara sekitar pukul 09.00. Undangan sudah banyak yang datang. Begitu turun dari mobil kami sudah heboh berpelukan dengan banyak teman. Maklum ibu-ibu, baru beberapa bulan saja tidak ketemu, langsung sibuk bertukar cerita tentang keluarga dan gossip-gossip terbaru…

Acara hari itu diawali dengan foto bersama, supaya bedak dan lipstick masih menempel rapi di wajah-wajah kami.

Bayangkanlah, sekitar 125 orang ibu berjajar rapi di atas panggung yang telah disediakan. Sebagian bisa duduk, tapi lebih banyak yang berdiri. Posenya macam-macam, ekspresi wajahnya juga pasti beragam. Yang jelas kami semua gembira karena pertemuan itu bisa dihadiri oleh banyak teman senasib sepenanggungan.

Acara berikutnya adalah sambutan dari penyelenggara dan pembacaan doa. Doa yang, terus terang, buat saya pribadi sangat bermakna. Tanpa diduga, sehari sebelumnya ada salah satu teman kami yang meninggal dunia. Jadi doa itu kami panjatkan pada Illahi Robbi agar teman kami mendapat tempat terbaik disisi-Nya.

Selamat jalan ya mbak, semoga surga yang indah menanti mbak di alam sana…

Lalu apa hubungannya dengan angklung?

Ini dia.

Ternyata panitia sudah menyiapkan angklung untuk dimainkan oleh para undangan. Jumlahnya sebanyak anggota yang datang. Benar saja, beberapa saat kemudian angklung-angklung itu dibagikan.

Wah, gawat!

Saya mulai celingukan. Agak deg-degan juga sih. Selama ini belum pernah sekalipun saya main angklung. Jangankan main, memegang alatnya saja rasanya baru sekali, itu juga waktu dapat cindera mata dari sebuah acara…

Teman yang duduk satu meja dengan saya, punya pengalaman beragam. Ada 3 orang diantara mereka yang pernah mendampingi suaminya menjadi atase pertahanan di luar negeri yaitu Singapura, Rusia dan Brunei Darussalam.

Ini dia. Alat musik tradisional Indonesia kan selalu diajarkan pada warganegara kita yang akan atau sedang bertugas di luar negeri. Pasti mereka pada bisa deh…

Yup, betul!

Dengan penuh percaya diri, salah satu dari mereka menjelaskan pada kami bagaimana caranya memainkan alat musik tersebut. Eh, ternyata gampang. Angklung itu hanya perlu ‘digoyang’ saat pelatih memberi kode sesuai dengan angka yang tertera di permukaan angklung.

Misalnya kita pegang angklung dengan angka 1 yang artinya nada do, maka pelatih tadi akan mengacungkan tangan kanannya berupa sebuah genggaman. Kalau re, maka kode yang diberikan adalah telapak tangan terbuka yang menghadap ke depan. Begitu seterusnya sampai nada terakhir yang ada di tangga nada.

Semua nada mempunyai kode tersendiri. Jadi kita hanya perlu mengingat-ingat nada yang harus kita mainkan dan kode apa yang ditunjukkan oleh bapak pelatih yang berdiri diatas panggung.

Ah, ah…ternyata mudah!

Pantas saja Risa ikut ekstra kurikuler angklung di kampusnya. Bolak balik tampil pula di beragam acara. Memang asyik. Baru memainkan angklung sekali itu saja saya sudah langsung suka.

Angklung yang saya pegang, menunjukkan nada re yang diperjelas dengan angka 2 yang diketik di salah satu sisi.

Jadi setiap kali bapak pelatih mengangkat tangan untuk memberi kode nada re, saya goyangkan saja angklung saya dengan penuh semangat. Eh, ternyata yang lain juga sama. Semua nada dimainkan dengan gembira. Mulai lagu Ibu Kartini, Ambilkan Bulan, Bu sampai dengan Alamat Palsu-nya Ayu Ting-ting terdengar di seantero ruangan. Betul-betul semarak. Apalagi saat diumumkan angklung itu boleh dibawa pulang, duuuh…ibu-ibu itu sampe pada histeris saking senengnya!

Lalu apa hubungannya dengan Sandro Tobing?

Bersambung aja kali ya, biar posting ini nggak kepanjangan…

Januari 20th, 2012 at 12:52 | Comments & Trackbacks (29) | Permalink

Ehm, judulnya Risa banget kan?

Iya, disini saya memang mau bercerita tentang kegiatan outbond yang dilakukan oleh mahasiswa Geologi ITB Angkatan 2008 pada tanggal 22 Desember 2011 lalu, bertepatan dengan peringatan Hari Ibu.

Kegiatan ini sebetulnya sudah direncanakan beberapa minggu sebelumnya. Risa dan teman-teman satu angkatan rencananya akan bermalam di Garut. Kebetulan ada salah seorang dari mereka yang rumahnya bisa menampung sekian banyak teman buat bermalam disana.

Biasa deh, suami yang suka banget bergaul dengan anak-anak muda, menawarkan kegiatan outbond tersebut pada mereka.

Tawaran itu disambut antusias.

Apalagi mereka tahu kami berasal dari keluarga tentara. Dalam bayangan mereka permainan-permaian yang akan dilaksanakan pasti tentara banget. Ini dia yang membuat mereka makin penasaran!

Sebagai langkah pertama, suami menghubungi pengelola outbond profesional yang bernama Naratalu Adventure Inc. Selain itu suami juga melibatkan beberapa orang personil militer untuk berpartisipasi dalam kegiatan tersebut agar ada nuansa yang sedikit beda.

Pagi itu, setelah melaksanakan pemeriksaan kesehatan umum, semua peserta menuju lapangan Ngamplang dengan menggunakan 3 buah truk tentara. Di area itulah kegiatan outbond akan dilaksanakan.

Kebersamaan, rupanya sudah mulai dibentuk melalui cara ini. Mereka tidak lagi menggunakan kendaraan pribadi, tapi memakai transportasi yang memungkinkan mereka buat lebih dalam berinteraksi.

Lapangan Ngamplang di pagi hari.

Dengan jumlah peserta 48 orang, kegiatan pertama setelah doa bersama adalah membuat lingkaran besar berdasarkan tahun kelahiran peserta. Semua peserta harus diapit oleh peserta lain yang tahun kelahirannya lebih muda dan lebih tua. Mereka juga hanya diberi waktu 2 menit untuk berdiri berurutan berdasarkan tanggal, bulan dan tahun kelahiran.

Tentu saja suasana berubah heboh.

Semua peserta saling bertanya waktu kelahiran, agar bisa berdiri di samping orang yang tepat. Semangat mereka mulai bangkit. Interval tahun kelahiran peserta yang dimulai dari tahun 1988 sampai dengan 1992, tidak menyurutkan antusias mereka untuk memenuhi permintaan panitia secepat mungkin.

Hanya perlu 1 menit 15 detik, 48 orang peserta itu telah berjajar rapi berdasarkan tanggal, bulan dan tahun kelahiran mereka. Lumayan cepat. Di sebelah kanan dan kirinya, berdiri teman yang usianya lebih tua dan lebih muda.

Bagaimana cara mereka membagi, rupanya menunjukkan kemahiran para peserta berkomunikasi selama ini.

Setelah itu peserta dibagi menjadi 6 kelompok.

Bagi peserta yang punya kepercayaan diri tinggi, diminta buat maju ke depan untuk menjadi pemimpin bagi kelompoknya. Setelah itu teman-teman mereka akan memilih, untuk berdiri di belakang para calon ketua kelompok itu tadi.

Hehe, disini kelihatan banget, mana teman yang disukai dan mana yang kurang disenangi. Jumlah pengikut mereka jelas menunjukkan hal tersebut.

Tapi akhirnya semua peserta dibagi rata.

Tes tadi sekedar menunjukkan bahwa seorang pemimpin itu bukan hanya perlu percaya diri tinggi, tapi juga harus disukai oleh orang-orang yang dipimpinnya agar semua kegiatan didikung optimal.

Dengan jumlah peserta 48 orang, ada 6 kelompok yang akan bermain dalam 7 jenis permainan yang telah disiapkan.

Permainan-permainan tersebut adalah memasukkan ’sapi’ ke kandang dengan tanda peluit dan tepukan, memindahkan air dari ember satu ke ember lain yang diikat dengan 8 utas tali, melangkahi teman-teman satu kelompok yang diatur berjajar dalam posisi tidur sambil membawa sebaskom air dengan mata tertutup, memindahkan bola pingpong dari satu tempat ke sebuah lubang dengan menggunakan karton yang dibentuk seperti talang air, memakai pakaian badut dan berpose serta flying fox yang tempat startnya di atas sebatang pohon besar.

Ini dia yang paling seru!

Tempat start itu dibuat sedemikian rupa, sehingga sebelum tiba disana mereka harus melalui beberapa rintangan.

Yang pertama adalah tembok jaring pendarat yang harus dirayapi peserta dengan nyali tinggi. Lalu dilanjutkan dengan jembatan gantung tali empat yang harus dilalui dengan hati-hati sebelum peserta tiba di tempat start untuk melakukan peluncuran.

rintangan ke-2

Rintangan Jembatan Gantung

Dari sanalah mereka akan meluncur ke bawah dengan ketinggian sekitar 7 meter dari atas permukaan tanah…wuuusss, ekspresi yang saya lihat bermacam ragam. Ada yang menikmati peluncuran, ada juga yang ketakutan setengah mati. Sahabat Risa, sampai menangis tersedu-sedu saking senewennya.

Flying Fox

Setelah 7 wahana tadi selesai dilakukan, semua kelompok mengikuti permainan yang sifatnya kompetisi. Nama permainannya adalah perang bola,  all out serta memindahkan tepung terigu dari satu tempat ke tempat lain.

Ini dia yang membuat kami terpingkal-pingkal.

Pada perang bola, masing-masing kelompok diminta untuk memilih satu anggotanya untuk ‘berperang’ dengan anggota yang yang telah dipilih oleh kelompok lain. Peserta yang terkena bola, harus keluar arena dan dianggap kalah.

Syarat bagi orang yang akan mewakili kelompoknya tidak sulit.

Cukup sehat jasmani dan rohani serta memiliki ketangguhan tingkat tinggi…iya, kalo gampang menyerah mah, pasti bakalan  kalah. Bagaimana tidak.

Dalam permainan tersebut, peserta yang mewakili kelompoknya itu tadi harus melempar bola dengan mata tertutup pada lawan-lawan mereka yang berasal dari kelompok lain. Pegangannya hanya pada suara. Anggota kelompok masing-masing akan mengarahkan temannya ke arah mana bola plastik itu harus dilempar.

Dan peserta yang mewakili kelompoknya itu, harus bisa mengenali mana suara teman dan suara lawan. Susah pasti. Tapi disitulah serunya. Apalagi kalau semua anggota kelompok bersuara, aduuuh…dia pasti bingung bola itu harus dilempar ke sebelah mana!

aa

Permainan dinyatakan selesai, setelah ditemukan satu orang pemenang. Dia adalah orang terakhir yang tidak pernah kena lemparan bola sama sekali. Entah saking hebatnya, entah saking beruntungnya…

Setelah itu permainan dilanjutkan dengan permainan lain. Namanya all out. Ini seperti yang diceritakan Orin di blog-nya.

Semua kelompok harus memanfaatkan semua yang melekat di badannya buat membuat seutas ‘tali panjang’. Kelompok yang berhasil membuat tali terpanjang, otomatis menjadi pemenang.

Barang yang digunakan boleh apa saja.

Mulai tali sepatu, bandana, kalung, jaket, sepatu, topi, bahkan kemeja dan celana panjang bagi peserta laki-laki yang masih memakai celana pendek didalamnya. Berhubung masih belum cukup panjang, akhirnya semua peserta membaringkan diri di atas rumput agar kelompoknya bisa menjadi pemenang.

Seru!

Ini dia yang menarik. Kreativitas memang diperlukan bila ingin menjadi pemenang. Selain itu mereka juga harus kompak mengatur strategi, agar semua barang dan orang bisa berjajar rapi.

Waktu yang diberikan hanya 5 menit. Di detik-detik terakhir itulah saya tidak berhenti tertawa. Wajah yang panik dan gerakan menyusun aneka barang super cepat itu, menjadi tontonan seru yang mengasyikan.

Apalagi saat semua tubuh sudah direbahkan, duh, kapan lagi bisa melihat mahasiswa-mahasiswa semester 7 dengan gaya heboh dan minimalis begitu…

Penutup permainan hari itu adalah memindahkan tepung terigu ke dalam baki.

Peserta dari masing-masing kelompok diminta untuk duduk berjajar ke belakang. Peserta paling depan harus mengambil tepung yang sudah disediakan dan memindahkan tepung ke teman dibelakangnya dengan memakai dua tangan yang ditangkupkan. Perpindahan tepung juga harus dilakukan lewat atas kepala. Susah kan?

Permainan

Tepung yang tadinya banyak, jadi berkurang jauh saat sudah tiba di peserta paling belakang yang harus menuangnya ke dalam sebuah baki dengan gaya sit up. Dan, tepung di baki inilah yang akan ditimbang oleh juri. Siapa yang jumlah tepungnya paling banyak, dialah yang akan jadi juara dalam permainan ini.

Eh, memang ada juaranya ya?

Ohoho, ternyata ada.

Tim dari Naratalu Adventure Inc. ternyata sudah menyiapkan tiga piala untuk para pemenang. Piala unik yang terbuat dari batu hitam itu sengaja diambil dari Gunung Guntur - Garut, dimana outbond ini dilaksanakan. Kriteria pemenangnya sederhana. Kelompok mana yang memenangkan jenis permainan terbanyak, akan jadi juara.

Ah, bisa aja deh, mas-mas dan mbak dari Naratalu itu.

Piala Juara

Peserta jadi makin bersemangat kala piala itu ditampilkan saat makan siang. Batu berwarna hitam berbentuk bulat tersebut sudah dipoles sedemikian rupa sebagai hadiah bagi juara 1, 2 dan 3.

Setelah semua permainan selesai dilakukan, ada lagi satu kegiatan yang harus dilaksanakan yaitu lomba mengumpulkan sampah non organik yang ada di area tersebut.

Ini juga ada hadiahnya.

Kelompok yang berhasil mengumpulkan sampah terbanyak, akan mendapat hadiah kaos, topi dan dompet dari institusi suami.

Ternyata mengumpulkan sampah dengan hadiah itu membuat peserta heboh mencari sampah kering kemana-mana…malah ada seorang peserta yang niat banget buat pinjem sekarung sampah kering dari seorang pemulung!

Sore itu hampir berakhir.

Setelah penyerahan piala kepada para pemenang, acara dilanjutkan dengan penanaman 60 batang pohon sengon di area outbond. Semua peserta begitu antusias mencari lubang yang telah disiapkan.

Menanam Pohon di Lapangan Ngamplang

Merupakan acara penutup adalah penyerahan buku dan bantuan dana dari mahasiswa Geologi angkatan 2008. Bantuan ini diserahkan untuk Taman Bacaan Kreatif, yang sedang dibangun oleh Pertamina-Geothermal Kamojang bekerja sama dengan Korem 062/Tarumanagara yang berlokasi di daerah Ngamplang.

Diharapkan sumbangan tersebut akan menjadi titik awal dari kepedulian mereka terhadap masyarakat Indonesia.

Selain itu, saya juga bersyukur pada Tuhan cuaca begitu bersahabat. Kalau sehari sebelumnya Garut dilanda hujan seharian, hari itu Garut justru cerah dari pagi hingga malam menjelang. Tidak ada mendung, apalagi hujan.

Alhamdulillah.

Semoga semua yang sudah dilakukan akan memberi dampak positif bagi karakter dan kepribadian mereka kelak…

2011-12-22-161039

Desember 24th, 2011 at 12:55 | Comments & Trackbacks (59) | Permalink

Ketua dan wakilnya adalah sosok menarik yang selalu dijadikan sorotan dalam sebuah organisasi. Ketua sama wakilnya gimana? Cocok nggak? Akur nggak? Enak nggak?

Itu adalah pertanyaan standar yang biasanya saya temukan dalam kehidupan berorganisasi.

Kebetulan sudah beberapa kali juga jabatan tersebut saya lalui. Dalam tingkatan yang berbeda tentu saja. Mulai dari organisasi yang jumlah anggotanya puluhan, sampai dengan ribuan.

Semuanya berproses.

Tidak berarti juga semakin tinggi pangkat atau jabatan suami, semakin banyak jumlah anggota yang harus saya pimpin.

Justru pernah ada satu masa, anggota saya ‘hanya’ berjumlah 26 orang, padahal sebelumnya saya menjadi ketua dari sebuah organisasi yang memiliki anggota sekitar 1500 orang.

Apakah saya patah arang?

Tentu saja tidak.

Selama ini saya melihat jabatan sebagai sebuah amanah yang harus dilaksanakan dan dipertanggungjawabkan. Sama sekali tidak tergantung pada jumlah anggota, apalagi pada posisi apa yang harus dijalani. Sebagai ketua ataupun wakil, amanah tersebut toh harus dilaksanakan sepenuh hati.

Kalau saja jabatan itu bisa ditawarkan, sebagian besar orang pasti akan memilih menjadi seorang ketua daripada wakilnya.

Dalam bayangan mereka, jadi ketua itu pasti enak.

Hanya tinggal main perintah, maka semua yang diminta, jadilah. Hanya tinggal main tunjuk, maka semua yang diinginkan langsung tersedia di depan mata.

Padahal kan tidak sesederhana itu.

Dibalik jabatan ketua, ada tanggung jawab besar terhadap kesejahteraan anggota dan dinamika organisasi. Arah mana yang akan dituju, peningkatan apa yang harus dilakukan atau bahkan program-program apa yang bisa dilaksanakan untuk peningkatan kualitas hidup anggota, adalah sebagian kecil pemikiran yang harus diwujudkan.

Belum lagi resiko-resiko dari sebuah kebijakan.

Bukan tidak mungkin, kebijakan yang memiliki niat baik, justru berbalik menikam kita dengan berbagai fitnah dan ancaman. Rencana-rencana yang ditujukan untuk peningkatan disiplin malah berubah jadi tudingan bahwa kita keras dan arogan.

Tentu perlu jiwa besar buat menyikapi hal tersebut karena tidak semua hal harus dihadapi  dengan emosi berlebihan.

Bisa jadi itu justru evaluasi bagi kebijakan yang sudah kita keluarkan. Kalaupun kelak ternyata kebijakan kita bermanfaat, suara-suara sumbang itu niscaya akan hilang dengan sendirinya dan berubah menjadi kekaguman.

Lain cerita kalau kita menempati posisi wakil ketua.

Selama ini saya pernah 2 kali di posisi tersebut tapi memiliki 5 orang ketua. Artinya, selama saya menjabat wakil, ada pergantian ketua sebanyak 2 atau 3 kali di organisasi yang sama.

Pertama kali menjadi wakil ketua, tentu saja saya gamang.

Ketidakcocokan seorang ketua dan wakilnya seperti hukum alam yang terjadi di banyak tempat.

Jelas saya tidak mau begitu. Melalui diskusi-diskusi panjang dengan suami, saya menemukan prinsip sederhana bahwa apapun alasannya, wakil ketua adalah orang yang harus memiliki loyalitas tinggi terhadap ketua organisasi dimana dia berada.

Bagaimana kita akan punya loyalitas kalau kita tidak berusaha untuk dekat dengan ketua? Bagaimana kita akan loyal bila kita tidak memahami cara berpikir dan kebijakannya? Bagaimana kita akan satu suara bila kita tidak belajar untuk selalu bertukar pikiran terhadap kebijakan-kebijakan yang akan diambil?

Itu dia masalahnya.

Niat baik, loyalitas dan ketebukaan. Tiga hal ini adalah modal utama wakil ketua agar bisa seiring dengan ketua dalam memajukan sebuah organisasi.

Sangat tidak mungkin bila kita berada di kubu yang berseberangan.

Posisinya toh sudah jelas. Wakil ketua adalah jembatan bagi ketua untuk berkomunikasi dengan pegurus dan anggota. Wakil ketua juga harus bisa menjadi mediator bila ada benturan-benturan yang bertujuan untuk menghasut apalagi mengadu domba. Bukan malah memanas-manasi apalagi membuat kelompok tersendiri.

Begitu pula sebagai seorang ketua.

Tidak mungkin sebuah organisasi dengan bermacam ragam kegiatan akan dilaksanakan sendirian. Kita pasti perlu bantuan agar semua program bisa dilakukan dengan banyak dukungan.

Tidak ada seorang ketua yang cukup hebat untuk bisa mengelola semuanya tanpa bantuan banyak orang.

Yang harus dimiliki adalah kepengurusan solid yang bertanggung jawab agar semua program dan kegiatan bisa dilaksanakan dengan lancar dan menyenangkan.

Kuncinya tentu ada pada unsur pimpinan.

Di tangan seorang ketua dan wakillah sebuah organisasi akan berjalan baik serta bisa memberikan kesejahteraan lahir batin bagi anggotanya. Dibawah kepemimpinan merekalah kemajuan sebuah organisasi akan bisa diwujudkan.

Jadi intinya, posisi ketua maupun wakil, sama pentingnya.

Bila kedua pihak menyadari posisi, tidak ada lagi ungkapan-ungkapan saling menjatuhkan yang akan dikeluarkan. Tak ada lagi keluhan yang bertujuan untuk saling menjelekkan. Semua ketidakpuasan sebaiknya diredam dengan penuh keikhlasan.

Toh tidak selamanya kita menjadi ketua. Tidak seterusnya juga kita menjadi wakil ketua. Akan ada masa, dimana semua berputar seperti roda. Kadang diatas, kadang dibawah.

Jabatan ketua atau wakil ketua, sama enaknya bila kita pandai menempatkan diri dan tahu posisi. Tidak melewati batas apalagi membuat kebijakan yang berseberangan.

Percayalah, semua amanah akan indah bila kita pandai mensyukuri dan menikmatinya.

Desember 20th, 2011 at 07:20 | Comments & Trackbacks (56) | Permalink

Sekolah kami baru selesai melaksanakan kegiatan outbond.

Kegiatan yang diikuti oleh kepala sekolah dan guru-guru SD Kartika Siliwangi 3-Garut tersebut adalah kegiatan yang sudah lama saya impikan untuk bisa dilaksanakan.

Entah kenapa, saya ingin sekali meningkatkan kebersamaan, motivasi, disiplin dan loyalitas para guru dan kepala sekolah di institusi tempat mereka mengajar dengan cara yang belum pernah dilakukan. Selain itu saya juga terinspirasi oleh salah seorang ketua yang pernah mengadakan kegiatan serupa di lingkungan yang lebih luas.

Dan mungkin, kegiatan outbond di daerah Ngamplang tersebut bisa menjadi alternatif menarik untuk mengasah berbagai kemampuan itu.

Saya juga berprinsip, bukan hanya pembangunan fisik sekolah yang harus terus ditingkatkan tapi juga semangat tenaga pendidik harus terus dipelihara dengan berbagai macam cara.

Mereka adalah sosok panutan para murid. Kalau mereka mengajar asal-asalan, tentu para murid juga yang dirugikan. Lagipula bukan hanya kecerdasan intelektual saja kan yang perlu diasah, tapi juga semangat, tanggung jawab, kebersamaan, motivasi dan disiplin harus tetap diperhatikan.

Setelah bertanya pada suami, dia menyarankan untuk mengadakan outbond saja.

Gayungpun bersambut. Selain belum pernah melaksanakan kegiatan tersebut, saya yakin kalau outbond akan menjadi variasi menarik ditengah kegiatan rutin yang mereka jalani sehari-hari.

Saran dari suami juga, kegiatan itu sebaiknya dilakukan bekerja sama dengan Dinas Psikologi Angkatan Darat agar koordinasi lebih mudah dilakukan. Iya deh, saya ikutan aja…sepanjang suami mau membantu buat berkoordinasi, saya akan membereskan hal-hal intern yang berhubungan dengan kegiatan outbond itu…

Alhamdulillah, kegiatan tersebut sudah selesai dilaksanakan minggu lalu.

Tidak disangka, sambutan dari peserta amat meriah. Acara itu rupanya meninggalkan kesan mendalam di hati para guru dan pengurus yayasan. Selain baru pertama kali mengikuti kegiatan serupa, bapak dan ibu guru beragam usia itu juga ternyata antusias untuk berpartisipasi di setiap permainan yang sudah disiapkan.

Tentu saja saya gembira.

Permainan yang dimulai dengan ice breaking berhasil mencairkan suasana. Kecanggungan peserta karena berinteraksi dengan sesuatu yang baru, segera berubah dengan keingintahuan. Para pelatih yang datang, begitu piawai menggiring peserta sehingga suasana menjadi hangat dan akrab.

Acara selanjutnya adalah membentuk kelompok berdasarkan ukuran sepatu, lalu diikuti dengan pembentukan kelompok berdasarkan horoscope masing-masing peserta. Suara tawa mulai terdengar disana-sini. Rupanya usia bukan halangan. Tua dan muda tetap saja perlu variasi kegiatan agar hidup tidak berjalan membosankan.

Kemudian permainan dilanjutkan dengan main bakiak beregu.

Tiap kelompok diikuti oleh 8 orang peserta yang harus memakai bakiak besar itu bersama-sama. Berjalan seirama dengan kaki terikat erat itu ternyata bukan hal mudah. Satu orang saja salah menggerakkan kaki, maka rubuhlah barisan yang sedang berjalan rapi tadi…

Bruk!

Tawa dan teriakan terdengar disana-sini. Permainan sederhana itu bisa membuat para guru bereaksi spontan tanpa takut membuat peserta lain tersinggung.

Acara berikutnya adalah permainan barongsai, menyusun puzzle berkelompok serta ‘membungkus’ sebutir telur dengan sedotan plastik. Syaratnya, telur itu tidak boleh pecah saat dilempar. Tentu saja susah.

Segala teori dikeluarkan, segala cara diupayakan. Tapi tetap saja, telur yang sudah dibungkus amat rapi itupun pecah berantakan…teorinya belum kepegang kali ya…

Acara terakhir yang diadakan di udara terbuka sore itu adalah permaian lumpur lapindo. Ini dia permainan yang membuat kami semua terbahak-bahak.

Caranya begini.

Seluruh peserta dibagi menjadi 3 kelompok besar. Pembagian kelompok sengaja dibuat acak berdasarkan urutan nomor berdiri waktu tadi pagi mereka membuat lingkaran. Setelah itu disediakan 3 buah ban bekas dan sepotong papan panjang untuk menyeberang dari satu ujung ke ujung lainnya. Mereka tidak boleh menginjak tanah, karena tanah itu diumpamakan sebagai lumpur lapindo.

Tentu saja bukan hal mudah.

Selain harus menyeberangkan 8 orang dengan ban-ban bekas dan sepotong papan, mereka juga harus punya trik agar semua peserta bisa diseberangkan tanpa terjatuh ke atas tanah.

Masing-masing kelompok, memiliki cara unik yang tidak sama.

Ada yang bergerombol di satu ban sambil berteriak-teriak heboh karena takut jatuh, ada juga yang hanya terpaku di tengah jalan karena bingung bagaimana mau memindahkan papan yang sedang diinjak. Ekspresi mereka itu, duuuuh…bener-bener membuat kami semua terbahak-bahak…

Acara terakhir diadakan di ruangan. Namanya pembulatan.

Itu adalah sesi yang isinya kesimpulan dari semua kegiatan yang sudah dilakukan. Pelatih juga menerangkan maksud dari setiap permainan serta hasil yang diharapkan agar peserta menjadi tenaga pengajar yang lebih baik di masa datang.

Hehe, tentu saja banyak yang ‘tersindir’.

Semua yang dikatakan membuat mereka saling pandang dan bertukar senyum. Saya juga bolak balik berkata dalam hati bahwa yang disampaikan itu memang iya banget…bahwa kita lebih senang mendahulukan kepentingan diri sendiri dibandingkan kepentingan orang lain, suka lupa memikirkan tanggung jawab dari setiap perbuatan dan enggan mengambil resiko sekalipun itu untuk kebaikan…

Ah, bapak-bapak itu kok pada tau ya?

Desember 13th, 2011 at 19:12 | Comments & Trackbacks (41) | Permalink